Arsip

Archive for the ‘Kawin Mut’ah’ Category

Screen Shoot dari akun Aditya Riko 24

Fatwa Ayatullah al Uzhma al Imam ar Rohani :

Soal:
Suatu hari saya pergi ke night club, kemudian ada seorang pelacur meminta kepada saya uang sebesar 100 USD, dan saya pun memberikannya. Kemudian ia berkata kepada saya: “Saya mut’ahkan tubuh saya seluruhnya sebagai balasan atas uang ini. Namun hanya untuk sehari saja.” Apakah hal itu dapat dinilai sebagai Nikah Mut’ah?

Jawab:
Dengan nama-Nya yang Mulia,
Jika yang dia katakan itu dengan tujuan untuk menjalin perkawinan, dan engkau kemudian berkata kepadanya setelah dia berkata seperti: “aku terima akadnya seperti itu”, maka itu berarti telah terjadi Perkawinan Mut’ah.

=> http://www.istefta.com/question/797

Iklan
Kategori:Kawin Mut'ah

Note dari akun Awi Sirep 6

STEP TOWARD TO INCEST…

by Awi Sirep on Wednesday, October 14, 2009 at 5:51pm ·

ini jg di bhs di group INILAH SYIAH

“Penghinaan Syi’ah Terhadap Rasulullah dan Fathimah”

http://www.facebook.com/topic.php?uid=97110574531&topic=11702

Fatwa Ayatulah Syiah..

BIGGER PICTURE CLICK HERE

::: Molesting Daughters in Shi’ism is HALAL !!!! :::

I tried to make the translation as literal as possible (so that no one can accuse us of changing words or meanings):

Question #465:

I’m a girl aged 15 years, my father is very religious, and I wear full hijab outside, and alhamdulillah (for that), but my father kisses me very often between my breasts or in my mouth or comes from behind me and hugs me and kisses me on my neck, so I tell him: ‘are those actions not haram?’

then he tells me: ‘they are haram if (done) with lust, but I do this to you with fatherly passion, and the Messenger Muhammad used to kiss his daughter, sayyidah Fatimah, on her neck and between her breasts and on her mouth and suck her tongue, so…did the Messenger fall into indecency with his daughter??? No! And if the Messenger did that then this is a permission for any father to do that with his daughter!’

[The girl proceeds:] And then he [her father] tells me: ‘I don’t touch the awrah, which is the front and the back private part, and all that’s not an ‘awrah’ we’re allowed to see, touch, or kiss’, and

[the girl proceeds] he (says that) he does that too out of worry over me from getting lured by young men, (saying) [i.e,. her father] that the girl who surrenders herself to any young man is one deprived of the feelings of love and tenderness at home, so….

[and now she’s asking Ayatullah Abtahi] is what my father doing with me halal or haram? And if it’s haram, how was the Messenger doing that with his daughter sayyidah Fatimah al-Zahraa’? And Thank you on this useful website.

Answer [pay attention to its LENGTH]:
And may Allah’s peace, mercy and blessings be upon you. What your father’s doing is allowed provided that he abides by what he told you; and that’s in his heart, don’t think ill of him. And you’re welcome.”

Saya mencoba menterjemahkan setiap kata sesuai mungkin (agar tidak ada orang berkata bahwa sengaja mengubah kata2nya atau makna2nya)

diringkas aje yee

Pertanyaan 465:

Saya gadis 15 thn, ayah saya seorang ‘alim, saya juga ‘alim bhk pake hijab full sluruhnya.. tp kdng ayah suka suka mencium saya diantara payudara saya juga kdg mencium mulut saya.. atau kdng memeluk saya dari belakang sambil menciumi leher saya..

lalu saya tanya ayah saya, “apakah ini bknnya haram”..

lalu ayah saya jawab, “ini haram klau dilakukan dengan birahi, tp ayah melakukan padamu pkai perasaan seorang bapak pada anaknya.. juga sprti perasaannya NABI MUHAMMAD ketika mencium putrinya SAYYIDAH FATIMAH diantara payudaranya, mencium pada mulutnya dan mengulum lidahnya.. jadi apakah NABI terpengaruh dan terbuai oleh putrinya?? TIDAK!! Jika NABI melakukan itu, ini bukti IZIN bagi ayah melakukan hal yang sama pada putrinya..”

[Gadis itu melanjutkan] : Lalu ayah saya mengatakan pada saya : “ayah tidak menyentuh ‘awrah’.. yang ada dibagian depan dan belakang yang paling private, tp klo nyang bkn ‘awrah’, kami (para ayah) di izinkan untuk mlihat, menyentuh atau mencium”

[Gadis itu melanjutkan] : …………

[kemudian sang gadis bertanya pada Ayatullah Abtahi] : apakah yg ayah saya lakukan halal ato haram, klo haram knp NABI melakukannye pada Sayyidah Fatimah.., and terima kasih atas website yg b’manfaat ini..

jawaban [harap perhatikan] : Smoga rahmat, ampunan dan keberkahan Allah tercurah atas mu. Apa yang ayahmu lakukan kepadamu diperbolehkan untuk dilakukan.. berdasarkan alasan yang dikatakan kpdmu.. dan itu dalam hatinya jangn b’fikiran menyakitinya… Dan terima kasih kembali atas pujiannya.

Kategori:Kawin Mut'ah

Note dari akun Dodi ElHasyimi 6a

Mei 17, 2012 9 komentar

Dalil2 Keharaman Mut’ah dan Seputar Masalah2 di Dalamnya

by Dodi ElHasyimi on Thursday, December 30, 2010 at 8:12am ·

BUKTI2 YURIDIS MENGENAI KEHARAMAN NIKAH MUT’AH YANG TIDAK BISA TERBANTAHKAN DENGAN DALIL/HUJJAH MANAPUN :

  1. 1.      FIRMAN ALLAH SWT :

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) [المؤمنون/5-7]

 

5. dan orang-orang yang MENJAGA KEMALUANNYA,

6. KECUALI TERHADAP ISTERI-ISTERI MEREKA ATAU BUDAK YANG MEREKA MILIKI; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.

7. Barangsiapa MENCARI YANG DI BALIK ITU MAKA MEREKA ITULAH ORANG-ORANG YANG MELAMPAUI BATAS.

Dari ayat2 diatas dapat diketahui bahwa dalam masalah ISTIMTA’ ( BERSENANG – SENANG ) YANG SAH ITU HANYA DAPAT DILAKUKAN MELALUI ISTRI2 DAN BUDAK PEREMPUAN SAJA, maka posisi mut’ah secara normatif syar’i tidak bisa terhitung secara sah sebagai istri atau budak perempuan, karena terbukti dalam ikatan mut’ah tidak ada istilah talaq, hak nafkah dan warisan, bahkan wanita2 dalam nikah mut’ah itu hanya berstatus sebagai wanita2 sewaan saja. Bisa dilibuktikan disini :

وروى الطوسي في كتاب الإستبصار ما نصه: (إن أبا جعفر قال: المتعة ليست من الأربع، لأنها لا تطلق ولا تورث ولا ترث، وإنما هي مستأجرة)

“At Thusi meriwayatkan dari kitab Al Istibshor : Sesungguhnya Abu Ja’far berkata : Mut’ah tidak terbatas phanya untuk 4 wanita, karena wanita yg dimutah tidak dicerai, tidak menerima warisan dan tidak mewariskan. Sesungguhnya dia adalah WANITA SEWAAN.”

Juga dalam riwayat dalam al kafi( terdapat juga dalam Al Istibshor dan At Tahdzib ) :

  • فقد روى الكليني في الفروع من الكافي والطوسي في كتابيه الإستبصار والتهذيب ما نصه: (عن زرارة عن أبي عبد الله عليه السلام قال: ذكرت له المتعة، أهي من الأربع؟.

فقال: تزوج منهن ألفاً فإنهن مستأجرات)

“Dari Zuroroh dari Abu Abdillah as, dia berkata : Aku berkata padanya mengenai mutah : Apakah terbatas dg 4 wanita ? beliau menjawab : Kawinlah dengan 1000 wanita dari mereka(para wanita), karena sesungguhnya mereka adalah WANITA2 SEWAAN.”

  1. 2.      HADIS :

 

صحيح مسلم – (ج 7 / ص 192)

فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنْ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

Rasulullah SAW bersabda : “Wahai para manusia, sesungguhnya pada mulanya aku mengizinkan kalian mengambil kesenangan dengan wanita2 dan sesungguhnya Allah telah MENGHARAMKAN HAL ITU SAMPAI HARI KIAMAT, maka siapa saja yang disampingnya memiliki sesuatu dari mereka maka lepaskanlah jalannya, dan janganlah kamu semua mengambil sesuatupun dari apa yang kamu datang kepada mereka.” ( HR. Muslim, juga terdapat dalam HR. Ahmad dan HR. Ibnu Abi Syaibah ).

Dari hadis diatas kita dapat mengetahui bahwa pernikahan mutah, yang sebelumnya  pernah diperbolehkan bagi orang yang posisi kebutuhannya mendesak ( dhorurot ), ternyata pada klimaksnya adalah DINYATAKAN KEHARAMANNYA OLEH ALLAH SWT MELALUI SABDA RASULULLAH SAW YANG BERUPA NASKH MUABBAD ( PENGHAPUSAN HUKUM UNTUK SELAMA – LAMANYA )INI.

KESIMPULAN 1 :

DENGAN 2 DALIL INI SAJA, MAKA CUKUP BAGI ORANG YANG BERIMAN, BERAKAL, MENDAMBAKAN KETENANGAN BATHIN, KESUCIAN FARJI SERTA KEBAHAGIAAN DI DUNIA DAN AKHIRAT UNTUK MENINGGALKAN KESYUBHATAN MENGENAI NIKAH MUT’AH INI, KARENA 2 HUJJAH INI TIDAK AKAN BISA DIGOYAHKAN OLEH DALIL MANAPUN JUGA, YANG BERMAKSUD UNTUK MELEGALKAN KEMBALI NIKAT MUT’AH.

 

Namun demikian kami akan sedikit menambahi hadis2 yang melarang nikah mut’ah ini sesuai dengan masanya :

Yang pertama :

صحيح مسلم – (ج 7 / ص 201)

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ 

 

Dari Sy Ali RA. : “Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang pernikahan mut’ah dan daging2 himar yang dipelihara pada zaman Khoibar.”( HR. Muslim, juga terdapat dalam HR. Bukhori dan HR. Ahmad ).

Yang kedua :

مسند أحمد – (ج 33 / ص 317)

عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ عَامَ أَوْطَاسٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ثُمَّ نَهَى عَنْهَا

Salamah bin Al Akwa’ berkata : “Rasulullah SAW member keringanan pada kami dalam masalah mut’ah wanita2 pada tahun Authos selama 3 hari, kemudian beliau melarangnya.” (HR. Ahmad, juga terdapat dalam HR. Ahmad )

Yang ketiga :

مسند أحمد – (ج 30 / ص 352)

فَقَالَ رَبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ يَنْهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ

Sabroh ( bin Mu’id ) berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW pada waktu haji wada’  melarang nikah mut’ah.” (HR. Ahmad, juga terdapat dalam HR. Abu Dawud ).

Dan masih banyak lagi hadis2 yang lain, bahkan ada yang meriwayatkan pelarangannya pada masa2 selain diatas, yaitu pada perang Umrotul Qodho’, seperti riwayat hadis di bawah ini  :

شرح النووي على مسلم – (ج 9 / ص 180)

وروى عن الحسن البصري أنها ما حلت قط الا في عمرة القضاء

Serta pada saat perang Tabuk :

شرح النووي على مسلم – (ج 9 / ص 180)

وذكر غير مسلم عن على أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عنها في غزوة تبوك من رواية إسحاق بن راشد عن الزهري عن عبد الله بن محمد بن علي عن أبيه عن علي

Jadi urutan pelarangan mut’ah menurut riwayat2 yang telah kami tulisan diatas adalah sbb :

  1. Hari khoibar
  2. Umrotul Qodho’
  3. Hari Fath/Authos
  4. Perang Tabuk
  5. Haji wada’

 

  • Keterangan : Alasan Rasulullah SAW mengumumkan naskh muabbad ketika haji wada’, ( posisi beliau adalah berdiri diantara Rukun dan pintu )adalah sebagaimana analisis yang disampaikan dalam Tafsir Qurthubi :

تفسير القرطبي – (ج 5 / ص 132)

لاجتماع الناس حتى يسمعه من لم يكن سمعه، فأكد ذلك حتى لا تبقى شبهة لأحد يدعي تحليلها؛ ولأن أهل مكة كانوا يستعملونها كثيرا.

“Karena disitu adalah tempat berkumpulnya manusia, sehingga orang yang belum mendengarnya akan bisa mendengarnya. Maka menjadi kokoh pelarangan mut’ah itu, sehingga tiada kesyubhatan bagi seseorang yang mendakwa akan kehalalannya, dan dikarenakan penduduk Mekkah pada waktu itu banyak sekali yang telah melakukan mut’ah.”

 

KESIMPULAN 2 :

DARI BERBAGAI DATA RIWAYAT HADIS, DITETAPKAN TERJADI SEJUMLAH REVISI TERHADAP LEGALITAS NIKAH MUT’AH, DIMANA SEBELUM PERANG KHOIBAR PERNAH DIPERBOLEHKAN, KEMUDIAN DIHARAMKAN KETIKA HARI TERJADINYA PERANG KHOIBAR – 7 H/ 629 M-. SETELAH ITU KETIKA HARI FATH MAKKAH -8 H/630 M- (‘AM AUTHOS KARENA KEDUANYA ADA KETERKAITAN )DIPERBOLEHKAN LAGI NAMUN HANYA 3 HARI, KEMUDIAN NIKAH MUT’AH DINYATAKAN HARAM UNTUK SELAMANYA PADA WAKTU HAJI WADA’.

  • Keterangan : Dapat dilihat dalam kitab Hasyiah I’anatuth Tholibin :

حاشية إعانة الطالبين – (ج 4 / ص 164)

أن نكاح المتعة كان مباحا ثم نسخ يوم خيبر ثم أبيح يوم الفتح ثم نسخ في أيام الفتح واستمر تحريمه إلى يوم القيامة وكان فيه خلاف في الصدر الاول ثم ارتفع وأجمعوا على تحريمه.

“Sesungguhnya nikah mut’ah diperbolehkan kemudian di nasakh pd hari Khoibar kemudian diperbolehkan pd hari Fath lalu di nasakh Lagi pada hari2 Fath dan berlangsung keharamannya hingga hari kiamat. Maka terjadilah perbedaan ( hukum ) pada awal ( islam ) kemudian dihapuslah ( hukumnya ) dan para sahabat IJMA’  (sepakat ) atas keharamannya.”

DAN PERLU DIINGAT BAHWA PEMBOLEHAN NIKAH MUT’AH ITU HANYA DIKARENAKAN OLEH FAKTOR SITUASI YANG MENDESAK (DHORUROT ) PADA SAAT ITU, YAITU PADA WAKTU PEPERANGAN ( JIHAD FI SABILILLAH ),DALAM RICUH SUASANA YANG GENTING, TIDAK ADA ISTRI YANG MENYERTAI, DITAMBAH DENGAN PANASNYA SUHU CUACA DAERAH, SERTA KONDISI LIBIDO PARA MUJAHIDIN YANG TIDAK BISA DIBENDUNG. JADI DALAM HISTORITAS HADIS2, RASULULLAH SAW TIDAK PERNAH SEKALIPUN MEMBERI KELONGGARAN ATAS NIKAH MUT’AH KEPADA MEREKA YANG SEDANG BERDOMISILI  TETAP ( MUQIM )DI DALAM RUMAH, ARTINYA KEBOLEHANNYA PASTI DALAM KONDISI SAFAR ( BEPERGIAN ) BAHKAN DALAM KEADAAN PEPERANGAN.

Kemudian mengenai berapa kali jumlah revisi nikah mut’ah dan sejauh mana dhorurot pembolehan mut’ah ini dapat kita ketahui dalam keterangan serta hadis di bawah ini :

 

تفسير القرطبي – (ج 5 / ص 130131-)

واختلف العلماء كم مرة أبيحت ونسخت؛ ففي صحيح مسلم عن عبدالله قال: كنا نغزو مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس لنا نساء؛ فقلنا: ألا نستخصي؟ فنهانا عن ذلك، ثم رخص لنا أن ننكح المرأة بالثوب إلى أجل. قال أبو حاتم البستي في صحيحه: قولهم للنبي صلى الله عليه وسلم “ألا نستخصي” دليل على أن المتعة كانت محظورة قبل أن أبيح لهم الاستمتاع، ولو لم تكن محظوره لم يكن لسؤالهم عن هذا معنى، ثم رخص لهم في الغزو أن ينكحوا المرأة بالثوب إلى أجل ثم نهى عنها عام خيبر، ثم أذن فيها عام الفتح، ثم حرمها بعد ثلاث، فهي محرمة إلى يوم القيامة. وقال ابن العربي: وأما متعة النساء فهي من غرائب الشريعة؛ لأنها أبيحت في صدر الإسلام ثم حرمت يوم خيبر، ثم أبيحت في غزوة أوطاس، ثم حرمت بعد ذلك واستقر الأمر على التحريم، وليس لها أخت في الشريعة إلا مسألة القبلة، لأن النسخ طرأ عليها مرتين ثم استقرت بعد ذلك. وقال غيره ممن جمع طرق الأحاديث فيها: إنها تقتضي التحليل والتحريم سبع مرات

Para ulama berbeda pendapat mengenai berapa kali mutah ini diperbolehkan dan di nasakh hukumnya. Maka dalam riwayat Imam Muslim yang diambil dari Abdullah bin Abbas, beliau berkata : “ Kami pernah berperana bersama Rasulullah SAW sedang ketika itu tidak ada wanita pada kami.” Maka kami bertanya : “Apa sebaiknya kita kebiri diri kita ?” Maka Rasulullah SAW melarang kita untuk melakukannya , lalu beliau memberikan rukhshoh ( dispensasi ) kepada kita untuk menikahi wanita untuk sementara waktu dengan mahar pakaian.” Dalam karya shohihnya Imam Abu Hatim Al Bustiyyi menorehkan analisa pada pertanyaan yg diajukan sahabat kepada Nabi SAW :  “Apa sebaiknya kita kebiri diri kita ?”adalah sebagai dalil bahwa mut’ah telah di larang ( diharamkan )sebelum istimta’ (bersenang – senang ) itu diperbolehkan bagi mereka. Karena seandainya tidak dilarang maka mereka tidak menanyakan mengenai pengebirian ini., maka kemudian diberikan dispensasi bagi mereka pada waktu peperangan untuk menikahi perempuan dengan menggunakan mahar pakaian dengan jangka waktu, lalu beliau melarang pernikahan ( mut’ah ) tadi pada waktu tahun Khoibar, lalu diperbolehkan lagi pada tahun Fath, lalu diharamkan lagi setelah berlalu 3 hari setelahnya, maka pelarangan ini adalah berlaku hingga hari kiamat.( dari referensi hadis ini maka Imam Abu Hatim berkesimpulan bahwa kalkulasi jumlah perubahan hokum mut’ah mencapai 5 kali ).

Ibnu Al Arobi memberikan statemen : “Konstitusi hukum memut’ah wanita adalah termasuk syariat yang langka. Karena ketetapan hukumnya pernah diperbolehkan pada awal masa keislaman kemudian diharamkan pada hari Khoibar, lalu diperbolehkan lagi pada perang Authos ( Hari Fath ), lalu setelah itu diharomkan untuk selamanya. Tidak pernah ada dalam fase hukum syariat (mengenai pengulangan naskh dan manshukhnya ) yang menyamainya kecuali dalam masalah ( menghadap ) kiblat, karena penasakhan hukum menghadap kiblat diperbarui 2 kali kemudian setelah itu dilangsungkan penetapannya.

Sedangkan hasil penelusuran para pengumpul riwayat2 hadis menyatakan adanya penghalalan dan pengharaman sebanyak 7 kali.

تفسير القرطبي – (ج 5 / ص 131)

وقال عمرو عن الحسن: ما حلت المتعة قط إلا ثلاثا في عمرة القضاء ما حلت قبلها ولا بعدها.

Sedang versi Amr bin Maimun dari Al Hasan Bashri : Mut’ah tidak pernah dihalalkan sama sekali kecuali 3 kali dalam Umrotul Qodho’, tidak halal sebelum maupun sesudahnya.

شرح النووي على مسلم – (ج 9 / ص 180)

وقد ذكر في حديث بن أبي عمر أنها كانت رخصة في أول الاسلام لمن اضطر اليها كالميتة ونحوها

 

 

MENGENAI PENDAPAT IBNU ABBAS :

حاشية إعانة الطالبين – (ج 4 / ص 164)

وما نقل عن ابن عباس من جوازها رجع عنه فقد قال بعضهم والله ما فارق ابن عباس الدنيا حتى رجع إلى قول الصحابة في تحريم المتعة. ونقل عنه أنه قام خطيبا يوم عرفة وقال أيها الناس إن المتعة حرام كالميتة والدم والخنزير.

الدر المنثور – (ج 3 / ص 81)

وأخرج ابن المنذر والطبراني والبيهقي من طريق سعيد بن جبير قال : قلت لابن عباس : ماذا صنعت ، ذهب الركاب بفتياك؟ وقالت فيه الشعراء؟! قال : وما قالوا؟! قلت : قالوا :

أقول للشيخ لما طال مجلسه … يا صاح هل لك في فتيا ابن عباس

هل لك رخصة الأطراف آنسة … تكون مثواك حتى مصدر الناس

فقال إنا لله وإنا إليه راجعون ، لا والله ما بهذا أفتيت ، ولا هذا أردت ، ولا أحللتها إلا للمضطر ، ولا أحللت منها إلا ما أحل الله من الميتة والدم ولحم الخنزير

الدر المنثور – (ج 3 / ص 81)

وأخرج عبد الرزاق عن خالد بن المهاجر قال : أرخص ابن عباس للناس في المتعة فقال له ابن عمرة الأنصاري : ما هذا يا ابن عباس . . . ؟! فقال ابن عباس : فعلت مع إمام المتقين فقال ابن أبي عمرة : اللهم غفرا . ! إنما كانت المتعة رخصة كالضرورة إلى الميتة والدم ولحم الخنزير ، ثم أحكم الله الدين بعد .

الدر المنثور – (ج 3 / ص 80)

وأخرج النحاس عن علي بن أبي طالب أنه قال لابن عباس : إنك رجل تائه « إن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن المتعة » .

 

TERNYAT BELIAU ( IBNU ABBAS) TELAH MEREVISI ATAS PENDAPATNYA TENTANG KEBOLEHAN MUT’AH……

 

MENGENAI QIROAH IBNU ABBAS DAN IBNU MAS’UD :

شرح النووي على مسلم – (ج 9 / ص 179)

وتعلقوا بقوله تعالى فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن وفي قراءة بن مسعود فما استمتعتم به منهن إلى أجل وقراءة بن مسعود هذه شاذة لا يحتج بها قرآنا ولا خبرا ولا يلزم العمل بها

تفسير القرطبي – (ج 5 / ص 130)

وقرأ ابن عباس وأبي وابن جبير “فما استمتعتم به منهن إلى أجل مسمى فأتوهن أجورهن “ثم نهى عنها النبي صلى الله عليه وسلم

الحاوى الكبير ـ الماوردى – دار الفكر – (ج 9 / ص 838)

وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى : فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ [ النِّسَاءِ : 24 ] فَمِنْ وَجْهَيْنِ : أَحَدُهُمَا : أَنَّ عَلِيًّا وَابْنَ مَسْعُودٍ رَوَيَا أَنَّهَا نُسِخَتْ بِالطَّلَاقِ وَالْعِدَّةِ وَالْمِيرَاثِ . وَالثَّانِي : أَنَّهَا مَحْمُولَةٌ عَلَى الِاسْتِمْتَاعِ بِهِنَّ فِي النِّكَاحِ ، وَقَوْلُ ابْنِ مَسْعُودٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى يَعْنِي بِهِ الْمَهْرَ دُونَ الْعَقْدِ .

 

TERNYATA ADALAH QIRO’AH  IBNU MAS’UD ADALAH QIRO’AH SYADZ YG TIDAK BISA DIJADIKAN HUJJAH SEBAGAI QUR’AN DAN KHOBAR (HADIS) DAN TIDAK BOLEH MENGAMALKANNYA….!!!! SEDANG QIRO’AH IBNU ABBAS DAN IBNU JUBAIR TERNYATA SUDAH DILARANG OLEH RASULULLAH SAW DAN DINASAKH…..!!!

 

TAMBAHAN AYAT YANG MENASAKH SURAT ANNISA’ 24 :

الدر المنثور – (ج 3 / ص 80)

وأخرج أبو داود في ناسخه وابن المنذر والنحاس من طريق عطاء عن ابن عباس في قوله { فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة } قال : نسختها { يا أيها النبي إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن } [ الطلاق : 1 ] .{ والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء } [ البقرة : 228 ].{ واللائي يئسن من المحيض من نسائكم إن ارتبتم فعدتهن ثلاثة أشهر } [ الطلاق : 4 ]

وأخرج أبو داود في ناسخه وابن المنذر والنحاس والبيهقي عن سعيد بن المسيب قال : نسخت آية الميراث المتعة .

وأخرج عبد الرزاق وابن المنذر والبيهقي عن ابن مسعود قال : المتعة منسوخة ، نسخها الطلاق ، والصدقة ، والعدة ، والميراث .

وأخرج عبد الرزاق وابن المنذر عن علي قال : نسخ رمضان كل صوم ، ونسخت الزكاة كل صدقة ، ونسخ المتعة الطلاق والعدة والميراث ، ونسخت الضحية كل ذبيحة .

وأخرج عبد الرزاق وأبو داود في ناسخه وابن جرير عن الحكم . أنه سئل عن هذه الآية أمنسوخة؟ قال : لا . وقال عليّ : لولا أن عمر نهى عن المتعة ما زنا إلا شقي .

تفسير القرطبي – (ج 5 / ص 130)

وقال سعيد بن المسيب: نسختها آية الميراث؛ إذ كانت المتعة لا ميراث فيها. وقالت عائشة والقاسم بن محمد: تحريمها ونسخها في القرآن؛ وذلك في قوله تعالى: {وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ} وليست المتعة نكاحا ولا ملك يمين. وروى الدارقطني عن علي بن أبي طالب قال: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المتعة، قال: وإنما كانت لمن لم يجد، فلما نزل النكاح والطلاق والعدة والميراث بين الزوج والمرأة نسخت. وروى عن علي رضى الله عنه أنه قال: نسخ صوم رمضان كل صوم، ونسخت الزكاة كل صدقة، ونسخ الطلاق والعدة والميراث المتعة، ونسخت الأضحية كل ذبح. وعن ابن مسعود قال: المتعة منسوخة نسخها الطلاق والعدة والميراث.

HIKAYAT TENTANG MUT’AH :

حاشية إعانة الطالبين – (ج 4 / ص 164)

وقد وقعت مناظرة بين القاضي يحيى بن أكثم وأمير المؤمنين المأمون فإن المأمون نادى بإباحة المتعة، فدخل يحيى بن أكثم وهو متغير بسبب ذلك وجلس عنده فقال له المأمون: ما لي أراك متغيرا ؟ قال لما حدث في الاسلام. قال وما حدث ؟ قال النداء بتحليل الزنا. قال المتعة زنا ؟ قال نعم المتعة زنا قال ومن أين لك هذا ؟ قال من كتاب الله وسنة رسوله. أما الكتاب فقد قال الله تعالى: * (قد أفلح المؤمنون) * إلى قوله * (والذين هم لفروجهم حافظون، إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين، فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون) * يا أمير المؤمنين زوجة المتعة ملك اليمين ؟ قال: لا قال: فهي الزوجة التي عند الله ترث وتورث وتلحق الولد ولها شرائطها ؟ قال: لا. قال: فقد صار متجاوزا هذين من العادين، وأما السنة فقد روى الزهري بسند إلى على بن أبي طالب رضي الله عنه أنه قال: أمرني رسول الله (ص) أن أنادي بالنهي عن المتعة وتحريمها بعد أن كان أمر بها فالتفت المأمون للحاضرين وقال أتحفظون هذا من حديث الزهري قالوا نعم. فقال المأمون أستغفر الله نادوا بتحريم المتعة.

 

KELICIKAN SYIAH DALAM BERHUJJAH :

  1. MEMUTILASI DALIL

 

  1. Para Rofidhoh berkata : : “Ibnu Qoyyim dalam “Zaadul Ma’ad”, juz 1 hal. 213. menulis :

 

Dari Ayyub berkata : “Urwah berkata kepada Ibnu Abbas :’Apakah engkau tidak takut pada Allah dengan membolehkan mut’ah ?’. Ibnu Abbas menjawab :’Tanyakan pada ibumu sendiri, hai Urwah’. Kemudian Urwah mengatakan :’Abubakar dan Umar tidak melakukannya’. Ibnu Abbas menjawab :’Demi Allah, aku tidak melihat kamu menjadi lebih baik sampai Allah mengazab kamu. Kami menyampaikan hadits Rasulullah kepada kamu dan kamu menyampaikan hadits Abubakar dan Umar.”

Padahal lafadz lengkap percakapan ini :

زاد المعاد – (ج 2 / ص 190)

وَقَالَ عَبْدُ الرّازِقِ حَدّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيّوبَ قَالَ قَالَ عُرْوَةُ لِابْنِ عَبّاسٍ أَلَا تَتّقِي اللّهَ تُرَخّصُ فِي الْمُتْعَةِ ؟ فَقَالَ ابْنُ عَبّاسٍ : سَلْ أُمّك يَا عُرَيّةَ . فَقَالَ عُرْوَةُ : أُمّا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ ، فَلَمْ يَفْعَلَا ، فَقَالَ ابْنُ عَبّاسٍ : وَاَللّهِ مَا أَرَاكُمْ مُنْتَهِينَ حَتّى يُعَذّبَكُمْ اللّهُ أُحَدّثُكُمْ عَنْ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَتُحَدّثُونَا عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ ؟ فَقَالَ عُرْوَةُ : لَهُمَا أَعْلَمُ بِسُنّةِ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَتْبَعُ لَهَا مِنْك

Juga dapat dilihat disini :

الحاوى الكبير ـ الماوردى – دار الفكر – (ج 9 / ص 836)

وَنَاظَرَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ عَلَيْهَا مُنَاظَرَةً مَشْهُورَةً ، وَقَالَ لَهُ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ : أَهْلَكْتَ نَفْسَكَ ، قَالَ : وَمَا هُوَ يَا عُرْوَةُ ، قَالَ : تُفْتِي بِإِبَاحَةِ الْمُتْعَةِ ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ يَنْهَيَانِ عَنْهَا ، فَقَالَ : عَجِبْتُ مِنْكَ ، أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} وَتُخْبِرُنِي عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ ، فَقَالَ لَهُ عُرْوَةُ : إِنَّهُمَا أَعْلَمُ بِالسُّنَّةِ مِنْكَ فَسَكَتَ .

Jadi percakapan diatas masih berlanjut dg jawaban Urwah : ….”Sesungguhnya mereka berdua ( Abu Bakar dan Umar )  lebih mengetahui sunnah ( Nabi SAW ) daripada dirimu. Maka sanggahan ini membuat Ibnu Abbas terdiam.”

 

  1. Mengenai atsar :

 

وأخرج عبد الرزاق وأبو داود في ناسخه وابن جرير عن الحكم أنه سئل عن هذه الآية أمنسوخة ؟ قال لا وقال علي لولا أن عمر نهى عن المتعة ما زنا إلا شقي

 

Abdurrazaq, Abu Daud dalam kitab Nasikh dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Hakim ketika ia ditanya “apakah ayat ini dimansukh”?. Ia berkata “tidak”, dan Ali berkata “kalau Umar tidak melarang mut’ah maka tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka”.

 

Para Rofidhoh berkata : Atsar ini disampaikan oleh orang-orang yang tsiqah sehingga tidak ada alasan untuk menolak dan menentangnya, sehingga tidak diragukan lagi kalau Imam Ali alaihis salam telah menghalalkan mut’ah. Hakam bin Utaibah Al Kindi disebutkan Ibnu Hajar dalam kitab Taqrib juz 1 hal 232 sebagai orang yang tsiqat dan tsabit.

Padahal perkataan Ibnu Hajar dalam kitab tsb masih ada kelanjutannya ( kami tampilkan selengkapnya ) :

تقريب التهذيب – (ج 1 / ص 232)

الحكم بن عتيبة بالمثناة ثم الموحدة مصغرا أبو محمد الكندي الكوفي ثقة ثبت فقيه إلا أنه ربما دلس من الخامسة

Lihat pula komentar Jalaluddin as-Suyuthi dalam Asmaa’ al-Mudallisin juz 1 hal. 44 :

أسماء المدلسين – (ج 1 / ص 44)

الحكم بن عتيبة ذكره غير واحد يدلس

Juga bisa di cek pendapat Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqaat juz 4 hal. 144

الثقات لابن حبان – (ج 4 / ص 144)

الحكم بن عتيبة بن النهاس مولى امرأة من كندة من بنى عدى كوفى كنيته أبو محمد وقد قيل أبو عبد الله يروى عن أبي جحيفة وزيد بن أرقم روى عنه منصور وشعبة ولد سنة خمسين في ولاية معاوية ومات سنة خمس عشرة ومائة وقد قيل سنة ثلاث عشرة ومائة وكان يدلس

Jadi riwayat yang disandarkan kepada Sy Ali bn Abi Tholib RA diatas   statusnya dhoif dan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah,dengan alasan Al Hakam melakukan tadlis dan sanadnya terputus,sebab Al Hakam tdk pernah bertemu dengan Sy Ali bin Abi Tholib RA ( Al Hakam lahir tahun 50 H pada masa pemerintahan Sy Muawiyah RA sedang  Sy Ali meninggal pada tahun 40 H )

HUKUMAN DAN KONSEKUENSI BAGI PELAKU MUT’AH :

الحاوى الكبير ـ الماوردى – دار الفكر – (ج 9 / ص 840)

فَصْلٌ : فَإِذَا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا مِنْ تَحْرِيمِ الْمُتْعَةِ الآثار المترتبة على نكاح المتعة ، فَلَا حَدَّ فِيهَا لِمَكَانِ الشُّبْهَةِ ، وَيُعَزَّرَانِ أَدَبًا إِنْ عَلِمَا بِالتَّحْرِيمِ ، وَلَهَا مَهْرُ مِثْلِهَا بِالْإِصَابَةِ دُونَ الْمُسَمَّى وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ ، وَإِنْ جَاءَتْ بِوَلَدٍ لَحِقَ بِالْوَطْءِ : لِأَنَّهَا صَارَتْ بِإِصَابَةِ الشُّبْهَةِ فِرَاشًا ، وَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا بِغَيْرِ طَلَاقٍ : لِأَنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُمَا نِكَاحٌ يُلْزِمُ ، وَيَثْبُتُ بِهَذِهِ الْإِصَابَةِ تَحْرِيمُ الْمُصَاهَرَةِ

DALIL IJMA’ :

شرح النووي على مسلم – (ج 9 / ص 181)

قال القاضي واتفق العلماء على أن هذه المتعة كانت نكاحا إلى أجل لا ميراث فيها وفراقها يحصل بانقضاء الأجل من غير طلاق ووقع الاجماع بعد ذلك على تحريمها من جميع العلماء الا الروافض وكان بن عباس رضي الله عنه يقول بإباحتها وروى عنه أنه رجع عنه قال وأجمعوا على أنه متى وقع نكاح المتعة الآن حكم ببطلانه سواء كان قبل الدخول أو بعده الا ما سبق عن زفر واختلف أصحاب مالك هل يحد الواطئ فيه ومذهبنا أنه لا يحد لشبهة العقد وشبهة الخلاف

Fatwa Al Mazari :

 

شرح النووي على مسلم – (ج 9 / ص 179)

قال المازرى ثبت أن نكاح المتعة كان جائزا في أول الاسلام ثم ثبت بالأحاديث الصحيحة المذكورة هنا أنه نسخ وانعقد الاجماع على تحريمه ولم يخالف فيه الا طائفة من المستبدعة وتعلقوا بالأحاديث الواردة في ذلك وقد ذكرنا أنها منسوخة فلا دلالة لهم فيها

 

sebenarnya kami ingin menulis masalah2 mutah ini lebih panjang lagi, tetapi karena keterbatasan waktu kami cukupkan sampai disini…Afwan,, Wallohu A’lam

Kategori:Kawin Mut'ah

Note dari akun Dodi ElHasyimi 4

BUKTI IBNU ZUBAIR BUKAN ANAK HASIL MUT’AH

by Dodi ElHasyimi on Monday, January 24, 2011 at 8:39am ·

PERMASALAHAN PERTAMA :

Dalam statement-nya para Rofidhoh memaparkan bahwa mereka mempunyai bukti-bukti bahwa Asma’ Binti Abu Bakar dan Zubair Melakukan Nikah Mut’ah Hingga Melahirkan Anak yang bernama Abdullah bin Zubair, argument/riwayat2 yang mereka kemukakan diantaranya adalah :

  1. Dari Abu Nadhrah, dia berkata :

“Ibnu Abbas pernah menganjurkan nikah mut’ah, sementara Ibnu Zubair malah melarangnya. Kemudian persoalan ini aku adukan kepada Jabir bin Abdullah. Berkata Jabir : ‘Dahulu aku pernah melakukan nikah mut’ah BERSAMA Rasul SAW, kemudian Umar melarangnya. Umar menegaskan :’Sesungguhnya Allah bisa menghalalkan apa saja kepada utusan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Al-Qur’an diturunkan kepadanya. Yang penting ialah sempurnakan ibadah haji dan umroh anda seperti yang diperintahkan Allah, untuk-Nya. Barangsiapa berani melakukan nikah mut’ah ini, maka aku akan menghukumnya dengan melempari batu'”

Referensi : Shohih Muslim, juz 1, sub bab “Masalah kawin Mut’ah pada saat menunaikan Haji dan Umroh”.

  1.  Abdullah bin Zubair mencela Ibnu Abbas karena menghalalkan nikah mut’ah.

Ibnu Abbas kemudian berkata ;

“Tanyakan pada ibumu bagaimana perapian yang menyala antara ibumu dan ayahmu”. Maka Ibnu Zubair bertanya kepada ibunya, dan ibunya menjawab :  

“AKU TIDAK MELAHIRKANMU KECUALI MELALUI NIKAH MUT’AH”.

Referensi : Ar-Raghib, dalam “Al-Muhadharat”, juz 2, hal. 94.

JAWABAN :

Kebohongan, kesalahan dan kebathilan riwayat2 yg dibawakan oleh para Rofidhoh (terutama yg bersumber dan diambil dari keterangan ulama mereka yg bernama Al Fakikiy dalam kitabnya Al Mut’ah hal 56-57 dan diikuti oleh para rofidhoh di Indonesia) dapat dijawab dengan 4 point :

  1. PERCAKAPAN YANG TERJADI ANTARA IBNU ABBAS DAN IBNU ZUBAIR SERTA UCAPAN ASMA’ MENGENAI  سطوع المجامر (berhamburannya bara api) ITU BERKAITAN DENGAN MUT’AH HAJI ( HAJI TAMATTU’) DAN SAMA SEKALI TIDAK BERKAITAN DENGAN MUT’AH NISA’.

PENJELASAN : Hadis سطوع المجامر (berhamburannya bara api) yg diriwayatkan Imam Ahmad dalam musnadnya hal 344-345 mengenai Asma’ dg jalur periwayatan yg berbeda-beda :

ثنا عبيدة بن حميد عن يزيد بن أبي زياد ، عن مجاهد ، عن أسماء بنت أبي بكر قالت : حججنا مع رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم فأمرنا ، فجعلناها عمرة ، فأحللنا كل الإِحلال حتى سطعت المجامر بين الرجال والنساء

“Kami berhaji bersama Rasulullah SAW, dst sampe akhir hadist….”

Dan Imam Ahmad juga meriwayatkan :

: ثنا محمد بن الفضيل : ثنا يزيد – يعني ابن زياد – عن مجاهد قال : قال عبد الله بن الزبير : « أفردوا بالحج ودعوا قول هذا » – يعني ابن عباس رضي الله عنهما – فقال ابن عباس : ألا تسأل أمك عن هذا » فأرسل إليها فقالت : « صدق ابن عباس ، بمثل الحديث الأول

“Berhajilah dengan cara Ifrod dan tinggalkanlah pendapat orang ini-yakni Ibnu Abbas- Maka Ibnu Abbas menjawab, dst sampe akhir hadist…..”

JADI DAPAT DIKETAHUI BAHWA KALIMAT ITU BERKAITAN DENGAN MUT’AH HAJI DAN SAMA SEKALI TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN MUT’AH NISA’.

  1. SEMUA ORANG YANG PERNAH MEMBACA KITAB2 SEJARAH DAN TARIKH AKAN MENEMUKAN BAHWA SY ZUBAIR RA MENIKAHI  ASMA’ BINTI ABU BAKAR RA DALAM KEADAAN PERAWAN DAN SETELAH WAFATNYA SY ZUBAIR RA(SUAMINYA) BELIAU TIDAK PERNAH MENIKAH LAGI.
  1. ASMA’ RA MENGANDUNG ABDULLAH BIN ZUBAIR DAN MELAHIRKANNYA DI QUBA’, DAN INILAH KELAHIRAN PERTAMA YG PERNAH TERJADI DALAM ISLAM SEBAGAIMANA KETERANGAN2 YG TELAH MASYHUR KITA KETAHUI, SEDANGKAN MUT’AH TIDAKLAH TERJADI KECUALI SETELAH HIJRAH DAN SEBELUM PERANG KHOIBAR. MAKA PERNIKAHAN ANTARA ASMA’ DENGAN ZUBAIR RADHIYALLAHU ANHUMA ADALAH PERNIKAHAN DAIM ( PERMANEN). KARENA SEANDAINYA MEREKA BERDUA MELAKUKAN MUT’AH, MAKA MEREKA WAJIB MEMISAHKAN MUT’AH INI DAN MEMBEBASKAN JALINANNYA. SEBAGAIMANA SABDA RASULULLAH SAW :

قال النبي صلى اللّه عليه وسلم : « فمن كان عنده منهن شيء فليخل سبيلها »

Nabi SAW bersabda : “ maka barangsiapa di sisinya terdapat wanita2 (yg diakadi mut’ah) maka lepaskanlah akad mut’ah itu.

Hadist ini dapat dilihat di kitab :

(صحيح مسلم بشرح النووي 5/1/185 سنن أبي داود 1/478 -497 ، مسند الإمام أحمد 3/404 -405 سنن ابن ماجه 1/632 مصنف عبدالرزاق 7/504 الدارمي 1/2/140(

  1. Ini point yg terpenting !!! mari kita meruju’ kepada kitab Muhadhorotu Al Udaba’ wa Muhawarotu Al Syu’aro ( محاضرات الأدباء ومحاورات الشعراء) juz 3 hal 214 karya Ar Roghib Al Ashbihani yg sering digunakan berhujah oleh para Rofidhoh untuk melancarkan tuduhan mengenai status Ibnu Zubair (Abdullah bin Zubair) cucu Sy Abu Bakar RA sebagai anak hasil mut’ah, karena dalam kitab inilah yang secara shorih (jelas) menyatakan hal ini  :

إن عبد الله بن الزبير عيّر ابن عباس بتحليله المتعة ، فقال له ابن عباس : سل أمك كيف سطعت المجامر بينها وبين أبيك . فسألها ، فقالت : والله ما ولدتك إلا بالمتعة .

“Sesungguhnya Abdullah bin Zubair mencela Ibnu Abbas karena menghalalkan nikah mut’ah. Ibnu Abbas kemudian berkata kepadanya : “Tanyakan pada ibumu bagaimana perapian yang menyala antara ibumu dan ayahmu”. Maka Ibnu Zubair bertanya kepada ibunya, dan ibunya menjawab : “Demi Allah Aku tidak melahirkanmu kecuali dengan cara mut’ah.” 

 

TERNYATA JELAS SEKALI BAHWA KISAH CERITA DI DALAM KITAB INI SAMA SEKALI TIDAK ADA SANADNYA, TERPUTUS HANYA BEGITU SAJA, SEBAGAIMANA HIKAYAT2 LAIN YANG SERING DITULIS OLEH PARA AHLI SATRA YANG SERING DIGUNAKAN SEBAGAI CARA UNTUK MENJATUHKAN DAN MEMFITNAH, TANPA MEMANDANG APAKAH RIWAYAT YANG DITULIS ITU SHOHIH ATAU KADZDZAB…!!

PERTANYAAN : APAKAH HIKAYAT YANG TERPUTUS SANADNYA SEPERTI INI BISA DIGUNAKAN UNTUK MENETAPKAN HUKUM SYARIAT SECARA HAKIKI, SERTA DIGUNAKAN UNTUK MENENTANG RIWAYAT2 HADIS YANG DISANDARKAN KEPADA KITAB2 HADIS YANG MU’TAMAD ( DAPAT DIJADIKAN PEDOMAN ) ???

TENTU JAWABNYA : TIDAK, SAMA SEKALI TIDAK BISA…!!!

Sebenarnya dari judul kitabnya saja kita bisa menebak dan mengetahui, bahwa kitab ini hanyalah karya sastra dari para sastrawan yang sama sekali tidak bermaksud untuk menjustifikasi akan kebenaran atau tidaknya suatu masalah dari sisi hukum syariat, nama kitabnya adalah Muhadhorotu Al Udaba’ wa Muhawarotu Al Syu’aro ( محاضرات الأدباء ومحاورات الشعراء) yang artinya “KUMPULAN PARA AHLI SASTRA DAN PERCAKAPAN PARA AHLI SYAIR”, namun untuk mengelabui orang awwam, para Rofidhoh dalam menyebutkan kitab ini hanya memutilasi lafadz depannya saja, yaitu Al Muhadhorot, sehingga seolah-olah bahwa kitab ini adalah kitab  yang bisa digunakan sebagai pijakan untuk berhujah dan mengambil hukum…!!!!

PENUTUP :

Celaan yang selalu ditampakkan oleh para Rofidhoh (terutama Al Fakiki dalam kitabnya itu) mengenai percakapan yang terjadi antara Ibnu Abbas yang berisi penghinaan dan penjatuhan martabat dari Ibnu Zubair itu sama halnya dengan membohongkan riwayat dari Ibnu Abbas yang terdapat dalam hadis shohih bahwasanya beliau menyifati Ibnu Zubair sebagai : “AFIFUL ISLAM (orang yg bisa menjaga diri dan menjauhkan diri dari hal2 yang tidak baik yang pernah ditemui dalam Islam), QORI-UL QURAN (orang yang hafal dan banyak membaca Al Quran), AYAHNYA ADALAH HAWARY (sahabat istimewa yang membantu dan menolong) RASULULLAH SAW, IBUNYA ADALAH PUTRI ASH SHIDDIQ, NENEKNYA ADALAH SHOFIYAH BIBI RASULULLAH SAW, BIBI DARI AYAHNYA KHODIJAH BINTI KHUWAILID. Bisa dilihat di Shohih Al Bukhori :

صحيح البخاري – (ج 14 / ص 226)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا

أَنَّهُ قَالَ حِينَ وَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ ابْنِ الزُّبَيْرِ قُلْتُ أَبُوهُ الزُّبَيْرُ وَأُمُّهُ أَسْمَاءُ وَخَالَتُهُ عَائِشَةُ وَجَدُّهُ أَبُو بَكْرٍ وَجَدَّتُهُ صَفِيَّةُ

صحيح البخاري – (ج 14 / ص 227)

قَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ وَكَانَ بَيْنَهُمَا شَيْءٌ فَغَدَوْتُ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ

فَقُلْتُ أَتُرِيدُ أَنْ تُقَاتِلَ ابْنَ الزُّبَيْرِ فَتُحِلَّ حَرَمَ اللَّهِ فَقَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ ابْنَ الزُّبَيْرِ وَبَنِي أُمَيَّةَ مُحِلِّينَ وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُحِلُّهُ أَبَدًا قَالَ قَالَ النَّاسُ بَايِعْ لِابْنِ الزُّبَيْرِ فَقُلْتُ وَأَيْنَ بِهَذَا الْأَمْرِ عَنْهُ أَمَّا أَبُوهُ فَحَوَارِيُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ الزُّبَيْرَ وَأَمَّا جَدُّهُ فَصَاحِبُ الْغَارِ يُرِيدُ أَبَا بَكْرٍ وَأُمُّهُ فَذَاتُ النِّطَاقِ يُرِيدُ أَسْمَاءَ وَأَمَّا خَالَتُهُ فَأُمُّ الْمُؤْمِنِينَ يُرِيدُ عَائِشَةَ وَأَمَّا عَمَّتُهُ فَزَوْجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ خَدِيجَةَ وَأَمَّا عَمَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَدَّتُهُ يُرِيدُ صَفِيَّةَ ثُمَّ عَفِيفٌ فِي الْإِسْلَامِ قَارِئٌ لِلْقُرْآنِ وَاللَّهِ إِنْ وَصَلُونِي وَصَلُونِي مِنْ قَرِيبٍ وَإِنْ رَبُّونِي رَبُّونِي أَكْفَاءٌ كِرَامٌ فَآثَرَ التُّوَيْتَاتِ وَالْأُسَامَاتِ وَالْحُمَيْدَاتِ يُرِيدُ أَبْطُنًا مِنْ بَنِي أَسَدٍ بَنِي تُوَيْتٍ وَبَنِي أُسَامَةَ وَبَنِي أَسَدٍ إِنَّ ابْنَ أَبِي الْعَاصِ بَرَزَ يَمْشِي الْقُدَمِيَّةَ يَعْنِي عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ مَرْوَانَ وَإِنَّهُ لَوَّى ذَنَبَهُ يَعْنِي ابْنَ الزُّبَيْرِ

PERMASALAHAN KEDUA :

Mengenai Perdebatan antara Ibnu Abbas dengan Urwah bin Zubair yang Sering ditampilkan oleh Para Rofidhoh Untuk Menggulkan Kebolehan Mut’ah :

1. Dari Ayyub berkata :

“Urwah berkata kepada Ibnu Abbas :’Apakah engkau tidak takut pada Allah dengan membolehkan mut’ah ?’. Ibnu Abbas menjawab :’Tanyakan pada ibumu sendiri, hai Urwah’. Kemudian Urwah mengatakan :’Abubakar dan Umar tidak melakukannya’. Ibnu Abbas menjawab :’Demi Allah, aku tidak melihat kamu menjadi lebih baik sampai Allah mengazab kamu. Kami menyampaikan hadits Rasulullah kepada kamu dan kamu menyampaikan hadits Abubakar dan Umar’.

Ibnu Qoyyim, dalam “Zaadul Ma’ad”, juz 1, hal. 213.

2. Dari Ibnu Abi Mulaikah :

Berkata Urwah bin Zubair kepada Ibnu Abbas :”Orang-orang mendurhakaimu”. Berkata Ibnu Abbas :”Apa sebabnya”. Berkata Urwah :”Engkau mengeluarkan fatwa bagi mereka tentang dua mut’ah, sedang engkau tahu bahwa Abubakar dan Umar melarang keduanya”. Berkata Ibnu Abbas :”Aneh, aku meriwayatkan dari Rasulullah dan mereka meriwayatkan dari Abubakar dan Umar”.

JAWABAN :

Dari dua riwayat diatas para Rofidhoh seolah-olah ingin menampilkan bahwa dalam debat diatas, kebolehan mut’ah-lah- yang diwakili oleh pendapat sahabat Ibnu Abbas RA- yang diunggulkan, dengan ending (akhir) pembicaraan sebagaimana tersebut diatas. Tetapi ternyata, riwayat2 ini ADALAH HASIL MUTILASI DARI RIWAYAT YANG MASIH ADA KELANJUTANNYA. Mari kita lihat selengkapnya :

 

زاد المعاد – (ج 2 / ص 190)

وَقَالَ عَبْدُ الرّازِقِ حَدّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيّوبَ قَالَ قَالَ عُرْوَةُ لِابْنِ عَبّاسٍ أَلَا تَتّقِي اللّهَ تُرَخّصُ فِي الْمُتْعَةِ ؟ فَقَالَ ابْنُ عَبّاسٍ : سَلْ أُمّك يَا عُرَيّةَ . فَقَالَ عُرْوَةُ : أُمّا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ ، فَلَمْ يَفْعَلَا ، فَقَالَ ابْنُ عَبّاسٍ : وَاَللّهِ مَا أَرَاكُمْ مُنْتَهِينَ حَتّى يُعَذّبَكُمْ اللّهُ أُحَدّثُكُمْ عَنْ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَتُحَدّثُونَا عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ ؟ فَقَالَ عُرْوَةُ : لَهُمَا أَعْلَمُ بِسُنّةِ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَتْبَعُ لَهَا مِنْك

Juga dapat dilihat riwayat yang lengkap disini :

الحاوى الكبير ـ الماوردى – دار الفكر – (ج 9 / ص 836)

وَنَاظَرَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ عَلَيْهَا مُنَاظَرَةً مَشْهُورَةً ، وَقَالَ لَهُ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ : أَهْلَكْتَ نَفْسَكَ ، قَالَ : وَمَا هُوَ يَا عُرْوَةُ ، قَالَ : تُفْتِي بِإِبَاحَةِ الْمُتْعَةِ ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ يَنْهَيَانِ عَنْهَا ، فَقَالَ : عَجِبْتُ مِنْكَ ، أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} وَتُخْبِرُنِي عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ ، فَقَالَ لَهُ عُرْوَةُ : إِنَّهُمَا أَعْلَمُ بِالسُّنَّةِ مِنْكَ فَسَكَتَ .

Jadi percakapan selengkapnya berbunyi :

Dari Ayyub berkata : “Urwah berkata kepada Ibnu Abbas :’Apakah engkau tidak takut pada Allah dengan membolehkan mut’ah ?’. Ibnu Abbas menjawab :’Tanyakan pada ibumu sendiri, hai Urwah’. Kemudian Urwah mengatakan :’Abubakar dan Umar tidak melakukannya’. Ibnu Abbas menjawab :’Demi Allah, aku tidak melihat kamu menjadi lebih baik sampai Allah mengazab kamu. Kami menyampaikan hadits Rasulullah kepada kamu dan kamu menyampaikan hadits Abubakar dan Umar. Maka Urwah menjawab : ”SESUNGGUHNYA MEREKA BERDUA ( ABU BAKAR DAN UMAR )  LEBIH MENGETAHUI SUNNAH ( NABI SAW ) DARIPADA DIRIMU. MAKA SANGGAHAN INI MEMBUAT IBNU ABBAS TERDIAM.”

JADI MUTILASI YANG DILAKUKAN PARA ROFIDHOH ADALAH PADA JAWABAN URWAH : ….”SESUNGGUHNYA MEREKA BERDUA ( ABU BAKAR DAN UMAR )  LEBIH MENGETAHUI SUNNAH ( NABI SAW ) DARIPADA DIRIMU. MAKA SANGGAHAN INI MEMBUAT IBNU ABBAS TERDIAM.”

MAKA DENGAN ADANYA RIWAYAT YANG LENGKAP, MAKA KITA AKAN MENGETAHUI ENDING (AKHIR) CERITA INI DENGAN SESUNGGUHNYA, YAITU TENTANG BENARNYA KEHAROMAN MUT’AH. JADI DARI SINI PULA TERBONGKARLAH KELICIKAN PARA ROFIDHOH DALAM BERHUJJAH…!!!

 

SEMOGA KETERANGAN YANG KAMI SAMPAIKAN DIATAS DAPAT BERMANFAAT…. WALLOHU A’ALAM, WALLOHU AL MUWAFFIQ ILA AQWAMI AL THORIQ.

 

Untuk teman2 dari Syi’ah dan lainnya yang tidak setuju serta tidak sependapat dengan tulisan kami diatas, silahkan dikomentari dibawah, mari kita diskusikan bersama…!!! Dengan syarat berbicara dengan dasar ilmiyah serta dikemukakan dengan menggunakan dalil dan hujjah, bukan berdebat diatas ludah…..Tafadhdhol !!!!!!

Screen Shoot dari akun Ali Alaydruz As-sakran 152

SCREENSHOT ke- 170 dari 170

jatuh kepada antek syiah rafidhoh imamiyah bernama “Haidar Husein ” ^_^

——————————————————-

Sekali sekali..mari kita test ilmu seorang bocah rafidhoh “haidar husein” dimana satu menit yg lalu berkeyakinan bahwa :

“Ahlak Rasulullah itu Al-Qur’an”

———

oleh karena itu demi melihat seberapa jauh konsistensi ucapan seorang syiah yg menduduki jabatan badut syiah si “haidar husein” , maka dari itu kami muntahkan pertanyaan :

-BIla “haidar husein berkeyakinan bahwa “ahlak Rasulullah adalah Qur’an”

Monggo berikan bukti kalau RASULULLAH pernah mut’ah !!
berikan bukti saja Rasulullah mengamalkan “ahlak qur’an yg konon katanya bicara ttg keabsahan mutah”

—-

“Rasululah ahlak qur’an…pastinya Rasulullah adalah menjadi seorang nabi pengamal mut’ah ^_^” ya kan ya? ^_^ ( INI BILA MENERAPKAN LOGIKA HAIDAR HUSEIN YG TERTULIS DI ATAS )

Apa jangan2 “haidar husein ” udah berani mau bilang ada Salah satu ajaran dalam qur’an yg tidak di jalankan oleh NABI??
bila “haidar husein berpendapat seperti ini artinya “haidar husein” seorang antek syiah rafidhoh yg cuma OMDO…”karena telah menuduh nabi tidak lagi menjadi sosok yg berakhlak dalam menjalankan perintah Qur’an”? YA kan ya? ^_^

monggo dar jawab..jangan lupa pake baju badut IRAN dulu biar lucu nt ^_^

Kategori:Kawin Mut'ah

Screen Shoot dari akun Ali Alaydruz As-sakran 148

EPISODE 31

PENCERAHAN 8 : utk betina syiah Tiara Satrie ^_^

———————————————————————————-

tiara alias Jjihad ‘Ali alias “wong langka” kan katanya masih “ngemis2” nih ngarepin pencerahan ttg sesatnya agama syiah? ^_^

maka dari itu ali sakran mengajak tiara utk beralih menengok pernyataan dari seorang penjantan syiah …liat nih ya apa kata ami si wie elmichdar ( pejantan syiah ) yg ngeblock ana baru2 ini ^_^

si wie elmichdar bertanya :

“kalau sekarang ana balik permasalahnya : “Apakah di perbolehkan lebih dari seorang laki2 menggilir seorang wanita untuk DI NIKAH dg tanpa di Jima ” menurut nt gimana???

————

Memang cukup membingungkan jika seorang betina syiah rafidhoh indonesia minta pencerahan ttg sesatnya agama syiah pd seorang sunni..dan seorang pejantan syiah “minta pendapat” ttg masalah prihal jorok agama syiah pada orang sunni pula ^_^
padahal semua soal mereka ada jawabannya melalui fatwa ulama2 mesum syiah rafidhoh imamiyah ^_^

yuk lihat……..

Ayatullah Sistani ( Seorang Ulama Syiah Paling Josss ) :

السؤال: 30

هل يجوز تعاقب أكثر من رجل للتمتع بامرأة واحدة من دون إدخال ، وما الحكم مع الإدخال إذا كانت المرأة يائس ؟

الفتوى:

يجوز من دون دخول إذا لم تكن يائساً ويجوز مع الدخول اذا كانت يائساً كل ذلك بعد انتهاء مدة الزوج السابق أو هبة المدة لها .

SOAL : Apakah diperbolehkan lebih dari seorang laki2 menggilir seorang wanita untuk Di MUT’AH dg tanpa di Jima’ dan apa hukumnya bila dilakukan dengan Menjima’ ketika si Wanita udah Menopause ????

FATWA : Kalo Belum Menopause boleh Di Mut’ah dengan tanpa di Jima’…… Kalo udah Menopause boleh di jima’ bila udah abis muddah ( Jangka waktu aqad mut’ah ) dari Laki2 sebelumnya atau dihibahkan mudddahnya kepadanya ( Si Wanita )………….

Link: www.alseraj.net/ar/fikh/2/?TzjT8odmvl1075094365&1&30&1

———————————————————
jadi soal pejantan syiah “si wie elmichdar” telah di jawab oleh ulamanya sendiri

dalam agama syiah…Seorang Wanita boleh Digilir oleh Para lelaki dalam Mut’ah kalo tidak di Dukhul ( Di Jima’), boleh juga di Dukhul kalo Si Wanita udah Menopause……..

sedangkan betina tiara harus isep jempol lagi ^_^

betina syiah oh pejantan syiah…www.pejantan.betina.syiah.nyungsepbareng.ir …*_*

Kategori:Kawin Mut'ah Tag:

Screen Shoot dari akun Ali Alaydruz As-sakran 143

Mei 17, 2012 2 komentar

EPISODE 26 :

MASIH Perihal pembahasan ttg permintaan “tiara satrie” yg ngemis2 pencerahan dari ali sakran ^_^

pertama begini kata Tiara Satrie:

Tiara Satrie Muh … beda Mut’ah sama Zina ?, Mut’ah itu dilakuin sama Syi’ah karena ngikutin an-Nisa : 24, Kalo Zina dilakuin sama kalian ngikutin ajaran IBLISS …… kalo Zina Masal di Lokalisasi “NGIKUTIN IBLISS BANGET”

——————–

kedua…lalu tiara berkata lagi :

Tiara Satrie Emang Pezina ga bakal paham Nikah Mut’ah sebagaimana Kafirun ga bakal Paham an-Nisa : 24 (Jjihad ‘Ali.com)
about an hour ago · Like

—————————

ketiga…tiara berkata lagi :

Tiara Satrie Emang Pezina ga bakal paham Nikah Mut’ah sebagaimana Kafirun ga bakal Paham an-Nisa : 24 (Jjihad ‘Ali.com)
about an hour ago · Like

——————————–

mau tau gak apa kata kitab syiah dan kata ulama mereka? ^_^

عن أبي عبد الله في المتعة قال: ما يفعله عندنا إلا الفواجر (ابن ادريس في سرائره ص483والوسائل 14/456، وبحار الأنوار100/318(

Dari Abu Abdillah mengenai Mut’ah : “Menurut Kami tidak Akan Melakukannya ( Mut’ah ) kecuali PARA PELACUR…”

loooch??? ^_^

jikalau kitab syiah berkata bahwa tidak akan melakukan mut’ah kecuali “WTS”
trus? bedanya “kupu2 malam, wts, pezina gang dolly, tiara satrie , dan syiah2 yg tukang mut’ah” apa dong? ^_^

——————————————-

nah usut punya usut..taunya nih syiah rafidhoh imamiyah itsna asyariyah begini kerjaan dan prestasi mereka di dunia…
perjodohan mut’ah dengan tarif..

Nilai bayaran yang ditetapkan untuk setiap akad Mut’ah dalam penjelasan berikut:

Mut’ah 5 jam : 50.000 Tuman (50 Dolar)
Mut’ah 1 hari: 75.000 Tuman (75 Dolar)
Mut’ah 2 hari: 100.000 Tuman (100 Dolar)
Mut’ah 3 hari: 150.000 Tuman (150 Dolar)
Mut’ah 4 s/d 10 hari: 300.000 Tuman (300 Dolar)
Sementara para akhawat yang baru pertama kali melakukan nikah Mut’ah akan mendapatkan bayaran 150.000 Tuman sebagai pengganti penghilangan keperawanannya!

sumber :http://www.save-islam.com/2012/01/inilah-tarif-nikah-mutah-di-iran.html
sumber : http://www.aansar.com/news.php?action=show&id=1775
sumber : http://planet-iran.com/index.php/news/19414

nah bedanya ini sama lokalisasi wts bertarif apa ya? ^_^

www.gelengkepala.berkali.kali.co.id ^_^

salam
ali sakran

Kategori:Kawin Mut'ah Tag: