Beranda > Kawin Mut'ah > Note dari akun Dodi ElHasyimi 6a

Note dari akun Dodi ElHasyimi 6a

Dalil2 Keharaman Mut’ah dan Seputar Masalah2 di Dalamnya

by Dodi ElHasyimi on Thursday, December 30, 2010 at 8:12am ·

BUKTI2 YURIDIS MENGENAI KEHARAMAN NIKAH MUT’AH YANG TIDAK BISA TERBANTAHKAN DENGAN DALIL/HUJJAH MANAPUN :

  1. 1.      FIRMAN ALLAH SWT :

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) [المؤمنون/5-7]

 

5. dan orang-orang yang MENJAGA KEMALUANNYA,

6. KECUALI TERHADAP ISTERI-ISTERI MEREKA ATAU BUDAK YANG MEREKA MILIKI; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.

7. Barangsiapa MENCARI YANG DI BALIK ITU MAKA MEREKA ITULAH ORANG-ORANG YANG MELAMPAUI BATAS.

Dari ayat2 diatas dapat diketahui bahwa dalam masalah ISTIMTA’ ( BERSENANG – SENANG ) YANG SAH ITU HANYA DAPAT DILAKUKAN MELALUI ISTRI2 DAN BUDAK PEREMPUAN SAJA, maka posisi mut’ah secara normatif syar’i tidak bisa terhitung secara sah sebagai istri atau budak perempuan, karena terbukti dalam ikatan mut’ah tidak ada istilah talaq, hak nafkah dan warisan, bahkan wanita2 dalam nikah mut’ah itu hanya berstatus sebagai wanita2 sewaan saja. Bisa dilibuktikan disini :

وروى الطوسي في كتاب الإستبصار ما نصه: (إن أبا جعفر قال: المتعة ليست من الأربع، لأنها لا تطلق ولا تورث ولا ترث، وإنما هي مستأجرة)

“At Thusi meriwayatkan dari kitab Al Istibshor : Sesungguhnya Abu Ja’far berkata : Mut’ah tidak terbatas phanya untuk 4 wanita, karena wanita yg dimutah tidak dicerai, tidak menerima warisan dan tidak mewariskan. Sesungguhnya dia adalah WANITA SEWAAN.”

Juga dalam riwayat dalam al kafi( terdapat juga dalam Al Istibshor dan At Tahdzib ) :

  • فقد روى الكليني في الفروع من الكافي والطوسي في كتابيه الإستبصار والتهذيب ما نصه: (عن زرارة عن أبي عبد الله عليه السلام قال: ذكرت له المتعة، أهي من الأربع؟.

فقال: تزوج منهن ألفاً فإنهن مستأجرات)

“Dari Zuroroh dari Abu Abdillah as, dia berkata : Aku berkata padanya mengenai mutah : Apakah terbatas dg 4 wanita ? beliau menjawab : Kawinlah dengan 1000 wanita dari mereka(para wanita), karena sesungguhnya mereka adalah WANITA2 SEWAAN.”

  1. 2.      HADIS :

 

صحيح مسلم – (ج 7 / ص 192)

فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنْ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

Rasulullah SAW bersabda : “Wahai para manusia, sesungguhnya pada mulanya aku mengizinkan kalian mengambil kesenangan dengan wanita2 dan sesungguhnya Allah telah MENGHARAMKAN HAL ITU SAMPAI HARI KIAMAT, maka siapa saja yang disampingnya memiliki sesuatu dari mereka maka lepaskanlah jalannya, dan janganlah kamu semua mengambil sesuatupun dari apa yang kamu datang kepada mereka.” ( HR. Muslim, juga terdapat dalam HR. Ahmad dan HR. Ibnu Abi Syaibah ).

Dari hadis diatas kita dapat mengetahui bahwa pernikahan mutah, yang sebelumnya  pernah diperbolehkan bagi orang yang posisi kebutuhannya mendesak ( dhorurot ), ternyata pada klimaksnya adalah DINYATAKAN KEHARAMANNYA OLEH ALLAH SWT MELALUI SABDA RASULULLAH SAW YANG BERUPA NASKH MUABBAD ( PENGHAPUSAN HUKUM UNTUK SELAMA – LAMANYA )INI.

KESIMPULAN 1 :

DENGAN 2 DALIL INI SAJA, MAKA CUKUP BAGI ORANG YANG BERIMAN, BERAKAL, MENDAMBAKAN KETENANGAN BATHIN, KESUCIAN FARJI SERTA KEBAHAGIAAN DI DUNIA DAN AKHIRAT UNTUK MENINGGALKAN KESYUBHATAN MENGENAI NIKAH MUT’AH INI, KARENA 2 HUJJAH INI TIDAK AKAN BISA DIGOYAHKAN OLEH DALIL MANAPUN JUGA, YANG BERMAKSUD UNTUK MELEGALKAN KEMBALI NIKAT MUT’AH.

 

Namun demikian kami akan sedikit menambahi hadis2 yang melarang nikah mut’ah ini sesuai dengan masanya :

Yang pertama :

صحيح مسلم – (ج 7 / ص 201)

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ 

 

Dari Sy Ali RA. : “Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang pernikahan mut’ah dan daging2 himar yang dipelihara pada zaman Khoibar.”( HR. Muslim, juga terdapat dalam HR. Bukhori dan HR. Ahmad ).

Yang kedua :

مسند أحمد – (ج 33 / ص 317)

عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ عَامَ أَوْطَاسٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ثُمَّ نَهَى عَنْهَا

Salamah bin Al Akwa’ berkata : “Rasulullah SAW member keringanan pada kami dalam masalah mut’ah wanita2 pada tahun Authos selama 3 hari, kemudian beliau melarangnya.” (HR. Ahmad, juga terdapat dalam HR. Ahmad )

Yang ketiga :

مسند أحمد – (ج 30 / ص 352)

فَقَالَ رَبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ يَنْهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ

Sabroh ( bin Mu’id ) berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW pada waktu haji wada’  melarang nikah mut’ah.” (HR. Ahmad, juga terdapat dalam HR. Abu Dawud ).

Dan masih banyak lagi hadis2 yang lain, bahkan ada yang meriwayatkan pelarangannya pada masa2 selain diatas, yaitu pada perang Umrotul Qodho’, seperti riwayat hadis di bawah ini  :

شرح النووي على مسلم – (ج 9 / ص 180)

وروى عن الحسن البصري أنها ما حلت قط الا في عمرة القضاء

Serta pada saat perang Tabuk :

شرح النووي على مسلم – (ج 9 / ص 180)

وذكر غير مسلم عن على أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عنها في غزوة تبوك من رواية إسحاق بن راشد عن الزهري عن عبد الله بن محمد بن علي عن أبيه عن علي

Jadi urutan pelarangan mut’ah menurut riwayat2 yang telah kami tulisan diatas adalah sbb :

  1. Hari khoibar
  2. Umrotul Qodho’
  3. Hari Fath/Authos
  4. Perang Tabuk
  5. Haji wada’

 

  • Keterangan : Alasan Rasulullah SAW mengumumkan naskh muabbad ketika haji wada’, ( posisi beliau adalah berdiri diantara Rukun dan pintu )adalah sebagaimana analisis yang disampaikan dalam Tafsir Qurthubi :

تفسير القرطبي – (ج 5 / ص 132)

لاجتماع الناس حتى يسمعه من لم يكن سمعه، فأكد ذلك حتى لا تبقى شبهة لأحد يدعي تحليلها؛ ولأن أهل مكة كانوا يستعملونها كثيرا.

“Karena disitu adalah tempat berkumpulnya manusia, sehingga orang yang belum mendengarnya akan bisa mendengarnya. Maka menjadi kokoh pelarangan mut’ah itu, sehingga tiada kesyubhatan bagi seseorang yang mendakwa akan kehalalannya, dan dikarenakan penduduk Mekkah pada waktu itu banyak sekali yang telah melakukan mut’ah.”

 

KESIMPULAN 2 :

DARI BERBAGAI DATA RIWAYAT HADIS, DITETAPKAN TERJADI SEJUMLAH REVISI TERHADAP LEGALITAS NIKAH MUT’AH, DIMANA SEBELUM PERANG KHOIBAR PERNAH DIPERBOLEHKAN, KEMUDIAN DIHARAMKAN KETIKA HARI TERJADINYA PERANG KHOIBAR – 7 H/ 629 M-. SETELAH ITU KETIKA HARI FATH MAKKAH -8 H/630 M- (‘AM AUTHOS KARENA KEDUANYA ADA KETERKAITAN )DIPERBOLEHKAN LAGI NAMUN HANYA 3 HARI, KEMUDIAN NIKAH MUT’AH DINYATAKAN HARAM UNTUK SELAMANYA PADA WAKTU HAJI WADA’.

  • Keterangan : Dapat dilihat dalam kitab Hasyiah I’anatuth Tholibin :

حاشية إعانة الطالبين – (ج 4 / ص 164)

أن نكاح المتعة كان مباحا ثم نسخ يوم خيبر ثم أبيح يوم الفتح ثم نسخ في أيام الفتح واستمر تحريمه إلى يوم القيامة وكان فيه خلاف في الصدر الاول ثم ارتفع وأجمعوا على تحريمه.

“Sesungguhnya nikah mut’ah diperbolehkan kemudian di nasakh pd hari Khoibar kemudian diperbolehkan pd hari Fath lalu di nasakh Lagi pada hari2 Fath dan berlangsung keharamannya hingga hari kiamat. Maka terjadilah perbedaan ( hukum ) pada awal ( islam ) kemudian dihapuslah ( hukumnya ) dan para sahabat IJMA’  (sepakat ) atas keharamannya.”

DAN PERLU DIINGAT BAHWA PEMBOLEHAN NIKAH MUT’AH ITU HANYA DIKARENAKAN OLEH FAKTOR SITUASI YANG MENDESAK (DHORUROT ) PADA SAAT ITU, YAITU PADA WAKTU PEPERANGAN ( JIHAD FI SABILILLAH ),DALAM RICUH SUASANA YANG GENTING, TIDAK ADA ISTRI YANG MENYERTAI, DITAMBAH DENGAN PANASNYA SUHU CUACA DAERAH, SERTA KONDISI LIBIDO PARA MUJAHIDIN YANG TIDAK BISA DIBENDUNG. JADI DALAM HISTORITAS HADIS2, RASULULLAH SAW TIDAK PERNAH SEKALIPUN MEMBERI KELONGGARAN ATAS NIKAH MUT’AH KEPADA MEREKA YANG SEDANG BERDOMISILI  TETAP ( MUQIM )DI DALAM RUMAH, ARTINYA KEBOLEHANNYA PASTI DALAM KONDISI SAFAR ( BEPERGIAN ) BAHKAN DALAM KEADAAN PEPERANGAN.

Kemudian mengenai berapa kali jumlah revisi nikah mut’ah dan sejauh mana dhorurot pembolehan mut’ah ini dapat kita ketahui dalam keterangan serta hadis di bawah ini :

 

تفسير القرطبي – (ج 5 / ص 130131-)

واختلف العلماء كم مرة أبيحت ونسخت؛ ففي صحيح مسلم عن عبدالله قال: كنا نغزو مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس لنا نساء؛ فقلنا: ألا نستخصي؟ فنهانا عن ذلك، ثم رخص لنا أن ننكح المرأة بالثوب إلى أجل. قال أبو حاتم البستي في صحيحه: قولهم للنبي صلى الله عليه وسلم “ألا نستخصي” دليل على أن المتعة كانت محظورة قبل أن أبيح لهم الاستمتاع، ولو لم تكن محظوره لم يكن لسؤالهم عن هذا معنى، ثم رخص لهم في الغزو أن ينكحوا المرأة بالثوب إلى أجل ثم نهى عنها عام خيبر، ثم أذن فيها عام الفتح، ثم حرمها بعد ثلاث، فهي محرمة إلى يوم القيامة. وقال ابن العربي: وأما متعة النساء فهي من غرائب الشريعة؛ لأنها أبيحت في صدر الإسلام ثم حرمت يوم خيبر، ثم أبيحت في غزوة أوطاس، ثم حرمت بعد ذلك واستقر الأمر على التحريم، وليس لها أخت في الشريعة إلا مسألة القبلة، لأن النسخ طرأ عليها مرتين ثم استقرت بعد ذلك. وقال غيره ممن جمع طرق الأحاديث فيها: إنها تقتضي التحليل والتحريم سبع مرات

Para ulama berbeda pendapat mengenai berapa kali mutah ini diperbolehkan dan di nasakh hukumnya. Maka dalam riwayat Imam Muslim yang diambil dari Abdullah bin Abbas, beliau berkata : “ Kami pernah berperana bersama Rasulullah SAW sedang ketika itu tidak ada wanita pada kami.” Maka kami bertanya : “Apa sebaiknya kita kebiri diri kita ?” Maka Rasulullah SAW melarang kita untuk melakukannya , lalu beliau memberikan rukhshoh ( dispensasi ) kepada kita untuk menikahi wanita untuk sementara waktu dengan mahar pakaian.” Dalam karya shohihnya Imam Abu Hatim Al Bustiyyi menorehkan analisa pada pertanyaan yg diajukan sahabat kepada Nabi SAW :  “Apa sebaiknya kita kebiri diri kita ?”adalah sebagai dalil bahwa mut’ah telah di larang ( diharamkan )sebelum istimta’ (bersenang – senang ) itu diperbolehkan bagi mereka. Karena seandainya tidak dilarang maka mereka tidak menanyakan mengenai pengebirian ini., maka kemudian diberikan dispensasi bagi mereka pada waktu peperangan untuk menikahi perempuan dengan menggunakan mahar pakaian dengan jangka waktu, lalu beliau melarang pernikahan ( mut’ah ) tadi pada waktu tahun Khoibar, lalu diperbolehkan lagi pada tahun Fath, lalu diharamkan lagi setelah berlalu 3 hari setelahnya, maka pelarangan ini adalah berlaku hingga hari kiamat.( dari referensi hadis ini maka Imam Abu Hatim berkesimpulan bahwa kalkulasi jumlah perubahan hokum mut’ah mencapai 5 kali ).

Ibnu Al Arobi memberikan statemen : “Konstitusi hukum memut’ah wanita adalah termasuk syariat yang langka. Karena ketetapan hukumnya pernah diperbolehkan pada awal masa keislaman kemudian diharamkan pada hari Khoibar, lalu diperbolehkan lagi pada perang Authos ( Hari Fath ), lalu setelah itu diharomkan untuk selamanya. Tidak pernah ada dalam fase hukum syariat (mengenai pengulangan naskh dan manshukhnya ) yang menyamainya kecuali dalam masalah ( menghadap ) kiblat, karena penasakhan hukum menghadap kiblat diperbarui 2 kali kemudian setelah itu dilangsungkan penetapannya.

Sedangkan hasil penelusuran para pengumpul riwayat2 hadis menyatakan adanya penghalalan dan pengharaman sebanyak 7 kali.

تفسير القرطبي – (ج 5 / ص 131)

وقال عمرو عن الحسن: ما حلت المتعة قط إلا ثلاثا في عمرة القضاء ما حلت قبلها ولا بعدها.

Sedang versi Amr bin Maimun dari Al Hasan Bashri : Mut’ah tidak pernah dihalalkan sama sekali kecuali 3 kali dalam Umrotul Qodho’, tidak halal sebelum maupun sesudahnya.

شرح النووي على مسلم – (ج 9 / ص 180)

وقد ذكر في حديث بن أبي عمر أنها كانت رخصة في أول الاسلام لمن اضطر اليها كالميتة ونحوها

 

 

MENGENAI PENDAPAT IBNU ABBAS :

حاشية إعانة الطالبين – (ج 4 / ص 164)

وما نقل عن ابن عباس من جوازها رجع عنه فقد قال بعضهم والله ما فارق ابن عباس الدنيا حتى رجع إلى قول الصحابة في تحريم المتعة. ونقل عنه أنه قام خطيبا يوم عرفة وقال أيها الناس إن المتعة حرام كالميتة والدم والخنزير.

الدر المنثور – (ج 3 / ص 81)

وأخرج ابن المنذر والطبراني والبيهقي من طريق سعيد بن جبير قال : قلت لابن عباس : ماذا صنعت ، ذهب الركاب بفتياك؟ وقالت فيه الشعراء؟! قال : وما قالوا؟! قلت : قالوا :

أقول للشيخ لما طال مجلسه … يا صاح هل لك في فتيا ابن عباس

هل لك رخصة الأطراف آنسة … تكون مثواك حتى مصدر الناس

فقال إنا لله وإنا إليه راجعون ، لا والله ما بهذا أفتيت ، ولا هذا أردت ، ولا أحللتها إلا للمضطر ، ولا أحللت منها إلا ما أحل الله من الميتة والدم ولحم الخنزير

الدر المنثور – (ج 3 / ص 81)

وأخرج عبد الرزاق عن خالد بن المهاجر قال : أرخص ابن عباس للناس في المتعة فقال له ابن عمرة الأنصاري : ما هذا يا ابن عباس . . . ؟! فقال ابن عباس : فعلت مع إمام المتقين فقال ابن أبي عمرة : اللهم غفرا . ! إنما كانت المتعة رخصة كالضرورة إلى الميتة والدم ولحم الخنزير ، ثم أحكم الله الدين بعد .

الدر المنثور – (ج 3 / ص 80)

وأخرج النحاس عن علي بن أبي طالب أنه قال لابن عباس : إنك رجل تائه « إن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن المتعة » .

 

TERNYAT BELIAU ( IBNU ABBAS) TELAH MEREVISI ATAS PENDAPATNYA TENTANG KEBOLEHAN MUT’AH……

 

MENGENAI QIROAH IBNU ABBAS DAN IBNU MAS’UD :

شرح النووي على مسلم – (ج 9 / ص 179)

وتعلقوا بقوله تعالى فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن وفي قراءة بن مسعود فما استمتعتم به منهن إلى أجل وقراءة بن مسعود هذه شاذة لا يحتج بها قرآنا ولا خبرا ولا يلزم العمل بها

تفسير القرطبي – (ج 5 / ص 130)

وقرأ ابن عباس وأبي وابن جبير “فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى فأتوهن أجورهن “ثم نهى عنها النبي صلى الله عليه وسلم

الحاوى الكبير ـ الماوردى – دار الفكر – (ج 9 / ص 838)

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى : فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ [ النِّسَاءِ : 24 ] فَمِنْ وَجْهَيْنِ : أَحَدُهُمَا : أَنَّ عَلِيًّا وَابْنَ مَسْعُودٍ رَوَيَا أَنَّهَا نُسِخَتْ بِالطَّلَاقِ وَالْعِدَّةِ وَالْمِيرَاثِ . وَالثَّانِي : أَنَّهَا مَحْمُولَةٌ عَلَى الِاسْتِمْتَاعِ بِهِنَّ فِي النِّكَاحِ ، وَقَوْلُ ابْنِ مَسْعُودٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى يَعْنِي بِهِ الْمَهْرَ دُونَ الْعَقْدِ .

 

TERNYATA ADALAH QIRO’AH  IBNU MAS’UD ADALAH QIRO’AH SYADZ YG TIDAK BISA DIJADIKAN HUJJAH SEBAGAI QUR’AN DAN KHOBAR (HADIS) DAN TIDAK BOLEH MENGAMALKANNYA….!!!! SEDANG QIRO’AH IBNU ABBAS DAN IBNU JUBAIR TERNYATA SUDAH DILARANG OLEH RASULULLAH SAW DAN DINASAKH…..!!!

 

TAMBAHAN AYAT YANG MENASAKH SURAT ANNISA’ 24 :

الدر المنثور – (ج 3 / ص 80)

وأخرج أبو داود في ناسخه وابن المنذر والنحاس من طريق عطاء عن ابن عباس في قوله { فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة } قال : نسختها { يا أيها النبي إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن } [ الطلاق : 1 ] .{ والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء } [ البقرة : 228 ].{ واللائي يئسن من المحيض من نسائكم إن ارتبتم فعدتهن ثلاثة أشهر } [ الطلاق : 4 ]

وأخرج أبو داود في ناسخه وابن المنذر والنحاس والبيهقي عن سعيد بن المسيب قال : نسخت آية الميراث المتعة .

وأخرج عبد الرزاق وابن المنذر والبيهقي عن ابن مسعود قال : المتعة منسوخة ، نسخها الطلاق ، والصدقة ، والعدة ، والميراث .

وأخرج عبد الرزاق وابن المنذر عن علي قال : نسخ رمضان كل صوم ، ونسخت الزكاة كل صدقة ، ونسخ المتعة الطلاق والعدة والميراث ، ونسخت الضحية كل ذبيحة .

وأخرج عبد الرزاق وأبو داود في ناسخه وابن جرير عن الحكم . أنه سئل عن هذه الآية أمنسوخة؟ قال : لا . وقال عليّ : لولا أن عمر نهى عن المتعة ما زنا إلا شقي .

تفسير القرطبي – (ج 5 / ص 130)

وقال سعيد بن المسيب: نسختها آية الميراث؛ إذ كانت المتعة لا ميراث فيها. وقالت عائشة والقاسم بن محمد: تحريمها ونسخها في القرآن؛ وذلك في قوله تعالى: {وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ} وليست المتعة نكاحا ولا ملك يمين. وروى الدارقطني عن علي بن أبي طالب قال: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المتعة، قال: وإنما كانت لمن لم يجد، فلما نزل النكاح والطلاق والعدة والميراث بين الزوج والمرأة نسخت. وروى عن علي رضى الله عنه أنه قال: نسخ صوم رمضان كل صوم، ونسخت الزكاة كل صدقة، ونسخ الطلاق والعدة والميراث المتعة، ونسخت الأضحية كل ذبح. وعن ابن مسعود قال: المتعة منسوخة نسخها الطلاق والعدة والميراث.

HIKAYAT TENTANG MUT’AH :

حاشية إعانة الطالبين – (ج 4 / ص 164)

وقد وقعت مناظرة بين القاضي يحيى بن أكثم وأمير المؤمنين المأمون فإن المأمون نادى بإباحة المتعة، فدخل يحيى بن أكثم وهو متغير بسبب ذلك وجلس عنده فقال له المأمون: ما لي أراك متغيرا ؟ قال لما حدث في الاسلام. قال وما حدث ؟ قال النداء بتحليل الزنا. قال المتعة زنا ؟ قال نعم المتعة زنا قال ومن أين لك هذا ؟ قال من كتاب الله وسنة رسوله. أما الكتاب فقد قال الله تعالى: * (قد أفلح المؤمنون) * إلى قوله * (والذين هم لفروجهم حافظون، إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين، فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون) * يا أمير المؤمنين زوجة المتعة ملك اليمين ؟ قال: لا قال: فهي الزوجة التي عند الله ترث وتورث وتلحق الولد ولها شرائطها ؟ قال: لا. قال: فقد صار متجاوزا هذين من العادين، وأما السنة فقد روى الزهري بسند إلى على بن أبي طالب رضي الله عنه أنه قال: أمرني رسول الله (ص) أن أنادي بالنهي عن المتعة وتحريمها بعد أن كان أمر بها فالتفت المأمون للحاضرين وقال أتحفظون هذا من حديث الزهري قالوا نعم. فقال المأمون أستغفر الله نادوا بتحريم المتعة.

 

KELICIKAN SYIAH DALAM BERHUJJAH :

  1. MEMUTILASI DALIL

 

  1. Para Rofidhoh berkata : : “Ibnu Qoyyim dalam “Zaadul Ma’ad”, juz 1 hal. 213. menulis :

 

Dari Ayyub berkata : “Urwah berkata kepada Ibnu Abbas :’Apakah engkau tidak takut pada Allah dengan membolehkan mut’ah ?’. Ibnu Abbas menjawab :’Tanyakan pada ibumu sendiri, hai Urwah’. Kemudian Urwah mengatakan :’Abubakar dan Umar tidak melakukannya’. Ibnu Abbas menjawab :’Demi Allah, aku tidak melihat kamu menjadi lebih baik sampai Allah mengazab kamu. Kami menyampaikan hadits Rasulullah kepada kamu dan kamu menyampaikan hadits Abubakar dan Umar.”

Padahal lafadz lengkap percakapan ini :

زاد المعاد – (ج 2 / ص 190)

وَقَالَ عَبْدُ الرّازِقِ حَدّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيّوبَ قَالَ قَالَ عُرْوَةُ لِابْنِ عَبّاسٍ أَلَا تَتّقِي اللّهَ تُرَخّصُ فِي الْمُتْعَةِ ؟ فَقَالَ ابْنُ عَبّاسٍ : سَلْ أُمّك يَا عُرَيّةَ . فَقَالَ عُرْوَةُ : أُمّا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ ، فَلَمْ يَفْعَلَا ، فَقَالَ ابْنُ عَبّاسٍ : وَاَللّهِ مَا أَرَاكُمْ مُنْتَهِينَ حَتّى يُعَذّبَكُمْ اللّهُ أُحَدّثُكُمْ عَنْ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَتُحَدّثُونَا عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ ؟ فَقَالَ عُرْوَةُ : لَهُمَا أَعْلَمُ بِسُنّةِ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَتْبَعُ لَهَا مِنْك

Juga dapat dilihat disini :

الحاوى الكبير ـ الماوردى – دار الفكر – (ج 9 / ص 836)

وَنَاظَرَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ عَلَيْهَا مُنَاظَرَةً مَشْهُورَةً ، وَقَالَ لَهُ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ : أَهْلَكْتَ نَفْسَكَ ، قَالَ : وَمَا هُوَ يَا عُرْوَةُ ، قَالَ : تُفْتِي بِإِبَاحَةِ الْمُتْعَةِ ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ يَنْهَيَانِ عَنْهَا ، فَقَالَ : عَجِبْتُ مِنْكَ ، أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} وَتُخْبِرُنِي عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ ، فَقَالَ لَهُ عُرْوَةُ : إِنَّهُمَا أَعْلَمُ بِالسُّنَّةِ مِنْكَ فَسَكَتَ .

Jadi percakapan diatas masih berlanjut dg jawaban Urwah : ….”Sesungguhnya mereka berdua ( Abu Bakar dan Umar )  lebih mengetahui sunnah ( Nabi SAW ) daripada dirimu. Maka sanggahan ini membuat Ibnu Abbas terdiam.”

 

  1. Mengenai atsar :

 

وأخرج عبد الرزاق وأبو داود في ناسخه وابن جرير عن الحكم أنه سئل عن هذه الآية أمنسوخة ؟ قال لا وقال علي لولا أن عمر نهى عن المتعة ما زنا إلا شقي

 

Abdurrazaq, Abu Daud dalam kitab Nasikh dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Hakim ketika ia ditanya “apakah ayat ini dimansukh”?. Ia berkata “tidak”, dan Ali berkata “kalau Umar tidak melarang mut’ah maka tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka”.

 

Para Rofidhoh berkata : Atsar ini disampaikan oleh orang-orang yang tsiqah sehingga tidak ada alasan untuk menolak dan menentangnya, sehingga tidak diragukan lagi kalau Imam Ali alaihis salam telah menghalalkan mut’ah. Hakam bin Utaibah Al Kindi disebutkan Ibnu Hajar dalam kitab Taqrib juz 1 hal 232 sebagai orang yang tsiqat dan tsabit.

Padahal perkataan Ibnu Hajar dalam kitab tsb masih ada kelanjutannya ( kami tampilkan selengkapnya ) :

تقريب التهذيب – (ج 1 / ص 232)

الحكم بن عتيبة بالمثناة ثم الموحدة مصغرا أبو محمد الكندي الكوفي ثقة ثبت فقيه إلا أنه ربما دلس من الخامسة

Lihat pula komentar Jalaluddin as-Suyuthi dalam Asmaa’ al-Mudallisin juz 1 hal. 44 :

أسماء المدلسين – (ج 1 / ص 44)

الحكم بن عتيبة ذكره غير واحد يدلس

Juga bisa di cek pendapat Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqaat juz 4 hal. 144

الثقات لابن حبان – (ج 4 / ص 144)

الحكم بن عتيبة بن النهاس مولى امرأة من كندة من بنى عدى كوفى كنيته أبو محمد وقد قيل أبو عبد الله يروى عن أبي جحيفة وزيد بن أرقم روى عنه منصور وشعبة ولد سنة خمسين في ولاية معاوية ومات سنة خمس عشرة ومائة وقد قيل سنة ثلاث عشرة ومائة وكان يدلس

Jadi riwayat yang disandarkan kepada Sy Ali bn Abi Tholib RA diatas   statusnya dhoif dan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah,dengan alasan Al Hakam melakukan tadlis dan sanadnya terputus,sebab Al Hakam tdk pernah bertemu dengan Sy Ali bin Abi Tholib RA ( Al Hakam lahir tahun 50 H pada masa pemerintahan Sy Muawiyah RA sedang  Sy Ali meninggal pada tahun 40 H )

HUKUMAN DAN KONSEKUENSI BAGI PELAKU MUT’AH :

الحاوى الكبير ـ الماوردى – دار الفكر – (ج 9 / ص 840)

فَصْلٌ : فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا مِنْ تَحْرِيمِ الْمُتْعَةِ الآثار المترتبة على نكاح المتعة ، فَلَا حَدَّ فِيهَا لِمَكَانِ الشُّبْهَةِ ، وَيُعَزَّرَانِ أَدَبًا إِنْ عَلِمَا بِالتَّحْرِيمِ ، وَلَهَا مَهْرُ مِثْلِهَا بِالْإِصَابَةِ دُونَ الْمُسَمَّى وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ ، وَإِنْ جَاءَتْ بِوَلَدٍ لَحِقَ بِالْوَطْءِ : لِأَنَّهَا صَارَتْ بِإِصَابَةِ الشُّبْهَةِ فِرَاشًا ، وَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا بِغَيْرِ طَلَاقٍ : لِأَنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُمَا نِكَاحٌ يُلْزِمُ ، وَيَثْبُتُ بِهَذِهِ الْإِصَابَةِ تَحْرِيمُ الْمُصَاهَرَةِ

DALIL IJMA’ :

شرح النووي على مسلم – (ج 9 / ص 181)

قال القاضي واتفق العلماء على أن هذه المتعة كانت نكاحا إلى أجل لا ميراث فيها وفراقها يحصل بانقضاء الأجل من غير طلاق ووقع الاجماع بعد ذلك على تحريمها من جميع العلماء الا الروافض وكان بن عباس رضي الله عنه يقول بإباحتها وروى عنه أنه رجع عنه قال وأجمعوا على أنه متى وقع نكاح المتعة الآن حكم ببطلانه سواء كان قبل الدخول أو بعده الا ما سبق عن زفر واختلف أصحاب مالك هل يحد الواطئ فيه ومذهبنا أنه لا يحد لشبهة العقد وشبهة الخلاف

Fatwa Al Mazari :

 

شرح النووي على مسلم – (ج 9 / ص 179)

قال المازرى ثبت أن نكاح المتعة كان جائزا في أول الاسلام ثم ثبت بالأحاديث الصحيحة المذكورة هنا أنه نسخ وانعقد الاجماع على تحريمه ولم يخالف فيه الا طائفة من المستبدعة وتعلقوا بالأحاديث الواردة في ذلك وقد ذكرنا أنها منسوخة فلا دلالة لهم فيها

 

sebenarnya kami ingin menulis masalah2 mutah ini lebih panjang lagi, tetapi karena keterbatasan waktu kami cukupkan sampai disini…Afwan,, Wallohu A’lam

Iklan
Kategori:Kawin Mut'ah
  1. November 16, 2013 pukul 4:48 pm

    NIKAH MUT’AH
    Topik ini selalu hangat dan banyak dijadikan isu oleh suni dan salfi-wahabi untuk mendiskriditkan syiah. khususnya syiah imamiyah. Hampir semua ulama syiah membenarkan adanya nikah mut’ah dan kami tak akan mundur selangkahpun dari orang-orang bodoh dan pendengki serta nashibi yg berusaha menjadikan issue ini sebagai senjata pamungkas. Tapi anehnya walaupun syiah tlh mengakui atau menghalalkan nikah mut’ah masih juga kaum nawashib (pembenci keluarga nabi saw) mengatakan syiah telah BERTAQIYAH. sungguh pernyataan yg amat memilukan dan sekaligus menyediahkan buat saudara kami baik disuni dan wahabi.

    baik kita langsung saja membahas APAKAH NIKAH MUT’AH ITU AJARAN NABI SAW ATAU AJARAN YG MENYIMPANG. MARI KITA IKUTI KAJIANNYA.

    ADAKAH AYAT AL QUR’AN TENTANG NIKAH MUT’AH???

    DALIL YANG PERTAMA NIKAH MUTAH AJARAN NABI SAW

    حدثنا حميد بن مسعدة قال حدثنا بشر بن المفضل قال حدثنا داود عن أبي نضرة قال سألت ابن عباس عن متعة النساء قال أما تقرأ ” Adakah Ayat Al Qur’an Tentang Nikah Mut’ah?
    Syiah menyatakan kalau nikah mut’ah dihalalkan dan terdapat ayat Al Qur’an yang menyebutkannya yaitu An Nisaa’ ayat 24. Salafy yang suka sekali mengatakan nikah mut’ah sebagai zina berusaha menolak klaim Syiah. Mereka mengatakan ayat tersebut bukan tentang nikah mut’ah.

    وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآَتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

    Dan [diharamkan juga kamu mengawini] wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki [Allah telah menetapkan hukum itu] sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian [yaitu] mencari istri-istri dengan hartamu untuk dinikahi bukan untuk berzina. Maka wanita [istri] yang telah kamu nikmati [istamta’tum] di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [An Nisaa’ ayat 24]
    Telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa “penggalan” An Nisaa’ ayat 24 ini berbicara tentang nikah mut’ah. Hal ini telah diriwayatkan dari sahabat dan tabiin yang dikenal sebagai salafus salih [menurut salafy sendiri]. Alangkah lucunya kalau sekarang salafy membuang jauh-jauh versi salafus salih hanya karena bertentangan dengan keyakinan mereka [kalau nikah mut’ah adalah zina].

  2. November 16, 2013 pukul 4:50 pm

    RIWAYAT PARA SAHABAT NABI SAW
    حدثنا ابن المثنى قال حدثنا محمد بن جعفر قال حدثنا شعبة عن أبي مسلمة عن أبي نضرة قال قرأت هذه الآية على ابن عباس “ فما استمتعتم به منهن ” قال ابن عباس “ إلى أجل مسمى ” قال قلت ما أقرؤها كذلك! قال والله لأنزلها الله كذلك! ثلاث مرات

    Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abi Maslamah dari Abi Nadhrah yang berkata : aku membacakan ayat ini kepada Ibnu Abbas “maka wanita yang kamu nikmati [istamta’tum]”, Ibnu Abbas berkata “sampai batas waktu tertentu”. Aku berkata “aku tidak membacanya seperti itu”. Ibnu Abbas berkata “demi Allah, Allah telah mewahyukannya seperti itu” [ia mengulangnya tiga kali] [Tafsir Ath Thabari 6/587 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy]

    Riwayat ini sanadnya shahih. Para perawinya tsiqat atau terpercaya. Riwayat ini juga disebutkan Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 2 no 3192 dan Ibnu Abi Dawud dalam Al Masahif no 185 semuanya dengan jalan dari Syu’bah dari Abu Maslamah dari Abu Nadhrah dari Ibnu Abbas.

    • Muhammad bin Mutsanna adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Adz Dzahiliy berkata “hujjah”. Abu Hatim berkata shalih al hadits shaduq”. Abu Arubah berkata “aku belum pernah melihat di Bashrah orang yang lebih tsabit dari Abu Musa [Ibnu Mutsanna] dan Yahya bin Hakim”. An Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Khirasy berkata “Muhammad bin Mutsanna termasuk orang yang tsabit”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Khatib berkata “tsiqat tsabit”. Daruquthni berkata “termasuk orang yang tsiqat”. Amru bin ‘Ali menyatakan tsiqat. Maslamah berkata “tsiqat masyhur termasuk hafizh” [At Tahdzib juz 9 no 698]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 2/129]. Adz Dzahabi berkata tsiqat wara’ [Al Kasyf no 5134]

    • Muhammad bin Ja’far Al Hudzaliy Abu Abdullah Al Bashriy yang dikenal dengan sebutan Ghundar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ali bin Madini berkata “ia lebih aku sukai daripada Abdurrahman [Ibnu Mahdi] dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim berkata dari Muhammad bin Aban Al Balkhiy bahwa Ibnu Mahdi berkata “Ghundar lebih tsabit dariku dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan ia orang bashrah yang tsiqat dan ia adalah orang yang paling tsabit dalam riwayat dari Syu’bah [At Tahdzib juz 9 no 129]

    • Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]

    • Abu Maslamah adalah Sa’id bin Yazid bin Maslamah Al Azdi perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Sa’ad, Al Ijli, Al Bazzar menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 168]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 1/367]

    • Abu Nadhrah adalah Mundzir bin Malik perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Nasa’i, Ibnu Sa’ad, Ahmad bin Hanbal menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 528]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 2/213]

  3. November 16, 2013 pukul 4:51 pm

    سورة النساء ” ؟ قال قلت بلى! قال فما تقرأ فيها ( فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى ) ؟ قلت لا! لو قرأتُها هكذا ما سألتك! قال : فإنها كذا
    Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah yang berkata telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mufadhdhal yang berkata telah menceritakan kepada kami Dawud dari Abi Nadhrah yang berkata : aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang nikah mut’ah. Ibnu Abbas berkata : tidakkah engkau membaca surah An Nisaa’?. Aku berkata “tentu”. Tidakkah kamu membaca “MAKA WANITA YANG KAMU NIKMATI [ISTAMTA’TUM] SAMPAI BATAS WAKTU TERTENTU”?. Aku berkata “tidak, kalau aku membacanya seperti itu maka aku tidak akan bertanya kepadamu!. Ibnu Abbas berkata “SESUNGGUHNYA SEPERTI ITULAH” [Tafsir Ath Thabari 6/587 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy].

    Riwayat ini juga SHAHIH SANADNYA.
    Humaid bin Mas’adah termasuk perawi Ashabus Sunan dan Muslim. Abu Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkanya dalam Ats Tsiqat. Nasa’i menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 83]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/246]. Adz Dzahabi berkata “shaduq” [Al Kasyf no 1257].

    Bisyr bin Mufadhdhal adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Abu Hatim, Abu Zur’ah, Nasa’i, Ibnu Hibban, Al Ijli, Ibnu Sa’ad dan Al Bazzar menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 844]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit ahli ibadah” [At Taqrib 1/130].

    Dawud bin Abi Hind adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibnu Khirasy, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim dan Nasa’i menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 3 no 388]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat mutqin [At Taqrib 1/283].

    حدثنا عبد الله حدثنا نصر بن علي قال أخبرني أبو أحمد عن عيسى بن عمر عن عمرو بن مرة عن سعيد بن جبير ” فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى ” وقال هذه قراءة أبي بن كعب
    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Ali yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Ahmad dari Isa bin ‘Umar dari ‘Amru bin Murrah dari Sa’id bin Jubair “MAKA WANITA YANG KAMU NIKMATI [ISTAMTA’TUM] SAMPAI BATAS WAKTU TERTENTU” ia berkata “INI ADALAH BACAAN UBAY BIN KA’AB” [Al Masahif Ibnu Abi Dawud no 130]

    Riwayat ini SHAHIH PARA PERAWINYA TSIQAT.
    Abdullah adalah Abdullah bin Sulaiman bin Al Asy’at As Sijistani atau yang dikenal dengan Abu Bakar bin Abi Dawud, ia adalah seorang hafizh yang tsiqat dan mutqin [Irsyad Al Qadhi no 576].

    Nashr bin Ali Al Jahdhamiy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/243]. Abu Ahmad Az Zubairi adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin Zubair perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit hanya saja sering salah dalam hadis dari Ats Tsawriy [At Taqrib 2/95].

    Isa bin Umar Al Asdiy adalah perawi Tirmidzi dan Nasa’i yang tsiqat [At Taqrib 1/773].

    ‘Amru bin Murrah Abu Abdullah Al Kufiy perawi kutubus sittah yang tsiqat dan ahli ibadah [At Taqrib 1/745].

    Sa’id bin Jubair Al Asdiy adalah tabiin perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit faqih [At Taqrib 1/349]

  4. November 16, 2013 pukul 4:53 pm

    Syubhat PARA PENGINGKAR ( SALAFI-WAHABI)

    Kemudian ada yang berusaha mementahkan ayat nikah mut’ah ini dengan berbagai hadis yang katanya “mutawatir” tentang haramnya mut’ah. Usaha ini pun termasuk sesuatu yang aneh. Karena pada akhirnya apa yang mereka maksud mutawatir itu saling kontradiktif satu sama lain. Mereka sendiri dengan usaha yang “melelahkan” akhirnya menggeser satu demi satu hadis-hadis tersebut hingga tersisa satu hadis pengharaman mut’ah pada saat Fathul Makkah yang hanya diriwayatkan oleh satu orang sahabat. Jadi apanya yang mutawatir? Dan mereka menutup mata dengan berbagai hadis yang diriwayatkan sahabat dimana mereka membolehkan nikah mut’ah.

    Syubhat yang paling lucu adalah pernyataan bahwa An Nisaa’ ayat 24 di atas menggunakan kata istimtaa’ bukannya kata mut’ah dan istimtaa’ menurutnya bukan diartikan mut’ah. Sungguh orang seperti ini patut dikasihani, seharusnya ia membuka dulu berbagai riwayat atau hadis untuk melihat bagaimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan para sahabat telah menggunakan kata istimtaa’ untuk menyebutkan nikah mut’ah. Berikut diantaranya

    حدثنا عمرو بن علي قال نا يحيى بن سعيد عن إسماعيل عن قيس عن عبد الله قال كنا نغزو مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وليس معنا نساء فاستأذنه بعضنا أن يستخصي أو قال لو أذنت لنا لاختصينا فلم يرخص لنا ورخص لنا في الاستمتاع بالثوب
    Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Ali yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ismail dari Qais dari ‘Abdullah yang berkata “kami berperang bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan kami tidak membawa wanita maka sebagian kami meminta zini untuk mengebiri atau berkata sekiranya diizinkan kepada kami untuk mengebiri maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mengizinkan kami dan Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengizinkan kami untuk Istimtaa’ dengan pakaian [Musnad Al Bazzar 5/294 no 1671 dengan sanad yang shahih]

  5. November 16, 2013 pukul 4:55 pm

    Apakah maksud dari kata Istimtaa’ dengan pakaian di atas. Apakah maksudnya menikahi wanita secara permanen? Atau maksudnya menikahi wanita secara mut’ah?. Penjelasannya ada dalam hadis berikut.

    حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا وكيع عن بن أبي خالد عن قيس عن عبد الله قال كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم ونحن شباب فقلنا يا رسول الله ألا نستخصي فنهانا ثم رخص لنا في ان ننكح المرأة بالثوب إلى الأجل ثم قرأ عبد الله { لا تحرموا طيبات ما أحل الله لكم }
    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ibnu Abi Khalid dari Qais dari Abdullah yang berkata “kami bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan kami masih muda, kami berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidakkah kami dikebiri?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang kami melakukannya kemudian Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi keringanan kepada kami untuk MENIKAHI WANITA DENGAN PAKAIAN SAMPAI WAKTU YG DITENTUKAN. Kemudian ‘Abdullah membaca [Al Maidah ayat 87] “janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian” [Musnad Ahmad 1/432 no 4113, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim]

    Maka arti KATA ISTIMTAA’ yang digunakan oleh para sahabat adalah “MENIKAHI SEORANG WANITA SAMPAI BATAS WAKTU YANG DITENTUKAN”. Tidak hanya di hadis ini, bahkan di hadis-hadis yang dijadikan hujjah pengharaman mut’ah, kata yang digunakan untuk menyebutkan “nikah mut’ah” juga dengan lafal ISTIMTAA’.

  6. November 16, 2013 pukul 4:56 pm

    RIWAYAT PARA TABI’IN

    Tafsir An Nisaa’ ayat 24 sebagai dalil bagi nikah mut’ah bukanlah mutlak milik syi’ah tetapi termasuk pemahaman sahabat [Ibnu ‘Abbas dan Ubay] dan tabiin seperti halnya Mujahid [seorang imam dalam tafsir], As Suddiy dan Al Hakam bin Utaibah.

    حدثني محمد بن عمرو قال حدثنا أبو عاصم عن عيسى عن ابن أبي نجيح عن مجاهد فما استمتعتم به منهن قال : يعني نكاح المتعة
    Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Amru yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim dari ‘Isa dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid “maka wanita [istri] yang kamu nikmati [istimta’] diantara mereka”, ia berkata yaitu Nikah Mut’ah [Tafsir Ath Thabari 6/586 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy].

    Riwayat ini sanadnya shahih sampai Mujahid.
    Muhammad bin ‘Amru bin ‘Abbas Al Bahiliy adalah syaikh [guru] Ibnu Jarir Ath Thabari, dan dia seorang yang tsiqat [Tarikh Baghdad 4/213 no 1411].

    Abu ‘Aashim adalah Dhahhak bin Makhlad Asy Syaibani seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit [At Taqrib 1/444].

    Isa bin Maimun Al Jurasiy Abu Musa adalah seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/776].

    Abdullah bin Abi Najih Yasaar Al Makkiy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat dan dikakatan melakukan tadlis [At Taqrib 1/541] tetapi periwayatannya dari Mujahid juga diriwayatkan oleh Bukhari Muslim.

    Mujahid bin Jabr Al Makkiy adalah perawi kutubus sittah seorang yang tsiqat dan Imam dalam tafsir dan ilmu [At Taqrib 2/159]

  7. November 16, 2013 pukul 4:57 pm

    حدثنا محمد بن المثنى قال حدثنا محمد بن جعفر قال حدثنا شعبة عن الحكم قال سألته عن هذه الآية والمحصنات من النساء إلا ما ملكت أيمانكم إلى هذا الموضع فما استمتعتم به منهن أمنسوخة هي ؟ قال لا قال الحكم وقال علي رضي الله عنه لولا أن عمر رضي الله عنه نهى عن المتعة ما زنى إلا شقي
    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam [Syu’bah] berkata aku bertanya kepadanya tentang ayat “dan [diharamakan juga menikahi] wanita yang bersuami kecuali budak-budak yang kamu miliki” sampai pada ayat “MAKA WANITA [SITRI] YANG TELAH KAMU NIKMATI [ISTIMTA’] DIANTARA MEREKA” apakah telah dihapus [mansukh]?. [Al Hakam] berkata “tidak” kemudian Al Hakam berkata dan Ali radiallahu ‘anhu telah berkata seandainya UMAR RADIALLAHU ‘ANHU TIDAK MELARANG MUT’AH maka TIDAK ADA YANG BERZINA KECUALI ORANG YANG CELAKA [Tafsir Ath Thabari 6/588 tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At Turqiy].

    Riwayat ini sanadnya shahih sampai Al Hakam.
    Muhammad bin Al Mutsanna adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/129].

    Muhammad bin Ja’far Ghundar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat shahih kitabnya kecuali pernah keliru [At Taqrib 2/63].

    Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418].

    Al Hakam bin Utaibah seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat tsabit faqih dikatakan melakukan tadlis [At Taqrib 1/232].

    Riwayat Al Hakam menunjukkan kalau ia sendiri menafsirkan bahwa An Nisaa’ ayat 24 itu berkaitan dengan nikah mut’ah sehingga ketika ditanya apakah ayat tersebut telah dihapus ia menjawab “TIDAK” dan mengutip perkataan Imam Ali tentang mut’ah.

    Kesimpulan
    Yang dapat disimpulkan pada pembahasan kali ini adalah memang terdapat ayat Al Qur’an yang menghalalkan nikah mut’ah yaitu An Nisaa’ ayat 24 dan telah diriwayatkan dari sahabat dan tabiin [sebagai salafus salih] bahwa ayat tersebut memang berkenaan dengan nikah mut’ah.

    ARTINYA KALOPUN ADA HADIST TTG LARANGAN NIKAH MUT’AH TIDAK ADA NILAINYA KARENA SESHAHIH APAPUN HADIST KALO BERTENTANGAN DGN AL-QURAN MAKA WAJIB DIDAHULUKAN AL-QURAN. DAN KELEBIHAN AL-QURAN INI ADALAH DAPAT MENGHAPUS HADIST SESHAHIH APAPUN DIA. TAPI HADIST SHAHIH TAK DAPAT MEMANSUKH AL-QURAN.

    Tapi para nashibi tak akan diam mereka akan berusaha mempengaruhi org awam agar dapat bersama-sama diajaknya “KENERAKA” untuk menemaninya kelak. walaupun ia TAHU MANA YANG BENAR MANA YG BATHIL. wallahu a’lam

    dicopy dari dari bloq secondprince.wordpress.com

  8. Desember 26, 2013 pukul 10:49 am

    BUKTI2 YURIDIS MENGENAI KEHARAMAN NIKAH MUT’AH YANG TIDAK BISA TERBANTAHKAN DENGAN DALIL/HUJJAH MANAPUN

  9. Desember 26, 2013 pukul 10:57 am

    PENULIS BLOQ
    BUKTI2 YURIDIS MENGENAI KEHARAMAN NIKAH MUT’AH YANG TIDAK BISA TERBANTAHKAN DENGAN DALIL/HUJJAH MANAPUN

    jawab
    BUKTI YURIDIS DARI HONGKONG !!!
    MAKANYA JANGAN PAKE DALIL DAN MENGARTIKANNYA SEENAK PERUTMU. JADI KETAHUANKAN ANTUM MENENTANG AYAT ALLAH . DAN JANGAN JADIKAN KEBENCIANMU MENJADI STANDAR KEBENARAN.

    JANGANKAN SYIAH AJARAN ASWAJAPUN SEPERTI TAHLILLAN, MAULIDAN, KHURUJ JT DAN MENZIARAHI KUBUR SERTA TAWASUL SAJA KALIAN BID’AHKAN, SESATKAN BAHKAN BERANI MENSYIRIKAN TANPA ILMU. DGN ALASAN TIDAK ADA DALIL PERINTAH DAN ANJURAN DALAM MELAKSANAKANNYA SHG WAHABI MEMVONIS AHLUL BID’AH, SESAT BAHKAN SYIRIK.

    LALU BAGAIMANA KONSEP WAHABI MEMBAGI TAUHID MENJADI 3 ( ULUHIYAH, RUBUBIYAH DAN ASMA WA SIFAT) BUKANKAH KONSEP ITU TDK ADA PERINTAH, ANJURANDARI NABI SAW BAHKAN KETIGA GENERASI TERBAIK TIDAK MENGAMALKANNYA. DAN SATU2NYA YG MENGAMALKANNYA ADALAH SEKTE WAHABI. DAN LCUNYA KALIAN ANGGAP INI TIDAK BID;AH. INILAH KALO CINTA SUDAH BUTA SEMUA YG DILAKUKAN HARUS SESUAI HAWA NAFSU WAHABI. JIKA TDK DILAKUKAN WAHABI MAKA ORG AKAN DICAP AHLUL BID’AH, SESAT DAN MUSRYIK. TAPI DGN MUKA TEMBOK SALAFI-WAHABI MENGAKU ASWAJA PULA TUH…. DASAR TAK TAHU MALU.!!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: