Arsip

Archive for the ‘Wasiat dan Ghadir Qum’ Category

Screen Shoot dari akun Ali Alaydruz As-sakran 155

EPISODE 36:

RUNTUHNYA FONDASI AGAMA SYIAH Imamiyah 12

Ini kelanjutan dari pembuktian bagaimana ternyata “hadits ghadir khum” yg menjadi fondasi agama sempalan syiah rafidhoh imamiyah itsna asyariyah tidak bisa di jadikan dasar pengangkatan imam ali ^_^ ( baca : syiah NGIMPI!! )

———————————

lagi lagi semua ini diawali dari perkataan “sembarangan” Tiara Satrie si betina syiah yg masih satu akun sama akun Jjihad ‘Ali dan Wong Langka ^_^

begini kata tiara :

Tiara Satrie
JAWABAN TERHADAP TANTANGAN USTADZ DODOY (dodi sotoy) :

Ustadz dolly dodoy Dodi ElHasyimi ini lama lama lebay wa sotoy, disangkana kita pengen dia jadi Syi’ah, padahal disini kita hanya mau ngabarin bahwa hanya Syi’ah Imamiyah yang memiliki Hujjah berdasarkan Kitabullah dan Ahlul Bait karena kita ga pengen tersesat selamana (www.wasiat Arrasul sawa.com)

SIMAK YA …

Allah Ta’ala berfirman : “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka ia benar-benar mendapatkan petunjuk, dan barang siapa yang disesatkan, maka orang itu tidak akan pernah engkau dapati memiliki wali mursyid (pemimpin yang mampu memberi petunjuk).” [Al-Kahfi, 18:17]

Kata wali (pl. awliya) sendiri menunjukan kepada beberapa makna, antara lain al-nashir ‘penolong’ [Lisan al-Arab, XV: 406], al-MAWLA fi al-din ‘PEMIMPIN spiritual’[Lisan al-Arab XV: 408], al-shadiq ‘teman karib’ dan al-tabi al-muhibb ‘pengikut yang mencintai’ [Lisan al-Arab, XV:411]

Semua makna ini berserikat dan secara simultan menjelaskan makna wali dalam ayat diatas, yaitu “orang yang mencintai dan dicintai Allah sehingga layak menjadi PEMIMPIN spritual yang harus diikuti”.

Tapiiiiiiii Ustad dolly dodoy , aku kasih tau yaaaaa kalo Pendaftaran masuk Syi’ah udah ditutup, jadi jangan mimpi masuk Syi’ah kalo bukan orang Istimewa dan mendapat Panggilan khusus dengan cara Istimewa pula …

Sorry ya ustadz, kalo Ustadz jadi orang Syi’ah siapa lagi yang bakal kita becandain, ustadz kan tau amik Ali Alaydruz As-sakran tuh tutulna ga sepakat deh, Jadi ustadz dibutuhin sama kita sebagai bahan lawakan

====================================

Sekilas kesimpulan dari perkataan betina tiara satrie adalah dia mau membenarkan bahwa hadits ghadir khum yg berbunyi “Man Kuntu Maulaahu Fa ‘Aliyyun maulaahu” BENAR ADALAH SEBAGAI HADITS PENUNJUKAN IMAM ALI…dengan tafsir serabutan ala persi nya yg beranggapan bahwa arti kata Maula = PEMIMPIN….

Benarkah arti kata MAULA adalah PEMIMPIN??

hadits ahlussunah yg berderajat mutawatir diibaratkan sebagai “jimat” atau kartu “As” bagi jemaat sempalan agama syiah rafidhoh imamiyah 12…dari jemaat yg derajat “marja jorok syiah rafidhoh” seperti ayatullah sistani…”rahbar tukang laknat” yasir habib, atau “ayatullah mujtaba syirazi, “dedengkot syiah tukang caci”, ustad2 syiah tukang gebug dada” sampai “simpatisan syiah penjual nasi IRAN” Pimpi Kanam, Khan Zamane … “kambing2 pemut’ah indonesia yg berotak mesum seperti Mbah Jambrong juga lho …., bahkan “badut penghibur” sekelas Haidar Husein juga menghafal hadits ini di luar kepala…dan di ulang2 terus oleh mereka ibarat radio rusak yg tidak tau kapan waktu siar yg baik ^_^

cuma sayang sebegitunya orang2 syiah menghafal hadits ini di luar kepala…begitu juga diikuti dengan tertinggalnya akal mereka diluar dari pada badan…sehingga hafalan mereka yg kuat akan hadits ini tidak diikuti dengan “cerdasnya daya nalar” dalam memahami makna hadits ini baik dari segi “bahasa ” maupun latar belakang peristiwa”
untuk hari ini cukup kita bahas makna haditsdari segi bahasa ^_^

singkat kata seluruh “mahluk2 hitam” syiah sepakat bahwa arti kata “MAULA” dalam hadits diatas adalah “pemimpin”….ini menurut akal mereka yg diluar dari badan tadi….namun bagaimana kebenaran semua ini??? mari kita lihat…

———>>>

JAWAB :

saya bawakan jawaban copasan dari akhinal mahbub Dodi ElHasyimi ^_^

yuuuk kita bongkar dan kita telanjangan kambing2 syiah ^_^

——-

tiara si betina syiah mengutip diatas referensi “lisanul arab” utk mencoba membohongi umat membenarkan makna kata “maula” supaya bisa diterjemahkan menjadi “pemimpin”

kalau begitu langsung lah kita cek ke rujukan yg betina tiara kutip……sebenernya betina gak pernah baca ini ^_^ ……

tertulis dalam LISANUL ARAB yg di pakai rujukan tiara :

لسان العرب – (ج 15 / ص 405)
قال : و الوَلِيُّ و المَوْلى واحد في كلام العرب . قال أَبو منصور : ومن هذا قول سيدنا رسولُا أَيُّما امرأَةٍ نَكَحَتْ بغير إِذن مَوْلاها ورواه بعضهم : بغير إِذن وَلِيِّها لأَنهما بمعنى واحد . وروى ابن سلام عن يونس قال : المَوْلى له مواضع في كلام العرب : منها المَوْلى في الدِّين وهو الوَلِيُّ وذلك قوله تعالى : { ذلك بأَنَّ الله مَوْلى الذين آمنوا وأَنَّ الكافرين لا مَوْلى لهم } أَي لا وَلِيَّ لهم ومنه قول سيدنا رسولُا : مَنْ كنتُ مَولاه فعليٌّ مَولاه أَي مَن كنتُ وَلِيَّه قال : وقوله عليه السلام مُزَيْنَة وجُهَيْنَةُ وأَسْلَمُ وغِفارُ مَوالي الله ورسوله أَي أَوْلِياء ا قال : و المَوْلى العَصَبةُ ومن ذلك قوله تعالى : { وإِني خِفْتُ الموالي مِن ورائي } وقال اللِّهْبِيُّ يخاطب بني أُمية : مَهْلاً بَني عَمِّنا مَهْلاً مَوالِينا إِمْشُوا رُوَيْداً كما كُنْتُم تَكُونونا قال : و المَوْلى الحَلِيفُ وهو من انْضَمَّ إِليك فعَزَّ بعِزِّك وامتنع بمَنَعَتك قال عامر الخَصَفِي من بني خَصَفَةَ : همُ المَوْلى وإِنْ جَنَفُوا عَلَيْناوإِنَّا مِنْ لِقائِهم لَزُورُ قال أَبو عبيدة : يعني المَوالِي أَي بني العم وهو كقوله تعالى : { ثم يخرجكم طِفْلاً } و المَوْلى : المُعْتَقُ انتسب بنسبك ولهذا قيل للمُعْتَقِين المَوالي قال : وقال أَبو الهيثم المَوْلى على ستة أَوجه : المَوْلى ابن العم والعمُّ والأَخُ والابنُ والعَصباتُ كلهم و المَوْلى الناصر و المولى الولي الذي يَلِي عليك أَمرك قال : ورجل وَلاء وقوم وَلاء في معنى وَلِيَّ و أَوْلِياء لأَن الوَلاء مصدر و المَوْلى مَوْلى المُوالاة وهو الذي يُسْلِمُ على يدك و يُواليك و المَوْلى مَوْلى النِّعْمة وهو المُعْتِقُ أَنعم على عبده بعتقِه و المَوْلى المُعْتَقُ لأَنه ينزل منزلة ابن العم يجب عليك أَن تنصره وترثه إِنْ مات ولا وارث له فهذه ستة أَوجه . وقال الفراء في قوله تعالى : { لا يَنهاكم الله عن الذين لم يُقاتِلوكم في الدِّين } قال : هؤلاء خُزاعةُ كانوا عاقَدُوا النبي أَن لا يُقاتِلوه ولا يُخرجوه فأُمِر النبي بالبِرِّ والوَفاء إِلى مدَّة أَجلهم
……………………………………………………………………….

Sebenarnye di masih panjang pembahasan AL MAula dalam kitab diatas,,,, tp kita cukupkan sampai disitu,,, karena didalamnya udah termuat apa yg di tulis oleh Tiara Satrie si betina syiah ini…..

Lihat yg bagian ini saja,,,, yaitu bagian yg ditahrif oleh Si Wanita ( tiara satrie ) Ahlul Kadzdzab Syiah Khumaini diatas ^_^…….

لسان العرب – (ج 15 / ص 405)
وروى ابن سلام عن يونس قال : المَوْلى له مواضع في كلام العرب : منها المَوْلى في الدِّين وهو الوَلِيُّ وذلك قوله تعالى : { ذلك بأَنَّ الله مَوْلى الذين آمنوا وأَنَّ الكافرين لا مَوْلى لهم } أَي لا وَلِيَّ لهم ومنه قول سيدنا رسولُا : مَنْ كنتُ مَولاه فعليٌّ مَولاه أَي مَن كنتُ وَلِيَّه قال : وقوله عليه السلام مُزَيْنَة وجُهَيْنَةُ وأَسْلَمُ وغِفارُ مَوالي الله ورسوله أَي أَوْلِياء

Diriwayatkan dari Ibnu Salam dari Yunus, Beliau berkata : Al Maula mempunyai beberapa peletakan (makna ) dalam Kalam ( Pembicaraan ) bahasa Arab. Diantaranya adalah Al Maula fid diin yaitu Waliy, sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ [محمد/11]

11. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.
Artinya “TIDAK ADA PELINDUNG” bagu mereka ( Orang2 kafir ). Dan termasuk diataranya adalah sabda Sayyidina Rosul : Man Kuntu Maulaahu Fa ‘Aliyyun maulaahu,maksudnya Man kuntu Waliyahu. Beliau ( Yunus )berkata : Dan sabda Nabi Alaihis salam : Muzayyanah, Juhainah, Aslam, dan Ghifar itu Mawalinya Allah dan Rasul-Nya , maksudnya Auliya.

Selanjutnya jika Tiara Satrie yg gak pinter ini mengartikan kata MAULA = PEMIMPIN :

1. Maka Ayat Al Quran Surat Muhammad 11 ini artinya akan menjadi :

Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah PEMIMPIN orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai PEMIMPIN.

soal buat tiara : Orang Kafir itu gak punya PEMIMPIN yach ???? betina otak dengkul ! ^_^

2. Maka Hadis Nabi SAW artinya menjadi :

Muzayyanah, Juhainah, Aslam, dan Ghifar itu PEMIMPINNYA Allah dan Rasul-Nya

soal kedua buat betina tiara : Allah dan Rasullullah malah dipimpin ame mereka yach ??? ^_^ betina nyungsep!!

Cwuaapee dwuecchhhhhh !!!!!!!

intinya Di Lisanul Arab juga tidak ada satupun kalimat yg menyatakan AL MAula dengan Makna PEMIMPIN……!!!!

Tidak ada satupun Disitu ada lafadz : Imam, Khalifah, Amir, Rois !!!!

artinya apa???? ARTINYA TIARA SATRIE..alias JJIHAD ALI…aliasa WONG LANGKA..cuma PENIPU!! ^_^

—————————————————————————–

YANG KE-2 :

Dalam screenshot diatas tiara berkata : “….Semua makna ini berserikat dan secara simultan menjelaskan makna wali dalam ayat diatas, yaitu “orang yang mencintai dan dicintai Allah sehingga layak menjadi PEMIMPIN spritual yang harus diikuti…..”.

============>>>

Tiara satrie mengartikan Maula fiddin = Pemimpin Spiritual ????
kamus bahasa parsi ya? ^_^

mari kita lihat yg betul ^_^

asiknya kita masi merujuk kitab yg tiara satrie kutip…Liat teks dalam Lisanul Arab diatasnya yach ????

لسان العرب – (ج 15 / ص 405)
و الوَلِيُّ و المَوْلى واحد في كلام العرب . قال أَبو منصور : ومن هذا قول سيدنا رسولُا أَيُّما امرأَةٍ نَكَحَتْ بغير إِذن مَوْلاها ورواه بعضهم : بغير إِذن وَلِيِّها لأَنهما بمعنى واحد . وروى ابن سلام عن يونس قال : المَوْلى له مواضع في كلام العرب : منها المَوْلى في الدِّين وهو الوَلِيُّ وذلك قوله تعالى : { ذلك بأَنَّ الله مَوْلى الذين آمنوا وأَنَّ الكافرين لا مَوْلى لهم } أَي لا وَلِيَّ لهم ومنه قول سيدنا رسولُا : مَنْ كنتُ مَولاه فعليٌّ مَولاه أَي مَن كنتُ وَلِيَّه قال : وقوله عليه السلام مُزَيْنَة وجُهَيْنَةُ وأَسْلَمُ وغِفارُ مَوالي الله ورسوله أَي أَوْلِياء

Wali dan Maula adalah satu ( mempunyai makna yg sama ) dalam kalam bahasa Arab. Abu Manshur berkata ; dari sinilah diambil sabda Sayyidina Rasul :

أَيُّما امرأَةٍ نَكَحَتْ بغير إِذن مَوْلاها

Sebagian perowi meriwayatkan ( Dengan Lafadz ) :

بغير إِذن وَلِيِّها

Karena keduanya ( Maula dan Waliy ) mempunyai makna yg satu ( Sama ).

Diriwayatkan dari Ibnu Salam dari Yunus, Beliau berkata : Al Maula mempunyai beberapa peletakan (makna ) dalam Kalam ( Pembicaraan ) bahasa Arab. Diantaranya adalah lafadz Al Maula di dalam (masalah) agama yaitu ( bermakna ) Waliy. sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ [محمد/11]

Maksud dari “Tidak ada Maula bagi mereka” (لا مَوْلى لهم) adalah “Tidak ada Waliy bagi mereka” (لا وَلِيَّ لهم).

Dan termasuk diataranya adalah sabda Sayyidina Rosul :

مَنْ كنتُ مَولاه فعليٌّ مَولاه

Maksudnya adalah : مَن كنتُ وَلِيَّه

Beliau ( Yunus )berkata : Dan sabda Nabi Alaihis salam :

مُزَيْنَة وجُهَيْنَةُ وأَسْلَمُ وغِفارُ مَوالي الله ورسوله

Maksud dari Mawaliy (مَوالي ) adalah Auliya’ (أَوْلِياء).

Disitu Shohibul Kamus sedang menjelaskan bahwa Maula dan Waliy itu mempunyai satu makana dalam kalam Arab….. !!!!

yg diatas itu adalah menuqil pendapatnya Yunus,,, sedang sebelumnya dinuqil pendapat Abu Manshur…

=——————————————————

SOAL buat tiara : Jadi gak ada tuch yg menterjemahkan Maula fiddin = Pemimpin Spiritual !!!!??? ^_^

Padahal SHOHIBUL KAMUS itu sedang menjelaskan bahwa : lafadz Al Maula di dalam (masalah) agama yaitu ( bermakna ) Waliy……Apa hubungannye dengan PEMIMPIN SPIRITUAL yach ? tiara satrie ternyata cuma betina syiah yg suka ngelantur yg gak pernah baca kamus yg di kutip diatas…ketawan lagi NIPU deh ^_^

—————————–

ali sakran berkata : tiara satrie betina syiah udah paham belum???
tiara menjawab : mbeeeeeek…mbeeek…..mbeeeek !! ^_^

^_^

Screen Shoot dari akun Ali Alaydruz As-sakran 134

EPISODE 19 :

Terlalu asik membedah kitab sunni dengan otak pas pas-an, berakhir kepada sebuah fakta yg memalukan . apa fakta memalukannya?? faktanya jayzul ini tidak tau apa2 ttg kitab2 karangan para imam syiah ^_^. dari sini bisa di lihat apakah imam2 syiah juga berbohong? atau sebenarnya jayzul khaibar yg penipu !^_^. LALU APA KATA IMAM2 AGUNG SYIAH ttg hukum waris nabi?

1. Berkatalah Muhammad bin Husain dari Jafar bin Basyir dari Husein dari Abu Mikhlad dari Abdul Malik berkata : suatu hari Abu Jafar menyuruh Ja’far mengambilkan tulisan Ali, lalu Ja’far membawanya, tulisan itu sebesar paha manusia, dalam tulisan itu berbunyi Bahwa para kaum wanita itu tidak berhak medapatkan warisan rumah bila ditinggal mati oleh ayah atau suaminya. Abu Jafar berkata demi Allah ini adalah tulisan tangan Ali yang didiktekan Rasulullah. (Biharul Anwar juz 26 hal-514)

biharul anwar tidak mendukung otak keledai “tiara satrie” melainkan mendukung hadits nabi yg di sampaikan sayyidina abubakar!. jahilnya betina ^_~

————————–

2.
عن علي عن أ بيه عن جميل عن زرارة و محمد بن مسلم عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ (عليه السلام ) قَالَ النِّسَاءُ لَا يَرِثْنَ مِنَ الْأَرْضِ وَ لَا مِنَ الْعَقَارِ شَيْئاً
Dari Ali dari ayahnya, dari Jamil dari Zurarah dan Muhammad bin Muslim dari Abi Jafar berkata Wanita-wanita itu tidak dapat mewarisi tanah dan bangunan (Al Kaafi juz 7 hal 128) -

ini lebih hebat lagi, alkulani bukan saja membawakan riwayat ttg hukum waris anak nabi, melainkan “seluruh wanita” tidak berhak waris. betina gigit jari ya ?^_^

————————

selanjutnya…

3. almajlisi menukil dari apa yang telah di riwayatkan oleh alkulani ( pengarang alkafi ) dari abi abdillah alaihissalam katanya, Rasulullah saw bersabda :

قال رسول الله صلىالله عليه وآله وسلم (وإنّ العلماء ورثة الأنبياء ، إنّ الأنبياء لم يورّثواديناراً ولا درهماً ولكن ورّثوا العلم فمن أخذ منه أخذ بحظ وافر
sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak tidak mewariskan dinar maupun dirham melainkan mewariskan ilmu, barangsiapa mengambil dari-nya maka ia telah mengambil bagian yang sangat banyak”

قال عنهالمجلسي في مرآة العقول 1/111 الحديث الأول ( أي الذي بين يدينا ) له سندان الأولمجهول والثاني حسن أو موثق لا يقصران عن الصحيح ) فالحديث إذاً موثق في أحد أسانيدهويُحتج به ،
dalam kitab-nya mir’atul uqul 1/111. Almajlisi berkata memaparkan derajat hadist di atas : katanya : hadist yang ada di tangan kami ini mempunyai dua sanad.
1. sanad pertama adalah mahjul (tidak di ketahui)
2.sanad kedua adalah hasan. atau terpercaya, kedua-nya tidak mengurangi derajatnya dari derajat sohih. sebab, apabila hadist dalam salah satu sanad nya di percaya maka itu boleh di jadikan hujjah/dalil.

intinya ulama syiah Almajlisi dan alkulaini membenarkan dan menjadikan sebuah hujjah bahwa para Nabi tidak mewarisi harta benda apapun, melainkan beliau mewariskan ilmu. nah kan betina jadi berasa kaya jadi nabi ^_^ betina..betina
==========================================

kesimpulan sementara : berhubung sayyidina abubakar di cap ” tiara satrie” sebagai pembohong karena mennyampaikan hadits nabi bahwa ” nabi tidak mewarisi harta melainkan ilmu”, maka dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa ” ulama syiah bernama almajlisi dan alkulani adalah bapak moyangnya tukang ngibul” ^_^, karena mereka berdua juga membawakan hadits yg senada dengan sayyidina abubakar ! ^_~. sori ni bro, ana cuma bawakan kenyataan apa adanya yg ada di dalam otak keledai mu ya tiara ya ! ^_~. tp tenang ini masih hipotesis, gak usah stress dan geplak2 pala dulu !

katakanlah andai kata ilmu per-hadits-an “ayatullah tiara satrie” telah melampaui almajlisi dan kulani, lalu katakanlah jayzul beranggapan bahwa almajlisi dan alkulani adalah pembohong karena membawakan hadits ” nabi tidak mewarisi harta” . lalu bagaimana dengan ucapan “bapak khomeini”?

maka saya pun akan menuangkan ucapan khomeini kedalam kepala kosong “tiara satrie” dengan harapan “otak tumpulnya” dapat menerima kenyataan ini semua ^_^. ya betina ya?

5. khumaini memberikan kesaksian di dalam kitab-nya al-islamiyah ala jawazi wilayatil faqih di dalam judul “sohihatul qada’ah”
apa komentar khumeini :
هذا الحديث صحيح السند و قد استشهد به العلماء في أكثر من موضع , كما استشهد به الإمام الخميني – عليه الرحمة – في أكثر من موضع منها : الاجتهاد والتقليد ص 32 , كتاب البيع ج 2 ص 482

artinya : hadist ini (hadist bahwa Para Nabi tidak mewariskan harta melainkan mewariskan Ilmu) adalah mempunyai sanad yang sangat sohih, dan para ulama di dalam beberapa tempat memberikan kesaksian atas kesohihan hadist tersebut, sebagaimana imam khumaini memberi kesaksian atas kesohihan hadist tersebut di dalam beberapa kitab-nya di antaranya adalah : al-ijtihad wat-tqlid hal 32, dan kitabul bai’ juz 2 hal 482.

gak usah panik tiara satrie ^_^. karena memang nantinya tiada daya dan ilmu seorang pendusta hina macam tiara satrie alias jjihad ali alias wong langka utk mengupas kitab2 syiah karangan majlisi, alkulani, dan khomeini. maka saya timbulkan pertanyaan singkat multiple choice ( pilihan ganda ) khusus bagi para2 pendusta murahan kelas teri syiah rafidhoh imamiyah. Dengan harapan soal ini bisa di jawab dengan singkat tanpa berputar2 ala khomeiniyat 12 bila kepepet.

begini kiranya PERTANYAAN utk betina rafidhoh tiara satrie :

1.JIKA sayyidina abubakar “tiara ” anggap adalah pembohong ttg sampaian lidah nabi bahwa” nabi muhammad tidak meninggalkan warisan harta melainkan ilmu”. sedangkan almajlisi, alkulani, dan khomeini juga menyerukan hal yg senada dan sama. Maka siapakah yg berstatus sebagai penipu ttg hal ini?^_^

a. al kulani
b. al majelisi
c. khomeini
d. sayyidina abubakar
e. ayatullah tiara satrie ^_^

Anjuran utk Tiara Satrie : tugas betina syiah rafidhoh itu bertelur…^_^ tutul

Screen Shoot dari akun Ali Alaydruz As-sakran 131

EPISODE 16

Keruntuhan fondasi agama syiah: menjawab subhat 2 betina syiah “tiara satrie” dan “syareefa afnand” yg membelokkan makna hadits”ghadir khum” ^_^

benarkah hadits “ghadir khum” menurut syiah adalah pengangkatan imam ali sebagai khalifah?? ^_^

yuk kita buktikan
dan kita runtuhkan bersama – sama2 fondasi agama syiah…
dan kita buktikan kerapuhan agama sempalan dari IRAN ini ^_^

SIAPKAN STAMINA utk pembahasan detil di bawah !
FONDASI AGAMA SYIAH DI AMBANG KERUNTUHAN!! ^_^

PENDAHULUAN

Tidak mungkin untuk membahas hadis Ghadir Khum tanpa memahami pertama kali konteks tertentu di mana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan apa yang dia katakan. Ini adalah pedoman umum yang berkaitan dengan kanon Islam secara keseluruhan: penting untuk mengetahui latar belakang di mana suatu ayat Alquran diturunkan atau suatu hadis tertentu dikatakan.

Misalnya, ayat Quran “bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka” sering digunakan oleh orientalis untuk menyalahgunakan dan menjadikannya tampak seolah-olah Islam menganjurkan pembunuhan orang di mana saja dan kapan saja anda menjumpai mereka. Tentu saja, jika kita melihat ketika ayat ini diturunkan, kita menemukan bahwa ayat itu adalah khusus diwahyukan pada pertempuran antara Muslim dan Mushriks Quraisy, hal ini membuat kita menyadari bahwa hal itu bukanlah hukum umum untuk membunuh orang tetapi ayat tersebut diwahyukan pada situasi tertentu.

Demikian juga, Hadis Ghadir Khum hanya dapat dipahami dalam konteks pada peristiwa apa ia diucapkan:

Sekelompok tentara sangat keras mengkritik Ali bin Abi Thalib (رضى الله عنه) pada masalah tertentu, dan berita ini sampai kepada Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم), yang kemudian Beliau berkata apa yang Beliau katakan dalam hadis Ghadir Khum. Seperti orientalis, para propagandis Syiah berupaya untuk menghapus latar belakang konteks di mana Hadis tersebut dikatakan untuk memberikan gambaran yang sama sekali berbeda (dan menyesatkan).

Tujuannya Nabi mengatakan kembali apa yang dikatakan di Ghadir Khum sama sekali tidak untuk mencalonkan Ali (رضى الله عنه) sebagai khalifah tetapi itu hanyalah untuk membela Ali (رضى الله عنه) terhadap fitnah yang dikatakan terhadap dia. Hanya dengan membuang konteks latar belakang suatu hadits adalah mungkin untuk menciptakan pemahaman Syiah terhadap teks tersebut sesuai keinginan mereka. Untuk alasan inilah kita harus selalu mengingatkan saudara kita Syiah konteks latar belakang di mana Hadis Ghadir Khum dikatakan.

PENTINGNYA GHADIR KHUM UNTUK SYIAH

Syiah mengklaim bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menetapkan Ali (رضى الله عنه) secara ilahiah untuk menjadi penggantinya di suatu tempat yang disebut Ghadir Khum. Sebelum kita membahas peristiwa Ghadir Khum dengan saudara-saudara kita Syiah, pertama-tama kita harus mendefinisikan parameter debat. Dengan kata lain, kita harus “mengatur taruhannya”:

(1) Jika Syiah dapat membuktikan versi mereka tentang Ghadir Khum, maka pasti Ali (رضى الله عنه) telah ditunjuk oleh Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) secara ilaiyah dan akidah Syiah adalah benar.

(2) Jika, kaum Sunni menyangkal gagasan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menunjuk Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum, maka saudara kita Syiah harus bersedia menerima kenyataan bahwa Ali (رضى الله عنه ) tidak pernah ditunjuk sama sekali oleh Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) dan karena itu seluruh keyakinan Syiah tidak valid.

Alasan kita membuat “taruhan” ini sangat jelas bahwa sejak awal propagandis Syiah memiliki kemampuan luar biasa untuk memindahkan “tiang gawang” setiap kali mereka kalah debat. Mereka akan melompat dari satu topik ke yang lain, jika mereka kehilangan perdebatan Ghadir Khum, maka mereka akan membawa pada Insiden Pintu Rumah Fatimah, atau Saqifah, atau Fadak, atau siapa tahu apa lagi.

Seluruh pondasi Syi’ah bertumpu pada peristiwa Ghadir Khum ini, karena di sini Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم), dianggap mencalonkan Ali (رضى الله عنه) untuk menjadi penggantinya. Jika kejadian ini tidak sebagaimana klaim Syiah, maka Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak pernah mengangkat Ali (رضى الله عنه) dan Syiah harus meninggalkan semua klaim mereka, seperti ide bahwa Abu Bakar (رضى الله عنه) merebut kekhalifahan yang ditunjuk oleh Allah untuk Ali (رضى الله عنه).

———————–

Memang, peristiwa Ghadir Khum sangat penting bagi paradigma Syiah -dan begitu pentingnya bagi teologi Syiah-maka massa Syiah memiliki perayaan tahunan yang dikenal sebagai “Eid Al-Ghadir”.

Amaana.org says

Eid-e Gadhir is celebrated with great rejoicing by Shia Muslims where they remember Prophet Muhammad’s last instructions to the believers. Eid-e-Ghadir is one of the most important days of rejoicing for Shia Muslims around the world as that was the day our beloved Prophet Muhammad (s.a.s.) declared Hazrat Ali’s vicegerency at Ghadir e Khumm on his return from his last pilgrimage…

source: http://www.amaana.org/gadhir/gadhir1.htm

Berdasarkan apa yang seharusnya terjadi di Ghadir Khum, Syiah menolak kekhalifahan Abu Bakar (رضى الله عنه), berpisah dari Muslim mainstream, dan menyatakan bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah yang pertama dari imam yang ditetapkan secara ilahiah. Situs Syiah, Al-Islam.org, merujuk pada Ghadir Khum sebagai “peristiwa penting” dan pondasi bagi Imamah Ali (رضى الله عنه).

Alasan perlunya sangat menekankan pentingnya Ghadir Khum bagi Syiah adalah bahwa kita akan menunjukkan bagaimana ‘senjata’ yang diduga kuat di gudang propaganda Syiah tersebut sebenarnya sangat lemah. Jika hal ini adalah sangat mendasar bagi Syi’ah, maka sesungguhnya doktrin Syi’ah adalah sangat lemah. Syiah mengatakan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menunjuk Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum tapi logika sederhana menentukan sebaliknya.

============================

MENGAPA TIDAK MASUK AKAL?

Syiah mengklaim bahwa ketika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menyelesaikan haji terakhir, mengatakan Kotbah Perpisahannya di puncak Gunung Arafah di Mekkah, dan kemudian setelah itu menunjuk Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum.

Mari kita analisa klaim ini: Ghadir Khum terletak antara Mekah dan Madinah, di dekat kota Al-Juhfah, seperti yang disebutkan oleh situs Al-Islam.org. Ini adalah lubang air di tengah padang pasir. Pukulan telak kepada argumen Syiah adalah bahwa pada kenyataannya Ghadir Khum itu terletak sekitar 250 km dari Mekah. Fakta sederhana ini cukup untuk menghancurkan seluruh premis Syi’ah.

Seperti kita semua tahu, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menyampaikan Khotbah Perpisahannya di Mekah pada haji terakhir. Ini terjadi di depan sebagian besar kaum muslimin, yang datang dari berbagai kota untuk melakukan haji. Jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ingin menunjuk Ali (رضى الله عنه) sebagai penggantinya, maka sama sekali tidak ada penjelasan yg rasional mengapa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak melakukan hal ini selama Khotbah Perpisahan kepada semua kaum muslimin. Seluruh umat yang berkumpul di sana untuk mendengar kata-kata perpisahan, sehingga pasti merupakan saat dan kesempatan yang paling tepat untuk menunjuk penggantinya.

Nabi (صلى عليه الله وآله وسلم) dan Muslim menyelesaikan haji mereka dan setelah itu semua orang kembali ke kota masing-masing. Penduduk Madinah kembali ke Madinah, masyarakat Taif kembali ke Taif, orang-orang Yaman kembali ke Yaman, orang-orang Kufah kembali ke Kufah, masyarakat Suriah kembali ke Suriah, dan orang-orang Mekkah tetap tinggal di Mekah.

Hanya kelompok orang-orang yang hidup di kota-kota di sebelah Utara Semenanjung Arab yang melalui Ghadir Khum. Dan ini hanya akan terdiri dari orang-orang yang menuju Madinah dan minoritas Muslim yang tinggal di tempat seperti Suriah. Oleh karena itu, ketika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berhenti di Ghadir Khum dan ketika insiden yang dianggap terjadi, justru sejumlah besar kaum muslim tidak hadir, yaitu mereka yang tinggal di Mekah, Taif, Yaman, dll. Setelah Haji, orang Mekah tetap tinggal di Mekah, orang-orang Taif kembali ke Taif, orang-orang Kufah kembali ke Kufah, orang-orang Yaman kembali ke Yaman, dll. Hanya sekelompok orang yang pergi ke Madinah (atau lewat melalui / dekat) yang menyertai Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menuju Ghadir Khum.

Oleh karena itu, bertentangan dengan klaim Syiah, justru Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak menunjuk Ali (رضى الله عنه) di depan seluruh kaum muslimin, melainkan yang terjadi di Ghadir Khum hanya di depan sebagian Muslim yang sedang pulang menuju ke Madinah (atau lewat melalui / dekat). Mari kita lihat apa yang diklaim oleh situs Syiah:

The Thaqalayn Muslim Association says

“On the 18th of Dhul-Hajjah, after completing his “farewell pilgrimage” (Hajjatul- Wida’a), the Messenger of Allah (peace be upon him and his progeny) had departed Makkah en route to Madinah. He and the entire Muslim caravan, numbering over 100,000, were stopped at Ghadeer Khumm, a deserted-yet-strategically situated area that lies between Makkah and Madinah (near today’s Juhfah). In those days, Ghadeer Khumm served as a point of departure, where the various Muslims who had come to perform the pilgrimage from neighbouring lands would disperse and embark upon their own routes back home.

source: http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf

Situs Syiah mengklaim bahwa “Ghadeer Khum merupakan tempat kedatangan, di mana berbagai Muslim yang datang untuk melakukan haji dari daerah di sekitarnya akan menyebar dan memulai rute mereka sendiri untuk pulang.” Apa yang terlihat pada peta akan menunjukkan bagaimana hal tersebut benar-benar tidak masuk akal.

========================

( GAMBAR PETA 2 )
orang-orang yang melewati Ghadir Kum adalah hanya mereka yang menuju ke Madinah atau kota-kota di sebelah utara Ghadir Kum. Oleh karena itu, merupakan hal yang sangat tidak bijaksana bagi Nabi menyampaikan pidato penting tentang penggantinya di tempat itu, karena tidak seluruh muslim hadir di tempat itu. Akan lebih tepat jika pidato penting tersebut disampaikan di Mekah tempat di mana seluruh muslim berkumpul.

kaum Muslim dari seluruh penjuru kota telah berkumpul di Mekah, bukankah ini merupakan waktu yang paling tepat untuk menyatakan siapa pengganti Nabi?

(GAMBAR PETA 1 )
Namun para propagandis Syiah ingin agar kita percaya bahwa Muslim yang akan pulang ke Taif dan Yaman setelah haji akan melakukan perjalanan tambahan sekitar 500 km, perjalanan bolak-balik dari Mekah ke Ghadir Khum dan kemudian baru melakukan perjalanan dari Makah ke arah kota asalnya. Sebagaimana dinyatakan oleh Syiah sendiri, Ghadir Khum adalah sebuah lubang air dan tempat beristirahat bagi mereka yang bepergian … sesuatu hal yang mereka gagal untuk menyebutkan bahwa Ghadir Kum adalah tempat istirahat sepulang haji yang hanya cocok bagi mereka melewatinya, yaitu mereka yang pulang dari Mekah ke arah utara bukan bagi mereka yang pulang dari Mekah ke arah selatan!

———————————-

tentu saja tidak wajar dan aneh bahkan sulit diterima akal sehat. Semestinya setelah haji, semua orang kembali ke kota-kota atau rumah mereka masing-masing dan orang Mekah akan tetap tinggal di sana. Mengapa mereka setelah haji harus melalui rute melewati Ghodir Kum, mengingat fakta bahwa Muslim pada waktu itu kebanyakan berjalan kaki di gurun pasir yang berat. Perjalanan ekstra menuju Ghadir Khum sekitar 250 km dan kembali lagi akan menambahkan waktu beberapa minggu perjalanan. Apakah hal ini tidak aneh dan merendahkan akal sehat?

kesimpulan kami adalah bahwa klaim Syiah bahwa Nabi menunjuk Ali di depan seluruh Muslim sangatlah tidak mungkin karena pada kenyataannya Nabi sama sekali tidak menyampaikan hal tersebut pada Khotbah Perpisahannya di Arafah. Adapun peristiwa Ghadir Khum, kita telah melihat bagaimana mungkin tempat ini akan menjadi tempat yang tepat yang digunakan Nabi untuk menunjuk Ali sebagai khalifah berikutnya, karena hal sepenting itu semestinya disampaikan oleh Nabi kepada seluruh muslimin sewaktu mereka masih berkumpul pada saat haji, bukan hanya kepada sebagian muslimin yang sedang melakukan perjalanan pulang ke arah sebelah utara kota Mekah.

sekte.syiah. gakpinter.geografi.com ^_^

===================

APA YANG SEBENARNYA TERJADI DI GHADIR KHUM ?

Tidak ada yang menyangkal adanya peristiwa Ghadir Khum, namun, apa yang kami sangkal adalah berlebihan-lebihannya Syiah berkaitan dengan cara yang mereka lakukan dalam mengungkapkan peristiwa tersebut.

Pertama, Syiah melebih-lebihkan tentang berapa banyak sebenarnya orang yang hadir di Ghadir Khum, mereka sering memberikan gambaran bahwa jumlahnya ratusan ribu. Seperti yang telah kami ilustrasikan di atas, bahwa hanya kaum Muslimin yang menuju ke Madinah saja yang hadir di Ghadir Khum, ini berarti bahwa orang-orang Mekah tidak hadir, demikian juga orang-orang Taif, Yaman, dll. Bahkan Syiah sering menyatakan bahwa 100.000 orang hadir di Ghadir Khum, suatu angka yang lebih tepat tentang jumlah orang yang hadir di Mekah untuk melaksanakan haji dari seluruh kota, bukan jumlah orang-orang yang kembali ke Madinah (yang hanya sebagian kecil dari jumlah tersebut). Berapapun jumlahnya, yang jelas hanya sebagian dari Muslim yang tidak termasuk Muslim yang tinggal di Mekah, Taif, Yaman, dll

Selain dari itu, konteks Ghadir Khum harus juga dipertimbangkan.

Apa yang terjadi di Ghadir Khum adalah bahwa Nabi menanggapi individu tertentu yang mengkritik Ali bin Abi Thalib. Latar belakang di balik peristiwa ini adalah bahwa beberapa bulan sebelumnya, Nabi telah mengirim Ali bersama 300 orang pasukan ke Yaman dalam sebuah ekspedisi. Hal ini disebutkan di website Syiah, www.najaf.org: “Ali diangkat sebagai pemimpin ekspedisi ke Yaman.”

(http://www.najaf.org/english/book/20/4.htm)

Tentara yang dipimpin oleh Ali sangat sukses di Yaman dan mereka mendapatkan banyak jarahan perang. Perihal jarahan perang inilah terjadi perselisihan antara Ali di satu sisi dan tentaranya di sisi lain. Hal ini diceritakan dalam buku Ibn Kathir “Al-Bidayah Wan-Nihayah”:

Di antara seperlima dari harta rampasan tersebut terdapat cukup pakaian linen untuk seluruh tentara, tetapi Ali telah memutuskan bahwa hal itu harus diserahkan kepada Nabi dan tidak disentuh.

Setelah kemenangan di Yaman, Ali menempatkan wakil komandannya yang bertanggung jawab atas pasukan yang ditempatkan di Yaman, sementara ia sendiri menuju ke Mekah untuk menemui Nabi untuk berhaji. Kami membaca:

Dalam kondisi tidak ada dia (Ali), bagaimanapun, orang yang ia tinggalkan sebagai petugas telah dibujuk untuk meminjamkan kepada setiap orang suatu perubahan baru pakaian selain dari linen tersebut. Perubahan tersebut sangat diperlukan karena mereka telah jauh dari rumah selama hampir tiga bulan.

Pasukan yang ditempatkan di Yaman kemudian berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji dengan Nabi:

Ketika mereka (para prajurit yang dikirim ke Yaman) belum jauh dari memasuki kota (Mekah), Ali berkuda keluar untuk menemui mereka dan heran melihat perubahan yang telah terjadi (dalam hal pakaian mereka).

“Aku memberi mereka pakaian,” kata wakil komandan, “bahwa penampilan mereka mungkin akan lebih pantas ketika mereka berada di kalangan masyarakat.” Orang-orang semua tahu bahwa setiap orang di Mekah sekarang mengenakan pakaian terbaik mereka untuk menghormati hari raya tersebut, dan mereka ingin terlihat yang terbaik. Tetapi Ali merasa ia tidak setuju kebebasan seperti itu dan ia memerintahkan mereka untuk mengenakan lagi pakaian lama mereka dan mengembalikan yang baru ke harta rampasan. Kebencian yang sangat dirasakan oleh seluruh tentara terhadap masalah ini, dan ketika Nabi mendengar hal itu, ia (Nabi) berkata: “Wahai manusia, jangan menyalahkan Ali, karena dia terlalu berhati-hati di jalan Allah untuk disalahkan.” Tetapi kata-kata ini belum cukup, atau mungkin hanya didengar oleh beberapa orang, dan kebencian masih berlanjut.

Dalam perjalanan pulang menuju Medina salah seorang pasukan mengeluhkan Ali kepada Nabi, yang membuat wajah Beliau berubah: “Bukankah aku tidak lebih dekat kepada orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri?” katanya, dan ketika orang itu mengiyakan, ia menambahkan: “Barangsiapa yang menjadikan saya sahabat tercintanya, maka Ali adalah (juga) sahabat tercintanya.” Kemudian dalam perjalanan tersebut, ketika mereka berhenti di Ghadir Khum, Ia (Nabi) mengumpulkan semua orang, dan mengambil tangan Ali sambil mengulangi kata-kata tersebut [yaitu siapapun yang mencintai saya, maka Ali ini adalah (juga) sahabat tercintanya]”, yang ia menambahkan doa: “Ya Allah, jadikanlah teman orang yang menjadikan dia temannya, dan musuhilah orang yang memusuhinya”, dan pengerutuan terhadap Ali tersebut menjadi tidak terdengar.

Para prajurit di bawah komando Ali tidak hanya terganggu perihal perubahan pakaian tersebut tetapi juga atas pembagian harta rampasan perang pada umumnya. Kaum muslimin, berkat kepemimpinan besar Ali, telah mendapatkan banyak unta, tetapi Ali melarang mereka dari mengambil kepemilikan unta tersebut. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Said bahwa Ali mencegah mereka dari mengendarai unta-unta dari harta rampasan perang yang telah mereka peroleh. Tetapi ketika Ali telah pergi ke Mekah, wakil komandannya menyerah pada permintaan pasukannya dan memungkinkan mereka menaiki unta tersebut. Ketika Ali melihat hal itu, ia menjadi marah dan ia menyalahkan wakil komandannya. Abu Sa’id berkata: “Ketika kami berada di perjalanan pulang ke Madinah, kami menyebutkan kepada Nabi sifat keras yang tidak mengenakkan yang kami lihat dari Ali , Nabi berkata: “Hentikan… demi Allah, aku telah mengetahui bahwa dia (Ali) telah melakukan hal baik karena Allah.”

Kejadian serupa ini telah dijelaskan dalam Sirah RasulAllah Ibnu Ishaq, kami membaca:

Ketika Ali datang (kembali) dari Yaman untuk memenuhi Rasul di Mekah, ia bergegas kepadanya dan meninggalkan orang yang bertanggung jawab atas pasukannya kepada salah seorang sahabatnya yang pergi dan memakaikan kepada setiap orang dalam pasukannya dengan pakaian dari linen yang dipunyai Ali. Ketika tentara mendekati, dia (Ali) pergi menemui mereka dan menemukan mereka mengenakan pakaian tersebut. Ketika ia bertanya apa gerangan yang telah terjadi, orang itu (wakilnya) mengatakan bahwa ia telah memakaikan orang-orang sehingga mereka kelihatan pantas ketika mereka berbaur dengan masyarakat. Dia (Ali) mengatakan kepada dia untuk melepas pakaian tersebut sebelum mereka menemui Rasul dan mereka melakukannya dan mengembalikan pakaian tersebut di antara harta rampasan perang. Tentara tersebut menunjukkan kebencian terhadap perlakuan yang merekaterima … ketika orang-orang mengeluhkan perihal Ali, Rasul muncul untuk mengatasi mereka dan dia (perawi) mendengar dia (Nabi) mengatakan: “Jangan salahkan Ali, karena dia terlalu teliti dalam hal-hal berkaitan dengan Allah, atau di jalan Allah, untuk disalahkan.”

(Ibnu Ishaq, Sirah Rasool-Allah, hal. 650)

Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa orang-orang di pasukan tersebut (yaitu kontingen yang dikirim ke Yaman) mulai mengkritik Ali karena ia mencegah mereka dari menunggang unta dan mengambil kembali pakaian baru yang telah mereka peroleh. Yaitu orang-orang yang menyertai Nabi ke Madinah melalui Ghadir Khum, dan merekalah yang sedang dibahas dalam Hadis terkenal Ghadir Khum.

Bahkan, dalam “Tarikh al-Islam”, peristiwa Ghadir Khum berada di bawah judul “Penghiburan bagi Ali”. Kami membaca:

Penghiburan bagi Ali

Selama haji, beberapa pengikut Ali yang telah bersama dia ke Yaman mengeluh kepada Nabi tentang Ali. Beberapa kesalahpahaman orang Yaman telah menimbulkan keraguan. Ditujukan kepada para sahabat di Ghadir Khum, Nabi saw bersabda memuji Ali: “Seseorang yang dia teman saya adalah teman Ali …” Mengikuti ucapan Nabi tersebut, Umar mengucapkan selamat kepada Ali berkata: “Mulai hari ini Anda adalah teman special saya”. Nabi kemudian tiba kembali di Al-Madinah dan anaknya Ibrahim meninggal dunia.

(Tarikh al-Islam, Vol.1, hal. 241)

===============================

intinya syiah ini golongan penipu^_^ yg kebiasaan memutar balikkan makna sebuah hadits dengan membuang cerita latar belakang riwayat hadits ini terjadi..seperti beberapa waktu lalu mereka koar2 bahwa umar shihab berbicara ttg syiah atas nama MUI..
hasilnya umar syiah di “damprat” oleh ketua umum MUI pusat ^_^

.syiahrafidhohimamiyah.tukangdusta.riwayat.sanasini.co.uk ^_^

Tiara Satrie alias Jjihad ‘Ali alias Wong Langka , kalian gak perlu senam atletik disni ^_^. ali sakran tau pembahasan ini terlalu berat utk badut2 syiah ^_^

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.