Beranda > Taqiyah > Note dari akun Awi Sirep 1

Note dari akun Awi Sirep 1

Diplomasi Munafik ala Iran-Yahudi

by Awi Sirep on Thursday, September 24, 2009 at 4:25pm ·
OMONG KOSONG

“Kami tidak menjual senjata-senjata ke Iran… Laporan-laporan itu sama sekali tidak berdasar.” –Shimon Peres, perdana menteri Israel, 1986 (Viorst, Sands of Sorrow, 275)

FAKTA

Hubungan Israel dengan Iran terus berlanjut bahkan setelah perebutan kekuasaan oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini pada 1979. Meskipun hubungan itu mendingin di bawah kebijaksanaan Khomeini yang anti-Zionis, Israel terus memasok Iran dengan peralatan militer. Tidak ada kesangsian bahwa Israel bekerja atas persetujuan Washington.

Penghinaan akibat penyanderaan yang dilakukan Iran atas lima puluh dua orang Amerika pada akhir 1979 (dan penahanan mereka hingga akhir masa kepresidenannya pada Januari 1981) membuat Presiden Jimmy Carter menjatuhkan embargo penjualan senjata ke Iran.

Pemerintah Reagan yang baru diangkat secara resmi meneruskan embargo tersebut, namun selama masa kepresidenan Reagan, Israel mengirimkan sejumlah besar materi ke Iran.

Meskipun secara resmi Israel menyangkal pada 1986 melalui Perdana Menteri Peres, para pejabat Israel lainnya berulang kali menyatakan secara terbuka bahwa pengapalan dilakukan dengan persetujuan Washington. Pemerintah Reagan pada waktu itu menyangkal persetujuan semacam itu.

Tetapi, ketika The New York Times melaporkan pada 1991 bahwa pemerintah Reagan telah secara diam-diam mengizinkan Israel untuk menjual senjata-senjata buatan AS senilai beberapa milyar dollar ke Iran sejak musim semi 1981, Menteri Luar Negeri James Baker pada dasarnya membenarkan cerita itu dengan mengatakan bahwa Amerika Serikat “kemungkinan besar telah” menyetujui penjualan-penjualan semacam itu namun dia tidak mengetahui seluk-beluknya.

Wartawan Times Seymour M. Hersh mengatakan dia tidak dapat menemukan mantan pejabat Reagan yang dapat mengemukakan dasar pemikiran dari kebijaksanaan itu.

Was Khomeini a British agent. Why did heroin production increase after he came to power? Why did Reagan sell him weapons?

Ada beberapa kemungkinan. Penelanjangan persekongkolan dengan segera menyatakan pengaturan itu sebagai bukti dari apa yang dinamakan persekongkolan Kejutan Oktober. Menurut beberapa kritikus, ini merupakan rencana dari para pejabat kampanye Reagan yang secara rahasia menjanjikan Iran pasokan senjata sebagai pertukaran untuk tidak dibebaskannya para sandera tersebut hingga setelah pemilihan presiden tahun 1991.

Persekongkolan itu, dikatakan, didorong oleh kekhawatiran para pendukung Reagan bahwa pembebasan para sandera di bulan Oktober akan meningkatkan kesempatan Carter untuk dipilih kembali. Persekongkolan semacam itu sama sekali tidak dapat dibuktikan, namun godaan dari potongan-potongan bukti itu mendorong diadakannya penyelidikan resmi.

Tetapi masih ada penjelasan-penjelasan lain, terutama yang melibatkan hubungan erat Israel dengan Iran.

Yang paling utama, Iran telah lama menjadi negara kunci dalam “strategi batas luar” Israel. Ini adalah rencana strategis Israel yang dikembangkan pada akhir 1940-an dan awal 1950-an untuk menghadapi negara-negara Arab dengan jalan menciptakan hubungan persahabatan dengan negara-negara non-Arab di ujung-ujung Timur Tengah Arab dan dengan kelompok-kelompok minoritas di wilayah itu.

Dalam pengertian luas, strategi itu menuntut dukungan Israel bagi setiap kelompok minoritas seperti bangsa Kurdi, Druze, dan Maronit di dalam wilayah Timur Tengah dan, di pinggirannnya, negara-negara seperti Ethiopia, Turki dan, yang terpenting, Iran.

Akibat strategi ini, Iran menjadi negara Muslim pertama yang memberikan pengakuan de facto atas Israel pada 1950. Selama bertahun-tahun hubungan itu menjadi sangat erat: Iran menjadi salah satu pemasok utama minyak Israel, dan Israel bergabung dengan Amerika Serikat pada awal 1970-an membantu Shah Iran mengganggu stabilitas Irak dengan jalan mendukung bangsa Kurdi.

Hubungan erat Israel dengan Iran terutama dimaksudkan untuk membuat Irak lemah dan perhatiannya dialihkan dari konflik Arab-Israel. Sebagaimana ditulis oleh kolumnis Ha’aretz S. Schweitzer: “Iran membuat rusuh kamp Arab dan menetralkan salah satu musuh potensial kita yang paling kuat dan sengit, Irak… Ada kebenaran dalam hukum-hukum geopolitik: siapa pun yang memerintah Teheran menjadi, mau tak mau, sekutu dari siapa pun yang memerintah Jerusalem. ”

Israel khawatir Irak akan mengalihkan perhatiannya dari Teluk Persia dan mengarahkan mesin militernya yang sangat kuat ke Israel. Sebagaimana dicatat oleh Menteri Pertahanan Israel Yitzhak Rabin pada 1988, jika Irak mengirimkan setengah saja dari tank-tank perangnya ke Yordania dan Syria untuk melawan Israel, negara Yahudi itu akan menghadapi di garis depan timurnya lebih banyak tank daripada yang digerakkan NATO di Eropa.

Dengan demikian, meskipun rezim baru Syi’ah Iran di bawah Ayatullah Khomeini secara terbuka bersikap anti-Zionis, Israel tetap memandang Iran yang kuat sebagai pihak yang dapat memenuhi kepentingan-kepentingan Israel dalam tahun-tahun mendatang.

Para pemimpin Israel berulang kali berusaha mempengaruhi kebijaksanaan AS agar menjauhi Irak dan mendekati Iran pada 1980-an.

Usaha ini dapat membantu menjelaskan mengapa Israel begitu tertarik untuk mempromosikan apa yang kemudian dikenal sebagai skandal Iran-Contra pada pertengahan 1980-an di mana pemerintah Reagan menjual senjata-senjata ke Irak melalui Israel.

American Army di sholatin by orang2 Syiah

Peranan sebagai perantara yang demikian penting menguatkan pengaruh Israel di Teheran, mengobarkan perang antara Iran dan Irak, yang dipandang Israel dari sudut kepentingan-kepentingan nasionalnya, dan melestarikan bisnis yang sangat menguntungkan.

Bahkan setelah terbongkarnya skandal Iran-Contra, Menteri Pertahanan Rabin pada 1987 secara terbuka mengecam kebijaksanaan AS yang terlalu bergantung pada dukungan Irak.

Rabin menuduh bahwa bantuan AS untuk Irak dan negara-negara Arab di wilayah teluk telah mengakibatkan Uni Soviet menjadi “satu-satunya adidaya yang dapat berbicara kepada dua pihak dalam perang, sementara Amerika Serikat tidak dapat melakukannya.”

jgn saleng tuduh… ngaku aje deh…

Rabin mengatakan bahwa Iran sekarang adalah musuh Israel, sambil menambahkan: “Tetapi pada saat yang sama, izinkan saya untuk mengatakan bahwa selama dua puluh delapan atau tiga puluh tujuh tahun Iran adalah sahabat Israel. Jika itu dapat berlangsung selama dua puluh delapan tahun… mengapa gagasan gila mengenai fundamentalisme Syi’ah ini tidak dapat enyah?”

Alasan terakhir bagi Israel untuk memasok senjata-senjata ke Iran di tengah embargo senjata AS adalah dalam kaitannya dengan komunitas Yahudi di sana. Ada sekitar tujuh puluh ribu orang Yahudi di Iran.

http://en.wikipedia.org/wiki/Iran%E2%80%93Contra_affairBaru kale ini ade ulame jdi model tatto… wakakaakkkk

Kategori:Taqiyah Tag:
  1. Mei 15, 2014 pukul 8:54 am

    You can also ask for regular servicing from the company as
    getting it serviced from some other source
    might not be that reliable. Recently, I read an article in Scientific
    American by Adam Hadhazy. These are the top reasons
    you should start prepping right now.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: