Arsip

Archive for the ‘Wasiat dan Ghadir Qum’ Category

Screen Shoot dari akun Aditya Riko 1

Dari al-Hukumah al-Islamiyyah karangan imam Khomeini, teks yang di highlight kuning adalah imam Khomeini menyampaikan sabda Rasulullah Saw, bahwa
وإن العلماء ورثة الانبياء. إن الأنبياء لم يورِّثوا دينارا ولا درهما، ولكن ورَّثوا العلم. فمن أخذ منه أخذ بحظ وافر
Dan sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambil darinya, dia telah mengambil bagian yang banyak.

Kemudian imam Khomeini menyatakan : Hadits tersebut shahih.
——————————————-
Flash back ke ceramahnya Prof. Dr.(tanda tanya) Jalaluddin Rakhmat:

Lalu dia (Fulan ibnu Fulan) sambil..menangis… “Tapii emang saya dengar Nabi berkata bahwa para nabi itu seluruh warisannya jadi shadaqoh, nabi itu tidak mewarisi dan tidak mewariskan.

Lalu Sayyidah Fathimah : Jadi, riwayat yang kamu sampaikan itu, menghapus seluruh ayat al-Qur’an ? Bagaimana tentang ayat ini, tentang do’a nabi Zakariya yang berkata : “Berilah kepadaku seorang anak … – Yaritsunii wa yaritsu min aali Ya’quub waj’alhu rabbi radhiyya…Berilah kepadaku seorang anak yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya’qub, dan jadikanlah engkau ridha kepadanya -. Ini ternyata nabi Zakariya juga mewariskan sesuatu kepada anaknya. Katanya, begitu…Mengapa untuk Rasulullah tidak ada yang diwariskan ? Untuk nabi-nabi Sebelumnya ada ? Terjadilah itu perdebatan, antara Sayyidah Fathimah ..
http://www.facebook.com/video/video.php?v=10150693012058548

Itu adalah cuplikan ceramah Jalaluddin Rakhmat tentang tanah Fadak, yang intinya adalah ketika Abu Bakr al-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah Saw yang intinya adalah para Nabi tidak mewariskan, Jalaluddin menyebarkan dongeng dialog antara Fathimah dan Abu Bakr r.anhuma yang ujung-ujungnya adalah mendiskreditkan posisi Abu Bakr ra, yaitu mengesankan Abu Bakr ra berbohong, yang dengannya menyakiti Fathimah ra sehingga menjadikan Abu Bakr ra termasuk orang yang dilaknat dunia dan akhirat.

Sebetulnya link video diatas dan komen2nya sudah cukup membuktikan bahwa kisah dialog yang disampaikan dalam ceramah Jalaluddin Rakhmat hanyalah dongeng yang mengada-ada. Juga sebagai tambahan telaah, betulkah Fathimah ra marah ? Silahkan disimak disini :
http://www.facebook.com/groups/119706138093283/331453593585202/

Dan gambar ini hanya menunjukkan bahwa pernyataan ulama-ulama syiah itu saling menampar muka mereka sendiri, dimana dalam hal ini adalah pernyataan imam Khomeini yang menampar muka Jalaluddin Rakhmat.

Iklan

Note dari akun Awi Sirep 43

Mei 17, 2012 6 komentar

Inilah wasiat Rasulullah SAW… Di Ghadir Khum dan TIGA WASIAT NABI SETELAH GHADIR KHUM…

by Awi Sirep on Tuesday, November 23, 2010 at 7:48pm ·

Yaziid bin Hayyaan At-Taimiy berkata:  Aku, Hushain bin Sabrah, dan ‘Umar bin Muslim berangkat menemui Zaid bin Arqam…

 

Zaid bin Arqam berkata, “Pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri dan berkhutbah kepada kami di sebuah mata air yang biasa disebut Khumm, yakni bertempat antara Ka’bah dan Madinah. Kemudian beliau memuji Allah dan mengungkapkan puji-pujian atas-Nya. Beliau memberi nasehat dan peringatan.

 

Dan setelah itu beliau bersabda : ‘Amma ba’du, wahai sekalian manusia, aku hanyalah seorang manusia, yang hampir saja utusan Rabb-ku mendatangiku hingga aku pun memenuhinya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan dua perkara yang sangat berat di tengah-tengah kalian. Yang pertama adalah Kitabullah. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Karena itu, ambillah dan berpegang-teguhlah kalian dengannya”.

 

Kemudian beliau bersabda lagi : “Dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahlul-baitku, aku ingatkan kalian karena Allah terhadap akan ahlul-baitku.”

 

Kemudian Hushain bertanya kepada Zaid : “Dan siapakah ahlul-baitnya wahai Zaid?. Bukankah isteri-isteri beliau adalah termasuk ahlul-baitnya?”.

 

Zaid menjawab : “Isteri-isteri beliau termasuk bagian dari ahlul-baitnya. Akan tetapi, ahlul-bait beliau adalah siapa saja yang telah diharamkan baginya untuk menerima sedekah setelah beliau”.

 

Hushain bertanya lagi : “Siapakah mereka itu?”.

 

Zaid menjawab : “Mereka adalah keluarga ‘Aliy, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbaas”.

 

Zaid bertanya lagi : “Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima sedekah?”.

 

Ia menjawab : “Ya”

 

(Imam Ahmad bin Hanbal)

 

Di lain hadits,

 

Zaid bin Arqam berkata,

 

“Rasulullah SAW bersabda : ‘Ketahuilah sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat besar. Salah satunya adalah Al Qur’an, barang siapa yang mengikuti petunjuknya maka dia akan mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat.’

 

Kemudian beliau bersabda lagi : ‘Dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahli baitku.'”

 

Lalu kami bertanya : “Siapakah ahlu baitnya, bukankah istri-istri beliau?”.

 

Dia menjawab : “Bukan, demi Allah. Sesungguhnya seorang istri bisa saja dia setiap saat bersama suaminya. Tapi kemudian bisa saja ditalaknya hingga akhirnya dia kembali kepada bapaknya dan kaumnya. Yang dimaksud dengan ahlul-bait beliau adalah, keturunan dan keluarga beliau yang diharamkan bagi mereka untuk menerima zakat.”

 

(Imam Muslim)

 

Ini adalah wasiat Nabi SAW..  saat Ghadir Khum

 

Pertama, Kitabullah (Kitab Suci Al-Quran). Kedua, Ahlul Bait Nabi.

 

Nah dihadits diatas ada suatu yang menarik?? Apakah isteri-isteri Nabi SAW adlh ahlul baitnya. Di hadits pertama dikatakan YA, tapi dihadits kedua dikatakan TIDAK.

 

Jawabannya Mudah, dihadits kedua Zaid bin Arqam menyinggung soal talak alias cerai.

 

Maka jika kita bisa berfikir jernih lalu kita tarik kesimpulan, maka jawabannya.

 

ISTERI-ISTERI NABI SAW adalah AHLUL BAIT NABI SAW selama Nabi SAW tidak mentalaknya alias mencerainya.

 

Dan sejarah mencatat, tidak ada satu pun setelah meninggalnya Nabi SAW ada isterinya yang ditalak. Maka seluruh janda Nabi SAW adlh Ahlul Bait Nabi SAW.

 

SEKIAN DAN SUKRON

 

 

PERISTIWA SETELAH GHADIR KHUM

 

Dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Ali bin Abi Thalib ra keluar dari sisi Rasulullah SAW ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abu al-Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah SAW?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah baik”. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah SAW) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini kamu akan menjadi “hamba tongkat”*. Sungguh aku mengerti bahwa Nabi SAW akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah SAW untuk menanyakan kepada siapa urusan ini dipegang? Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kita pun mengetahuinya dan beliau akan memberikan wasiatnya”. Ali bin Abi Thalib menjawab: “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakannya kepada Rasulullah SAW, lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah SAW.

 

(Imam Bukhari)

 

*) “hamba tongkat” berarti diperintah orang lain. Pepatah arab saat itu.

 

Abbas bin Abdul Muthalib ra, Ibnu Abbas ra bahkan Ali bin Abi Thalib ra sendiri mengetahui bahwa peristiwa di Ghadir Khum TIDAK ADA PERISTIWA PENUNJUKKAN ALI BIN ABI THALIB RA SBG PENGGANTI NABI SAW..

 

LIHAT PERNYATAAN ABBAS BIN ABDUL MUTHALIB RA…

 

“Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kita pun mengetahuinya dan beliau akan memberikan wasiatnya.”

 

artinya Abbas bin Abdul Muthalib pun bersedia jika memang wasiat itu tdk diserahkan pada kita.. kata “KITA” disini jelas maksudnya adlh Ahlul Bait.. krn Abbas bin Abdul Muthalib termasuk AHLUL BAIT NABI SAW…

 

LIHAT PERKATAAN TEGAS ALI BIN ABI THALIB RA…

 

“tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya.”

 

Artinya keputusan Allah SWT dan Nabi SAW.. tdk akan meleset.. seandainnya diserahkan kepada Ahlul Bait Nabi SAW.. maka tdk akan ada yang menghalanginya.. seandainya diserahkan kepada selain Ahlul Bait Nabi SAW… maka tdk akan pula ada yang mencegahnya…

 

=_____________________=

TIGA WASIAT NABI SETELAH GHADIR KHUM…

=_____________________=

 

Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Rasulullah SAW berwasiat tiga hal menjelang wafatnya.

 

Pertama, keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab. Kedua, berikan hadiah kepada delegasi seperti yang biasa kulakukan. Kemudian si perawi berkata? aku lupa isi wasiat yang ketiga?

 

(Imam Bukhari dan Imam Muslim)

 

[Shahih Bukhari jil. 7 hal. 121; Shahih Muslim jil. 5 hal. 75]

 

ane copas hadits ini dari blog –  syiahali.wordpress.com…  si pemilik blog tadinya mau mencela sunni…  tapi dia gak sadar.. klo hadits yg dia bawakan semakin menambah KEYAKINAN klo pada saat peristiwa GHADIR KHUM TIDAK ADA peristiwa penunjukkan..

 

lalu apa yang ketiga…

 

Dari Aisyah ra berkata, Nabi SAW bersabda, “Panggilkan kepadaku Abu Bakar dan saudaramu, agar aku bisa mendiktekan surat, karena sesungguhnya aku khawatir akan ada seseorang yang berambisi, lalu ada orang yang lain lagi mengatakan ‘aku lebih patut.’ Padahal Allah dan orang-orang mukmin menolak selain Abu Bakar”

 

(Imam Muslim)

 

ALLAH SWT MENJADIKAN ABU BAKAR RA SEBAGAI KHALIFAH PENGGANTI NABI SAW… DAN KAUM MUKMININ MENERIMANYA…

 

DAN INILAH WASIAT NABI SETELAH GHADIR KHUM DAN WASIAT NABI SAW TERBUKTI…

Note dari akun Awi Sirep 7

Mei 17, 2012 2 komentar

Siti Fatimah ra dendam soal tanah Fadak kepada Abu Bakar ra??

by Awi Sirep on Saturday, November 7, 2009 at 6:30pm ·

Benarkah keterangan ulama-ulama syiah, bahwa Siti Fatimah, putri Rasulullah itu meninggal dunia dalam keadaan dendam pada Sayyidina Abubakar, karena persoalan tanah fadak, warisannya yang dirampas oleh Sayyidina Abu Bakar ?.

Pembaca yang kami hormati !

Pantaskah Siti Fatimah ra yang mendapat gelar sebagai Sayyidatu Nisa’ Ahlil Jannah itu mempunyai sifat dendam terhadap orang lain? apalagi terhadap orang yang sangat berjasa kepada ayahnya?.

Sebab sebagaimana kita ketahui, bahwa Siti Fatimah adalah putri Rasulullah yang telah mendapat pendidikan langsung dari Rasulullah, sehingga tidak diragukan lagi bahwa Siti Fatimah telah mewarisi sifat-sifat baik ayahnya, seperti Al Akhlaqul Karimah (akhlak yang mulia), Al’afwu’indal magdirah (pemberian maaf disaat ia dapat membalas) dan Husnuddhon (sangka baik) serta sifat baik Rasulullah yang lain.

Beliau Siti Fatimah dikenal sebagai seorang yang berakhlaq mulia, sopan santun, tidak sombong tapi rendah hati, walaupun beliau putri seorang Nabi. Beliau ramah serta lemah lembut dalam bertutur kata. Berjiwa besar, lapang dada serta pemaaf dan tidak mempunyai rasa ghil (rasa unek-unek tidak senang kepada orang lain). Sehingga tepat sekali kalau beliau itu mendapat gelar sebagai Sayyidatu Nisa’ Ahlil Jannah. Sebab di antara tanda-tanda penghuni surga adalah bahwa mereka itu tidak mempunyai rasa Ghil. Karenanya kami tidak dapat menerima kalau ada yang mengatakan bahwa Siti Fatimah wafat dalam keadaan dendam pada orang lain, dikarenakan urusan duniawi. Itu adalah satu penghinaan dan tuduhan kepada putri tersayang Rasulullah saw.

Beliau juga dikenal jujur dan tidak suka berdusta, sebagaimana kesaksian Siti Aisyah. Dimana Siti Aisyah pernah berkata kepada Rasulullah saw : “Bertanyalah kepada Fatimah, sebab dia itu tidak suka dusta.” Disamping itu semua, Siti Fatimah sangat sabar dalam menerima segala ujian serta ridha dan tawakkal atas takdir yang dialaminya. Walaupun keadaan ekonominya dalam keadaan serba kekurangan, namun beliau menerimanya dengan senang hati. Padahal beliau adalah putri seorang pemimpin.

Itulah diantara sifat-sifat mulia putri Rasulullah saw, dan apa yang kami sampaikan diatas adalah merupakan keyakinan dan kesaksian golongan Ahlussunnah Waljamaah, oleh karena itu kami tidak bisa menerima tulisan-tulisan ulama Syi’ah yang berakibat dapat mendiskriditkan Siti Fatimah.

Dengan demikian dapat kita pastikan bahwa Siti Fatimah tidak mungkin mempunyai sifat dendam, karena sifat dendam itu bukan sifatnya Ahlil Jannah, tetapi yang pasti beliau mempunyai sifat pemaaf (sifatnya Ahlil Jannah).

Oleh karena itu, kata-kata dendam yang ada dalam cerita Syi’ah tersebut merupakan suatu penghinaan pada Siti Fatimah ra.

Adapun masalah tanah fadak warisan Rasulullah saw, maka Siti Fatimah dan Imam Ali serta istri-istri Rasulullah dan pamannya Abbas telah menerima dengan baik keputusan Khalifah Abu Bakar, karena keputusan tersebut sesuai dengan perintah Rasulullah saw. Begitu pula keputusan tersebut telah berlaku di zaman Khalifah Umar dan Khalifah Utsman. Bahkan di zaman Khalifah Ali bi Abi Thalib keputusan tersebut terus diberlakukan oleh Imam ali.

Andaikata keputusan Khalifah Abu Bakar tersebut oleh Imam Ali dianggap tidak benar dan melanggar agama, pasti akan dirubahnya dan pasti warisan tersebut akan diserahkan kepada pemilik-pemiliknya.

Inilah keputusan Khalifah Abu Bakar mengenai warisan Rasulullah saw

Dasar keputusan Khalifah Abu Bakar adalah hadits Nabi yang berbunyi :

“Kami para Nabi tidak mewariskan, apa yang kami tinggalkan menjadi sodaqoh.”

(HR. Bukhari)

Dalam kitab-kitab hadits disebutkan bahwa diantara yang meriwayatkan hadits tersebut adalah Imam Ali, Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Usman, Sayyidina Abbas (paman Rasulullah saw) dan beberapa sahabat yang lain serta istri-istri Rasulullah saw.

Dengan dasar hadits tersebut, maka peninggalan Rasulullah yang berupa sebidang tanah perkebunan di Fadak dikuasai dan dikelola oleh pemerintah (Khalifah).

Selanjutnya oleh Khalifah Abu Bakar hasil dari kebun tersebut digunakan untuk keperluan keluarga Rasulullah dan sebagian diberikan kepada fakir miskin.

Hal mana sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah semasa hidupnya. Oleh karenanya Siti Fatimah dan Imam Ali serta yang lain menerima keputusan Khalifah Abu Bakar tersebut.

Yang mengherankan dan menjadi tanda Tanya, mengapa dalam masalah Fadak tersebut, ulama-ulama Syi’ah itu selalu menjadikan Siti Fatimah sebagai pelaku dalam masalah Fadak, padahal bukan hanya beliau saja yang berkepentingan. Mengapa tidak Sayyidina Abbas (paman Rasulullah) atau mengapa tidak istri-istri Rasulullah?. Katanya mereka itu mencintai Siti Fatimah, mengapa justru Siti Fatimah yang dijadikan obyek?

Mengapa dalam cerita-cerita yang dibuat oleh ulama-ulama syiah mereka tega memberi sifat kepada Siti Fatimah dengan kata-kata dendam, bermusuhan, berselisih, mengancam orang lain, menuntut warisan, menuntut kekhalifahan, tidak mau dilihat bila meninggal, tidak mau dishalati bila meninggal dan lain-lain.

Tidakkah mereka itu membaca keterangan dan kesaksian para sahabat yang banyak tertera dalam kitab-kitab Ahlus-sunnah bahwa Siti Ffatimah itu berakhlak mulia, tutur katanya lembut, pemaaf, dermawan, dan tidak mempunyai ambisi untuk mencari kekayaan apalagi kedudukan. Justru beliau minta kapada Allah agar digolongkan bersama orang-orang miskin, sebagaimana ayahnya Rosulullah saw. Beliau benar-benar mewarisi sifat-sifat mulia Rosulullah saw.

Oleh karena itu beliau Siti Fatimah sangat dicintai dan dihormati oleh para sahabat, sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Khafilah Abu Bakar, bahwa keluarga Rasulullah saw itu lebih ia cintai daripada keluarganya.

Perlu diketahui, bahwa pemberian-pemberian Khalifah Abu Bakar kepada Ahlul Bait, jauh lebih besar dari hasil kebun Fadak tersebut. Karenanya hubungan antara Khafilah Abu Bakar dengan Ahlul Bait sangat baik. Bahkan hubungan Siti Fatimah dengan istri Khalifah Abu Bakar (Asma’ binti Umais) bagaikan kakak beradik.

Sehingga sewaktu Siti Fatimah wafat, maka yang memandikan adalah Asma’ binti Umais atas dasar wasiat beliau.

Disamping kata-kata dendam diatas, sebenarnya ulama-ulama Syi’ah itu secara tidak langsung sering menghina Siti Fatimah, dimana mereka sering membuat cerita-cerita yang isinya menggambarkan bahwa Siti Fatimah mempunyai rasa sentiment atau rasa permusuhan terhadap para Sahabat, khususnya terhadap Khafilah Abu Bakar. Atau dalam bahasa Al-Qur’an disebut mempunyai rasa Ghil (Unek-unek terhadap orang lain).

Misalkan mereka mengatakan :

– Siti Fatimah sakit hati terhadap para sahabat, karena mereka mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah dan tidak memilih suaminya (Sayyidina Ali bin Abi Thalib).

– Setelah Sayyidina Abu Bakar terpilih sebagai Khalifah, Siti Fatimah keliling menemui pemimpin-pemimpin suku guna mencari dukungan bagi suaminya (Imam Ali).

– Siti Fatimah tidak mau baiat pada Khalifah Abu Bakar, karena dianggap merampas kekhalifahan suaminya.

– Kematian Siti Fatimah dikarenakan memikirkan hartanya yang dirampas oleh Khalifah Abu Bakar

Apa yang mereka tuduhkan tersebut, merupakan satu kekurang-ajaran mereka terhadap Siti Fatimah dan merupakan fitnah yang sangat besar, yang harus ditebus oleh penuduhnya dengan membaca syahadat lagi (tajdiid) dan harus banyak baca istighfar.

Hal mana karena apa yang mereka tuduhkan tersebut, sangat bertentangan dengan sifat putri Rasulullah yang sangat lemah lembut dan pemaaf serta penuh kasih sayang terhadap sesama muslimnya. Terutama terhadap orang-orang yang lebih dahulu dalam beriman kepada Allah dan RasulNya. Sehingga sesuai dengan do’a yang diajarkan oleh Allah dalam Al Qur’an yang berbunyi :

“ Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Al Hasyr : 10)

Demikianlah sedikit mengenai cerita-cerita Syi’ah yang apabila kita amati benar-benar justru mendiskriditkan Siti Fatimah.

Ap Apa wasiat Siti Fatimah kepada Asma Binti Umais ?

Asma binti Umais adalah istri Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq dan dari perkawinan tersebut Allah mengaruniai seorang putra dengan nama Muhammad bin Abu Bakar.

Perkawinan tersebut atas perintah Rasululah saw, setelah suaminya yang pertama yaitu Ja’far bin Abi Thalib (saudara Imam Ali) meninggal dalam peperangan. Beliau Asma’ termasuk orang-orang yang masuk Islam pada awal permulaan Islam di Mekkah sebelum Muslimin berkumpul di Darul Argom dan beliau kemudian bersama suaminnya Ja’far bin Abi Thalib hijrah ke Habasyah.

Setelah Khalifah Abu Bakar wafat, Asma’ binti Umais kawin dengan Imam Ali kw dan dikaruniai oleh Allah dua putra yaitu Yahya dan Muhammad Al Ashhor. Ummul Mu’minin Maimunah istri Rasulullah saw adalah saudara seibu dengan Asma’ binti Umais. Oleh karena itu hubungan Asma binti Umais dengan keluarga Rasulullah saw sangat dekat sekali. Beliau sering membantu keluarga Rasulullah saw.

Asma’ binti Umais adalah orang yang selalu membantu Siti Fatimah dan meskipun beliau istri seorang Khalifah hampir setiap hari Asma’ berkunjung kerumah Siti Fatimah mereka seperti kakak beradik.

Semoga Alllah membalasnya serta meridhoinya.

Adapun cerita mengenai wasiat Siti Fatimah kepada Asma’ binti Umais, maka dalam buku-buku sejarah diceritakan sbb.

Setelah Siti Fatimah merasa bahwa ajalnya sudah dekat beliau berkata kepada Asma’ binti Umais yang hampir setiap hari berkunjung ke rumah Siti Fatimah.

“ Saya kurang senang terhadap apa yang diperbuat terhadap wanita jika mati, yaitu hanya ditutupi dengan kain. Sehingga bentuk badannya kelihatan.”

Maka berkatalah Asma’ kepada Siti Fatimah : “Apakah engkau mau aku tunjukkan sesuatu yang pernah aku lihat di Habasyah?” Siti Fatimah menjawab: “Coba tunjukkan.” Maka dibuatlah oleh Asma’ keranda dari pelepah pohon kurma, kemudian diatasnya ditaruh kain. Begitu Siti Fatimah melihat keranda tersebut, beliau sangat gembira dan tertawa seraya berkata : “Alangkah baiknya ini. Semoga Allah menutupimu sebagaimana engkau menutupiku. Nanti jika aku mati, maka mandikanlah aku bersama Ali dan jangan ada orang lain yang ikut memandikanku. Setelah itu buatkanlah untukku seperti ini.”

Selanjutnya, begitu Siti Fatimah wafat, semua wasiatnya dilaksanakan oleh Imam Ali dan Asma’.

Cerita ini dimuat dalam kitab At Tobaqot, karya Ibnu Saad, Sunan Al Baihaqi, Sunan Ad Dar Quthni dan lain-lain.

Pembaca yang kami hormati.

Mengenai wasiat Siti Fatimah agar yang memandikan beliau hanya Asma’ binti Umais dan Imam Ali, serta orang lain tidak boleh ikut memandikan beliau tersebut, oleh ulama-ulama Syiah dibuatkan beberapa cerita wasiat Siti Fatimah, diantaranya :

– Apabila beliau wafat, para sahabat dilarang masuk rumah Siti Fatimah, sebab beliau tidak mau dilihat para sahabat.

– Siti Fatimah berwasiat agar waktu memakamkannya tidak dilihat atau tidak diketahui oleh para sahabat.

– Imam Ali melarang para sahabat menshalati Siti Fatimah, sebab Siti Fatimah tidak mau dishalati oleh para sahabat, terutama oleh Khalifah Abu Bakar.

Masya Allah, ini adalah suatu tuduhan dan fitnah terhadap Imam Ali dan Siti Fatimah r.a. sebab mungkinkah Imam Ali melarang seseorang melakukan shalat?.

Khasya, pasti tidak mungkin.

Begitu pula Siti Fatimah yang telah mewarisi sifat-sifat dan akhlak baginda Rasulullah SAW, pasti beliau tidak akan membuat wasiat seperti yang dituduhkan oleh orang-orang Syiah itu. Lalu untuk apa beliau minta dibuatkan keranda tersebut.

Itulah orang-orang Syiah, mereka suka memutar balik fakta dan cerita, dengan tujuan akan membuat opini bahwa antara Siti Fatimah dengan para sahabat telah terjadi hubungan yang tidak baik.

Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari pemutar balikan sejarah yang dilakukan oleh ulama-ulama Syiah.

Demikian wasiat Siti Fatimah kepada istri Khalifah Abu Bakar yang sekaligus membuktikan adanya hubungan baik antara kedua keluarga.

Screen Shoot dari akun Ali Alaydruz As-sakran 155

EPISODE 36:

RUNTUHNYA FONDASI AGAMA SYIAH Imamiyah 12

Ini kelanjutan dari pembuktian bagaimana ternyata “hadits ghadir khum” yg menjadi fondasi agama sempalan syiah rafidhoh imamiyah itsna asyariyah tidak bisa di jadikan dasar pengangkatan imam ali ^_^ ( baca : syiah NGIMPI!! )

———————————

lagi lagi semua ini diawali dari perkataan “sembarangan” Tiara Satrie si betina syiah yg masih satu akun sama akun Jjihad ‘Ali dan Wong Langka ^_^

begini kata tiara :

Tiara Satrie
JAWABAN TERHADAP TANTANGAN USTADZ DODOY (dodi sotoy) :

Ustadz dolly dodoy Dodi ElHasyimi ini lama lama lebay wa sotoy, disangkana kita pengen dia jadi Syi’ah, padahal disini kita hanya mau ngabarin bahwa hanya Syi’ah Imamiyah yang memiliki Hujjah berdasarkan Kitabullah dan Ahlul Bait karena kita ga pengen tersesat selamana (www.wasiat Arrasul sawa.com)

SIMAK YA …

Allah Ta’ala berfirman : “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka ia benar-benar mendapatkan petunjuk, dan barang siapa yang disesatkan, maka orang itu tidak akan pernah engkau dapati memiliki wali mursyid (pemimpin yang mampu memberi petunjuk).” [Al-Kahfi, 18:17]

Kata wali (pl. awliya) sendiri menunjukan kepada beberapa makna, antara lain al-nashir ‘penolong’ [Lisan al-Arab, XV: 406], al-MAWLA fi al-din ‘PEMIMPIN spiritual’[Lisan al-Arab XV: 408], al-shadiq ‘teman karib’ dan al-tabi al-muhibb ‘pengikut yang mencintai’ [Lisan al-Arab, XV:411]

Semua makna ini berserikat dan secara simultan menjelaskan makna wali dalam ayat diatas, yaitu “orang yang mencintai dan dicintai Allah sehingga layak menjadi PEMIMPIN spritual yang harus diikuti”.

Tapiiiiiiii Ustad dolly dodoy , aku kasih tau yaaaaa kalo Pendaftaran masuk Syi’ah udah ditutup, jadi jangan mimpi masuk Syi’ah kalo bukan orang Istimewa dan mendapat Panggilan khusus dengan cara Istimewa pula …

Sorry ya ustadz, kalo Ustadz jadi orang Syi’ah siapa lagi yang bakal kita becandain, ustadz kan tau amik Ali Alaydruz As-sakran tuh tutulna ga sepakat deh, Jadi ustadz dibutuhin sama kita sebagai bahan lawakan

====================================

Sekilas kesimpulan dari perkataan betina tiara satrie adalah dia mau membenarkan bahwa hadits ghadir khum yg berbunyi “Man Kuntu Maulaahu Fa ‘Aliyyun maulaahu” BENAR ADALAH SEBAGAI HADITS PENUNJUKAN IMAM ALI…dengan tafsir serabutan ala persi nya yg beranggapan bahwa arti kata Maula = PEMIMPIN….

Benarkah arti kata MAULA adalah PEMIMPIN??

hadits ahlussunah yg berderajat mutawatir diibaratkan sebagai “jimat” atau kartu “As” bagi jemaat sempalan agama syiah rafidhoh imamiyah 12…dari jemaat yg derajat “marja jorok syiah rafidhoh” seperti ayatullah sistani…”rahbar tukang laknat” yasir habib, atau “ayatullah mujtaba syirazi, “dedengkot syiah tukang caci”, ustad2 syiah tukang gebug dada” sampai “simpatisan syiah penjual nasi IRAN” Pimpi Kanam, Khan Zamane … “kambing2 pemut’ah indonesia yg berotak mesum seperti Mbah Jambrong juga lho …., bahkan “badut penghibur” sekelas Haidar Husein juga menghafal hadits ini di luar kepala…dan di ulang2 terus oleh mereka ibarat radio rusak yg tidak tau kapan waktu siar yg baik ^_^

cuma sayang sebegitunya orang2 syiah menghafal hadits ini di luar kepala…begitu juga diikuti dengan tertinggalnya akal mereka diluar dari pada badan…sehingga hafalan mereka yg kuat akan hadits ini tidak diikuti dengan “cerdasnya daya nalar” dalam memahami makna hadits ini baik dari segi “bahasa ” maupun latar belakang peristiwa”
untuk hari ini cukup kita bahas makna haditsdari segi bahasa ^_^

singkat kata seluruh “mahluk2 hitam” syiah sepakat bahwa arti kata “MAULA” dalam hadits diatas adalah “pemimpin”….ini menurut akal mereka yg diluar dari badan tadi….namun bagaimana kebenaran semua ini??? mari kita lihat…

———>>>

JAWAB :

saya bawakan jawaban copasan dari akhinal mahbub Dodi ElHasyimi ^_^

yuuuk kita bongkar dan kita telanjangan kambing2 syiah ^_^

——-

tiara si betina syiah mengutip diatas referensi “lisanul arab” utk mencoba membohongi umat membenarkan makna kata “maula” supaya bisa diterjemahkan menjadi “pemimpin”

kalau begitu langsung lah kita cek ke rujukan yg betina tiara kutip……sebenernya betina gak pernah baca ini ^_^ ……

tertulis dalam LISANUL ARAB yg di pakai rujukan tiara :

لسان العرب – (ج 15 / ص 405)
قال : و الوَلِيُّ و المَوْلى واحد في كلام العرب . قال أَبو منصور : ومن هذا قول سيدنا رسولُا أَيُّما امرأَةٍ نَكَحَتْ بغير إِذن مَوْلاها ورواه بعضهم : بغير إِذن وَلِيِّها لأَنهما بمعنى واحد . وروى ابن سلام عن يونس قال : المَوْلى له مواضع في كلام العرب : منها المَوْلى في الدِّين وهو الوَلِيُّ وذلك قوله تعالى : { ذلك بأَنَّ الله مَوْلى الذين آمنوا وأَنَّ الكافرين لا مَوْلى لهم } أَي لا وَلِيَّ لهم ومنه قول سيدنا رسولُا : مَنْ كنتُ مَولاه فعليٌّ مَولاه أَي مَن كنتُ وَلِيَّه قال : وقوله عليه السلام مُزَيْنَة وجُهَيْنَةُ وأَسْلَمُ وغِفارُ مَوالي الله ورسوله أَي أَوْلِياء ا قال : و المَوْلى العَصَبةُ ومن ذلك قوله تعالى : { وإِني خِفْتُ الموالي مِن ورائي } وقال اللِّهْبِيُّ يخاطب بني أُمية : مَهْلاً بَني عَمِّنا مَهْلاً مَوالِينا إِمْشُوا رُوَيْداً كما كُنْتُم تَكُونونا قال : و المَوْلى الحَلِيفُ وهو من انْضَمَّ إِليك فعَزَّ بعِزِّك وامتنع بمَنَعَتك قال عامر الخَصَفِي من بني خَصَفَةَ : همُ المَوْلى وإِنْ جَنَفُوا عَلَيْناوإِنَّا مِنْ لِقائِهم لَزُورُ قال أَبو عبيدة : يعني المَوالِي أَي بني العم وهو كقوله تعالى : { ثم يخرجكم طِفْلاً } و المَوْلى : المُعْتَقُ انتسب بنسبك ولهذا قيل للمُعْتَقِين المَوالي قال : وقال أَبو الهيثم المَوْلى على ستة أَوجه : المَوْلى ابن العم والعمُّ والأَخُ والابنُ والعَصباتُ كلهم و المَوْلى الناصر و المولى الولي الذي يَلِي عليك أَمرك قال : ورجل وَلاء وقوم وَلاء في معنى وَلِيَّ و أَوْلِياء لأَن الوَلاء مصدر و المَوْلى مَوْلى المُوالاة وهو الذي يُسْلِمُ على يدك و يُواليك و المَوْلى مَوْلى النِّعْمة وهو المُعْتِقُ أَنعم على عبده بعتقِه و المَوْلى المُعْتَقُ لأَنه ينزل منزلة ابن العم يجب عليك أَن تنصره وترثه إِنْ مات ولا وارث له فهذه ستة أَوجه . وقال الفراء في قوله تعالى : { لا يَنهاكم الله عن الذين لم يُقاتِلوكم في الدِّين } قال : هؤلاء خُزاعةُ كانوا عاقَدُوا النبي أَن لا يُقاتِلوه ولا يُخرجوه فأُمِر النبي بالبِرِّ والوَفاء إِلى مدَّة أَجلهم
……………………………………………………………………….

Sebenarnye di masih panjang pembahasan AL MAula dalam kitab diatas,,,, tp kita cukupkan sampai disitu,,, karena didalamnya udah termuat apa yg di tulis oleh Tiara Satrie si betina syiah ini…..

Lihat yg bagian ini saja,,,, yaitu bagian yg ditahrif oleh Si Wanita ( tiara satrie ) Ahlul Kadzdzab Syiah Khumaini diatas ^_^…….

لسان العرب – (ج 15 / ص 405)
وروى ابن سلام عن يونس قال : المَوْلى له مواضع في كلام العرب : منها المَوْلى في الدِّين وهو الوَلِيُّ وذلك قوله تعالى : { ذلك بأَنَّ الله مَوْلى الذين آمنوا وأَنَّ الكافرين لا مَوْلى لهم } أَي لا وَلِيَّ لهم ومنه قول سيدنا رسولُا : مَنْ كنتُ مَولاه فعليٌّ مَولاه أَي مَن كنتُ وَلِيَّه قال : وقوله عليه السلام مُزَيْنَة وجُهَيْنَةُ وأَسْلَمُ وغِفارُ مَوالي الله ورسوله أَي أَوْلِياء

Diriwayatkan dari Ibnu Salam dari Yunus, Beliau berkata : Al Maula mempunyai beberapa peletakan (makna ) dalam Kalam ( Pembicaraan ) bahasa Arab. Diantaranya adalah Al Maula fid diin yaitu Waliy, sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ [محمد/11]

11. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.
Artinya “TIDAK ADA PELINDUNG” bagu mereka ( Orang2 kafir ). Dan termasuk diataranya adalah sabda Sayyidina Rosul : Man Kuntu Maulaahu Fa ‘Aliyyun maulaahu,maksudnya Man kuntu Waliyahu. Beliau ( Yunus )berkata : Dan sabda Nabi Alaihis salam : Muzayyanah, Juhainah, Aslam, dan Ghifar itu Mawalinya Allah dan Rasul-Nya , maksudnya Auliya.

Selanjutnya jika Tiara Satrie yg gak pinter ini mengartikan kata MAULA = PEMIMPIN :

1. Maka Ayat Al Quran Surat Muhammad 11 ini artinya akan menjadi :

Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah PEMIMPIN orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai PEMIMPIN.

soal buat tiara : Orang Kafir itu gak punya PEMIMPIN yach ???? betina otak dengkul ! ^_^

2. Maka Hadis Nabi SAW artinya menjadi :

Muzayyanah, Juhainah, Aslam, dan Ghifar itu PEMIMPINNYA Allah dan Rasul-Nya

soal kedua buat betina tiara : Allah dan Rasullullah malah dipimpin ame mereka yach ??? ^_^ betina nyungsep!!

Cwuaapee dwuecchhhhhh !!!!!!!

intinya Di Lisanul Arab juga tidak ada satupun kalimat yg menyatakan AL MAula dengan Makna PEMIMPIN……!!!!

Tidak ada satupun Disitu ada lafadz : Imam, Khalifah, Amir, Rois !!!!

artinya apa???? ARTINYA TIARA SATRIE..alias JJIHAD ALI…aliasa WONG LANGKA..cuma PENIPU!! ^_^

—————————————————————————–

YANG KE-2 :

Dalam screenshot diatas tiara berkata : “….Semua makna ini berserikat dan secara simultan menjelaskan makna wali dalam ayat diatas, yaitu “orang yang mencintai dan dicintai Allah sehingga layak menjadi PEMIMPIN spritual yang harus diikuti…..”.

============>>>

Tiara satrie mengartikan Maula fiddin = Pemimpin Spiritual ????
kamus bahasa parsi ya? ^_^

mari kita lihat yg betul ^_^

asiknya kita masi merujuk kitab yg tiara satrie kutip…Liat teks dalam Lisanul Arab diatasnya yach ????

لسان العرب – (ج 15 / ص 405)
و الوَلِيُّ و المَوْلى واحد في كلام العرب . قال أَبو منصور : ومن هذا قول سيدنا رسولُا أَيُّما امرأَةٍ نَكَحَتْ بغير إِذن مَوْلاها ورواه بعضهم : بغير إِذن وَلِيِّها لأَنهما بمعنى واحد . وروى ابن سلام عن يونس قال : المَوْلى له مواضع في كلام العرب : منها المَوْلى في الدِّين وهو الوَلِيُّ وذلك قوله تعالى : { ذلك بأَنَّ الله مَوْلى الذين آمنوا وأَنَّ الكافرين لا مَوْلى لهم } أَي لا وَلِيَّ لهم ومنه قول سيدنا رسولُا : مَنْ كنتُ مَولاه فعليٌّ مَولاه أَي مَن كنتُ وَلِيَّه قال : وقوله عليه السلام مُزَيْنَة وجُهَيْنَةُ وأَسْلَمُ وغِفارُ مَوالي الله ورسوله أَي أَوْلِياء

Wali dan Maula adalah satu ( mempunyai makna yg sama ) dalam kalam bahasa Arab. Abu Manshur berkata ; dari sinilah diambil sabda Sayyidina Rasul :

أَيُّما امرأَةٍ نَكَحَتْ بغير إِذن مَوْلاها

Sebagian perowi meriwayatkan ( Dengan Lafadz ) :

بغير إِذن وَلِيِّها

Karena keduanya ( Maula dan Waliy ) mempunyai makna yg satu ( Sama ).

Diriwayatkan dari Ibnu Salam dari Yunus, Beliau berkata : Al Maula mempunyai beberapa peletakan (makna ) dalam Kalam ( Pembicaraan ) bahasa Arab. Diantaranya adalah lafadz Al Maula di dalam (masalah) agama yaitu ( bermakna ) Waliy. sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ [محمد/11]

Maksud dari “Tidak ada Maula bagi mereka” (لا مَوْلى لهم) adalah “Tidak ada Waliy bagi mereka” (لا وَلِيَّ لهم).

Dan termasuk diataranya adalah sabda Sayyidina Rosul :

مَنْ كنتُ مَولاه فعليٌّ مَولاه

Maksudnya adalah : مَن كنتُ وَلِيَّه

Beliau ( Yunus )berkata : Dan sabda Nabi Alaihis salam :

مُزَيْنَة وجُهَيْنَةُ وأَسْلَمُ وغِفارُ مَوالي الله ورسوله

Maksud dari Mawaliy (مَوالي ) adalah Auliya’ (أَوْلِياء).

Disitu Shohibul Kamus sedang menjelaskan bahwa Maula dan Waliy itu mempunyai satu makana dalam kalam Arab….. !!!!

yg diatas itu adalah menuqil pendapatnya Yunus,,, sedang sebelumnya dinuqil pendapat Abu Manshur…

=——————————————————

SOAL buat tiara : Jadi gak ada tuch yg menterjemahkan Maula fiddin = Pemimpin Spiritual !!!!??? ^_^

Padahal SHOHIBUL KAMUS itu sedang menjelaskan bahwa : lafadz Al Maula di dalam (masalah) agama yaitu ( bermakna ) Waliy……Apa hubungannye dengan PEMIMPIN SPIRITUAL yach ? tiara satrie ternyata cuma betina syiah yg suka ngelantur yg gak pernah baca kamus yg di kutip diatas…ketawan lagi NIPU deh ^_^

—————————–

ali sakran berkata : tiara satrie betina syiah udah paham belum???
tiara menjawab : mbeeeeeek…mbeeek…..mbeeeek !! ^_^

^_^

Screen Shoot dari akun Ali Alaydruz As-sakran 134

EPISODE 19 :

Terlalu asik membedah kitab sunni dengan otak pas pas-an, berakhir kepada sebuah fakta yg memalukan . apa fakta memalukannya?? faktanya jayzul ini tidak tau apa2 ttg kitab2 karangan para imam syiah ^_^. dari sini bisa di lihat apakah imam2 syiah juga berbohong? atau sebenarnya jayzul khaibar yg penipu !^_^. LALU APA KATA IMAM2 AGUNG SYIAH ttg hukum waris nabi?

1. Berkatalah Muhammad bin Husain dari Jafar bin Basyir dari Husein dari Abu Mikhlad dari Abdul Malik berkata : suatu hari Abu Jafar menyuruh Ja’far mengambilkan tulisan Ali, lalu Ja’far membawanya, tulisan itu sebesar paha manusia, dalam tulisan itu berbunyi Bahwa para kaum wanita itu tidak berhak medapatkan warisan rumah bila ditinggal mati oleh ayah atau suaminya. Abu Jafar berkata demi Allah ini adalah tulisan tangan Ali yang didiktekan Rasulullah. (Biharul Anwar juz 26 hal-514)

biharul anwar tidak mendukung otak keledai “tiara satrie” melainkan mendukung hadits nabi yg di sampaikan sayyidina abubakar!. jahilnya betina ^_~

————————–

2.
عن علي عن أ بيه عن جميل عن زرارة و محمد بن مسلم عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ (عليه السلام ) قَالَ النِّسَاءُ لَا يَرِثْنَ مِنَ الْأَرْضِ وَ لَا مِنَ الْعَقَارِ شَيْئاً
Dari Ali dari ayahnya, dari Jamil dari Zurarah dan Muhammad bin Muslim dari Abi Jafar berkata Wanita-wanita itu tidak dapat mewarisi tanah dan bangunan (Al Kaafi juz 7 hal 128) –

ini lebih hebat lagi, alkulani bukan saja membawakan riwayat ttg hukum waris anak nabi, melainkan “seluruh wanita” tidak berhak waris. betina gigit jari ya ?^_^

————————

selanjutnya…

3. almajlisi menukil dari apa yang telah di riwayatkan oleh alkulani ( pengarang alkafi ) dari abi abdillah alaihissalam katanya, Rasulullah saw bersabda :

قال رسول الله صلىالله عليه وآله وسلم (وإنّ العلماء ورثة الأنبياء ، إنّ الأنبياء لم يورّثواديناراً ولا درهماً ولكن ورّثوا العلم فمن أخذ منه أخذ بحظ وافر
sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak tidak mewariskan dinar maupun dirham melainkan mewariskan ilmu, barangsiapa mengambil dari-nya maka ia telah mengambil bagian yang sangat banyak”

قال عنهالمجلسي في مرآة العقول 1/111 الحديث الأول ( أي الذي بين يدينا ) له سندان الأولمجهول والثاني حسن أو موثق لا يقصران عن الصحيح ) فالحديث إذاً موثق في أحد أسانيدهويُحتج به ،
dalam kitab-nya mir’atul uqul 1/111. Almajlisi berkata memaparkan derajat hadist di atas : katanya : hadist yang ada di tangan kami ini mempunyai dua sanad.
1. sanad pertama adalah mahjul (tidak di ketahui)
2.sanad kedua adalah hasan. atau terpercaya, kedua-nya tidak mengurangi derajatnya dari derajat sohih. sebab, apabila hadist dalam salah satu sanad nya di percaya maka itu boleh di jadikan hujjah/dalil.

intinya ulama syiah Almajlisi dan alkulaini membenarkan dan menjadikan sebuah hujjah bahwa para Nabi tidak mewarisi harta benda apapun, melainkan beliau mewariskan ilmu. nah kan betina jadi berasa kaya jadi nabi ^_^ betina..betina
==========================================

kesimpulan sementara : berhubung sayyidina abubakar di cap ” tiara satrie” sebagai pembohong karena mennyampaikan hadits nabi bahwa ” nabi tidak mewarisi harta melainkan ilmu”, maka dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa ” ulama syiah bernama almajlisi dan alkulani adalah bapak moyangnya tukang ngibul” ^_^, karena mereka berdua juga membawakan hadits yg senada dengan sayyidina abubakar ! ^_~. sori ni bro, ana cuma bawakan kenyataan apa adanya yg ada di dalam otak keledai mu ya tiara ya ! ^_~. tp tenang ini masih hipotesis, gak usah stress dan geplak2 pala dulu !

katakanlah andai kata ilmu per-hadits-an “ayatullah tiara satrie” telah melampaui almajlisi dan kulani, lalu katakanlah jayzul beranggapan bahwa almajlisi dan alkulani adalah pembohong karena membawakan hadits ” nabi tidak mewarisi harta” . lalu bagaimana dengan ucapan “bapak khomeini”?

maka saya pun akan menuangkan ucapan khomeini kedalam kepala kosong “tiara satrie” dengan harapan “otak tumpulnya” dapat menerima kenyataan ini semua ^_^. ya betina ya?

5. khumaini memberikan kesaksian di dalam kitab-nya al-islamiyah ala jawazi wilayatil faqih di dalam judul “sohihatul qada’ah”
apa komentar khumeini :
هذا الحديث صحيح السند و قد استشهد به العلماء في أكثر من موضع , كما استشهد به الإمام الخميني – عليه الرحمة – في أكثر من موضع منها : الاجتهاد والتقليد ص 32 , كتاب البيع ج 2 ص 482

artinya : hadist ini (hadist bahwa Para Nabi tidak mewariskan harta melainkan mewariskan Ilmu) adalah mempunyai sanad yang sangat sohih, dan para ulama di dalam beberapa tempat memberikan kesaksian atas kesohihan hadist tersebut, sebagaimana imam khumaini memberi kesaksian atas kesohihan hadist tersebut di dalam beberapa kitab-nya di antaranya adalah : al-ijtihad wat-tqlid hal 32, dan kitabul bai’ juz 2 hal 482.

gak usah panik tiara satrie ^_^. karena memang nantinya tiada daya dan ilmu seorang pendusta hina macam tiara satrie alias jjihad ali alias wong langka utk mengupas kitab2 syiah karangan majlisi, alkulani, dan khomeini. maka saya timbulkan pertanyaan singkat multiple choice ( pilihan ganda ) khusus bagi para2 pendusta murahan kelas teri syiah rafidhoh imamiyah. Dengan harapan soal ini bisa di jawab dengan singkat tanpa berputar2 ala khomeiniyat 12 bila kepepet.

begini kiranya PERTANYAAN utk betina rafidhoh tiara satrie :

1.JIKA sayyidina abubakar “tiara ” anggap adalah pembohong ttg sampaian lidah nabi bahwa” nabi muhammad tidak meninggalkan warisan harta melainkan ilmu”. sedangkan almajlisi, alkulani, dan khomeini juga menyerukan hal yg senada dan sama. Maka siapakah yg berstatus sebagai penipu ttg hal ini?^_^

a. al kulani
b. al majelisi
c. khomeini
d. sayyidina abubakar
e. ayatullah tiara satrie ^_^

Anjuran utk Tiara Satrie : tugas betina syiah rafidhoh itu bertelur…^_^ tutul

Screen Shoot dari akun Ali Alaydruz As-sakran 131

EPISODE 16

Keruntuhan fondasi agama syiah: menjawab subhat 2 betina syiah “tiara satrie” dan “syareefa afnand” yg membelokkan makna hadits”ghadir khum” ^_^

benarkah hadits “ghadir khum” menurut syiah adalah pengangkatan imam ali sebagai khalifah?? ^_^

yuk kita buktikan
dan kita runtuhkan bersama – sama2 fondasi agama syiah…
dan kita buktikan kerapuhan agama sempalan dari IRAN ini ^_^

SIAPKAN STAMINA utk pembahasan detil di bawah !
FONDASI AGAMA SYIAH DI AMBANG KERUNTUHAN!! ^_^

PENDAHULUAN

Tidak mungkin untuk membahas hadis Ghadir Khum tanpa memahami pertama kali konteks tertentu di mana Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) mengatakan apa yang dia katakan. Ini adalah pedoman umum yang berkaitan dengan kanon Islam secara keseluruhan: penting untuk mengetahui latar belakang di mana suatu ayat Alquran diturunkan atau suatu hadis tertentu dikatakan.

Misalnya, ayat Quran “bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka” sering digunakan oleh orientalis untuk menyalahgunakan dan menjadikannya tampak seolah-olah Islam menganjurkan pembunuhan orang di mana saja dan kapan saja anda menjumpai mereka. Tentu saja, jika kita melihat ketika ayat ini diturunkan, kita menemukan bahwa ayat itu adalah khusus diwahyukan pada pertempuran antara Muslim dan Mushriks Quraisy, hal ini membuat kita menyadari bahwa hal itu bukanlah hukum umum untuk membunuh orang tetapi ayat tersebut diwahyukan pada situasi tertentu.

Demikian juga, Hadis Ghadir Khum hanya dapat dipahami dalam konteks pada peristiwa apa ia diucapkan:

Sekelompok tentara sangat keras mengkritik Ali bin Abi Thalib (رضى الله عنه) pada masalah tertentu, dan berita ini sampai kepada Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم), yang kemudian Beliau berkata apa yang Beliau katakan dalam hadis Ghadir Khum. Seperti orientalis, para propagandis Syiah berupaya untuk menghapus latar belakang konteks di mana Hadis tersebut dikatakan untuk memberikan gambaran yang sama sekali berbeda (dan menyesatkan).

Tujuannya Nabi mengatakan kembali apa yang dikatakan di Ghadir Khum sama sekali tidak untuk mencalonkan Ali (رضى الله عنه) sebagai khalifah tetapi itu hanyalah untuk membela Ali (رضى الله عنه) terhadap fitnah yang dikatakan terhadap dia. Hanya dengan membuang konteks latar belakang suatu hadits adalah mungkin untuk menciptakan pemahaman Syiah terhadap teks tersebut sesuai keinginan mereka. Untuk alasan inilah kita harus selalu mengingatkan saudara kita Syiah konteks latar belakang di mana Hadis Ghadir Khum dikatakan.

PENTINGNYA GHADIR KHUM UNTUK SYIAH

Syiah mengklaim bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menetapkan Ali (رضى الله عنه) secara ilahiah untuk menjadi penggantinya di suatu tempat yang disebut Ghadir Khum. Sebelum kita membahas peristiwa Ghadir Khum dengan saudara-saudara kita Syiah, pertama-tama kita harus mendefinisikan parameter debat. Dengan kata lain, kita harus “mengatur taruhannya”:

(1) Jika Syiah dapat membuktikan versi mereka tentang Ghadir Khum, maka pasti Ali (رضى الله عنه) telah ditunjuk oleh Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) secara ilaiyah dan akidah Syiah adalah benar.

(2) Jika, kaum Sunni menyangkal gagasan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menunjuk Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum, maka saudara kita Syiah harus bersedia menerima kenyataan bahwa Ali (رضى الله عنه ) tidak pernah ditunjuk sama sekali oleh Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) dan karena itu seluruh keyakinan Syiah tidak valid.

Alasan kita membuat “taruhan” ini sangat jelas bahwa sejak awal propagandis Syiah memiliki kemampuan luar biasa untuk memindahkan “tiang gawang” setiap kali mereka kalah debat. Mereka akan melompat dari satu topik ke yang lain, jika mereka kehilangan perdebatan Ghadir Khum, maka mereka akan membawa pada Insiden Pintu Rumah Fatimah, atau Saqifah, atau Fadak, atau siapa tahu apa lagi.

Seluruh pondasi Syi’ah bertumpu pada peristiwa Ghadir Khum ini, karena di sini Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم), dianggap mencalonkan Ali (رضى الله عنه) untuk menjadi penggantinya. Jika kejadian ini tidak sebagaimana klaim Syiah, maka Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak pernah mengangkat Ali (رضى الله عنه) dan Syiah harus meninggalkan semua klaim mereka, seperti ide bahwa Abu Bakar (رضى الله عنه) merebut kekhalifahan yang ditunjuk oleh Allah untuk Ali (رضى الله عنه).

———————–

Memang, peristiwa Ghadir Khum sangat penting bagi paradigma Syiah -dan begitu pentingnya bagi teologi Syiah-maka massa Syiah memiliki perayaan tahunan yang dikenal sebagai “Eid Al-Ghadir”.

Amaana.org says

Eid-e Gadhir is celebrated with great rejoicing by Shia Muslims where they remember Prophet Muhammad’s last instructions to the believers. Eid-e-Ghadir is one of the most important days of rejoicing for Shia Muslims around the world as that was the day our beloved Prophet Muhammad (s.a.s.) declared Hazrat Ali’s vicegerency at Ghadir e Khumm on his return from his last pilgrimage…

source: http://www.amaana.org/gadhir/gadhir1.htm

Berdasarkan apa yang seharusnya terjadi di Ghadir Khum, Syiah menolak kekhalifahan Abu Bakar (رضى الله عنه), berpisah dari Muslim mainstream, dan menyatakan bahwa Ali (رضى الله عنه) adalah yang pertama dari imam yang ditetapkan secara ilahiah. Situs Syiah, Al-Islam.org, merujuk pada Ghadir Khum sebagai “peristiwa penting” dan pondasi bagi Imamah Ali (رضى الله عنه).

Alasan perlunya sangat menekankan pentingnya Ghadir Khum bagi Syiah adalah bahwa kita akan menunjukkan bagaimana ‘senjata’ yang diduga kuat di gudang propaganda Syiah tersebut sebenarnya sangat lemah. Jika hal ini adalah sangat mendasar bagi Syi’ah, maka sesungguhnya doktrin Syi’ah adalah sangat lemah. Syiah mengatakan bahwa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menunjuk Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum tapi logika sederhana menentukan sebaliknya.

============================

MENGAPA TIDAK MASUK AKAL?

Syiah mengklaim bahwa ketika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menyelesaikan haji terakhir, mengatakan Kotbah Perpisahannya di puncak Gunung Arafah di Mekkah, dan kemudian setelah itu menunjuk Ali (رضى الله عنه) di Ghadir Khum.

Mari kita analisa klaim ini: Ghadir Khum terletak antara Mekah dan Madinah, di dekat kota Al-Juhfah, seperti yang disebutkan oleh situs Al-Islam.org. Ini adalah lubang air di tengah padang pasir. Pukulan telak kepada argumen Syiah adalah bahwa pada kenyataannya Ghadir Khum itu terletak sekitar 250 km dari Mekah. Fakta sederhana ini cukup untuk menghancurkan seluruh premis Syi’ah.

Seperti kita semua tahu, Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menyampaikan Khotbah Perpisahannya di Mekah pada haji terakhir. Ini terjadi di depan sebagian besar kaum muslimin, yang datang dari berbagai kota untuk melakukan haji. Jika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) ingin menunjuk Ali (رضى الله عنه) sebagai penggantinya, maka sama sekali tidak ada penjelasan yg rasional mengapa Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak melakukan hal ini selama Khotbah Perpisahan kepada semua kaum muslimin. Seluruh umat yang berkumpul di sana untuk mendengar kata-kata perpisahan, sehingga pasti merupakan saat dan kesempatan yang paling tepat untuk menunjuk penggantinya.

Nabi (صلى عليه الله وآله وسلم) dan Muslim menyelesaikan haji mereka dan setelah itu semua orang kembali ke kota masing-masing. Penduduk Madinah kembali ke Madinah, masyarakat Taif kembali ke Taif, orang-orang Yaman kembali ke Yaman, orang-orang Kufah kembali ke Kufah, masyarakat Suriah kembali ke Suriah, dan orang-orang Mekkah tetap tinggal di Mekah.

Hanya kelompok orang-orang yang hidup di kota-kota di sebelah Utara Semenanjung Arab yang melalui Ghadir Khum. Dan ini hanya akan terdiri dari orang-orang yang menuju Madinah dan minoritas Muslim yang tinggal di tempat seperti Suriah. Oleh karena itu, ketika Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berhenti di Ghadir Khum dan ketika insiden yang dianggap terjadi, justru sejumlah besar kaum muslim tidak hadir, yaitu mereka yang tinggal di Mekah, Taif, Yaman, dll. Setelah Haji, orang Mekah tetap tinggal di Mekah, orang-orang Taif kembali ke Taif, orang-orang Kufah kembali ke Kufah, orang-orang Yaman kembali ke Yaman, dll. Hanya sekelompok orang yang pergi ke Madinah (atau lewat melalui / dekat) yang menyertai Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) menuju Ghadir Khum.

Oleh karena itu, bertentangan dengan klaim Syiah, justru Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) tidak menunjuk Ali (رضى الله عنه) di depan seluruh kaum muslimin, melainkan yang terjadi di Ghadir Khum hanya di depan sebagian Muslim yang sedang pulang menuju ke Madinah (atau lewat melalui / dekat). Mari kita lihat apa yang diklaim oleh situs Syiah:

The Thaqalayn Muslim Association says

“On the 18th of Dhul-Hajjah, after completing his “farewell pilgrimage” (Hajjatul- Wida’a), the Messenger of Allah (peace be upon him and his progeny) had departed Makkah en route to Madinah. He and the entire Muslim caravan, numbering over 100,000, were stopped at Ghadeer Khumm, a deserted-yet-strategically situated area that lies between Makkah and Madinah (near today’s Juhfah). In those days, Ghadeer Khumm served as a point of departure, where the various Muslims who had come to perform the pilgrimage from neighbouring lands would disperse and embark upon their own routes back home.

source: http://www.utm.thaqalayn.org/files/ghadeer.pdf

Situs Syiah mengklaim bahwa “Ghadeer Khum merupakan tempat kedatangan, di mana berbagai Muslim yang datang untuk melakukan haji dari daerah di sekitarnya akan menyebar dan memulai rute mereka sendiri untuk pulang.” Apa yang terlihat pada peta akan menunjukkan bagaimana hal tersebut benar-benar tidak masuk akal.

========================

( GAMBAR PETA 2 )
orang-orang yang melewati Ghadir Kum adalah hanya mereka yang menuju ke Madinah atau kota-kota di sebelah utara Ghadir Kum. Oleh karena itu, merupakan hal yang sangat tidak bijaksana bagi Nabi menyampaikan pidato penting tentang penggantinya di tempat itu, karena tidak seluruh muslim hadir di tempat itu. Akan lebih tepat jika pidato penting tersebut disampaikan di Mekah tempat di mana seluruh muslim berkumpul.

kaum Muslim dari seluruh penjuru kota telah berkumpul di Mekah, bukankah ini merupakan waktu yang paling tepat untuk menyatakan siapa pengganti Nabi?

(GAMBAR PETA 1 )
Namun para propagandis Syiah ingin agar kita percaya bahwa Muslim yang akan pulang ke Taif dan Yaman setelah haji akan melakukan perjalanan tambahan sekitar 500 km, perjalanan bolak-balik dari Mekah ke Ghadir Khum dan kemudian baru melakukan perjalanan dari Makah ke arah kota asalnya. Sebagaimana dinyatakan oleh Syiah sendiri, Ghadir Khum adalah sebuah lubang air dan tempat beristirahat bagi mereka yang bepergian … sesuatu hal yang mereka gagal untuk menyebutkan bahwa Ghadir Kum adalah tempat istirahat sepulang haji yang hanya cocok bagi mereka melewatinya, yaitu mereka yang pulang dari Mekah ke arah utara bukan bagi mereka yang pulang dari Mekah ke arah selatan!

———————————-

tentu saja tidak wajar dan aneh bahkan sulit diterima akal sehat. Semestinya setelah haji, semua orang kembali ke kota-kota atau rumah mereka masing-masing dan orang Mekah akan tetap tinggal di sana. Mengapa mereka setelah haji harus melalui rute melewati Ghodir Kum, mengingat fakta bahwa Muslim pada waktu itu kebanyakan berjalan kaki di gurun pasir yang berat. Perjalanan ekstra menuju Ghadir Khum sekitar 250 km dan kembali lagi akan menambahkan waktu beberapa minggu perjalanan. Apakah hal ini tidak aneh dan merendahkan akal sehat?

kesimpulan kami adalah bahwa klaim Syiah bahwa Nabi menunjuk Ali di depan seluruh Muslim sangatlah tidak mungkin karena pada kenyataannya Nabi sama sekali tidak menyampaikan hal tersebut pada Khotbah Perpisahannya di Arafah. Adapun peristiwa Ghadir Khum, kita telah melihat bagaimana mungkin tempat ini akan menjadi tempat yang tepat yang digunakan Nabi untuk menunjuk Ali sebagai khalifah berikutnya, karena hal sepenting itu semestinya disampaikan oleh Nabi kepada seluruh muslimin sewaktu mereka masih berkumpul pada saat haji, bukan hanya kepada sebagian muslimin yang sedang melakukan perjalanan pulang ke arah sebelah utara kota Mekah.

sekte.syiah. gakpinter.geografi.com ^_^

===================

APA YANG SEBENARNYA TERJADI DI GHADIR KHUM ?

Tidak ada yang menyangkal adanya peristiwa Ghadir Khum, namun, apa yang kami sangkal adalah berlebihan-lebihannya Syiah berkaitan dengan cara yang mereka lakukan dalam mengungkapkan peristiwa tersebut.

Pertama, Syiah melebih-lebihkan tentang berapa banyak sebenarnya orang yang hadir di Ghadir Khum, mereka sering memberikan gambaran bahwa jumlahnya ratusan ribu. Seperti yang telah kami ilustrasikan di atas, bahwa hanya kaum Muslimin yang menuju ke Madinah saja yang hadir di Ghadir Khum, ini berarti bahwa orang-orang Mekah tidak hadir, demikian juga orang-orang Taif, Yaman, dll. Bahkan Syiah sering menyatakan bahwa 100.000 orang hadir di Ghadir Khum, suatu angka yang lebih tepat tentang jumlah orang yang hadir di Mekah untuk melaksanakan haji dari seluruh kota, bukan jumlah orang-orang yang kembali ke Madinah (yang hanya sebagian kecil dari jumlah tersebut). Berapapun jumlahnya, yang jelas hanya sebagian dari Muslim yang tidak termasuk Muslim yang tinggal di Mekah, Taif, Yaman, dll

Selain dari itu, konteks Ghadir Khum harus juga dipertimbangkan.

Apa yang terjadi di Ghadir Khum adalah bahwa Nabi menanggapi individu tertentu yang mengkritik Ali bin Abi Thalib. Latar belakang di balik peristiwa ini adalah bahwa beberapa bulan sebelumnya, Nabi telah mengirim Ali bersama 300 orang pasukan ke Yaman dalam sebuah ekspedisi. Hal ini disebutkan di website Syiah, www.najaf.org: “Ali diangkat sebagai pemimpin ekspedisi ke Yaman.”

(http://www.najaf.org/english/book/20/4.htm)

Tentara yang dipimpin oleh Ali sangat sukses di Yaman dan mereka mendapatkan banyak jarahan perang. Perihal jarahan perang inilah terjadi perselisihan antara Ali di satu sisi dan tentaranya di sisi lain. Hal ini diceritakan dalam buku Ibn Kathir “Al-Bidayah Wan-Nihayah”:

Di antara seperlima dari harta rampasan tersebut terdapat cukup pakaian linen untuk seluruh tentara, tetapi Ali telah memutuskan bahwa hal itu harus diserahkan kepada Nabi dan tidak disentuh.

Setelah kemenangan di Yaman, Ali menempatkan wakil komandannya yang bertanggung jawab atas pasukan yang ditempatkan di Yaman, sementara ia sendiri menuju ke Mekah untuk menemui Nabi untuk berhaji. Kami membaca:

Dalam kondisi tidak ada dia (Ali), bagaimanapun, orang yang ia tinggalkan sebagai petugas telah dibujuk untuk meminjamkan kepada setiap orang suatu perubahan baru pakaian selain dari linen tersebut. Perubahan tersebut sangat diperlukan karena mereka telah jauh dari rumah selama hampir tiga bulan.

Pasukan yang ditempatkan di Yaman kemudian berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji dengan Nabi:

Ketika mereka (para prajurit yang dikirim ke Yaman) belum jauh dari memasuki kota (Mekah), Ali berkuda keluar untuk menemui mereka dan heran melihat perubahan yang telah terjadi (dalam hal pakaian mereka).

“Aku memberi mereka pakaian,” kata wakil komandan, “bahwa penampilan mereka mungkin akan lebih pantas ketika mereka berada di kalangan masyarakat.” Orang-orang semua tahu bahwa setiap orang di Mekah sekarang mengenakan pakaian terbaik mereka untuk menghormati hari raya tersebut, dan mereka ingin terlihat yang terbaik. Tetapi Ali merasa ia tidak setuju kebebasan seperti itu dan ia memerintahkan mereka untuk mengenakan lagi pakaian lama mereka dan mengembalikan yang baru ke harta rampasan. Kebencian yang sangat dirasakan oleh seluruh tentara terhadap masalah ini, dan ketika Nabi mendengar hal itu, ia (Nabi) berkata: “Wahai manusia, jangan menyalahkan Ali, karena dia terlalu berhati-hati di jalan Allah untuk disalahkan.” Tetapi kata-kata ini belum cukup, atau mungkin hanya didengar oleh beberapa orang, dan kebencian masih berlanjut.

Dalam perjalanan pulang menuju Medina salah seorang pasukan mengeluhkan Ali kepada Nabi, yang membuat wajah Beliau berubah: “Bukankah aku tidak lebih dekat kepada orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri?” katanya, dan ketika orang itu mengiyakan, ia menambahkan: “Barangsiapa yang menjadikan saya sahabat tercintanya, maka Ali adalah (juga) sahabat tercintanya.” Kemudian dalam perjalanan tersebut, ketika mereka berhenti di Ghadir Khum, Ia (Nabi) mengumpulkan semua orang, dan mengambil tangan Ali sambil mengulangi kata-kata tersebut [yaitu siapapun yang mencintai saya, maka Ali ini adalah (juga) sahabat tercintanya]”, yang ia menambahkan doa: “Ya Allah, jadikanlah teman orang yang menjadikan dia temannya, dan musuhilah orang yang memusuhinya”, dan pengerutuan terhadap Ali tersebut menjadi tidak terdengar.

Para prajurit di bawah komando Ali tidak hanya terganggu perihal perubahan pakaian tersebut tetapi juga atas pembagian harta rampasan perang pada umumnya. Kaum muslimin, berkat kepemimpinan besar Ali, telah mendapatkan banyak unta, tetapi Ali melarang mereka dari mengambil kepemilikan unta tersebut. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Said bahwa Ali mencegah mereka dari mengendarai unta-unta dari harta rampasan perang yang telah mereka peroleh. Tetapi ketika Ali telah pergi ke Mekah, wakil komandannya menyerah pada permintaan pasukannya dan memungkinkan mereka menaiki unta tersebut. Ketika Ali melihat hal itu, ia menjadi marah dan ia menyalahkan wakil komandannya. Abu Sa’id berkata: “Ketika kami berada di perjalanan pulang ke Madinah, kami menyebutkan kepada Nabi sifat keras yang tidak mengenakkan yang kami lihat dari Ali , Nabi berkata: “Hentikan… demi Allah, aku telah mengetahui bahwa dia (Ali) telah melakukan hal baik karena Allah.”

Kejadian serupa ini telah dijelaskan dalam Sirah RasulAllah Ibnu Ishaq, kami membaca:

Ketika Ali datang (kembali) dari Yaman untuk memenuhi Rasul di Mekah, ia bergegas kepadanya dan meninggalkan orang yang bertanggung jawab atas pasukannya kepada salah seorang sahabatnya yang pergi dan memakaikan kepada setiap orang dalam pasukannya dengan pakaian dari linen yang dipunyai Ali. Ketika tentara mendekati, dia (Ali) pergi menemui mereka dan menemukan mereka mengenakan pakaian tersebut. Ketika ia bertanya apa gerangan yang telah terjadi, orang itu (wakilnya) mengatakan bahwa ia telah memakaikan orang-orang sehingga mereka kelihatan pantas ketika mereka berbaur dengan masyarakat. Dia (Ali) mengatakan kepada dia untuk melepas pakaian tersebut sebelum mereka menemui Rasul dan mereka melakukannya dan mengembalikan pakaian tersebut di antara harta rampasan perang. Tentara tersebut menunjukkan kebencian terhadap perlakuan yang merekaterima … ketika orang-orang mengeluhkan perihal Ali, Rasul muncul untuk mengatasi mereka dan dia (perawi) mendengar dia (Nabi) mengatakan: “Jangan salahkan Ali, karena dia terlalu teliti dalam hal-hal berkaitan dengan Allah, atau di jalan Allah, untuk disalahkan.”

(Ibnu Ishaq, Sirah Rasool-Allah, hal. 650)

Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa orang-orang di pasukan tersebut (yaitu kontingen yang dikirim ke Yaman) mulai mengkritik Ali karena ia mencegah mereka dari menunggang unta dan mengambil kembali pakaian baru yang telah mereka peroleh. Yaitu orang-orang yang menyertai Nabi ke Madinah melalui Ghadir Khum, dan merekalah yang sedang dibahas dalam Hadis terkenal Ghadir Khum.

Bahkan, dalam “Tarikh al-Islam”, peristiwa Ghadir Khum berada di bawah judul “Penghiburan bagi Ali”. Kami membaca:

Penghiburan bagi Ali

Selama haji, beberapa pengikut Ali yang telah bersama dia ke Yaman mengeluh kepada Nabi tentang Ali. Beberapa kesalahpahaman orang Yaman telah menimbulkan keraguan. Ditujukan kepada para sahabat di Ghadir Khum, Nabi saw bersabda memuji Ali: “Seseorang yang dia teman saya adalah teman Ali …” Mengikuti ucapan Nabi tersebut, Umar mengucapkan selamat kepada Ali berkata: “Mulai hari ini Anda adalah teman special saya”. Nabi kemudian tiba kembali di Al-Madinah dan anaknya Ibrahim meninggal dunia.

(Tarikh al-Islam, Vol.1, hal. 241)

===============================

intinya syiah ini golongan penipu^_^ yg kebiasaan memutar balikkan makna sebuah hadits dengan membuang cerita latar belakang riwayat hadits ini terjadi..seperti beberapa waktu lalu mereka koar2 bahwa umar shihab berbicara ttg syiah atas nama MUI..
hasilnya umar syiah di “damprat” oleh ketua umum MUI pusat ^_^

.syiahrafidhohimamiyah.tukangdusta.riwayat.sanasini.co.uk ^_^

Tiara Satrie alias Jjihad ‘Ali alias Wong Langka , kalian gak perlu senam atletik disni ^_^. ali sakran tau pembahasan ini terlalu berat utk badut2 syiah ^_^

Screen Shoot dari akun Ali Alaydruz As-sakran 49

kena deh ^_^ BEGini lah kalau seorang syiah kalau kebanyakan berbual omong kosong ^_^

Para imam diangkat melalui wasiat dari imam sebelumnya, ini adalah sebuah ketentuan yang mesti terjadi. Ketika kita mengatakan bahwa ada 12 imam syiah, maka kita akan menemukan wasiat-wasiat itu dengan jelas, yang dimaksud wasiat di sini bukanlah wasiat pembagian harta, tetapi wasiat dan penunjukan dari imam sebelumnya pada imam berikutnya. Setiap imam pasti mewasiatkan pada imam berikutnya, untuk meneruskan estafet imamah, mengemban “tugas ilahi”, menyampaikan risalah Allah pada umat manusia.

Bagaimana jika seorang imam tidak mewasiatkan pada imam berikutnya? Dengan kata lain, bagaimana jika kita tidak menemukan wasiat dari imam pada imam berikutnya? Ada dua kemungkinan, yang pertama, dia menjadi imam padahal dia tidak berhak menjabatnya. Dia tidak berhak menjadi imam karena tidak ada penunjukan dan wasiat dari imam sebelumnya. Lalu apa yang terjadi ketika seseorang menjadi imam tanpa penunjukan? Imam tanpa penunjukan, bagaikan orang mengaku menjadi Nabi dan diutus oleh Allah padahal dia bukan. Imam yang tidak ditunjuk bagaikan orang yang mengaku dirinya Nabi padahal Allah tidak mengutusnya. Kita temukan riwayat yang mengancam orang yang mengaku dirinya menjadi imam, padahal dia bukanlah orang yang ditunjuk.

namun ternyata…

Dalam literatur syiah tidak kita temukan wasiat dari Husein bin Ali pada Ali bin Husein. Ada dua kemungkinan, yang pertama, Ali bin Husein mengklaim dirinya sebagai imam padahal bukan, dan hadits di atas memuat ancaman bagi yang melakukan hal itu, sementara kemungkinan kedua, Ali bin Husein dianggap sebagai imam padahal bukan. Artinya selama ini syiah menganggap orang yang bukan imam sebagai imam.