Beranda > Fitnah > Note dari akun Awi Sirep 37

Note dari akun Awi Sirep 37

penipuan ala jidad oli alias JJIHAD ALI – 4 – menuduh Imam Hanafi melegalkan pelacuran..

by Awi Sirep on Friday, July 16, 2010 at 12:28am ·

Terpaksa ane loncat sini dulu.. sabab udah keterlaluan kelakuan si jidad ali..

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’ : 32)

Dalam ilmu fiqh.. definisi berzina adlh.. dua insan sejoli melakukan hubungan pernikahan diluar PERNIKAHAN YANG SAH..

Apakah hukuman melakukan perzinahan… maka secara tegas Nabi SAW sdh mengajarkan bahwa hukuman kepada orang yg melakukan perzinahan atau hukum hadnya

jika kedua orang itu belum menikah maka keduanya dicambuk.. tapi jika sudah menikah maka dirajam.. itu adlah hukuman yg setimpal..

Hukum HAD sendiri adlh hukuman yg sudah ditetapkan pada KASUS MAKSIAT kadar besarnya sesuai yg dicontohkan Nabi SAW hanya KHUSUS maksiat itu…

selain hukum ada.. dalam istilah fiqh.. dikenal hukum ta’zir.. ta’zir bermakna pencegahan..

Secara syar‘î, TA’ZIR BERMAKNA SANKSI yang yang dijatuhkan atas kemaksiatan yang di dalamnya tidak ada HAD dan atau KAFARAT..

nah skrg kita lihat.. si jihad oli.. apa maksudnya menuduh IMAM HANAFI seorang ULAMA FIQH yg sangat disegani dengan menuduh melegalkan pelacuran lewat fatwanya..

lihat aja kalimat tuduhannya… http://www.facebook.com/note.php?note_id=145305952146690&ref=notif

“Kalian bisa mengumumkan marilah dengan Fatwa-fatwa tadi diatas kita buka tempat prostitusi yang mengatasnamakan Syariat Islam yang terproteksi dari ancaman hukuman menurut sang pahlawan “Abu Hanifah” Imam Pertama dari 4 Imam Ahl Sunnah”

=________________________=

LALU BAGAIMANA DENGAN FATWA2NYA IMAM HANAFI SOAL DIBAWAH INI.. YUK KITA COPAS LANGSUNG DARI NOTENYE..

رجل استأجر امرأة ليزني بها فزنى بها فلا حد عليهما في قول أبي حنيفة

Seorang laki-laki mengupah (ijarah) seorang wanita untuk berbuat zina (dengannya) kemudian si lelaki melakukan perbuatan itu maka sipelaku tidak dikenakan sangsi perzinahan (rajam atau cambuk) menurut Abu Hanifah.

http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=3302&idto=3302&bk_no=18&ID=332

Apakah ini berarti imam hanafi membolehkan PELACURAN .. eiit jangan senang dulu.. kita lanjutkan saja dulu pembahasannya..

وقال أبو محمد ذهب إلى هذا أبو حنيفة ولم ير الزنا إلا ما كان عن مطارفة وأما ما كان عن عطاء أو استئجار فليس زنا ولا حد فيه

Berkata Abu Muhammad; “Menurut Abu Hanifah masalah itu bukanlah perzinahan, namun pengupahan maka dari itu bukanlah termasuk zina”.

http://www.ahmedabaza.com/afala/fatawa3.html

Dan lagi2 Imam Hafani menegaskan bahwa ini bukan zina.. tapi pengupahan maka ANE TEGASKAN.. kasarnya IMAM HANAFI menyatakan PERSEWAAN TUBUH.. tapi apa donk.. klo BUKAN ZINA..

فأن استأجر إمرأة ليزني بها فزني بها ، وجب عليه الحد ، وكذلك إذا تزوج ذات رحم محرم ، ووطئها وهو يعتقد تحريمها وجب عليه الحد ، وقال أبو حنيفة : لا حد عليه في الموضعين جميعا.

) حلية الفقهاء في معرفةمذاهب الفقهاء لأبي بكر محمد بن احمد الشاشي القفال / ج8 / ص15(

Jika seorang pria mengupah seorang wanita untuk berzina dengannya hingga dia melakukan perbuatan tersebut, maka wajib di jatuhkan sangsi (HADD).

Dan juga jika seorang menikah dengan muhrimnya sendiri (yang diharamkan untuk di nikahi) kemudian orang tersebut menggaulinya dan dia tahu bahwa wanita itu muhrimnya (seperti ibunya atau saudarinya, Pent) maka hukuman wajib dilaksanakan atasnya.

Berkata Abu Hanifah: “Tidak dijatuhkan hukuman padanya dalam dua masalah tadi diatas”

(Lihat Hilyatul Fugaha Fi Ma’rifat Madzahib Al-Fugaha karya Abubakar Muhammad Bin Ahmad Syasyi Al-Gaffal Juz 8 hal 15)

SAMA.. IMAM HANAFI TETAP MENEGASKAN.. BAHWA ITU BUKAN ZINA BAHKAN MENEGASKAN TIDAK DIKENAKAN HADD..

ini terjemahan serampangan si jidad oli..

– Berkata Abu Hanifah: “Tidak dijatuhkan hukuman padanya dalam dua masalah tadi diatas” –

padahal arti sebenarnya adalah..

– Berkata Abu Hanifah: “tidak dijatuhkan hadd padanya dalam dua hal diatas” –

karena si penanya bertanya hukum HAD…

LALU APA DONK PENJELASANNYA.. tenang masing berlanjut…

الحنفية قالوا : إذا استأجر الرجل امرأة للزنا – فقبلت ، و وطئها ، فلا يقام الحد عليهما و يعزران بما يرى الإمام ، و عليها إثم الزنا يوم القيامة….

الفقه على المذاهب الأربعة للجزيري / كتاب الحدود – استئجار المرأة للزنا / ص1193 / الطبعة الأولى لدار ابن حزم – بيروت

(madzhab) Hanafiah berkata: “Jika seorang pria mengupah seoarang wanita umtuk berzina kemudian si wanita menyetujuinya, hingga keduanya melakukan perbuatan itu maka “HADD” (rajam/cambuk) tidak boleh dilaksanakan atas keduanya, namun keduanya di hukum Ta’ziir sesuai dengan pendapat imam kala itu. Dan keduanya menyandang dosa “perzinahan” di hari kiamat kelak.

Lihat kitab Figih Ala Madzahib Al-“Arbaah karya Al-Jaziry bab Hudud, isti’jar mar’ah lizzina hal: 1193, cetakan pertama dar ibnu Hazm-Bairut

قال الشيخ الجزيري: الحنفية – قالوا : إذا استأجر الرجل امرأة للزنا فقبلت ووطئها فلا يقام الحد عليهما ويعزران بما يرى الإمام وعليهما إثم الزنا يوم القيامة ، … .

الفقه على المذاهب الأربعة : ج 5 ص 47 .

Berkata Syeikh AlJaziry: “(madzhab) Hanafiah berkata; Jika seseorang laki-laki mengupah (ijarah) seorang wanita untuk melakukan perzinahan, lalu si wanita itu menerima dan menyetujui hingga silelaki tadi menyetubuhinya, maka HADD (sangsi seperti rajam atau cambuk) tidak di jatuhkan pada keduanya, namun keduanya di hukum Ta’zir (jenis hukuman lebih ringan dari hadd zina) sesuai dengan pendapat Imam kala itu. Tapi keduanya akan menyandang dosa Zina kelak di hari Kiamat….

(lihat Figih Ala Madzahib Al-Arbaah juz 5 hal 47)

SAMA.. IMAM HANAFI TETAP MENEGASKAN.. BAHWA ITU BUKAN ZINA DAN TIDAK DIKENAKAN HUKUMAN HAD.. TAPI HUKUM TA’ZIR

tapi si jidad ali sudah serampangan ngasih tanda kurung.. dengan seenak perutnya dia mengartikan hukum ta’zir dengan kalimat .. jenis hukuman lebih ringan dari hadd zina…

sok tau banget ya.. tapi tolong jelaskan donk…

NAH INI JAWABANNYA … YAITU HUKUM TA’ZIR.. tapi kata siapa hukum ta’zir lbh ringan dari hukum HAD..

kita balik ke soal ini..

Pertanyaan…

Jika seorang pria mengupah seorang wanita untuk berzina dengannya hingga dia melakukan perbuatan tersebut, maka wajib di jatuhkan sangsi (HADD).

Dan juga jika seorang menikah dengan muhrimnya sendiri (yang diharamkan untuk di nikahi) kemudian orang tersebut menggaulinya dan dia tahu bahwa wanita itu muhrimnya (seperti ibunya atau saudarinya, Pent) maka hukuman wajib dilaksanakan atasnya.

KENAPA PERTANYAAN INI MUNCUL..

KARENA TEGAS2 DALAM FIQH MAHZAB HANAFI.. PERLACURAN DAN INCEST BUKANLAH ZINA YG MANA HUKUMAN JELAS YAITU HUKUM HAD..

KARENA BAGI MAHZAB HANAFI BUKAN ZINA.. TAPI PERBUATAN INI ADALAH MAKSIAT MIRIP ZINA… MAKA HUKUMANNYA BEDA…

bukan hanya pelacuran.. perkosaan bagi mahzab hanafi bukan zina.. juga bagi tiga mahzab lainnya.. khusus kasus perkosaan.. KRN KASUSNYA.. SESEORANG DIPAKSA MELAKUKAN…

kebayang klo diterapkan hukum had.. kasihan yang diperkosa donk.. dia musti dicambuk ato dirajam juga.. maka dari itu hukum yg diterapkan bukan hukum HAD.. tapi hukum TA’ZIR..

tapi soal PELACURAN alias persewaan tubuh.. maka mahzab hanafy berbeda pendapat..

lalu adakah contohnya hukuman ta’zir itu pada masa Nabi SAW.. jelas ada..

ini contoh kasus pertama… si perempuan dilepaskan..

“Ada seorang perempuan yang diperkosa pada masa Nabi SAW, maka ia dilepaskan dari ancaman hukuman perzinahan, sementara pelakunya dikenakan hukuman”. (at-Turmudzi)

dan ini contoh kasus kedua…

sahabat Barra bin Azib ra, menyatakan: “Suatu saat aku bertemu dengan pamanku, ia sedang berjalan membawa bendera. “Mau kemana?” Ia mengatakan: “Aku diutus Rasulullah untuk mengeksekusi orang yang menikahi isteri ayahnya sendiri”. (lihat Ibn al-Atsir, Jâmi’ al-Ushûl, IV/275, no. hadits: 1829).

Dalam riwayat Ibn ‘Abbas, Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang melakukan hubungan intim dengan kerabat sedarah [mahram], maka ia pantas dibunuh”. (lihat Ibn al-Atsir, Jâmi’ al-Ushûl, IV/269, no. hadits: 1830).

WOW… HUKUMANNYA DIBUNUH DIMASA NABI SAW….

dalam fiqh ini daftar hukuman ta’zir :

Sanksi ta‘zîr dapat berupa:

(1) hukuman mati;

(2) cambuki;

(3) penjara;

(4) pengasingan;

(5) pemboikotan;

(6) salib;

(7) ganti rugi (ghuramah);

(8) peyitaan harta;

(9) mengubah bentuk barang

(10) ancaman yang nyata;

(11) nasihat dan peringatan;

(12) pencabutan sebagain hak kekayaan (hurmân);

(13) pencelaan (tawbîkh);

(14) pewartaan (tasyhîr).

dimana sesua putusan Imam atau Hakim.. pada masa itu..

untuk kasus apa ?

Kasus tazir secara umum terbagi menjadi:

(1) pelanggaran terhadap kehormatan;

(2) pelanggaran terhadap kemuliaan;

(3) perbuatan yang merusak akal;

(4) pelanggaran terhadap harta

(5) gangguan keamanan;

(6) subversi;

(7) pelanggaran yang berhubungan dengan agama.

=__________________________=

NAH INI YG MEMBEDAKAN FIQH IMAM HANAFI DIBANDING TIGA MAHZAB LAINNYA YG BERPENDAPAT

KALAU PELACURAN = PERZINAHAN MAKA HUKUMNYA HAD..

TAPI FIQH IMAM HANAFI

PELACURAN TIDAK SAMA DENGAN PERZINAHAN.. MAKA HUKUMNYA TA’ZIR BUKAN HUKUM HAD

jadi bisa dibayangkan.. kalau si jidad ali buka rumah bordil dizaman imam hanafi.. maka enggak akan berapa lama dia bakalan berhadapan dengan algojo yg siap memancung kepalanya…

Kategori:Fitnah Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: