Beranda > Sahabat > Note dari akun Awi Sirep 39

Note dari akun Awi Sirep 39

Selain Imam Hasan ra yg membaiat.. – Muhammad bin al-Hanafiyyah.. bukti lain Muawiyah ra orang Muslim..

by Awi Sirep on Monday, July 19, 2010 at 5:50pm ·

bacaan lainnya perang Khalifah Abu Bakar ra lawan orang2 MURTAD

http://hbis.wordpress.com/2010/01/28/penumpasan-gerakan-rlddah-murtad/
http://hbis.wordpress.com/2010/01/28/penumpasan-gerakan-rlddahmurtad-lanjutan/

juga peristiwa GHADIR KHUM

http://masjidsegaf.wordpress.com/sejarah-hadist-ghodir-khum/

=________________________________=

Muhammad bin Ali bin Abi Thalib lebih dikenal dengan Muhammad bin Al Hanafiyah

(Dalam peperangan Yamamah Ali bin Abi Thalib RA telah mengambil salah seorang wanita mereka untuk diperistri, yaitu ibu dari anaknya yang bernama Muhammad, yang terkenal dengan nama Muhammad bin Hanafiyah. Peperangan Yamamah ini dimulai pada tahun 11 Hijriyah dan baru selesai pada tahun 12 Hijriyah)

“Yang aku tahu, hanya Muhammad bin Al Hanafiyah yang banyak menimba ilmu dari ‘Ali.” (Ibn al-Junaid)

Telah terjadi percekcokan antara Muhammad bin Al Hanafiyah dan saudaranya al- Hasan bin Ali, maka Ibn al-Hanafiah mengirim surat kepada saudaranya itu, isinya, “Sesungguhnya Allah telah memberikan kelebihan kepadamu atas diriku. Ibumu Fathimah binti Muhammad bin Abdullah SAW, sedangkan ibuku seorang wanita dari Bani Haniifah. Kakekmu dari garis ibu adalah utusan Allah dan makhluk pilihannya, sedangkan kakekku dari garis ibu adalah Ja’far bin Qais. Apabila suratku ini sampai kepadamu, kemarilah dan berdamailah denganku, sehingga engkau memiliki keutamaan atas diriku dalam segala hal.”

Begitu surat itu sampai ke tangan al-Hasan ia segera ke rumahnya dan berdamai dengannya. Siapakah Muhammad bin Al Hanafiyah , seorang adib (ahli adab/pujangga), seorang yang pandai dan berakhlak lembut ini? Marilah, kita membuka lembaran hidupnya dari awal.

Kisah ini bermula sejak akhir kehidupan Rasulullah SAW.

Pada suatu hari, Ali bin Abi Thalib duduk bersama Nabi SAW, maka ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu apabila aku dikaruniani seorang anak setelah engkau meninggal, (bolehkah) aku menamainya dengan namamu dan memberikan kunyah dengan kunyah-mu?.” “Ya” jawab beliau.

Kemudian hari-hari pun berjalan terus. Dan Nabi yang mulia SAW bertemu dengan ar- Rafiiqul al-A’laa (berpulang ke sisi Allah) dan setelah hitungan beberapa bulan Fathimah yang suci, Ibunda al-Hasan dan al-Husain menyusul beliau (wafat).

Ali lalu menikahi seorang wanita Bani Haniifah. Ia menikahi Khaulah binti Ja’far bin Qais Al Hanafiyah , yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki untuknya. Ali menamainya “Muhammad” dan memanggilnya dengan kun-yah “Abu al-Qaasim” atas izin Rasulullah SAW. Hanya saja orang-orang terlanjur memanggilnya Muhammad bin Al Hanafiyah , untuk membedakannya (bahwa ia lain ibu) dengan kedua saudaranya al- Hasan dan al-Husain, dua putra Fathimah az-Zahra. Kemudian iapun dikenal dalam sejarah dengan nama tersebut.

Muhammad bin Al Hanafiyah lahir di akhir masa khilafah ash-Shiddiq (Abu Bakar) RA. Ia tumbuh dan terdidik di bawah perawatan ayahnya, Ali bin Abi Thalib, ia lulus di bawah didikannya.

Ia belajar ibadah dan kezuhudan dari ayahnya mewarisi kekuatan dan keberaniannya menerima kefasihan dan balaghoh darinya. Hingga ia menjadi pahlawan perang di medan pertempuran singa mimbar di perkumpulan manusia seorang ahli ibadah malam (Ruhbaanullail) apabila kegelapan telah menutup tirainya ke atas alam dan saat mata-mata tertidur lelap.

Ayahnya RA telah mengutusnya ke dalam pertempuran-pertempuran yang ia ikuti. Dan ia (Ali) telah memikulkan di pudaknya beban-beban pertempuran yang tidak ia pikulkan kepada kedua saudaranya yang lain; al-Hasan dan al-Husain. Ia pun tidak terkalahkan dan tidak pernah melemah keteguhannya.

Pada suatu ketika pernah dikatakan kepadanya, “Mengapakah ayahmu menjerumuskanmu ke dalam kebinasaan dan membebankanmu apa yang kamu tidak mampu memikulnya dalam tempat-tempat yang sempit tanpa kedua saudaramu al- Hasan dan al-Husain?”

Ia menjawab, “Yang demikian itu karena kedua saudaraku menempati kedudukan dua mata ayahku sedangkan aku menempati kedudukan dua tangannya sehingga ia (Ali) menjaga kedua matanya dengan kedua tangannya.”

Dalam perang “Shiffin” yang berkecamuk antara Ali bin Abi Thalib RA dan Muawiyah bin Abi Sufyan RA. Adalah Muhammad bin Al Hanafiyah membawa panji ayahnya.

Dan di saat roda peperangan berputar menggilas pasukan dari dua kelompok, terjadilah sebuah kisah yang ia riwayatkan sendiri. Ia menuturkan, “Sungguh aku telah melihat kami dalam perang “Shiffin”, kami bertemu dengan para sahabat Muawiyah, kami saling membunuh hingga aku menyangka bahwa tidak akan tersisa seorang pun dari kami dan juga dari mereka. Aku menganggap ini adalah perbuatan keji dan besar.

Tidaklah berselang lama hingga aku mendengar seseorang yang berteriak di belakangku,

“Wahai kaum Muslimin…(takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada Allah)… wahai kaum Muslimin…”
“Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan anak-anak?”
“Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?”
“Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami?”
“Wahai kaum Muslimin takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah dan sisakan kaum muslimin, wahai ma’syarol muslimin”

Maka sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk tidak mengangkat pedangku di wajah seorang Muslim.

Kemudian Ali RA mati syahid di tangan pendosa yang dzalim (di tangan Abdurrahman bin Muljam)

Kekuasaan pun berpindah kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. Maka, Muhammad bin al- Hanafiyyah membaiatnya untuk selalu taat dan patuh dalam keadaan suka maupun benci karena keinginannya hanya untuk menyatukan suara dan mengumpulkan kekuatan serta untuk menggapai izzah bagi Islam dan Muslimin.

Muawiyah RA merasakan ketulusan baiat ini dan kesuciannya. Ia merasa benar-benar tentram kepada sahabatnya, hal mana menjadikannya mengundang Muhammad bin Al Hanafiyah untuk mengunjunginya.

Maka, ia pun mengunjunginya di Damaskus lebih dari sekali dan lebih dari satu sebab.

Di antaranya, bahwa kaisar Romawi menulis surat kepada Muawiyah. Ia mengatakan, “Sesungguhnya raja-raja di sini saling berkoresponden dengan raja-raja yang lain. Sebagian mereka bersenang-senang dengan yang lainnya dengan hal-hal aneh yang mereka miliki. Sebagian mereka saling berlomba dengan sebagian yang lain dengan keajaiban-keajaiban yang ada di kerajaan-kerajaan mereka. Maka, apakah kamu mengizinkan aku untuk mengadakan (perlombaan) antara aku dan kamu seperti apa yang terjadi di antara mereka?” Maka, Muawiyah mengiyakannya dan mengizinkannya.

Kaisar Romawi mengirim dua orang pilih-tandingnya. Salah seorang darinya berbadan tinggi dan besar sekali sehingga seakan-akan ia ibarat pohon besar yang menjulang tinggi di hutan atau gedung tinggi nan kokoh. Adapun orang yang satu lagi adalah seorang yang begitu kuat, keras dan kokoh seakan-akan ia ibarat binatang liar yang buas. Sang kaisar menitipkan surat bersama keduanya, ia berkata dalam suratnya, “Apakah di kerajaanmu ada yang menandingi kedua orang ini, tingginya dan kuatnya?”

Muawiyah lalu berkata kepada ‘Amr bin Ash, “Adapun orang yang berbadan tinggi, aku telah menemukan orang yang sepertinya bahkan lebih darinya ia Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah. Adapun orang yang kuat, maka aku membutuhkan pendapatmu.”

‘Amr berkata, “Di sana ada dua orang untuk urusan ini, hanya saja keduanya jauh darimu. Mereka adalah Muhammad bin Al Hanafiyah dan Abdullah bin az-Zubair.”

“Sesungguhnya Muhammad bin Al Hanafiyah tidaklah jauh dari kita,” kata Muawiyyah.

“Akan tetapi apakah engkau mengira ia akan ridla bersama kebesaran kemuliaannya dan ketinggian kedudukannya untuk mengalahkan kekuatan orang dari Romawi ini dengan ditonton manusia,?” tanya ‘Amr.

Muawiyah berkata, “Sesungguhnya ia akan melakukan hal itu dan lebih banyak dari itu, apabila ia menemukan izzah bagi Islam padanya.”

Kemudian Muawiyah memanggil keduanya, Qais bin Sa’d dan Muhammad bin Al Hanafiyah .

Ketika majelis telah dimulai, Qais bin Sa’d berdiri dan melepaskan sirwal-nya (celana yang lebar) lalu melemparkannya kepada al-‘Ilj (perwira) dari Romawi dan menyuruhnya untuk memakainya. Ia pun memakainya. maka, sirwalnya menutupi sampai di atas kedua dadanya sehingga orang-orang ketawa dibuatnya.

Adapun Muhammad bin Al Hanafiyah , ia berkata kepada penterjemahnya, “Katakan kepada orang Romawi ini apabila ia mau, ia duduk dan aku berdiri, lalu ia memberikan tangannya kepadaku. Entah aku yang akan mendirikannya atau dia yang mendudukkanku. Dan bila ia mau, dia yang berdiri dan aku yang duduk”

Orang Romawi tadi memilih duduk. Maka Muhammad memegang tangannya, dan (menariknya) berdiri dan orang Romawi tersebut tidak mampu (menariknya) duduk.

Kesombongan pun merayap dalam dada orang Romawi, ia memilih berdiri dan Muhammad duduk. Muhammad lalu memegang tangannya dan menariknya dengan satu hentakan hampir-hampir melepaskan lengannya dari pundaknya dan mendudukkannya di tanah.

Kedua orang kafir Romawi tersebut kembali kepada rajanya dalam keadaan kalah dan terhina.

Sebagai tambahan tentang kisah Muhammad bin Al Hanafiyah , lihat:

– Hilyah al-Auliyaa oleh Abu Nu’aim, III:174
– Tahdziib at-Tahdziib, IX:354
– Shifah ash-Shafwah oleh Ibnul Jauzi (cet. Halab), II: 77-79
– Ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’d,V:91
– Al-Waafi bi al-Wafayaat (terjemah): 1583
– Wafayaat al-A’yaan oleh Ibnu Kholaqan, IV:169
– Al-Kamil, III:391 dan IV:250 pada kejadian-kejadian tahun 66 H
– Syadzarat adz-Dzahab, I:89
– Tahdziib al-Asma Wa al-Lughaat, I:88-89
– Al-Bad’u Wa at-Tarikh, V:75-76
– Al-Ma’arif oleh Ibnu Qutaibah: 123
– Al-‘Iqd al-Farid oleh Ibnu Abdi Rabbih, tahqiq al-‘Urayyan, Juz II,III,V dan VII

dari google.com.. hehehehehe… ^_^

=________________________________=

bacaan lainnya perang Khalifah Abu Bakar ra lawan orang2 MURTAD

http://hbis.wordpress.com/2010/01/28/penumpasan-gerakan-rlddah-murtad/
http://hbis.wordpress.com/2010/01/28/penumpasan-gerakan-rlddahmurtad-lanjutan/

juga peristiwa GHADIR KHUM

http://masjidsegaf.wordpress.com/sejarah-hadist-ghodir-khum/

Kategori:Sahabat Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: