Arsip

Archive for the ‘Ahlul Bait’ Category

Screen Shoot dari akun Aditya Riko 21

Abu Ahmad Muhammad ibn Ziyad al-Azdi berkata :

Aku mendengar Malik ibn Anas seorang faqih Madinah berkata ,”Aku mendatangi al-Shadiq Ja’far ibn Muhammad ‘alaihimassalam. Kemudian dia memberikan bantal sandaran untukku dan menunjukkan sikap hormat kepadaku kemudian berkata : “Wahai Malik, sungguh aku menyukaimu” Maka aku menjadi gembira dengan hal itu dan aku memuji Allah ta’ala karenanya.
Malik berkata : Dan dia (al-Shadiq) adalah seorang yang tidak pernah meninggalkan satu pun dari tiga kebiasaan : puasa, mendirikan shalat dan dzikr. Dia adalah termasuk dari para ahli ibadah besar, para zuhud besar yang sangat takut kepada Allah ‘azza wa jalla. ….dst…

Ref : ‘Ilal al-Syarai’ karya syaikh Shaduq, cetakan Darul Murtadha, Beirut

Dari riwayat diatas dapat kita catat hal-hal berikut ini :
1. Pengakuan bahwa Imam Malik ibn Anas adalah seorang faqih Madinah.
2. Imam Ja’far al-Shadiq menyukai Imam Malik sebagai muridnya.
3. Imam Malik mempunyai hubungan dekat dengan Imam Ja’far al-Shadiq, sehingga Imam Malik mengetahui kebiasaan-kebiasaan terpuji yang dimiliki oleh Imam Ja’far al-Shadiq.

Sebagaimana diketahui, Imam Malik ini salah satu ulama besar yang meninggalkan sebuah kitab ilmu yang yang sudah terkenal, dimana didalamnya terdapat riwayat-riwayat yang berasal dari Imam Ja’far al-Shadiq, yaitu kitab al-Muwaththa’. Oleh karena itu, jika dkatakan bahwa Imam Malik mewarisi ilmu Imam Ja’far al-Shadiq, hal tersebut didukung oleh kisah Syaikh Shaduq diatas, ditambah lagi bukti fisik berupa kitab al-Muwaththa’ yang sudah tersebar di seluruh penjuru dunia pendidikan Islam. Dan dari kitab itulah kita dapat mengetahui ilmu-ilmu seperti apa yang didapatkan Imam Malik dari Imam Ja’far tersebut.

Mari kita lihat contoh-contoh ilmu yang didapat oleh Imam Malik dari Imam Ja’far yang ada di dalam kitab al-Muwaththa’ :

Pertama :

وحدثني عن مالك عن جعفر بن محمد بن علي عن أبيه أن عمر بن الخطاب ذكر المجوس فقال ما أدري كيف أصنع في أمرهم فقال عبد الرحمن بن عوف أشهد لسمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول سنوا بهم سنة أهل الكتاب
http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=7&ID=197&idfrom=637&idto=640&bookid=7&startno=1

Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Ja’far ibn Muhammad, dari ayahnya bahwa Umar ibn al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menyebut orang Majuzi, kemudian berkata : Aku tidak tau bagaimana aku harus lakukan terhadap mereka ? Maka Abdurrahman ibn Auf berkata : Aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan terhadap ahl al-kitab.

Kedua :
حدثني يحيى عن مالك عن جعفر بن محمد عن أبيه عن جابر بن عبد الله أنه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم رمل من الحجر الأسود حتى [ ص: 284 ] انتهى إليه ثلاثة أطواف قال مالك وذلك الأمر الذي لم يزل عليه أهل العلم ببلدنا
http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=860&idto=864&bk_no=7&ID=268

Telah menceritakan kepadaku Yahya, dari Malik, dari Ja’far ibn Muhammad dari ayahnya dari Jabir ibn Abdullah bahwa dia berkata : aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlari-lari kecil dari al-hajar al-aswad sampai berakhir kembali di hajar aswad tiga kali putaran. Malik berkata : dan ditulah yang senantiasa dilakukan oleh ahli ilmu di negeri kami.

Dari contoh diatas, terlihat bahwa Imam Malik mengambil ilmu dari Imam Ja’far, dan selanjutnya ternyata didapatkan bahwa Imam Ja’far pun mengambil ilmu TIDAK SELALU dari jalur “khusus”, tetapi justru ayahnya Imam Ja’far mengambil ilmu dari para shahabat Nabi. (dari contoh diatas adalah Abdurrahman ibn ‘Auf dan Jabir ibn ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma).

Oleh karena itu ketika kaum syiah yang melabeli dirinya sebagai syiah ahl al-bait, atau juga pengikut madzhab Ja’fari, yang mengatakan bahwa para imamnya adalah orang ma’shum yang hanya mengambil ilmu dari orang ma’shum juga, hal tersebut bertentangan dengan apa yang ada di dalam al-Muwaththa’.

Maka bukti apakah yang akan dibawa oleh kaum syiah untuk mendukung klaimnya tsb, dan jika ada, apakah buktinya sanggup mengungguli al-Muwaththa’, kitab yang disusun oleh seorang Ulama yang hidup di masa Imam Ja’far, yang kepadanya Imam Ja’far mengatakan : “Wahai Malik, sungguh aku menyukaimu”. ?

Iklan

Screen Shoot dari akun Aditya Riko 1

Dari al-Hukumah al-Islamiyyah karangan imam Khomeini, teks yang di highlight kuning adalah imam Khomeini menyampaikan sabda Rasulullah Saw, bahwa
وإن العلماء ورثة الانبياء. إن الأنبياء لم يورِّثوا دينارا ولا درهما، ولكن ورَّثوا العلم. فمن أخذ منه أخذ بحظ وافر
Dan sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambil darinya, dia telah mengambil bagian yang banyak.

Kemudian imam Khomeini menyatakan : Hadits tersebut shahih.
——————————————-
Flash back ke ceramahnya Prof. Dr.(tanda tanya) Jalaluddin Rakhmat:

Lalu dia (Fulan ibnu Fulan) sambil..menangis… “Tapii emang saya dengar Nabi berkata bahwa para nabi itu seluruh warisannya jadi shadaqoh, nabi itu tidak mewarisi dan tidak mewariskan.

Lalu Sayyidah Fathimah : Jadi, riwayat yang kamu sampaikan itu, menghapus seluruh ayat al-Qur’an ? Bagaimana tentang ayat ini, tentang do’a nabi Zakariya yang berkata : “Berilah kepadaku seorang anak … – Yaritsunii wa yaritsu min aali Ya’quub waj’alhu rabbi radhiyya…Berilah kepadaku seorang anak yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya’qub, dan jadikanlah engkau ridha kepadanya -. Ini ternyata nabi Zakariya juga mewariskan sesuatu kepada anaknya. Katanya, begitu…Mengapa untuk Rasulullah tidak ada yang diwariskan ? Untuk nabi-nabi Sebelumnya ada ? Terjadilah itu perdebatan, antara Sayyidah Fathimah ..
http://www.facebook.com/video/video.php?v=10150693012058548

Itu adalah cuplikan ceramah Jalaluddin Rakhmat tentang tanah Fadak, yang intinya adalah ketika Abu Bakr al-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah Saw yang intinya adalah para Nabi tidak mewariskan, Jalaluddin menyebarkan dongeng dialog antara Fathimah dan Abu Bakr r.anhuma yang ujung-ujungnya adalah mendiskreditkan posisi Abu Bakr ra, yaitu mengesankan Abu Bakr ra berbohong, yang dengannya menyakiti Fathimah ra sehingga menjadikan Abu Bakr ra termasuk orang yang dilaknat dunia dan akhirat.

Sebetulnya link video diatas dan komen2nya sudah cukup membuktikan bahwa kisah dialog yang disampaikan dalam ceramah Jalaluddin Rakhmat hanyalah dongeng yang mengada-ada. Juga sebagai tambahan telaah, betulkah Fathimah ra marah ? Silahkan disimak disini :
http://www.facebook.com/groups/119706138093283/331453593585202/

Dan gambar ini hanya menunjukkan bahwa pernyataan ulama-ulama syiah itu saling menampar muka mereka sendiri, dimana dalam hal ini adalah pernyataan imam Khomeini yang menampar muka Jalaluddin Rakhmat.

Note dari akun Aditya Riko 2

Mei 17, 2012 1 komentar

Sikap Ali ra. Terhadap Penduduk Bashrah (situasi akhir perang Jamal, nukilan dari Al-Bidayah wan Nihayah)

by Aditya Riko on Wednesday, June 30, 2010 at 10:17pm ·

Ali ra. memasuki kota Bashrah pada hari senin empat belas Jumadil Akhir tahun 36 Hijriyah. Penduduk Bashrah membai’at beliau di bawah panji-panji mereka. Sampai-sampai orang-orang yang terluka dan orang-orang yang meminta perlindungan juga membai’at beliau. Abdurrahman bin Abi Bakrah dating menemui beliau dan berbai’at kepada beliau. Beliau berkata kepadanya, “Di manakah orang yang sakit?” -yakni ayahnya-. Abdurrahman menjawab, “la sedang sakit wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya ia ingin sekali bertemu denganmu.” Ali ra. berkata, “Tuntunlah aku ke tempatnya.” Ali ra. pun pergi menjenguknya. Abu Bakrah -ayah Abdurrahman- meminta udzur kepada beliau dan beliau menerimanya. Ali ra. menawarkannya jabatan sebagai amir Bashrah, namun ia menolak. Abu Bakrah berkata,” Angkatlah seorang lelaki dari keluargamu yang dapat membuat tenang penduduk negeri ini. Abu Bakrah mengisyaratkan agar mengangkat Abdullah bin Abbas , maka Ali ra. Pun mengangkatnya sebagai amir kota Bashrah. Lalu menunjuk Ziyad bin abihi sebagai petugas penarik pajak dan penanggung jawab Baitul Mai. Ali ra. memerintahkan Ibnu Abbas agar mendengar saran-saran Ziyad. Pada perang Jamal Ziyad mengasingkan diri dan tidak ikut terlibat dalam pepe-rangan.

 

Kemudian Ali ra. mendatangi rumah tempat Ummul Mukminin ‘Aisyah ra’ singgah. Ali ra. meminta izin kepadanya lalu masuk sembari mengucapkan salam kepadanya dan ‘Aisyah ra. ra.. menyambutnya dengan ucapan selamat. Seorang lelaki menyampaikan berita kepada Ali ra., “Wahai Amirul Mukminin, di luar ada dua orang lelaki yang mencaci Aisyah ra.” Maka Ali ra. Memerintahkan al-Qa’qa’ bin Amru agar mencambuk kedua lelaki itu masing-masing seratus kali cambuk.

 

Lalu ‘Aisyah ra. ra.. bertanya tentang pasukannya yang terbunuh dan pasukan Ali ra. yang terbunuh. Setiap kali disebutkan nama orang-orang yang terbunuh dari kedua belah pihak ‘Aisyah ra. mendoakan rahmat dan kebaikan untuk mereka.

 

Ketika Ummul Mukminin ‘Aisyah ra. hendak meninggalkan kota Bashrah, Ali ra. mengirim segala sesuatu yang diperlukan untuknya, mulai dari kenda-raan, perbekalan, barang-barang dan lainnya. Dan beliau mengizinkan pasukan Aisyah ra.. yang selamat untuk kembali bersamanya atau jika mau mereka boleh tetap tinggal di Bashrah. Beliau mengirim saudara lelaki ‘Aisyah ra., Muhammad bin Abi Bakar , untuk menyertainya. Pada hari keberangkatan, Ali ra. mendatangi rumah tempat ‘Aisyah ra. menginap, beliau berdiri di depan pintu bersama orang-orang. Kemudian ‘Aisyah ra. keluar dari rumah dalam sedekupnya, beliau mengucapkan selamat tinggal kepada mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka. ‘Aisyah ra. berkata, “Wahai bunayya, janganlah saling mencela di antara kalian. Demi Allah sesungguhnya apa yang telah terjadi antara aku dan Ali ra. hanyalah masalah yang biasa terjadi antara seorang wanita dengan ipar-iparnya. Sesungguhnya, meski aku dahulu mencelanya namun sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang terpilih.”

 

Ali ra. berkata, “Ia benar, demi Allah tidak ada masalah yang terjadi antara kami berdua kecuali seperti yang telah disebutkan. Sesungguhnya ia adalah istri nabi kalian , di dunia dan di akhirat.”

 

Kemudian Ali ra. berjalan mengiringinya sampai beberapa mil sembari mengucapkan selamat jalan kepadanya. Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu awal bulan Rajab tahun 36 Hijriyah. ‘Aisyah ra. ra.. dan rombongan berangkat me-nuju Makkah kemudian ia menetap di sana hingga musim haji pada tahun itu juga kemudian ia kembali ke Madinah.

 

Itulah ringkasan kisah yang disebutkan oleh Abu Ja’ far Ibnu Jarir dari para ulama sejarah. Tidak seperti yang disebutkan oleh para pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah) dari kalangan Syi’ah dan lainnya yang menyebarkan hadits hadits palsu atas nama sahabat. Dan kisah-kisah palsu yang mereka nukil tentang masalah ini. Jika mereka diajak kepada kebenaran yang nyata mereka berpaling sembari berkata, “Bagi kalian sejarah kalian dan bagi kami sejarah kami.” Jikalau begitu kami katakan kepada mereka:

 

“Kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil” (Al-Qashash: 55).

 

(Tahdzib wa tartib kitab al-Bidayah wan Nihayah, Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami.)

Note dari akun Awi Sirep 52

Cium Tangan Ahlul Bait Nabi SAW

by Awi Sirep on Monday, August 29, 2011 at 2:49am ·

Ane pernah suatu hari di TV nonton ceramahnya Ustadz Yusuf Mansur. Ustadz Yusuf Mansur ade masing cerita kiri2 begini (masing lupa-lupa ingat), “Dulu saya punya guru sudah tua, guru saya orangnya rendah hati dia tidak memandang siapa pun tua atau muda kalau orang itu layak dihormati maka meskipun kepada habib yang masih muda sekalipun maka guru saya tidak segan-segan mencium tangannya kepadanya.”

 

Jadi pertanyaan, apakah ntu sikap berlebihan-lebihan mencium tangan dzuriat Nabi atau ahlul bait Nabi ntu? atau cuman sekedar taqlid, atau gaya2an doank, atau cari muka.

 

Tenyata masing hal ntu bukan suatu yang buruk, bahkan ntu diperintahkan oleh Nabi SAW sendiri untuk menghormati ahlul bait Nabi SAW.. dan para sahabat Nabi SAW masing menyampaikannya kepada kaum muslimin.

 

Kagak percaya, nyok kita tengok yg dibawah ini :

 

Amir Asy-Sya’bi seorang qadi di Kufah pada masa Sayyidina Ali ra, yg pernah berfatwa sedungu2nya kaum adalah kaum syiah, menceritakan sebuah kisah seorang Sahabat Nabi SAW yang bernama Zaid bin Tsabit ra yang menjadi masing jadi penulis wahyu pada zaman Sayyidina Abu Bakar ra.

 

Dikisahkan Zaid bin Tsabit ra sedang mengendarai untanya, lalu masing beliau berpapasan dengan Ibnu Abbas ra, lalu diambilnya tali kekang unta Zaid bin Tsabit ra ini oleh Ibnu Abbas ra masing dituntunnya unta ntu olehnya. Zaid bin Tsabit ra merasa tidak enak dengan sikap rendah hati Ibnu Abbas ra, dia masing bilang, “Jangan begitu wahai anak paman Rasulullah SAW”. Tapi Ibnu Abbas ra menimpali perkataan Zaid bin Tsabit ra, “Tidak begitu, krn beginilah kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk menghormati ulama di kalangan kami”.Lalu Zaid bin Tsabit ra lalu berkata, “kemarikanlah tanganmu wahai anak paman Rasulullah”. Lalu masing Ibnu Abbas ra mengulurkan tangannya kepada Zaid bin Tsabit ra. Serta merta Zaid bin Tsabit ra mencium tangan Ibnu Abbas ra. Merasa segan situasi ini Ibnu Abbas ra hendak menanyakan alasannya masing kepada Zaid bin Tsabit ra, tapi Zaid bin Tsabit ra langsung menjelaskan, “Beginilah kami diperintahkan untuk menghormati Ahlul Bait Nabi SAW“. (AlMujalasah Wa Jawahirul Ilmi no. 1314, sanadnya Hasan)

 

Ingat Zaid bin Tsabit ra masing seorang ulama besar di zaman ntu, dia dipercaya mengumpulkan mushaf Al-Quran masing menjadi satu Kitab atas perintah Sayyidina Abu Bakar ra. Tapi semua hal ntu ternyata tdk menjadikan dirinya dianggap merendahkan diri ketika mencium tangan Ibnu Abbas ra yang masing usianya lebih muda darinya..

 

Jadi ndak masalah masing mencium tangan seorang sayyid asal tidak diniatkan cari muka alias riya atau mengkultuskannya kalau masing ntu habib udah ulama. Apatah lagi kalau udeh ulama lbih wajib lagi dihormati.

 

Cuman ade masing peringatan ye, jangan krn ntu dalih ntu cium tangan ntu di anjurkan jng sembarangan, dng alasan ntu dzuriat Nabi ntu lihat Syarifah bening main tarik tangannye terus main di cium aje tangannye.. awas yeee.. jangan cari kesempatan.. wakakakakkakakkk..

 

MINAL AIDZIN WAL FAIZDIN

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1423 H

Kategori:Ahlul Bait

Note dari akun Awi Sirep 43

Mei 17, 2012 6 komentar

Inilah wasiat Rasulullah SAW… Di Ghadir Khum dan TIGA WASIAT NABI SETELAH GHADIR KHUM…

by Awi Sirep on Tuesday, November 23, 2010 at 7:48pm ·

Yaziid bin Hayyaan At-Taimiy berkata:  Aku, Hushain bin Sabrah, dan ‘Umar bin Muslim berangkat menemui Zaid bin Arqam…

 

Zaid bin Arqam berkata, “Pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri dan berkhutbah kepada kami di sebuah mata air yang biasa disebut Khumm, yakni bertempat antara Ka’bah dan Madinah. Kemudian beliau memuji Allah dan mengungkapkan puji-pujian atas-Nya. Beliau memberi nasehat dan peringatan.

 

Dan setelah itu beliau bersabda : ‘Amma ba’du, wahai sekalian manusia, aku hanyalah seorang manusia, yang hampir saja utusan Rabb-ku mendatangiku hingga aku pun memenuhinya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan dua perkara yang sangat berat di tengah-tengah kalian. Yang pertama adalah Kitabullah. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Karena itu, ambillah dan berpegang-teguhlah kalian dengannya”.

 

Kemudian beliau bersabda lagi : “Dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahlul-baitku, aku ingatkan kalian karena Allah terhadap akan ahlul-baitku.”

 

Kemudian Hushain bertanya kepada Zaid : “Dan siapakah ahlul-baitnya wahai Zaid?. Bukankah isteri-isteri beliau adalah termasuk ahlul-baitnya?”.

 

Zaid menjawab : “Isteri-isteri beliau termasuk bagian dari ahlul-baitnya. Akan tetapi, ahlul-bait beliau adalah siapa saja yang telah diharamkan baginya untuk menerima sedekah setelah beliau”.

 

Hushain bertanya lagi : “Siapakah mereka itu?”.

 

Zaid menjawab : “Mereka adalah keluarga ‘Aliy, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbaas”.

 

Zaid bertanya lagi : “Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima sedekah?”.

 

Ia menjawab : “Ya”

 

(Imam Ahmad bin Hanbal)

 

Di lain hadits,

 

Zaid bin Arqam berkata,

 

“Rasulullah SAW bersabda : ‘Ketahuilah sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat besar. Salah satunya adalah Al Qur’an, barang siapa yang mengikuti petunjuknya maka dia akan mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat.’

 

Kemudian beliau bersabda lagi : ‘Dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahli baitku.'”

 

Lalu kami bertanya : “Siapakah ahlu baitnya, bukankah istri-istri beliau?”.

 

Dia menjawab : “Bukan, demi Allah. Sesungguhnya seorang istri bisa saja dia setiap saat bersama suaminya. Tapi kemudian bisa saja ditalaknya hingga akhirnya dia kembali kepada bapaknya dan kaumnya. Yang dimaksud dengan ahlul-bait beliau adalah, keturunan dan keluarga beliau yang diharamkan bagi mereka untuk menerima zakat.”

 

(Imam Muslim)

 

Ini adalah wasiat Nabi SAW..  saat Ghadir Khum

 

Pertama, Kitabullah (Kitab Suci Al-Quran). Kedua, Ahlul Bait Nabi.

 

Nah dihadits diatas ada suatu yang menarik?? Apakah isteri-isteri Nabi SAW adlh ahlul baitnya. Di hadits pertama dikatakan YA, tapi dihadits kedua dikatakan TIDAK.

 

Jawabannya Mudah, dihadits kedua Zaid bin Arqam menyinggung soal talak alias cerai.

 

Maka jika kita bisa berfikir jernih lalu kita tarik kesimpulan, maka jawabannya.

 

ISTERI-ISTERI NABI SAW adalah AHLUL BAIT NABI SAW selama Nabi SAW tidak mentalaknya alias mencerainya.

 

Dan sejarah mencatat, tidak ada satu pun setelah meninggalnya Nabi SAW ada isterinya yang ditalak. Maka seluruh janda Nabi SAW adlh Ahlul Bait Nabi SAW.

 

SEKIAN DAN SUKRON

 

 

PERISTIWA SETELAH GHADIR KHUM

 

Dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Ali bin Abi Thalib ra keluar dari sisi Rasulullah SAW ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abu al-Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah SAW?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah baik”. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah SAW) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini kamu akan menjadi “hamba tongkat”*. Sungguh aku mengerti bahwa Nabi SAW akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah SAW untuk menanyakan kepada siapa urusan ini dipegang? Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kita pun mengetahuinya dan beliau akan memberikan wasiatnya”. Ali bin Abi Thalib menjawab: “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakannya kepada Rasulullah SAW, lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah SAW.

 

(Imam Bukhari)

 

*) “hamba tongkat” berarti diperintah orang lain. Pepatah arab saat itu.

 

Abbas bin Abdul Muthalib ra, Ibnu Abbas ra bahkan Ali bin Abi Thalib ra sendiri mengetahui bahwa peristiwa di Ghadir Khum TIDAK ADA PERISTIWA PENUNJUKKAN ALI BIN ABI THALIB RA SBG PENGGANTI NABI SAW..

 

LIHAT PERNYATAAN ABBAS BIN ABDUL MUTHALIB RA…

 

“Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kita pun mengetahuinya dan beliau akan memberikan wasiatnya.”

 

artinya Abbas bin Abdul Muthalib pun bersedia jika memang wasiat itu tdk diserahkan pada kita.. kata “KITA” disini jelas maksudnya adlh Ahlul Bait.. krn Abbas bin Abdul Muthalib termasuk AHLUL BAIT NABI SAW…

 

LIHAT PERKATAAN TEGAS ALI BIN ABI THALIB RA…

 

“tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya.”

 

Artinya keputusan Allah SWT dan Nabi SAW.. tdk akan meleset.. seandainnya diserahkan kepada Ahlul Bait Nabi SAW.. maka tdk akan ada yang menghalanginya.. seandainya diserahkan kepada selain Ahlul Bait Nabi SAW… maka tdk akan pula ada yang mencegahnya…

 

=_____________________=

TIGA WASIAT NABI SETELAH GHADIR KHUM…

=_____________________=

 

Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Rasulullah SAW berwasiat tiga hal menjelang wafatnya.

 

Pertama, keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab. Kedua, berikan hadiah kepada delegasi seperti yang biasa kulakukan. Kemudian si perawi berkata? aku lupa isi wasiat yang ketiga?

 

(Imam Bukhari dan Imam Muslim)

 

[Shahih Bukhari jil. 7 hal. 121; Shahih Muslim jil. 5 hal. 75]

 

ane copas hadits ini dari blog –  syiahali.wordpress.com…  si pemilik blog tadinya mau mencela sunni…  tapi dia gak sadar.. klo hadits yg dia bawakan semakin menambah KEYAKINAN klo pada saat peristiwa GHADIR KHUM TIDAK ADA peristiwa penunjukkan..

 

lalu apa yang ketiga…

 

Dari Aisyah ra berkata, Nabi SAW bersabda, “Panggilkan kepadaku Abu Bakar dan saudaramu, agar aku bisa mendiktekan surat, karena sesungguhnya aku khawatir akan ada seseorang yang berambisi, lalu ada orang yang lain lagi mengatakan ‘aku lebih patut.’ Padahal Allah dan orang-orang mukmin menolak selain Abu Bakar”

 

(Imam Muslim)

 

ALLAH SWT MENJADIKAN ABU BAKAR RA SEBAGAI KHALIFAH PENGGANTI NABI SAW… DAN KAUM MUKMININ MENERIMANYA…

 

DAN INILAH WASIAT NABI SETELAH GHADIR KHUM DAN WASIAT NABI SAW TERBUKTI…

Note dari akun Awi Sirep 42

Mengangkat Note Lama Plus Bukti Screen Sht

by Awi Sirep on Tuesday, November 23, 2010 at 2:51pm ·

Note ini sekedar mengingatkan soal note ane yg lama yang masing judulnya :

 

“Nabi SAW mengajarkan kita untuk sholawat kpd.. Sayyidina Abu Bakar ra, Sayyidina Umar ra, Sayyidina Usman ra, Sayyidina Ali ra”

 

Kalau masing kgk percaya cek aje disini : http://www.facebook.com/note.php?note_id=398461393646

 

sekedar highlight… ane kasih definisi soal

 

PERTAMA ane bahas perbedaan cara pandang SUNNI DAN SYIAH soal definisi AHLUL BAIT NABI SAW…

 

ANe Comot alias kutip dikit dari NOTE LAMA…

 

=______________=

 

syiah mmbatasi hnya pada empat orang.. yaitu Ali ra, siti Fatimah az Zahra, Hasan dan Husein ra + imam2 dari kturunan Husein ra.

 

sdngkan Sunni menyatakan bahwa ahlul bayt Nabi SAW empat orang tsb + semua keturunan mereka. + isteri2 Nabi SAW + keturunan Nabi SAW + beberapa keluarga bani Hasyim lainnya..

 

=______________=

 

Comotan selesai.

 

 

Utamanya : Keluarga Ali, Keluarga Abbas, Keluarga Jafar.. dsb.. ada disebutkan disebuah hadits..

 

Nah definisi ini soal AHLUL BAIT TIDAK AKAN SELESAI SAMPAI AKHIR ZAMAN…

 

KEDUA kita beralih ke defini ‘Aalul Bait..

 

TAPI ADA SATU DEFINISI DIMANA MASING SUNNI MAUPUN SYIAH SEBENARNYA SEPAKAT.. hanya saja kagak kita sadari…

 

yaitu masing definisi soal Aali Sayyidina Muhammad  dalam SHOLAWAT … atau Keluarga Nabi SAW…

 

dicomot lagi dari note lama…

 

=____________________=

 

perbedaan pendapat soal Ahlul Bayt tdk akan selesai..

 

tapi skr kita balik lagi k sholawat saja dan terminologi keluarga…

 

apa arti sholawat diatas..

 

“Ya Allah berikanlah sholawat k atas Sayyidina Muhammad dan keluarga Sayyidina Muhammad seperti diberikan sholawat k atas Sayyidina Ibrahim dan keluarga Sayyidina Ibrahim… dst.. dst..

 

skr pertanyaannya adalah bkn seputar siapa ahlul bayt Nabi SAW.. tapi seputar siapa keluarga Nabi SAW..

 

yg jelas jika kita menyebut anggota keluarga kpd seorang laki2 maka akan termasuk..

 

1. Orang tua dari laki2 itu 2. Isteri2 dari laki2 itu 3. Mertua dari laki-laki itu 4. semua anak-anak dan cucu – cucu dari laki-laki itu 5. Menantu dari laki-laki itu

 

Jadi jawabannya…

 

Sayyidina Abu Bakar ra, Umar ra, Usman ra adlah termasuk keluarga Nabi SAW.. Siti Khadijah ra, Siti Aisyah ra, Siti Hafsah ra, dan isteri2 Nabi SAW lainnya termasuk keluarga Nabi SAW..

 

=____________________=

 

Keluarga Nabi SAW mencakup menantu dan mertua Nabi SAW.. http://www.facebook.com/note.php?note_id=466557478646 Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala aali sayyidina muhammad

 

JADI Nabi SAW mengajarkan kita untuk sholawat kpd.. Sayyidina Abu Bakar ra, Sayyidina Umar ra, Sayyidina Usman ra, Sayyidina Ali ra

 

SHOLAWAT….

 

Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala aali sayyidina muhammad

Kategori:Ahlul Bait, Bodoh, Sahabat Tag:

Note dari akun Awi Sirep 41

Fakta yang sangatlah jelas dari Keluarga Ahlul Bait Nabi SAW.

by Awi Sirep on Thursday, November 11, 2010 at 7:48pm ·

Ahlul Bait sungguh mulia… dengan nasab yang mulia dan Allah SWT memuliakannya dengan akhlak yang indah. Fakta yang sangatlah jelas dari Keluarga Ahlul Bait Nabi SAW.

 

Para ahlul bait Nabi mempunyai nasab yang mulia dan juga akhlak mulia. Wajib mencintai mereka.

 

“Sesungguhnya Nabi SAW memegang tangan Hasan dan Husain, sambil berkata, ‘Barangsiapa yang mencintaiku dan mencintai kedua orang ini dan ayah dari keduanya, maka ia akan bersamaku di dalam kedudukanku (surga) pada hari kiamat.’ ”

 

Sesungguhnya Abu bakar ra berkata, “Sungguh kerabat-kerabat Rasulullah SAW lebih aku cintai daripada keluargaku sendiri”.

 

=______________=

 

Fakta pergaulan para ahlul bait Nabi SAW dan dengan para sahabat dan umat islam lainnya,

 

Dari Aisyah ra, “Pernah isteri-isteri Nabi SAW berkumpul di tempat Nabi SAW. Lalu datang Fatimah r.a. sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan jalan Rasulullah SAW.

 

Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau menyambutnya seraya berkata :”Selamat datang, puteriku.” Kemudian beliau mendudukkannya di sebelah kanan atau kirinya. Lalu dia berbisik kepadanya.  Maka Fatimah menangis dengan suara keras. Ketika melihat kesedihannya, Nabi SAW berbisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum.

 

Setelah itu aku berkata kepada Fatimah : Rasulullah SAW telah berbisik kepadamu secara khusus di antara isteri-isterinya, kemudian engkau menangis!”.

 

Ketika Nabi SAW pergi, aku bertanya kepadanya :”Apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu ?” Fatimah menjawab :”Aku tidak akan menyiarkan rahasia Rasulullah SAW.”

 

Aisyah berkata :”Ketika Rasulullah SAW wafat, aku berkata kepadanya :”Aku mohon kepadamu demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah kepadaku apa  yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu itu ?”

 

Fatimah pun menjawab :”Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa bacaannya terhadap Al Qur’an sekali dalam setahun, dan sekarang dia memerika bacaannya dua kali. Maka, kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahuluimu.”

 

Fatimah berkata :”Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku, dan berkata :”Wahai, Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin wanita-wanita kaum Mukminin ?” Fatimah berkata :”Maka aku pun tertawa seperti yang engkau lihat.”

 

(Imam Muslim)

 

Dari Aisyah ra, dia berkata, “Isteri-isteri Nabi SAW pernah mengutus Fatimah ra kepada Rasulullah SAW. Dia meminta izin kepada beliau yang ketika itu tengah berbaring bersamaku di atas kainku. Lalu beliau memberikan izin kepadanya. Maka Fathimah berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteri-isterimu telah mengutusku kepadamu untuk meminta keadilan mengenai puteri Abu Quhafah (Aisyah)’, Dan aku pun diam. Lalu Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Wahai puteriku, bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?’. Fatimah pun menjawab, ‘Ya’. Kalau begitu, maka cintailah wanita ini (Aisyah ra)’, jawab Nabi SAW”.

 

(Imam Muslim)

 

“Suatu ketika Abu Bakar melaksanakan shalat Ashar. Setelah itu berjalan pulang dan melihat Hasan bin Ali sedang bermain dengan anak-anak sebaya. Abu Bakar kemudian menggendongnya seraya berkata, “Sungguh, anak ini sangat mirip dengan Nabi, tidak mirip Ali”. Mendengar pernyataan ini, Ali tertawa.

 

(Imam Bukhari)

 

Umar ra pernah berkhutbah kepada kami di atas mimbar Rasulullah SAW, Ia berkata, “Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling ahli di bidang hukum, dan Ubay bin Ka’ab adalah orang yang paling fasih bacaannya”

 

(Imam Bukhari)

 

Datang seorang lelaki kepada Umar bin Khattab untuk mengadukan Ali bin Abi Thalib. Umar berkata kepada Ali, “Berdirilah wahai Abu Al-Hasan dan duduklah di samping orang yang bersengketa denganmu.” Maka berdirilah Ali dengan wajah masam kemudian duduk di sebelah lelaki tersebut. Setelah mengemukakan masalah, Umar kemudian memutuskan perkara di antara mereka berdua.

 

Kemudian setelah masalah selesai dan lelaki tersebut pergi, Umar berkata kepada Ali, “Ada apa sebenarnya engkau ini, mengapa wajahmu berubah ketika aku menyuruhmu duduk di sebelah lelaki tadi? Apa ada hal yang tidak engkau sukai?” Ali kemudian menjawab, “Benar, memang aku tidak suka. Mengapa engkau memanggilku dengan nama kunyah di depan lelaki tadi. Pemanggilan dengan nama kunyah termasuk bentuk pemuliaan terhadap orang yang dipanggil. Mengapa engkau tidak mengatakan saja “Berdirilah wahai Ali dan duduklah di samping lelaki ini” ?

 

Kemudian Umar pun mencium kening Ali bin Abi Thalib karena kagum akan sikapnya.

 

Umar bin Khattab meskipun dia orang yang tegas dan tidak mau membeda-bedakan rakyatnya.. tapi beliau paham akan kedudukan Ali bin Abi Thalib.. sehingga beliau memanggil dengan penghormatan tinggi kepada Ali bin Abi Thalib.. dihadapan lelaki yang bersengketa dengan Ali ra.. tapi Ali pun mempunyai akhlak yang mulia.. beliau tdk mau dibeda2kan dalam masalah hukum.

 

Ketika jenazah Umar diletakkan di antara mimbar dan makam Rasulullah SAW, Ali r.a. datang dan berdiri di depan barisan, seraya mengatakan, “Inilah orangnya (tiga kali). Mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepadamu. Tidak seorang pun hamba Allah SWT yang paling aku cintai untuk bertemu Allah SWT (dengan membawa buku catatan yang baik), setelah buku catatan Nabi SAW, selain dari yang terbentang di tengah-tengah kalian ini (yakni jenazah Umar ra).”

 

(Imam Ahmad)

 

PARA AHLUL BAIT MEMULAI DAN MENCONTOHKAN MEMBERI NAMA ANAK-ANAKNYA DENGAN NAMA ABU BAKAR, UMAR DAN AISYAH..

 

Imam Ali ra memberi salah satu nama anaknya dengan nama Abu Bakar dan Umar

Imam Hasan ra memberi nama salah satu anaknya dengan nama Abu Bakar dan Umar

Imam Husein ra memberi nama salah satu anaknya dengan nama Abu Bakar dan Umar

 

Imam Ali Zainal Abidin memberi salah satu nama anaknya dengan nama Umar dan Imam Musa al-Kadzim memberi nama salah satu anaknya dengan nama Abu Bakar

 

(Kasyful Ghummah, Juz 2, Hal. 217)

 

Imam Ali al-Ridla  dan Imam Ali al-Hadi juga memberi nama salah seorang putrinya dengan nama Aisyah

 

(Kasyful Ghummah, Juz 2, Hal. 237)

 

Zaid bin Amr bin Utsman bin Affan menikah dengan Sukainah binti al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Muhammad bin Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan menikah dengan Fathimah binti al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.

 

(Nasabu Quraisy li al-Zubairi, Juz IV, Hal. 114 dan 120)

 

Imam Muhammad al-Baqir menikah dengan Ummu Farwah binti Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, dan ibu dari Ummu Farwah adalah Asma binti Abdurrahman bin Abu Bakar. Ummu Farwah adalah ibu dari Imam Jakfar Ash Shaddiq.

 

(Al-Kafi, Juz I, Hal. 472)

 

Imam Ja’far al-Shadiq, “Abu Bakar telah melahirkan aku dua kali”