Arsip

Archive for the ‘Taqiyah’ Category

Screen Shoot dari akun Aditya Riko 26

Mei 17, 2012 2 komentar

Buku Dialog Sunnah Syiah, terjemahan dari kitab al-Muraja’at karya Abdul-Husain Syarafuddin Al-Musawi.
Buku ini termasuk buku yang dibanggakan oleh para syiah Indonesia. Tetapi ternyata pengarangnya termasuk orang yang ragu-ragu terhadap al-Qur’an, kitab suci umat Islam.

Dalam buku Imamate and Leadership karya Sayyid Mujtaba Musavi Lari, pada bab “Confirmation from the Qur’an and the Sunnah” disebutkan :

Finally, let us draw attention to a possibility that Allamah Sharaf al-Din has raised:

“Although we are convinced that no distortion has taken place in the verses of the Noble Qur’an and that our heavenly Book has not been tampered with in any way, IT IS BY NO MEANS CLEAR that the ARRANGEMENT and RECENSION of the verses is PRECISELY THAT IN WHICH THEY WERE REVEALED. For it is QUITE POSSIBLE that the ‘purification verse’ concerning the People of the House was REVEALED SEPARATELY and then, when the verses of the Qur’an were being assembled, was PLACED in the middle of the verses relating to the wives of the Prophet, either in ERROR or DELIBERATELY.” [234]

[234] Sharaf al-Din, Kalimat al-Ghurra’, p.213.
http://www.al-islam.org/leadership/19.htm

Oleh karena itu jika suatu saat jalan-2 di toko buku menemukan buku diatas, atau seseorang memberikan sebagai hadiah, harap hati-hati, sebab kalau sudah terpengaruh racun dalam buku tsb, bisa menimbulkan gangguan keimanan, sebagaimana dialami oleh sang penulis buku Dialog Sunnah Syiah itu sendiri.

Iklan

Screen Shoot dari akun Aditya Riko 16

Contoh lagi dialog “dagelan” dari buku setebal lebih dari 800 halaman…

Katanya :
Dalam sunan Abu Dawud halaman 356, musnad Ahmad juz 1, hlm. 278, shahih Bukhari juz 1, hal. 46, dan juz 10, hal 241. Mereka meriwayatkan melalui sanad-sanad mereka bahwa Ali as berkata; “Tanyailah aku tentang apa yang kalian kehendaki, dan tidaklah kalian bertanya sesuatu kepadaku melainkan aku akan memberitahukannya”.

Versi Arabnya (Layali Bisyawar) :
وفي سنن أبي داود ص356، ومسند أحمد ج1 /278، وصحيح البخاري: ج1/46 وج 10 /241، رووا بأسانيدهم: أن عليا (ع) قال: سلوني عما شئتم، ولا تسألوني عن شيء إلا أنبأكم به.

Betulkah perkataan imam Ali yg dimaksud diatas tersebut dalam Sunan Abu Dawud, Musnad Ahmad, dan SHAHIH BUKHARI ?

Yang ada justru kita menemukan kalimat tersebut dalam al-Kafi :
عدة من أصحابنا، عن أحمد بن محمد عن ابن أبي نصر، عن مثنى، عن زرارة قال: كنت عند أبي جعفر (عليه السلام) فقال: له رجل من أهل الكوفة يسأله عن قول أمير المؤمنين (عليه السلام): ” سلوني عما شئتم فلا تسألوني عن شئ إلا أنبأتكم به ” قال: إنه ليس أحد عنده علم شئ إلا خرج من عند أمير المؤمنين (عليه السلام)، فليذهب الناس حيث شاؤوا، فوالله ليس الامر إلا من ههنا، وأشار بيده إلى بيته.

Beberapa orang daripada sahabat kami, dari Ahmad bin Muhammad, dari Ibn Abi Nasr, dari Mutsanna, dari Zurarah dia berkata:

Aku berada di sisi Abi Ja’far a.s, maka seorang lelaki dari ahli Kufah bertanya kepadanya tentang kata-kata Amir al-Mu’minin a.s: “Tanyailah aku tentang apa yang kalian kehendaki, dan tidaklah kalian bertanya sesuatu kepadaku melainkan aku akan memberitahukannya kepadamu”

Beliau (Abu Ja’far) berkata: Sesungguhnya Tidak ada seorang di sisinya ilmu tentang sesuatu melainkan ia telah keluar di sisi Amir al-Mukminin a.s, hendaklah manusia pergi ke mana mereka mau, demi Allah, tidak ada urusan melainkan dari sini dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke arah rumahnya.
http://al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/al-kafi-1/12.htm#19 ——hal 399 hadits no. 2

Lagi-lagi timbul pertanyaan, DIMANAKAH PARA SYAIKH, ULAMA YANG KONON KABARNYA HADIR DI DALAM DIALOG TERSEBUT ? KENAPA MEREKA DIAM SAJA ? ATAUKAH DIALOG INI MEMANG TIDAK PERNAH ADA ?

Anyhow, disisi syiah hal tsb kontradiksi dengan ini :
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150477889023548&set=a.10150476154033548.392604.776498547&type=3

Kategori:Taqiyah

Screen Shoot dari akun Aditya Riko 15

Dr. Muhammad Tijani as Samawi mengarang “bebas” buku berjudul as Syi’ah Hum Ahlussunnah, yang di dalamnya ada Bab tentang permusuhan Ahlussunnah kepada Ahlul Bait.

Di dalamnya disebutkan perkataannya :
وغني عن التعريف بأن مذهب النواصب هو مذهب «أهل السنة والجماعة»
Dan cukuplah satu ta’rif bahwa sesungguhnya madzhab al-Nawashib adalah madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.

Versi online dapat dilihat disini, lihat hal. 161 :
http://www.najaf.org/arabic/mustabsiroon/37/html/alshia06.html#ind30

————————————-
Siapakah Muhammad Tijani as Samawi ? Dia adalah salah satu da’i syi’ah yang sudah kondang di Indonesia, dimana buku-2nya banyak beredar di Indonesia.

Keterangan lain :
Amongst the RESPECTED Shia scholars in Tunisia is Sayed Mohammed al-Tijani al-Samawi and Sheikh Mobarak Baghdash.
http://www.imamreza.net/eng/imamreza.php?id=3591

Buku ””Akhirnya Kutemukan Kebenaran”” karya Muhammad At Tijani As Samawi Penerjemah Hasan Mawardi Penerbit Zahra Publishing House Edisi Juni 2010 Tebal 256 halaman “laris dicari” pembaca di berbagai Pustaka dan Toko Buku

Pesan utama yang disampaikan buku ini adalah tentang kebenaran mazhab Syiah dalam Islam. Pengungkapan kebenaran menggunakan cerita perjalanan seorang alim ulama dari Tunisia, Muhammad At Tijani As Samawi, yang juga penulis buku ini.
http://syiahali.wordpress.com/2010/08/29/ulama-sunni-dan-intelektual-sunni-berbondong-bondong-masuk-syiah-imamiyah/

————————————-
Kalau memang Nawashib ini adalah Ahlussunnah, maka bagaimanakah pandangan syi’ah terhadap Nawashib ?

Check this :
DENGAN AQIDAH SEPERTI INI, DAPATKAH AHLUS SUNNAH DAN SYIAH IMAMIYAH BERSATU ???
http://www.facebook.com/note.php?note_id=197325070297785

kita kutip satu :

بحار الأنوار العلامة المجلسي – (ج 44 / ص 232)
39 – ع: أبي عن سعد عن أحمد بن محمد عن علي بن الحكم عن ابن عميرة عن ابن فرقد قال: قلت لابي عبد الله عليه السلام: ما تقول في قتل الناصب ؟ قال: حلال الدم أتقي (3) عليك فان قدرت أن تقلب عليه حائطا أو تغرقه في ماء لكي لا يشهد به عليك فافعل، قلت: فما ترى في ماله ؟ قال توه (4) ما قدرت عليه (5).

“Dawud bin Farqod berkata pada Abu Abdillah alihis salam : Bagaimana pendapat anda mengenai membunuh Nashibi (Ahlus sunnah) ??? Beliau berkata : HALAL DARAHNYA, tetapai aku mengkhawatirkan keadaanmu. Maka apabila Engkau mampu untuk MEROBOHKAN TEMBOK KEPADA MEREKA ATAU MENENGGELAMKAN MEREKA KE DALAM AIR, supaya tiada seseorang yang menyaksikanmu, maka kerjakanlah..!!!! Aku berkata : Bagaimana pendapat Anda mengenai harta mereka ??? Beliau berkata : HANCURKAN APABILA ENGKAU MAMPU MELAKUKANNYA..!!!” (Biharul Anwar juz 44 hal 232)

Di dalam Hada’iq al-Nadhirah-nya Syaikh Yusuh Bahrani, juz 18 hal 156, disebutkan riwayat tsb dan diindikasikan shahih dengan perkataannya :
وروى في العلل في الصحيح عن داود بن فرقد
Diriwayatkan di dalam al-‘Ilal fi al-Shahih ‘an Dawud bin Farqad……………..
Ref : : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150499069098548&set=a.10150476154033548.392604.776498547&type=3

Kategori:Taqiyah

Screen Shoot dari akun Aditya Riko 11

Orang-orang syiah suka mengobral “Amman Message” dalam rangka mengajak orang lain untuk membenarkan ajaran imamiyah 12. Sedangkan fatwa MUI jelas, menyebutkan bahwa :
“Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk RUKUN agama”

Padahal prinsip-prinsip ajaran Islam yang disebut dalam Amman Message tidak ada yang namanya “Imamah”. Oleh karena itu tidak perlu heran jika ulama ahlussunnah menandatanganinya. Yang aneh itu kalau orang yang diberi gelar “Ayatullah” ikut-ikutan tandatangan.

Mari kita lihat contoh ulama ahlussunnah dan syiah yang ikut tandatangan di dalam Amman Message, untuk melihat apakah bisa Amman Message ini digunakan untuk membenarkan paham Imamiyah Itsna Asyariyah :

Pertama,
Ulama sunnah yang ikut tandatangan :
361. Dr. Ali Ahmad Salus
http://ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=31

Tapi bagaimana pandangan Dr. Ali Ahmad Al-Salus sendiri ?

Ini kutipan dari tulisannya Dr. Ali Ahmad Salus :
“Dimana telah disebutkan pada suatu mu’tamar tentang pendekatan antar madzhab di Teheran, sedang abdul Husen (penulis al-Muraja’at dan fusul al Muhimmah fi ta’lifi al ummah) memandang dirinya dengan karyanya itu sebagai pionir kearah pendekatan antar madzhab, namun di dalam pengertiannya yang khusus, yaitu mengajak kepada persatuan ummat secara keseluruhan di bawah naungan bendera ABDULLAH BIN SABA dan dijadikan sebagai pengikut aliran RAFIDHAH yang mereka tolak. Juga berlepas diri dari dua sahabat Rasul, Abu Bakar dan Umar, dan mengkafirkan keduanya.”
(Ensiklopedi Sunnah-Syiah Jilid 1 hal.100 pustaka al kautsar, Dr Ali Ahmad As Salus/ terjemahan dari ma’a al-itsna asyariyah fil ushul wal furu’)

ref online hanya ketemu yg bhs arab :
http://islamport.com/w/aqd/Web/5289/321.htm
وقد جاء هذا في أحد مؤتمرات التقريب في طهران ، وعبدالحسين في كتابيه المراجعات والفصول المهمة في تأليف الأمة يعتبر فعلاً من دعاة التقريب ولكن بمفهوم خاص !! فهو يدعو إلى تأليف الأمة كلها وجمعها تحت راية عبد الله بن سبأ ، وجعلها جميعها من الرافضة التي رفضت تبرئة الشيخيين خير البشر بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم واجتمعت على تكفيرهما وتكفير من بايعهما !!

Itu contoh ulama sunnah yang ikut tandatangan amman message. Dengan pandangan spt itu, apakah beliau membenarkan syiah imamiyah 12 ? silahkan mengenal lbh dekat beliau disini :
http://www.alisalous.com/pageother.php?catsmktba=54
Lihat judul karya2nya, beliau ini paham syiah apa tidak ^_^

Kedua,
Ulama syi’ah yang ikut tandatangan :
162. Grand Ayatollah Al-Sayyid Fadil Lankarani
http://ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=31

Kita dapati di situs resminya sayyid Fadhil Lankarani di http://lankarani.org/
di bagian yg bhs English, ada navigasi Q&A (question and answer)

langsung saja :

Q1: Is it permissible to perform prayers behind a Sunni Muslim at any time, or is it permissible only when there is the necessity to show the solidarity of Muslims before the representatives of other faiths?

A1: It is only permissible to pray behind a Sunni Muslim, to show the solidarity of Muslims on when a person is under Taqiyah (dissimulation).
http://lankarani.org/eng/faq/p.php#sunni%20prayer%20leader

See ?
UNTUK SHOLAT SAJA BISA TAQIYAH, APALAH ARTI HANYA TANDATANGAN ???

Kesimpulan saya setelah memberikan contoh ulama sunnah dan syi’ah yang ikut tandatangan risalah amman, dan memperhatikan isi risalah amman itu sendiri :

1. Ulama sunnah menandatangani risalah amman dengan dasar kebenaran.

2. Ulama syi’ah menandatangani risalah amman dengan dasar taqiyah.

Sebagaimana pandangan Dr. Ali Ahmad al-Salus, “taqrib” yang digembar-gemborkan kaum syiah rafidhah tidak lain hanyalah “mengajak kepada persatuan ummat secara keseluruhan di bawah naungan bendera ABDULLAH BIN SABA dan mengumpulkan seluruh ummat sebagai pengikut aliran RAFIDHAH

Kategori:Taqiyah

Note dari akun Aditya Riko 9

Malam-malam Di Peshawar … Malam-malam Dagelan

by Aditya Riko on Saturday, January 7, 2012 at 11:49pm ·

Mazhab Syiah : Kajian Al-Quran Dan Sunnah, terbitan Muthahhari Press. Versi bahasa Inggrisnya Peshawar Nights, atau versi Arabnya Layali Bisyawar (ليالي بيشاور)

 

Dari penerbitnya, dikatakan :

Buku yang ada di tangan Anda adalah hasil dari sebuah diskusi panjang berkenaan dengan masalah-masalah pokok agama. Penulisnya, Ayatullah Sayyid Muhammad al-Musawi, adalah salah seorang ulama besar Iran yang identik dengan mazhab Syiah. Beliau, melalui penelitian yang mendalam-dari berbagai kitab yang diakui oleh dua mazhab besar di dalam Islam- berusaha mengungkapkan kebenaran.

 

Intinya buku ini adalah kompilasi dialog Sunnah-Syiah yang dilakukan oleh ulama Syiah dari Iran dengan ulama di Afghanistan. Kelihatannya buku ini sangat ilmiah, dikesankan dengan banyaknya rujukan yang diobral untuk memperkuat argumentasi. Tetapi kenyataannya buku ini hanya menambah daftar kedustaan-kedustaan yang dilakukan oleh propagandis Syiah dalam rangka menipu manusia.

 

Note ini hanya akan memberikan satu contoh saja bagaimana buku ini menipu manusia, yaitu menipu dengan cara mengobral rujukan kitab yang sangat banyak, tetapi kalau dilakukan cross-check ternyata tingkat akurasinya sangat kecil, sehingga siapapun yang membacanya dengan teliti akan dapat melihat kedustaannya.

 

Mazhab Syiah hal. 245

Mazhab Syiah hal. 246

 

Dalam rangka mengingkari keutamaan Ummul Mu’minin A’isyah ra, penulis buku ini menyebutkan suatu hadits yg diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, ketika turun ayat :

 

“Katakan: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kecintaan di dalam kekeluargaan. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu…” (QS al-Syura [42]:23).

 

Saat itu para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Siapakah kerabat keluargamu yang Allah wajibkan untuk dicintai ?”

Rasulullah Saw menjawab, “Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.”

 

Dari foto diatas terlihat bahwa sebelum penulis buku ini menyebutkan hadits dimaksud, dia menyebutkan banyak kitab referensi, diantaranya adalah Bukhari dan Muslim dalam Shahihnya, dan lain-lain. Pertanyaannya, di bagian mana shahih Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits tersebut ?

 

Karena penulis juga menyebutkan Durul Mantsur, mari kita lihat Durul Mantsur imam al-Suyuthi :

hal. 149

hal. 150

 

Imam al-Suyuthi menyebutkan hadits tersebut :

 

وَأخرج ابْن الْمُنْذر وَابْن أبي حَاتِم وَالطَّبَرَانِيّ وَابْن مرْدَوَيْه بِسَنَد ضَعِيف

من طَرِيق سعيد بن جُبَير عَن ابْن عَبَّاس قَالَ: لما نزلت هَذِه الْآيَة {قل لَا أَسأَلكُم عَلَيْهِ أجرا إِلَّا الْمَوَدَّة فِي الْقُرْبَى} قَالُوا: يَا رَسُول الله من قرابتك هَؤُلَاءِ الَّذين وَجَبت مَوَدَّتهمْ قَالَ: عَليّ وَفَاطِمَة وولداها

Telah mengeluarkan Ibn al-Mundzir dan Ibn Abi Hatim dan al-Thabrani dan Ibn Mardawaih dengan sanad dha’if dari jalur Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas, beliau berkata, …..dst.

Melihat catatan kaki juga ada perkataan Ibn Katsir yang menyatakan sanadnya dha’if.

 

Lantas kemanakah para Syaikh, Ulama yang disebutkan hadir dalam dialog tersebut ? Apakah mereka tidak ada yang mengenal Shahih Bukhari Muslim, apakah mereka tidak ada yang peduli tentang shahih tidaknya suatu riwayat hadits ?

 

Itulah satu contoh kedustaan yang ada dalam malam-malam di Peshawar, sedangkan di bagian lain masih banyak bertebaran kedustaan-kedustaan lainnya…

Silahhkan lihat disini :

http://gift2shias.com/2011/10/31/sultanul-waizin-shirazi-and-1001-night-book/

Kategori:Taqiyah Tag:

Note dari akun Aditya Riko 7

Yanabi’ul Mawaddah : Kitab Sunni Atau Syi’ah ?

by Aditya Riko on Sunday, January 30, 2011 at 11:16am ·

Berawal dari penafsiran ayat Tathhir oleh syi’ah, dimana ayat tersebut diyakini sebagai dalil pensucian ahlul bait. Dan ahlal bait dalam ayat tersebut ditujukan hanya kepada ahlul kisa, dengan menafikan isteri-isteri nabi Saw.

 

Beberapa pandangan yang menyatakan hal tersebut adalah sebagai berikut :

 

Dalam pembahasan ini kami akan membuktikan bahwa penafsiran ini keliru, yang benar adalah Al Ahzab 33 turun untuk Ahlul Kisa’ yaitu Nabi SAW, Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Tentu saja kami akan membawakan riwayat-riwayat shahih yang menjadi bukti kejahilan mereka.

http://secondprince.wordpress.com/2010/02/24/hadis-yang-menjelaskan-siapa-ahlul-bait-yang-disucikan-dalam-al-ahzab-33/

 

Berdasarkan riwayat dari Aisyah, Ummu Salamah, Abu Sa’id Al-Khudri dan Anas bin Malik, ayat ini turun hanya untuk lima orang, yaitu Rasulullah SAWW, Ali,Fathimah, Hasan, dan Husein as

http://al-shia.org/html/id/page.php?id=148

 

Dari penafsiran tersebut timbul pertanyaan, “Lantas bagaimana dengan imam-imam selain ahlul kisa’, bukankah mereka juga diyakini ma’shum ? Lantas, apa dalilnya ?

 

Setelah melakukan sedikit “interview”, muncul sebuah jawaban, yaitu satu “hadits” yang diriwayatkan dari abdullah bin abbas dari rosulullah saww bahwasanya beliau bersabda, “Aku, ali, al hasan, al husein dan sembilan imam dari keturunan al husein adalah org2 yg maksum dan disucikan (dr sgala dosa dan kesalahan).

(yanabi’ul mawadah: 124).

 

Kemudian dalil juga diperkuat dengan mengatakan bahwa penulis kitab Yanabi’ul Mawaddah adalah ulama’ Sunni, dengan memberikan pernyataan sebagai berikut :

 

baca ini profile qunduzi: Selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh Sulaiman al Qunduzi al Balkhi al Hanafi, yang merupakan salah satu Ulama Sunni yang banyak mencatat riwayat-riwayat mengenai keutamaan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as). Dan anehnya, oleh kaum Nawashib, Syaikh Sulaiman Al Hanafi dituduh sebagai Syiah, apa motif dibalik semua itu ?…dst…

 

Untuk lengkapnya kontoversi biografi Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi bisa dilihat di situs answering ansar :

http://www.answering-ansar.org/biographies/suleman_qandozi/index.php

 

Kalau melihat artikel dari answering-ansar.org tersebut, alasan utama mereka mengatakan al-Qunduzi sebagai ulama’ sunni adalah dari namanya.

 

First of all it should be noted that Nawasib deliberately hide the complete name/description of Shaykh Qandozi mentioned by Aqa Tahrani which is Suleman bin Ibrahim al-Hanafi al-Qandozi

 

Sebetulnya agak aneh bersikeras menilai keyakinan seseorang hanya berdasarkan namanya. Dan kenyataannya, tidak selamanya orang yang bergelar al-Hanafi selalu mempunyai aqidah ahlus sunnah.

 

ميزان الاعتدال 4|171 برقم 8736

مفضل بن محمد بن مسعر القاضى، أبو المحاسن التنوخى الحنفي.

معتزلي شيعي مبتدع.

حدث عنه الشريف النسيب

 

Di dalam mizanul I’tidal disebutkan seseorang yang bernama Mufadhdhal bin Muhammad, bergelar al-Hanafi, tetapi disebut sebagai mu’tazili, syi’i dan ahli bid’ah.

 

Selanjutnya, bukti-bukti yang disertakan dalam artikel answering-ansar.org tersebut tidak ada yang secara jelas menyebutkan aqidah al-Qunduzi. Oleh karena itu lebih baik langsung meluncur saja ke TKP, yaitu kitab Yanabi’ul Mawaddah, untuk melihat sumber riwayat hadits yang disebut berasal dari Ibnu Abbas (radhiallahu ‘anhu).

 

Di dalam Yanabi’ul Mawaddah juz 3 disebutkan 2 riwayat terkait dg bahasan ini, yang dimarfu’kan kepada rasulullah Saw :

 

Aku dan ‘Ali dan al-Husain dan al-Hasan dan sembilan putera al-Husain adalah tersucikan dan ma’shuumuun.

 

Berikut teks lengkapnya.

 

1 – وعن ابن عباس (رضي الله عنهما) قال: سمعت رسول الله (ص) يقول: أنا وعلي والحسن والحسين وتسعة من ولد الحسين مطهرون معصومون..

http://yasoob.com/books/htm1/m025/29/no2920.html (lihat hal 291)

 

Riwayat pertama ini terdapat catatan kaki yang menunjukkan sumbernya, yaitu ‘Uyunul akhbar ar-Ridha. Sebagaimana diketahui kitab tersebut adalah buah tangan Syaikh Shaduq (Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin ‘ali bin Babawaih al-Qummi).

 

2 -وفيه: عن الاصبغ بن نباتة، عن ابن عباس رفعه: أنا وعلي والحسن والحسين وتسعة من ولد الحسين مطهرون معصومون.

http://yasoob.com/books/htm1/m025/29/no2920.html (lihat hal 384)

 

Riwayat kedua ini berdasarkan BAB-nya, adalah kumpulan riwayat tentang al-Mahdi yang terdapat dalam Ghayatul maraam (al-Bahraani). Kemudian dengan melihat riwayat yang tersebut diatasnya, terlihat bahwa riwayat tersebut diambil juga dari Fara’id as-Simthin (al-Juwaini). Untuk ghayatul Maraam, jelas itu adalah sumber Syi’ah, penulisnya adalah sayyid Hasyim al-Bahrani, pemilik al-Burhan fi tafsir al-Qur’an. Sedangkan al-Juwaini ini statusnya sama seperti al-Qunduzi, yaitu disebut-sebut sebagai ulama’ sunni.

 

 

Oleh karena itu mari kita lihat dalam Fara’id as-Simthin Juz 2. Dalam bab Fii Ishmah al-A’immah min Aal Muhammad Shallallahu ‘Alaihim Ajma’in, setelah menyebutkan beberapa nama ulama’ :

 

قالوا كلّهم : أنبأنا الشيخ أبو جعفر محمد بن عليّ بن بابويه القمّي(3) قال : أخبرنا علي بن [ محمد بن ] عبد الله الوراق الرازي ، قال : أخبرنا سعد بن عبد الله

قال : أنبأنا الهيثم بن أبي مسروق النهدي عن الحسين بن علوان ، عمرو بن خالد ، عن سعد بن طريف ، عن الأصبغ بن نباتة :

عن عبد الله بن عباس ، قال : سمعت رسول الله (صلّى الله عليه وسلّم) يقول : أنا وعليّ والحسن والحسين وتسعة من ولد الحسين مطهّرون معصومون

 

Kalau melihat riwayat dalam fara’id as-simthin diatas, justru jelas disebutkan bahwa sumber riwayat tersebut adalah Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin ‘ali bin Babawaih al-Qummi, atau dikenal juga dengan Syaikh Shaduq.

 

Untuk klarifikasi, mari kita lihat Kamaluddin-nya syaikh Shaduq :

 

كمال الدين و تمام النعمة

ابي جعفر محمدبن علي بن الحسين بن بابويه القمي المعروف بالشيخ الصدوق

(305 – 381ه)

حدثنا علي بن عبد الله الوراق الرازي قال : حدثنا سعد بن عبد الله قال : حدثنا الهيثم بن أبي مسروق النهدي ، عن الحسين بن علوان ، عن عمر ابن خالد ، عن سعد بن طريف ، عن الاصبغ بن نباته ، عن عبد الله بن عباس قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله يقول : أنا وعلي والحسن والحسين وتسعة من ولد الحسين مطهرون معصومون

http://www.rafed.net/books/hadith/kamal/15.html (lihat hal 280, hadits no :28)

 

Sekarang mari kita lihat Ghayatul Maraam :

 

قالوا كلهم: أنبأنا الشيخ أبو جعفر محمد بن علي بن بابويه القمي رضي الله عنه قال: أخبرنا علي بن عبد الله الوراق الرازي قال: أنبأنا سعد بن عبد الله قال: أنبأنا الهيثم بن أبي مسروق النهدي، عن الحسن بن علوان، عن عمر بن خالد، عن سعيد بن طريف عن الأصبغ بن نباتة، عن عبد الله بن عباس قال: سمعت رسول الله (صلى الله عليه وآله) يقول: ” أنا وعلي والحسن والحسين وتسعة من ولد الحسين مطهرون معصومون

http://www.aqaed.com/book/327/gh-mram1-13.html (hal. 142)

 

Teks dari Ghayatul Maraam sama persis dengan yang ada di Fara’id as-Simthin. Tidak aneh, karena dari catatan kakinya memang disebutkan bahwa sumbernya adalah Fara’id as-Simthin.

 

Setelah kita melihat sumber- sumber yang digunakan oleh penulis Yanabi’ul mawaddah, jelas sekali bahwa literatur yang ada adalah milik Syi’ah. Jadi intinya, sepanjang-panjangnya mulut, dengan berbagai alasan untuk mengatakan al-Qunduzi sebagai ulama’ Sunni adalah tidak ada gunanya, toh sumber riwayat yang ada ujung-ujungnya adalah Syaikh Shaduq.

 

Terakhir, sedikit lagi tambahan, sudah kepalang tanggung. Kita lihat lagi riwayat Ibn ‘Abbas diatas, kita lihat dari si empunya saja yaitu yang ada di Kamaluddin :

 

حدثنا علي بن عبد الله الوراق الرازي قال : حدثنا سعد بن عبد الله قال : حدثنا الهيثم بن أبي مسروق النهدي ، عن الحسين بن علوان ، عن عمر ابن خالد ، عن سعد بن طريف ، عن الاصبغ بن نباته ، عن عبد الله بن عباس قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله يقول : أنا وعلي والحسن والحسين وتسعة من ولد الحسين مطهرون معصومون

 

Perhatikan sanadnya, siapakah ‘Ali bin ‘Abdullah al-Warraq ar-Raaziy ? Di dalam kitab al-mufid min mu’jam ar-rijal al-hadiits Muhammad al-Jawaahiriy ternyata ‘Ali bin ‘Abdullah al-Warraq adalah majhul.

 

الصحيح ما في الطبعة الحديثة وهو علي بن عبد الله الوراق الرازي ” المجهول الآتي 8292 ” كما روى في الفقيه بهذا العنوان عن سعد بن عبد الله

 

Kesimpulannya, riwayat dari Ibnu ‘Abbas tersebut jelas bersumber dari literatur Syi’ah, dan sanadnya sendiri ternyata cacat (menurut kitab al-mufid mu’jam ar-rijal al-hadiits, ringkasan dari mu’jam rijal al hadiits al-Khu’i).

 

Dan akhirnya, pertanyaan “Dalil apakah yang menjelaskan kema’shuman 12 imam Syi’ah diluar ahlul Kisaa’ ?” masih menunggu jawaban..

Note dari akun Aditya Riko 4

Al-Muraja’at, Virus Menular Bagi yang Takjub Dengan Hamburan Referensi

by Aditya Riko on Monday, July 12, 2010 at 10:54pm ·

Berawal dari membaca komen-komen di facebook yang menyinggung masalah hadits “Ali adalah saudaraku, pewaris dan khalifahku diantara kalian semua. taatilah dia, ikutilah dia, dan perhatikanlah ucapan-ucapannya”, dan kemudian menisbatkan kepada kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Terkadang memang ada saja orang yang begitu percaya diri membaca sebuah buku yang dipenuhi dengan berbagai judul kitab sebagai referensi, tanpa melihat dahulu kesesuaian antara pernyataan tertulis dengan referensi yang dijadikan sebagai sokongannya.

 

 

Dan sampai sekarang pun ternyata masih ada juga yang suka mengumbar hadits padahal belum pernah membaca haditsnya, hanya sekedar menukil pernyataan orang lain sekaligus referensinya tanpa melakukan cross-check terlebih dahulu.

 

Untuk kasus ini (hadits yang didakwa tertulis di musnad Ahmad), sepertinya hanya menukil secara membabi buta saja dari tulisannya Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi di dalam bukunya Al Muraja’at (dialog sunni syiah). Melihat bahwa rujukannya persis sama yaitu ahmad bin hanbal , al musnad Vol.. I hal 111, 159.

 

Sebelumnya, barangkali ada yang belum pernah membaca muraja’at, berikut adalah gambaran singkat buku tersebut yang dikutip dari pengantar penterjemahnya :

 

Dalam kata-pengantarnya bagi kitab ini (cetakan ke 18 tahun 1398 H/ 1978 M) Muhammad Fikri Abu Nashr, seorang ulama Al-Azhar di Kairo Mesir menyatakan antara lain:

 

“Kitab al-Muraja’at ini, berisi dialog-dialog terbuka antara seorang ulama besar dari kelompok Ahlus Sunnah yaitu : asy-Syaikh Salim al-Bisyri, rektor al-Azhar pada masa hidupnya, dengan al-Imam as-Sayyid Abdul Husain Syarafuddin, seorang pemuka para alim ulama Syi’ah yang berasal dari Libanon.

 

Dialog-dialog jujur yang berlangsung antara kedua tokoh besar ini, membuka kesempatan guna mencari dan menjajagi kebenaran, dalam suasana yang jauh dari memihak atau terpengaruh oleh fanatisme bermadzhab yang bagaimanapun juga.

 

Selain itu Syarafuddin sang penulisnya sendiri juga memberi gambaran terhadap bukunya seperti dibawah ini:

 

Kupersembahkan buku ini kepada mereka yang mau menggunakan akal sehatnya ; baik ia seorang sarjana yang ahli di bidang penelitian, dan berkecimpung dalam kehidupan ilmiah, serta gemar menguji kebenaran di dalamnya. Ataukah ia seorang ulama yang ahli dan dipercaya di bidang ilmu-ilmu agama. Ataukah ia seorang pemikir yang mahir dan menguasai ilmu kalam. Ataukah ia seorang di antara kaum muda kita, harapan masa depan nan cerah, yang dinamis jiwanya, luas pegetahuannya, bebas fikirannya dari berbagai macam ikatan dan belenggu…..

 

Baik, kembali lagi ke masalah hadits yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, hal tersebut terdapat dalam dialog/surat ke-20, dimana Syarafuddin menulis :

 

Rujuklah kepada kenyataan pada permulaan dakwah, sebelum Islam disebarkan di Mekah secara terbuka, apabila Allah awj mewahyukan kepada baginda ayat: ‘Dan berilah peringatan keluarga terdekat [26:214] Baginda mempelawa mereka kerumah bapa saudaranya Abu Talib. Mereka semua lebih kurang 40 orang. Diantara mereka adalah bapa saudaranya Abu Talib, al-Hamzah, al-Abbas dan Abu Lahab. Hadith mengenai perkara ini telah disampaikan oleh sunni secara turutan. Pada penghujung kenyataan baginda kepada mereka, Rasul Allah [sawas] berkata: ‘Wahai ketrurunan Abdul-Muttlib! Saya bersumpah dengan Tuhan bahawa setahu saya tidak ada orang muda diantara kaum Arab yang telah membawa sesuatu kepada orangnya yang lebih baik dari apa yang saya bawakan kepada kamu. Saya bawakan untuk kamu yang terbaik dalam hidup ini, dan untuk kehidupan yang akan datang, dan Tuhan telah memerintahkan saya untuk mengajak kamu kepadaNya. Dari itu, siapakah diantara kamu yang akan menyokong saya dalam perkara ini dan menjadi saudara saya, pelaksana wasiat saya dan pengganti saya?’

Kesemua yang mendengar, dengan pengecualian ‘Ali, yang termuda diantara mereka, mendiamkan diri. “Ali bertindak dengan mengatakan: ‘Saya, Wahai Rasul Allah, bersedia menjadi wazir kamu dalam perkara ini.’ Rasul Allah [sawas] kemudian memegang ‘Ali pada lehernya dan berkata: ‘Ini adalah saudara saya, pelaksana wasiat dan wazir saya, dari itu dengarkanlah dia dan patuhlah kepadanya.’ Mereka yang hadir tertawa dan terus mengatakan kepada Abu Talib, ‘Allah telah memerintahkan kamu supaya dengar kepada anak kamu dan taat kepadanya!’

 

Setelah mengemukakan riwayat tersebut, pembaca disuguhi dengan berondongan referensi atau rujukan seperti ini :

 

Kebanyakkan dari mereka yang telah mempelajari tradisi Rasul secara hafalan dan telah menyampaikan hadith dengan tepat seperti yang diatas. Diantara mereka adalah: Ibn Ishaq, Ibn Jarir, Ibn Abu Hatim, Ibn Mardawayh, Abu Na`im, al-Bayhaqi di dalam bukunya Al-Dala’il, keduanya al-Tha`labi dan al-Tabari di dalam tafsiran pada Surat al Shu`ara’ di dalam buku mereka Al-Tafsir al-Kabir, di Vol. 2 dari buku al-Tabari Tarikh al-Umam wal Muluk. Ibn al-Athir telah menyampaikannya sebagai fakta yang tidak boleh dipertikaikan di dalam Vol. 2 dari bukunya Al-Kamil apabila dia menyebutkan bagaimana Allah awj mengarahkan RasulNya untuk menyampaikan dakwahnya secara umum [terbuka], Abul-Fida dalam Vol. 1 dari buku Tarikh ketika membincangkan siapakah yang pertama pada memeluk Islam, Imam Abu Ja`fer al-Iskafi al-Mu`tazili di dalam bukunya Naqd al-Uthmaniyyah menyatakan ketepatannya,[1] al-Halabi di dalam bab pada tempat persembunyian Rasul di rumah Arqam di dalam bukunya yang terkenal Sirah.[2]

Di dalam kontek yang sama, dengan perkataannya yang seakan serupa, hadith ini telah disampaikan oleh ramai ahli-ahli hadith dan kebanyakkan dari penyampai hadith sunni yang dipercayai seperti al-Tahawi, Diya’ al-Maqdisi di dalam bukunya Mukhtara, dan Sa`id ibn Mansur di dalam Sunan. Rujuklah kepada apa yang Ibn Hanbal telah rakamkan dari hadith `Ali’s pada muka surat 111 dan 159 dari Vol. 1 buku Musnad. Dia juga menunjukkan pada permulaan muka surat 331 dari Vol. 1 pada Musnad, kepada hadith yang sangat penting [bererti] dari Ibn `Abbas menggandongi 10 kerekteristik [sifat keutamaan] yang mana ‘Ali membezakan dirinya dari manusia lainnya. Hadith ini juga telah diterbitkan di dalam Nisa’i,dari Ibn `Abbas, pada muka surat 6 dari bukunya Khasa’is al `Alawiyyah, dan pada muka surat 132, Vol. 3, dari buku Hakim, Mustadrak. Al-Thahbi telah menyebutkan di dalam bukunya Talkhis, bersumpah tentang sahihnya. Rujuk kepada Vol. 6 dari Kanz al-`Ummal yang mengandongi semuanya secara khusus [mendalam][3] Rujuk juga kepada Muntakhabul Kanz yang disebutkan di nota kaki oleh Musnad Imam Ahmed; rujuk kepada notakaki pada muka surat 41 dan 43 pada Vol. 5 dari buku tersebut untuk semuanya secara khusus. Ini, kami percaya mencukupi untuk memberikan bukti yang nyata, dan keamanan dengan kamu.

 

Ini adalah kebiasaan buku-buku propaganda syiah, yaitu dengan menukilkan satu versi riwayat, kemudian memberondongnya dengan segudang rujukan, tanpa memperdulikan bahwa masing-masing rujukan belum tentu memiliki redaksi yang sama. Atau barangkali memang sengaja ingin mengesankan bahwa riwayat yang disampaikan adalah masyhur dan sudah pasti benarnya, wa allahu A’lam.

 

Kenyataannya, riwayat tersebut jelas mencatut nama Imam Ahmad dengan semena-mena, karena riwayat di dalam musnad Ahmad tidak ada kalimat yang justru dijadikan argumentasi utama mengenai hak Imam Ali ra sebagai khalifah utama sepeninggal Rasulullah SAW.

 

Untuk membuktikan kesahihan riwayat tersebut, Syarafuddin bahkan menyebutkan rawi-rawi dari riwayat tersebut pada dialog/surat ke-22 (setelah sebelumnya berbalasan surat dengan asy-Syaikh Salim al-Bisyri…konon kabarnya), sebagai berikut :

 

Jika saya tidak pasti ianya diterima oleh sunni, saya tentu tidak menyebutnya kepada kamu. Bahkan Ibn Jarir dan Imam Abu Ja`fer al-Iskafi telah menerimanya sebagai sahih.[1] Beberapa pengkritik yang lain juga telah menganggapnya sebagai sahih. Adalah mencukupi pada membuktikan terhadap kesahihannya kepada fakta bahawa ianya telah disampaikan oleh perawi yang dipercayai terhadap ketepatannya, dan pengarang buku-buku sahih tidak pernah meragui mereka. Rujuk kepada muka surat 111, Vol. 1, dari Ahmed’s: Musnad, dimana kamu akan membaca hadith ini seperti yang disampaikan oleh Aswad ibn `Amir[2] dari Sharik,[3] al-A`mash,[4] Minhal,[5] `Abbad ibn `Abdullah al-Asadi,[6] dari `Ali (as) secara tertibnya [kronologi]. Setiap seorang dari mereka di dalam rantaian penyampai tersebut adalah seorang perawi dengan sendirinya, dan mereka semua adalah trdisionis yang dipercayai menurut testimoni dari para pengarang buku sahih, dan tidak dipertikaikan. Al-Qaysarani telah menyebut mereka di dalam bukunya Al-Jami` Bayna Rijal Al-Sahihain. Tidak ada keraguan bahawa hadith ini adalah sahih, dan perawinya telah menyampaikan dari beberapa cara, setiap satu darinya menyokong yang lain.

 

Baiklah kita lihat riwayat di dalam musnad Ahmad dibawah (dengan sanad yang sama seperti disebut oleh Syarafudddin) :

 

حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنِ الْمِنْهَالِ عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَسَدِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ

{ وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ }

قَالَ جَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَاجْتَمَعَ ثَلَاثُونَ فَأَكَلُوا وَشَرِبُوا قَالَ فَقَالَ لَهُمْ مَنْ يَضْمَنُ عَنِّي دَيْنِي وَمَوَاعِيدِي وَيَكُونُ مَعِي فِي الْجَنَّةِ وَيَكُونُ خَلِيفَتِي فِي أَهْلِي فَقَالَ رَجُلٌ لَمْ يُسَمِّهِ شَرِيكٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْتَ كُنْتَ بَحْرًا مَنْ يَقُومُ بِهَذَا قَالَ ثُمَّ قَالَ الْآخَرُ قَالَ فَعَرَضَ ذَلِكَ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا

 

“Ketika turun ayat ,’Dan berikanlah peringatan kepada kerabat dekatmu’, Nabi SAW mengumpulkan ahlu baitnya. Maka berkumpul tiga puluh orang, lalu meraka makan dan minum. Lalu beliau berkata kepada mereka, ‘Siapa yang menjaminku dalam agamaku dan semua perjanjianku, maka dia bersamaku dalam surga dan menjadi khalifahku dalam keluargaku ?’ Maka seseorang yg tdk disebut namanya oleh Syuraik berkata, ‘ Wahai Rasulallah, engkau adalah lautan. Siapakah yang sanggup melakukan hal itu ?’ kemudian Nabi SAW mengatakan hal yang sama lalu disampaikan kepada ahlu baitnya, kemudian ali berkata, ‘Saya’.

 

Bisa dibandingkan riwayat yang dinukil Syarafuddin (yg katanya ada di musnad) dengan riwayat yang tercantum di dalam musnad. Siapakah yang tidak bisa membedakannya ? Lupakan dulu mengenai perbedaan jumlah orang yang sedang berkumpul, tetapi kalimat akhir yang digunakan syarafuddin untuk melegalkan kekhalifahan Imam Ali ra sepeninggal Nabi SAW, yaitu :

Rasul Allah [sawas] kemudian memegang ‘Ali pada lehernya dan berkata: ‘Ini adalah saudara saya, pelaksana wasiat dan wazir saya, dari itu dengarkanlah dia dan patuhlah kepadanya.’ Mereka yang hadir tertawa dan terus mengatakan kepada Abu Talib, ‘Allah telah memerintahkan kamu supaya dengar kepada anak kamu dan taat kepadanya!

 

ADAKAH KALIMAT BOLD DIATAS ITU TERCANTUM DALAM RIWAYAT IMAM AHMAD ?

 

Tetapi sungguh mengherankan membaca surat balasan dari Syaikh Salim Al-Bisyri dalam Muraja’at surat ke-23 :

 

Sebenarnya saya telah membaca hadith itu pada muka surat 111 dari jilid 1 dalam Ahmed: Musnad dan memastikan ianya dari punca yang diterima dan saya dapati mereka adalah penyampai hadith yang amat dipercayai. Kemudian saya menyelidik dari mana beliau menyampaikan hadith ini, dan saya dapati ianya berturutan: setiap seorang dari mereka menyokong pada yang lain, dari itu saya telah berpuas hati untuk mempercayai isi kandungannya

 

Apakah mungkin seorang Syaikh rektor Al-Azhar menjawab seperti itu ? Apakah seorang rektor Al-Azhar tidak bisa membedakan kalimat-kalimat Syarafuddin dengan kalimat yang tercantum dalam musnad ? Lagi-lagi Wa Allahu A’lam.

 

Yang jelas kenyataan bahwa pengelabuan berkedok ilmiah di dalam Muraja’at ini mampu menyaring banyak pengikut. Barangkali bahwa pengikut-pengikutnya tidak pernah melakukan cross-check terhadap rujukan-rujukan yang seabrek itu, dan sekali lagi barangkali, sudah keder duluan.

Kategori:Fitnah, Taqiyah Tag: