Arsip

Archive for the ‘Sahabat’ Category

Screen Shoot dari akun Aditya Riko 18

Ini adalah tafsir karangan ulama syiah al-Sayyid Abdullah Syibr (w 1242 H), pada halaman yang menerangkan tafsir surat al-Nuur ayat 11 :

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.

Dari kitab diatas itu ada yg aneh, yaitu di bagian akhir tafsir ayat 11 al-Nuur tersebut ada titik-titik…Ini kitab tafsir apa soal ujian psikotes ? ^_^

Karena penasaran kita cari-cari informasi terkait masalah ini. Akhirnya ketemu tafsir Syibr tersebut versi online yang dipublish oleh najaf.org. Setelah dilihat pada bagian akhir dari tafsir ayat 11 al-Nuur tersebut, ketemulah jawabannya. Ternyata kalimat inilah yang seharusnya mengisi titik-titik diatas. Voila !!

نزلت في مارية القبطية وما رمتها به عائشة من أنها حملت بإبراهيم من جريح القبطي وقيل في عائشة
Yang artinya bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Mariyah al-Qibthiyah dan apa yang dituduhkan kepadanya oleh A’isyah bahwasanya ia mengandung Ibrahim dari hasil perselingkuhannya dengan Juraih al-Qibthi dan dikatakan berkenaan dengan A’isyah.
http://www.najaf.org/arabic/book/28/a338.htm

note: kalau link najaf diatas itu font-nya tdk terbaca, gunakan browser internet explorer

Lanjut, kemudian apakah pandangan seperti itu merupakan pandangan yang populer di kalangan aliran sesat ini ataukah itu hanya pandangan segelintir saja dari mereka ? Sekarang kita coba lihat tafsir Qummi terkait dengan ayat 11 surah al-Nuur tsb.

Katanya :
فان العامة رووا انها نزلت في عائشة وما رميت به في غزوة بني المصطلق من خزاعة واما الخاصة فانهم رووا انها نزلت في مارية القبطية وما رمتها به عايشة‌ء المنافقات
Sesunguhnya golongan umum (ahli sunnah) meriwayatkan bahwa ayat ini turun mengenai A’isyah, dan apa yang telah dituduhkan padanya pada perang bani Musthaliq dari khuza’ah, sedangkan golongan khusus (syi’ah) meriwayatkan bahwa ayat itu turun berkenaan dengan Mariyah al-Qibthiyah dan apa yang dituduhkan padanya oleh (عايشة‌ء = A’isyah ?) wanita munafik.
http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-quran/tafsir-qommi-j2/9-1.html – hal. 99

Pernyataan al-Qummi tsb menunjukkan bahwa ayat tsb terkait dengan Mariyah al-Qibthiyah adalah merupakan pandangan umum yang terdapat di dalam golongan “khusus”.

Dari sini terlihat bahwa golongan “khusus” ini memang ada yang khusus terang-2an menunjukkan kebenciannya kepada ummul Mu’minin A’isyah radhiallahu ‘anha dengan menuduhnya sebagai wanita munafiq penebar berita bohong, dan sebagian lain ada yang khusus menyembunyikan kebenciannya kepada A’isyah radhiallahu ‘anha dengan cara membuat kitab tafsir ulamanya sendiri menjadi seperti lembar soal ujian psikotes , yaitu mengganti kalimat dengan titik-titik ^_^

Iklan
Kategori:Fitnah, Sahabat

Note dari akun Aditya Riko 5

Mei 17, 2012 1 komentar

Kesaksian Al-Qur’an Terhadap Sifat Adil Para Sahabat

by Aditya Riko on Saturday, August 21, 2010 at 11:00pm ·

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Al-Fath : 29

 

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

At-Taubah : 100

 

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.

Al-Anfal : 74

 

(Juga) bagi para fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.

Al-Hasyr : 8-10

 

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).

Al-Fath : 18

 

Itulah ayat-ayat al-Qur’an yang mulia yang memberi kesaksian terhadap kedudukan semua sahabat sebagai oang yang hidup bersama Rasulullah Saw., sejak dimulainya aktifitas dakwah sampai terjadinya peperangan hudaibiyah. Selain itu, masih ada ayat-ayat lain yang menyebutkan kelebihan dan jasa mereka pada banyak situasi dan peristiwa, seperti hijrah, perjuangan, dan peperangan-peperangan. Kesemua itu merupakan bukti-bukti yang meyakinkan–seperti disebutkan oleh pensyarah Musallamuts Tsubut dan Ibnu Hazm– yang menegaskan sifat adil para sahabat. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap Allah. Dengan begitu, apakah kita mesti mencari ridha dan penilaian adil dari manusia terhadap mereka ? Apakah seseorang masih juga meragukan sahabat yang sifat adil mereka telah ditegaskan dalam al-Qur’an dan dari mereka tidak tampak sesuatu yang menistakan serta membuat mereka tercela ?

 

Adalah sangat mengherankan, orang-orang yang mengklaim dirinya melakukan kajian tentang kebenaran dan berkarya untuk menyatukan kata dan barisan-barisan kaum muslimin, ternyata mereka  meragukan dan mencela para sahabat, bahkan mereka terjerumus ke lembah yang rendah ketika mereka memperolok-olokkan, mengejek sebagian sahabat. Dan bahkan, mereka berpendapat bahwa banyak riwayat sahabat seperti riwayat-riwayat Abu Hurairah yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah bohong, walaupun jumhur ulama menerima riwayat-riwayat itu sebagai dalil atas furu’ agama dengan berdasarkan atas penilaian bahwa semua sahabat adalah bersifat adil.

 

Orang yang meragukan itu –Abdul Husain Syarafuddin– mengatakan, “Tidaklah mengherankan jumhur ulama menerima riwayat-riwayat itu setelah mereka bersandarkan diri atas prinsip bahwa para sahabat itu semuanya bersifat adil, yang sama sekali tidak ada dalil atas prinsip ini.”

 

Dengan ayat-ayat diatas, apakah masih ada celah untuk meragukan sifat adil para sahabat yang memeluk Islam sebelum terjadi penaklukan kota Mekkah ? Dalil-dalil nash al-Qur’an berbicara secara gamblang tentang hal itu yang tidak mengandung interpretasi dan dugaan. Akan tetapi, kehendak hati yang diperturutkan mendorong pemiliknya untuk mengingkari kebenaran, sekalipun kebenaran itu seperti matahari di tengah hari.

 

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.”

At-Taubah : 32

 

— Dikutip dari Hadits Nabi Sebelum Dibukukan (Assunnah Qabla al-Tadwin), Dr. Muhammad Ajaj al-Khatib —

———————————-o0o———————————-

 

Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)

Kategori:Adil

Note dari akun Aditya Riko 2

Mei 17, 2012 1 komentar

Sikap Ali ra. Terhadap Penduduk Bashrah (situasi akhir perang Jamal, nukilan dari Al-Bidayah wan Nihayah)

by Aditya Riko on Wednesday, June 30, 2010 at 10:17pm ·

Ali ra. memasuki kota Bashrah pada hari senin empat belas Jumadil Akhir tahun 36 Hijriyah. Penduduk Bashrah membai’at beliau di bawah panji-panji mereka. Sampai-sampai orang-orang yang terluka dan orang-orang yang meminta perlindungan juga membai’at beliau. Abdurrahman bin Abi Bakrah dating menemui beliau dan berbai’at kepada beliau. Beliau berkata kepadanya, “Di manakah orang yang sakit?” -yakni ayahnya-. Abdurrahman menjawab, “la sedang sakit wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya ia ingin sekali bertemu denganmu.” Ali ra. berkata, “Tuntunlah aku ke tempatnya.” Ali ra. pun pergi menjenguknya. Abu Bakrah -ayah Abdurrahman- meminta udzur kepada beliau dan beliau menerimanya. Ali ra. menawarkannya jabatan sebagai amir Bashrah, namun ia menolak. Abu Bakrah berkata,” Angkatlah seorang lelaki dari keluargamu yang dapat membuat tenang penduduk negeri ini. Abu Bakrah mengisyaratkan agar mengangkat Abdullah bin Abbas , maka Ali ra. Pun mengangkatnya sebagai amir kota Bashrah. Lalu menunjuk Ziyad bin abihi sebagai petugas penarik pajak dan penanggung jawab Baitul Mai. Ali ra. memerintahkan Ibnu Abbas agar mendengar saran-saran Ziyad. Pada perang Jamal Ziyad mengasingkan diri dan tidak ikut terlibat dalam pepe-rangan.

 

Kemudian Ali ra. mendatangi rumah tempat Ummul Mukminin ‘Aisyah ra’ singgah. Ali ra. meminta izin kepadanya lalu masuk sembari mengucapkan salam kepadanya dan ‘Aisyah ra. ra.. menyambutnya dengan ucapan selamat. Seorang lelaki menyampaikan berita kepada Ali ra., “Wahai Amirul Mukminin, di luar ada dua orang lelaki yang mencaci Aisyah ra.” Maka Ali ra. Memerintahkan al-Qa’qa’ bin Amru agar mencambuk kedua lelaki itu masing-masing seratus kali cambuk.

 

Lalu ‘Aisyah ra. ra.. bertanya tentang pasukannya yang terbunuh dan pasukan Ali ra. yang terbunuh. Setiap kali disebutkan nama orang-orang yang terbunuh dari kedua belah pihak ‘Aisyah ra. mendoakan rahmat dan kebaikan untuk mereka.

 

Ketika Ummul Mukminin ‘Aisyah ra. hendak meninggalkan kota Bashrah, Ali ra. mengirim segala sesuatu yang diperlukan untuknya, mulai dari kenda-raan, perbekalan, barang-barang dan lainnya. Dan beliau mengizinkan pasukan Aisyah ra.. yang selamat untuk kembali bersamanya atau jika mau mereka boleh tetap tinggal di Bashrah. Beliau mengirim saudara lelaki ‘Aisyah ra., Muhammad bin Abi Bakar , untuk menyertainya. Pada hari keberangkatan, Ali ra. mendatangi rumah tempat ‘Aisyah ra. menginap, beliau berdiri di depan pintu bersama orang-orang. Kemudian ‘Aisyah ra. keluar dari rumah dalam sedekupnya, beliau mengucapkan selamat tinggal kepada mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka. ‘Aisyah ra. berkata, “Wahai bunayya, janganlah saling mencela di antara kalian. Demi Allah sesungguhnya apa yang telah terjadi antara aku dan Ali ra. hanyalah masalah yang biasa terjadi antara seorang wanita dengan ipar-iparnya. Sesungguhnya, meski aku dahulu mencelanya namun sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang terpilih.”

 

Ali ra. berkata, “Ia benar, demi Allah tidak ada masalah yang terjadi antara kami berdua kecuali seperti yang telah disebutkan. Sesungguhnya ia adalah istri nabi kalian , di dunia dan di akhirat.”

 

Kemudian Ali ra. berjalan mengiringinya sampai beberapa mil sembari mengucapkan selamat jalan kepadanya. Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu awal bulan Rajab tahun 36 Hijriyah. ‘Aisyah ra. ra.. dan rombongan berangkat me-nuju Makkah kemudian ia menetap di sana hingga musim haji pada tahun itu juga kemudian ia kembali ke Madinah.

 

Itulah ringkasan kisah yang disebutkan oleh Abu Ja’ far Ibnu Jarir dari para ulama sejarah. Tidak seperti yang disebutkan oleh para pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah) dari kalangan Syi’ah dan lainnya yang menyebarkan hadits hadits palsu atas nama sahabat. Dan kisah-kisah palsu yang mereka nukil tentang masalah ini. Jika mereka diajak kepada kebenaran yang nyata mereka berpaling sembari berkata, “Bagi kalian sejarah kalian dan bagi kami sejarah kami.” Jikalau begitu kami katakan kepada mereka:

 

“Kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil” (Al-Qashash: 55).

 

(Tahdzib wa tartib kitab al-Bidayah wan Nihayah, Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami.)

Note dari akun Awi Sirep 50

Mei 17, 2012 3 komentar

Lebih lanjut : yang diminum Muawiyah RA itu SUSU bkn Khamr pada hadits Buraidah…

by Awi Sirep on Wednesday, January 26, 2011 at 1:20pm ·

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan ayahku datang ke tempat Muawiyah, dia mempersilakan kami duduk di hamparan. Dia menyajikan makanan dan kami memakannya kemudian dia menyajikan minuman, dia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. Dia berkata, “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”. Muawiyah berkata, “aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku”.

 

(HR. Ahmad No. 22941, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 11/94-95)

 

Hadist ini adalah riwayat majlisnya Buraidah dengan Muawiyah.. dan hadits ini sering digunakan oleh syiah untuk menuduh Muawiyah ra suka minum khamr.. sayangnya di note pertama  http://www.facebook.com/note.php?note_id=499668358646  .. orang2 syiah sangat kesulitan memahami penjelasannya.. oleh karena itu.. ane akan coba berangkat dari cara berfikir mereka.

 

mereka berfikir bahwa Muawiyah RA meminum KHAMR..  argumen mereka didapat dari perkataan — Dia berkata, “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW” — yang dia katakan bahwa yang mengucapkannya adalah Buraidah.. ayah dari Abdullah bin Buraidah..

 

untuk memudahkan itu.. maka kita akan ajukan pertanyaan..

 

1. apakah yang diminum Muawiyah RA ? apakah benar Khamr.

2. siapakah si DIA pada kalimat —Dia berkata, “Aku tidak meminumnya”.

 

=___________________=

 

PERTAMA

 

Jika kita jawab khamr.. maka jawaban ini baru ASUMSI belaka.. karena tidak ada KATA KHAMR dalam hadits itu..

sebenarnya jawaban mengenai MINUMAN APAKAH YANG DIHARAMKAN SUDAH TERJAWAB PADA HADITS LAINNYA…

 

Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubaab, dari Husain bin Waaqid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah, berkata : Aku dan ayahku masuk mendatangi Muawiyyah. Maka dia mempersilakan duduk ayahku di atas sofa. Lalu didatangkanlah makanan dan kami pun memakannya. Setelah itu didatangkan minuman lalu dia meminumnya. Muawiyyah berkata : “Tidak ada sesuatu yang aku pernah merasakan kenikmatannya semenjak aku masih muda, YANG AKU AMBIL PADA HARI INI KECUALI SUSU. Maka aku mengambilnya sebagaimana dulu aku pernah mengambilnya sebelum hari ini, dan juga perkataan yang baik”

 

[Al-Mushannaf, 6/188].

 

Dimana pada hadits itu JELAS SEKALI yang diambil Muawiyah RA adalah susu.. tapi anehnya dihadapan SYIAH hadits ini seakan2 tidak kelihatan.. ntah matanya buta atau memang hatinya yang udah buta…

 

JADI YANG DIMINUM OLEH MUAWIYAH RA ADALAH SUSU BERDASARKAN PENJELASAN HADITS INI.

 

=___________________=

 

KEDUA

 

Jika kita katakan si DIA itu alah Buraidah.. ini juga tidak bisa dipastikan.. karena yang berbicara adalah abdullah bin Buraidah.. disana ada dua orang selain abdullah bin buraidah.. yaitu ayahnya sendiri Buraidah dan Muawiyah..

 

taruhlah  anggap bahwa yang mengatakan “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW” adlh Buraidah.. maka hadits ini bakal jadi ganjil.. jadi bertabrakan dengan hadits lainnya ..

 

DIMANAKAH GANJILNYA.. ??? yaitu terkesan Buraidah mengganggap susu haram..

 

yang paling masuk akal adalah penjelasannya ibnu asakir..

 

Imam Ibnu ‘Asakir menjawab,

 

“Yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan, barangkali dia mengatakan demikian ketika melihat adanya ketidaksukaan dan penolakan pada wajah Buraidah, yang menunjukkan  dugaan bahwa dia meminum sesuatu yang diharamkan. Wallahu A’lam.” (Tarikh Dimasyq, Hal. 417)

ini sekedar pembelaan kepada salah seorang sahabat Nabi SAW yang paling sering dikutuk oleh orang2 syiah

Kategori:Sahabat Tag:

Note dari akun Awi Sirep 49

Muawiyah RA itu minum khamr atau minum susu

by Awi Sirep on Wednesday, January 26, 2011 at 10:19am ·

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan ayahku datang ke tempat Muawiyah, dia mempersilakan kami duduk di hamparan. Dia menyajikan makanan dan kami memakannya kemudian dia menyajikan minuman, dia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. Dia berkata, “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”. Muawiyah berkata, “aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku”.

 

(HR. Ahmad No. 22941, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 11/94-95)

 

Mengenai kalimat : Dia berkata : “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”.

 

Siapakah yang mengucapkan kalimat ini?  Imam Ibnu ‘Asakir menjawab,

 

“Yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan, barangkali dia mengatakan demikian ketika melihat adanya ketidaksukaan dan penolakan pada wajah Buraidah, yang menunjukkan  dugaan bahwa dia meminum sesuatu yang diharamkan. Wallahu A’lam.” (Tarikh Dimasyq, Hal. 417)

 

Kasusnya seperti ini, Muawiyah RA menyuguhkan SUSU kepada BURAIDAH.. tapi BURAIDAH enggan meminumnya dan diam saja.. Muawiyah RA menyangka Buraidah tidak meminumnya disebabkan dia menyangka isi minuman itu minuman haram.. jadi ada sangkaan Muawiyah pada Buraidah..

 

Boleh jadi Buraidah itu tidak minum susu itu.. KARENA menurut ane nih.. dilaporkan beberapa orang yang sudah tua disebutkan kalau minum susu masing mencret. Ane sendiri kgk tahu.. karena ane masih muda dan masih suka minum susu.. malahan masing favorit ane.

 

Nah Muawiyah RA ini sebenarnya protes ama diamnya Buraidah.. kgk percaya.. yok kita tengok..

 

lihat kalimat ini — “aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu “.

 

Pertama, Muawiyah mau bilang kenapa dia menghidangkan itu (susu) karena itu minuman favorit dia dan sudah populer juga.

 

Kedua, Muawiyah mau bilang, ngobrol donk… kalau ente kgk suka.. jangan diam aje, kan ntar bisa ane ganti yang lain… biar kgk salang sangka…

 

lihat kalimat ini —“dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku”

 

=_______________________________=

 

Ibnu Abi Syaibah punya hadits lain sebagai penguatnya..

 

Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubaab, dari Husain bin Waaqid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah, berkata : Aku dan ayahku masuk mendatangi Muawiyyah. Maka dia mempersilakan duduk ayahku di atas sofa. Lalu didatangkanlah makanan dan kami pun memakannya. Setelah itu didatangkan minuman lalu dia meminumnya. Muawiyyah berkata : “Tidak ada sesuatu yang aku pernah merasakan kenikmatannya semenjak aku masih muda, YANG AKU AMBIL PADA HARI INI KECUALI SUSU. Maka aku mengambilnya sebagaimana dulu aku pernah mengambilnya sebelum hari ini, dan juga perkataan yang baik”

 

[Al-Mushannaf, 6/188].

 

Si syiah yang berakun wiro sableng bilang : Ibnu Asakir kan cuman belain Muawiyah RA..

 

Hahahahaha.. masa ngejawab ilmu Ibnu Asakir pake persangkaan.. memangnya Imam Ibnu Asakir suka Taqiyah..

 

note tambahan dari sini http://www.facebook.com/note.php?note_id=490844658646 

 

kalau masing belom paham juga… baca yg ini bonusnya… http://www.facebook.com/note.php?note_id=499732643646

Kategori:Sahabat Tag:

Note dari akun Awi Sirep 48

RAHASIA DIBALIK PERJANJIAN PERJANJIAN NABI SAW..

by Awi Sirep on Monday, January 10, 2011 at 4:54am ·

ini adalah tambahan untuk NOTE sebelumnya :

http://www.facebook.com/note.php?note_id=490844658646

 

RAHASIA DIBALIK PERJANJIAN PERJANJIAN NABI SAW..

 

Nabi SAW membuat perjanjian dengan Allah SWT, “Jika dari umatnya yang dilaknat, dicela atau didoakan kejelekan padahal TIDAK BERHAK maka Nabi SAW minta itu menjadi KAFARAT dan RAHMAT baginya”

 

Jika kita katakan pada seseorang, “Hai musuh Allah” atau kita katakan “Laknat Allah atasmu” atau kita katakan “jelek sekali perangaimu” atau kita katakan “bisanya cuman membantah” atau kita doakan “semoga tidak berkah hidup” maka akan ada dalam dua kondisi. JIKA BENAR maka semua itu akan mengenai orang yang dituju.. JIKA SALAH maka akan berbalik kepada dirinya sendiri.

 

Tapi semua diatas tidak berlaku untuk NABI SAW… Siapa pun orangnya, baik itu Abu Bakar ra, Umar ra, Usman ra atau bahkan Ali ra sekalipun jika NABI SAW yang mengucapkan maka dua kondisi itu TIDAK BERLAKU.. karena mustahil berbalik kepada Nabi.. INI SANGAT GILA NAMANYA.

 

Kalau begitu apakah mungkin Nabi SAW SEMBARANGAN… ini juga MUSTAHIL.. hanyalah terbersit dalam fikiran orang JAHIL yang bisa terbayang seperti itu.

 

Kalau begitu, jika Nabi SAW mustahil sembarangan buat apa perjanjian itu.

 

Jika kita mau merenungi sejenak, TIDAK berfikir bahwa hidup sesimple seperti garis lurus. Nabi SAW adalah manusia.. beliau bersosialisasi dengan manusia. Dimana manusia dengan segala ke beragamannya..  menjadi suatu peradaban yang unik.  Yang masing jelas berbeda dengan makhluk Allah SWT lainnya.. katakanlah malaikat yang lurus2 saja atau binatang yg cuman mengandalkan naluri.

 

Ane ambil contoh sederhana dalam keluarga saja..

 

Seorang IBU dia mempunyai ANAK … lalu si IBU menjanjikan pada anaknya.. “Nak, kalau engkau masing dapat rangking bagus dikelasmu, ibu akan belikan engkau sepeda.. “.

 

Lalu tiba harinya dan si anak itupun mendapat rangking bagus.. dalam bayangannya jelas dia yakin akan dibelikan oleh IBUnya sepeda. Ternyata, tiba-tiba si IBU bilang, “Nak, ibu minta maaf karena uangnya sudah dipakai sama ibu”. Betapa kecewanya si anak itu.. ekspektasinya yang tinggi langsung jatuh.

 

Tapi ketika dia sampai di rumah.. dan saat dia berlari ke kamarnya.. tahunya dikamarnya sudah ada SEPEDA.. maka kegembiraannya sangatlah beda.. dia begitu menghargai sepeda itu.. karena KEJADIAN unik ini akan tersimpan terus dalam ingatannya.

 

Dan si Anak pun mendatangi ibunya.. lalu berkata, “Ibu bilang katanya uangnya sudah dipakai..” kata si Ibu, “Ibu cuman bercanda nak, tapi memang benarkan uangnya terpakai untuk beli sepeda”. Lalu si anak itupun memeluk ibunya dan mengucapkan.. “terima kasih ibu.”. Timbul kehangatan di antara keduanya tanpa merasa canggung.. karena kejadian unik seringkali menghilangkan sekat2 dalam fikiran manusia.

 

Maka Nabi SAW bercanda.. untuk menimbulkan kehangatan didalamnya.. Nabi mendoakan kejelekan yang sebenarnya adalah rahmat.. Nabi SAW tidak ada kedustaan didalamnya.. KARENA NABI SAW sendiri tahu dan dari dalam hatinya meniatkan doa itu adalah untuk rahmat.. tapi dengan candaan dan kejadian unik.. menimbulkan kesan tersendiri.. seperti disebutkan dalam hadits berikut,

 

Dari Anas bin Malik, “Ummu Salamah memiliki anak yatim yang diasuhnya bernama Ummu Anas. Suatu hari Rasulullah SAW melihatnya, lalu berkata: “Kamukah itu? Kamu sudah besar, Semoga Allah tidak memanjangkan umurmu”. Maka anak tadi datang kepada Ummu Salamah sambil menangis. Ummu Salamah bertanya: “Ada apa dirimu wahai anakku?”, dia menjawab: “Rasulullah SAW telah mendoakan kejelekan untukku, yaitu agar Allah tidak memanjangkan umurku”. Maka Ummu Salamah segera mendatangi Rasulullah SAW sambil mengalungkan selendangnya. Ketika telah bertemu Rasulullah SAW, Rasulullah mendahuluinya bertanya: “Ada apa denganmu wahai Ummu Sulaim?” Ummu Salamah menjawab: “Wahai Nabi Allah, apakah engkau mendo’akan kejelekan terhadap anak yatimku?”, beliau balik bertanya: “Apa itu wahai Ummu Sulaim?” Ummu Salamah berkata: “Anak itu mengatakan bahwa engkau berdo’a agar umurnya tidak diperpanjang.”, maka Rasulullah SAW pun tertawa, “Wahai Ummu Sulaim, apakah kamu tidak tahu perjanjian yang telah aku sepakati dengan Rabbku?” Aku telah meminta janji kepada Rabbku: “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, aku senang sebagaimana manusia yang lain merasakan senang dan aku marah sebagaimana manusia yang lain marah. Maka siapa saja dari UMATKU yang telah aku do’akan kejelekan yang dia tidak berhak mendapatkannya, agar dijadikan sebagai pensuci, pembersih, dan taqarrab yang dapat mendekatkannya kepada Allah kelak pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

 

Pada dasarnya Nabi SAW memang berniat mendoakan kebaikan kepada anak itu.. tapi Nabi SAW mengisinya dengan candaan seakan Nabi SAW mendoakan kejelekan padanya. Padahal Kenyataannya TIDAK dan memang DISENGAJA oleh Nabi SAW.

 

DAN INI ADALAH PENJELASAN SATU.

 

Kita ambil contoh lain… seorang anak.. dan disayang ibunya.. hanya dia sedikit nakal.. namanya juga manusia dengan segala keterbatasannya..

 

Misal si anak itu disuruh ibunya TIDUR.. tapi si anak itu susah sekali menurutnya.. dia malah asyik main PlayStation misalnya.. si ibunya pun dengan marah mengatakan… “Kamu ini bukannya tidur.. besok sekolah.. jangan main playstation terus..  kamu gak usah jadi anak ibu lagi kalau gak mau nurut”. Jelas sebenarnya dalam hati si ibu itu adalah kebalikannya.. dia hanyalah ingin menakut-nakutin anaknya.

 

Begitu juga Nabi SAW sangatlah penyayang pada umatnya.. beliau jelas ingin umatnya selalu dalam kebajikan.. tapi terkadang.. manusia bisa tergelincir SAHABAT sekalipun… maka harus sedikit di PUSH dan ditakut-takutin..

 

Seperti kisah Muawiyah RA,

 

Dari Ibnu Abbas RA: “Bahwasanya Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk memanggil Mu’awiyah agar menuliskan wahyu untuknya. Orang tadi berkata: ‘Dia sedang makan’, kemudian beliau memanggilnya lagi untuk yang kedua kalinya, orang tadi berkata: ‘Dia sedang makan’. Lalu Rasulullah SAW bersabda: ‘Semoga Allah tidak akan mengenyangkan perutnya (Muawiyah)'”. (HR. Muslim dan Ahmad)

 

juga ini..

 

Dari Ali, bahwa Rasulullah SAW membangunkan Ali dan Fathimah. Beliau bersabda: “Kalian berdua sudah shalat (malam)?” Ali menjawab: “Wahai Rasulullah, jiwa kami ada di tangan Allah, jika Dia berkehendak niscaya Dia akan membangunkan kami.” Lalu Nabi berpaling ketika saya mengatakan demikian, kemudian saya mendengarnya bergumam sambil memukul-mukul pahanya, dan bersabda: “Memang manusia itu suka banyak berdebat (membantah)”. (HR. Bukhari Muslim)

 

Apakah Ali RA orang yang suka membantah? jelas MUSTAHIL.. tapi ini hanyalah untuk menakut-nakuti saja.

 

juga ini..

 

Datang kepada Rasulullah SAW dua laki-laki, keduanya datang dengan sesuatu yang aku tidak tahu apa itu, lalu beliau memarahinya dan melaknat serta mencaci mereka berdua. Ketika keduanya keluar, aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapa yang dijauhkan kebaikan seperti yang didapatkan oleh kedua orang itu?’. Beliau menjawab dengan balik bertanya: ‘Kebaikan apa itu?’. Aisyah berkata:  Saya menjawab: ‘Engkau telah melaknat dan mencaci mereka berdua.’. Beliau bersabda: ‘Apakah engkau tidak tahu isi perjanjian yang aku buat bersama Tuhanku ? Saya minta: ‘Ya Allah! Sesungguhnya saya ini hanyalah manusia, maka siapa saja umat Islam yang saya laknat atau caci maka jadikanlah itu sebagai pensuci dan pahala baginya.'” (HR. Muslim)

 

Jadi Nabi SAW tujuannya menakut-nakuti..

 

DAN INI ADALAH PENJELASAN DUA

 

Wassalam dan Wallahu’alam

Kategori:Sahabat

Note dari akun Awi Sirep 47

Mei 17, 2012 1 komentar

Hadits Muawiyah ra terlaknat VS Muawiyah ra mendapat petunjuk

by Awi Sirep on Sunday, January 9, 2011 at 8:53am ·

BERANI BACA SAMPAI TUNTAS…

 

Hadits Muawiyah ra terlaknat VS Muawiyah ra mendapat petunjuk

 

Si Maling Astor ngutip berbagai hadits yg kesannya mencela Muawiyah RA..:

 

http://www.facebook.com/note.php?note_id=169547169755214

 

Jawaban dia atas note ane yang ini : http://www.facebook.com/note.php?note_id=489731133646

 

Ada kelompok2 Hadits yg isinya kesannya mencela Muawiyah RA..

 

1. Muawiyah RA disebutkan dilaknat Nabi SAW.. (benarkah?)

2. Muawiyah RA saat dimimbar disuruh dibunuh oleh Nabi SAW .. (benarkah?)

3. Muawiyah RA saat didoakan tidak kenyang..

4. Muawiyah RA minum KHAMR… ?

5. Terkait dengan Ammar bin Yasir yang dibunuh kaum pembangkang…

 

Baiklah, mari kita lihat one by one…. demi mengurangi isi note ini.. ane potong hadits.. lengkapnya lihat aje di catatannya si Maling Astor..

 

=______=

PERTAMAX …

=______=

 

Muawiyah RA disebutkan dilaknat Nabi SAW.. (benarkah?)

 

“laknat Allah bagi yang memikul dan yang dipikul, yang menuntun dan yang menggiring”

Sumber : Ansab Al Asyraf Al Baladzuri

 

”Akan datang dari jalan besar ini seorang laki-laki yang mati pada hari kematiannya tidak berada dalam agama-Ku”.

Sumber : Ansab Al Asyraf Al Baladzuri

 

Banyak riwayat Muawiyah terbunuh berada dalam kitab Ansab Al Asyraf Al Baladzuri.

 

Ahmad bin Yahya bin Jabir al-Baladzuri adalah seorang sejawaran Persian yang hidup di Baghdad.

 

Tatacara penulisan Ahmad bin Yahya bin Jabir al-Baladzuri dalam kitab Ansab al-Asyraf, cara penulisan kitab sejarahnya bukan hanya mengikuti metode Ibnu Sa’ad. (Ibnu Sa’ad memasukan semua bahan dalam sejarahnya). Tapi Ahmad bin Yahya lebih dari itu, semua versi dan laporan yang dia terima dia masukan kedalam sejarah. Karena Ahmad bin Yahya bin Jabir al-Baladzuri ingin membuat ensiklopedia sejarah, dari manapun sumber.

 

Jadi jelaslah, kitabnya Ansab Al Asyraf BUKAN KITAB HADITS SHOHIH.. masa mau dibandingkan sama kitab Imam Bukhari dan Muslim.

 

Gak percaya, lihat aja di wikipedia.. yg paling gampang..  http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_bin_Yahya_bin_Jabir_al-Baladzuri atau buku Dari Saqifah sampai Imamah: Awal dan Sejarah Perkembangan Islam Syi’ah. Bandung: Pustaka Hidayah, 1995. Penulis JAFRI, S.H.M.;

 

Lalu si Maling Astor kan ngutip dari kitab lain?

Oh iya betul.. memang ada..  tapi jgn salah.. notenya sendiri yg bilang hadits itu DIRAGUKAN.

 

“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni neraka’. Lalu muncullah Mua’wiyyah”

 

Sumber : Al Muntakhab minal-‘Ilal lil-Khallaall tapi ada catatan dimana si Maling Astor sendiri yg nulis.

 

Noh ane kutipkan : Ahmad berkata “Hadits itu hanyalah diriwayatkan oleh Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Abdulah bin ‘Amru atau selainnya, ia [Thawus] ragu-ragu dalam penyebutannya. ”

 

 

Siapa Ahmad ? ya Imam Ahmad bin Hanbal. Dia termasuk ahli hadits.

 

Imam Ahmad menegaskan. hadits diatas hanyalah diriwayatkan oleh Ibnu Thawus. Dan hebatnya lagi, cuman Ibnu Thawus yang meriwayatkan, ragu lagi sama isinya. Masa hadits diragukan isinya mau diterima ?

 

BERANINYA SI MALING ASTOR..BILANG JALURNYA BANYAK… BANYAK DARI NENEK MOYANG…

 

Padahal kata Imam Ahmad hanya lewat Ibnu Thawus (pastinya diambil karena paling baik jalurnya, tapi sayangnya.. Thawusnya sendiri ragu).

 

Haditsnya yg hanya satu2nya yg bisa diandalkan masing diragukan.. sisanya ada di Kitab Sejarah yg Tidak menggunakan metoda penyaringan..

 

Katanya orang2 syiah ANTI HADITS yang PALSU.. nuduh Muawiyah RA suka memalsukan hadits.. taunya mereka penggemarnya.

 

=______=

KEDUAX

=______=

 

Muawiyah RA saat dimimbar disuruh dibunuh oleh Nabi SAW .. (benarkah?)

 

“Jika kamu melihat Muawiyah bin Abi Sufyan berkhutbah di mimbar-ku maka tebaslah lehernya”

 

Cekidot.. langsung aja gan cek sumbernya ? Ansab Al Asyraf Al Baladzuri

 

Jika kamu melihat Muawiyah bin Abi Sufyan berkhutbah di mimbar-ku maka pukullah tengkuknya”

 

cek juga sapa penulisnya dan dikitab apa adanya.. Ahmad bin Yahya Al Baladzuri; Ansab Al Asyraf.

 

YANG LAIN

 

“jika kamu melihat Muawiyah di Mimbar-ku maka bunuhlah ia”.

 

(Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq  59/55 dan Ibnu Ady dalam Al Kamil 7/83 dan 5/314. Berikut hadis Ali bin Zaid dalam Al Kamil)

 

Gak dijelaskan.. IBNU ASAKIR apakah bilang ini hadits SHOHIH apa kgk dalam Tariqhnya.. Karena ane ntar dibawah bakalan bawa hadits keutamaan Muawiyah RA.. dan beliau bilang SHAHIH..

 

Yang lain no comment..

 

Silahkan pemirsa jawab sendiri ya.. ^_^

 

=_______=

KETIGAX

=_______=

 

Muawiyah RA saat didoakan tidak kenyang..

 

“Semoga Allah tidak akan mengenyangkan perutnya (Muawiyyeh)”

 

HR. Abu Dawud dan Imam Muslim.

 

Yuk kita lihat LENGKAPNYA GAN… BIAR SI MALING ASTOR KELABAKAN..

 

Dari Ibnu Abbas RA: “Bahwasanya Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk memanggil Mu’awiyah agar menuliskan wahyu untuknya. Orang tadi berkata: “Dia sedang makan” kemudian beliau memanggilnya lagi untuk yang kedua kalinya, orang tadi berkata: “Dia sedang makan”. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Semoga Allah tidak akan mengenyangkan perutnya (Muawiyah)” (HR. Musli dan Ahmad)

 

Apa alasan Nabi SAW memanggil Muawiyah RA ? Tidak lain tidak bukan karena Muawiyah adalah asisten Nabi.. dia salah satu penulis wahyu..

 

Al-Hafizh Ibnu Asakir  berkata.. “Hadits ini merupakan hadits paling shahih tentang keutamaan Mu’awiyah.”. Artinya ada hadits2 lain yang shahih tapi ini paling shahih tentang keutamaan Muawiyah.

 

Lho kok keutamaan sih ?

 

Dan hebatnya.. Imam Muslim memasukkan Hadits ini dalam BAB yang aneh.. ? mau tahu..

 

Man La’anahu an Nabi SAW Aw Sabbahu Aw Da’a ‘Alaihi Wa Liasa Huwa Ahlan Lidzalika Kana Lahu Zakatan Wa Ajran Wa rahmatan.

 

(Bab siapa saja yang pernah dilaknat, dicela ataupun di do’akan jelek oleh SAW  yang dia tidak berhak mendapatkannya maka itu sebagai pembersih, pahala dan rahmat baginya)

 

Lho kok? Apakah Nabi suka mencela, melaknat dan mendoakan kejelekan kepada yang TIDAK BERHAK. Jangan dulu selesai.. eh jangan selesai dulu.

 

Dalam sebuah hadits disebutkan..  Nabi SAW mengambil perjanjian dengan Allah SWT..

 

Aku telah meminta janji kepada Rabbku: “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, aku senang sebagaimana manusia yang lain merasakan senang dan aku marah sebagaimana manusia yang lain marah. Maka siapa saja dari UMATKU yang telah aku do’akan kejelekan yang dia tidak berhak mendapatkannya, agar dijadikan sebagai pensuci, pembersih, dan taqarrab yang dapat mendekatkannya kepada Allah kelak pada hari kiamat.”

 

Kita lihat baik2 hadits ini.. Pelan2 OKE… karena ini butuh ANALISA TINGKAT TINGGI.. (CEILEHHH….)

 

Pertama, Nabi SAW mengatakan dirinya manusia biasa.. manusia biasa disini bukan SEPERTI FIKIRAN KITA.. INGAT FIKIRAN BISA MENIPU.. tapi maksudnya Nabi seperti manusia lainnya bisa merasakan senang dan marah.. WALAUPUN SECARA HAKIKAT NABI SAW BUKAN MANUSIA BIASA.. beliau MANUSIA PILIHAN..

 

KEDUA, Nabi SAW dalam keadaan senang dan marah.. mendoakan kejelekan. Kalau dalam marah sih bisa saja.. tapi dalam keadaan senang bagaimana mungkin..

 

NAH DISINI KUNCINYA…

 

Sesungguhnya celaan.. laknat.. dan doa kejelekan Nabi SAW kepada UMATNYA ini yang mana umatnya itu sesungguhnya TIDAK BERHAK.. berada dalam dua lingkup ini..

 

Dalam keadaan SENANG… sebagai CANDAAN NABI SAW…

Dalam keadaan MARAH.. untuk menakut-nakuti..

 

Bercanda.. memang boleh ? Kata siapa Nabi SAW tidak pernah bercanda.. ingat kagak Nabi SAW pernah bercanda dengan Ali RA soal biji Kurma.. juga dengan sahabat lainnya soal anak UNTA.. gak diceritain disini nanti kepanjangan… OKELAH bercanda boleh.. tapi ada buktinya kagak..  JELAS ADA…

 

Dari Anas bin Malik, “Ummu Salamah memiliki anak yatim yang diasuhnya bernama Ummu Anas. Suatu hari Rasulullah SAW melihatnya, lalu berkata: “Kamukah itu? Kamu sudah besar, Semoga Allah tidak memanjangkan umurmu”. Maka anak tadi datang kepada Ummu Sulaim sambil menangis. Ummu Salamah bertanya: “Ada apa dirimu wahai anakku?”, dia menjawab: “Rasulullah SAW telah mendoakan kejelekan untukku, yaitu agar Allah tidak memanjangkan umurku”. Maka Ummu Salamah segera mendatangi Rasulullah SAW sambil mengalungkan selendangnya. Ketika telah bertemu Rasulullah SAW, Rasulullah mendahuluinya bertanya: “Ada apa denganmu wahai Ummu Sulaim?” Ummu Salamah menjawab: “Wahai Nabi Allah, apakah engkau mendo’akan kejelekan terhadap anak yatimku?”, beliau balik bertanya: “Apa itu wahai Ummu Sulaim?” Ummu Salamah berkata: “Anak itu mengatakan bahwa engkau berdo’a agar umurnya tidak diperpanjang.”, maka Rasulullah SAW pun tertawa, “Wahai Ummu Sulaim, apakah kamu tidak tahu perjanjian yang telah aku sepakati dengan Rabbku?” (lalu beliau menyebutkan perjanjian yang sudah ane tulis diatas)

 

(HR. Muslim)

 

JADI NABI SAW BERCANDA DENGAN MENDO’AKAN KEJELEKAN..

 

Lalu dalam keadaan marah.. ya.. contohnya.. Nabi SAW marah kepada Muawiyah RA.. beliau dipanggil oleh Nabi SAW untuk menulis wahyu.. tapi Muawiyah RA menunda2.. maka Nabi SAW menakut-nakutinya.

 

Masih ada yang lain lagi,

 

“Datang kepada Rasulullah SAW dua laki-laki, keduanya datang dengan sesuatu yang aku tidak tahu apa itu, lalu beliau memarahinya dan melaknat serta mencaci mereka berdua. Ketika keduanya keluar, aku bertanya: “Wahai Rasulullah! Siapa yang dijauhkan kebaikan seperti yang didapatkan oleh kedua orang itu?” Beliau menjawab dengan balik bertanya: “kebaikan apa itu?” Aisyah berkata:  saya menjawab: “Engkau telah melaknat dan mencaci mereka berdua.” Beliau bersabda: “Apakah engkau tidak tahu isi perjanjian yang aku buat bersama Tuhanku ? saya minta: “Ya Allah! Sesungguhnya saya ini hanyalah manusia, maka siapa saja umat Islam yang saya laknat atau caci maka jadikanlah itu sebagai pensuci dan pahala baginya.”” (HR. Muslim)

 

Imam Ali RA juga pernah dicela Nabi SAW..

 

Dari Ali, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membangunkan Ali dan Fathimah. Beliau bersabda: “Kalian berdua sudah shalat (malam)?” Ali menjawab: “Wahai Rasulullah, jiwa kami ada di tangan Allah, jika Dia berkehendak niscaya Dia akan membangunkan kami.” Lalu nabi berpaling ketika saya mengatakan demikian, kemudian saya mendengarnya bergumam sambil memukul-mukul pahanya, dan bersabda: “Memang manusia itu suka banyak berdebat!” (HR. Bukhari Muslim)

 

Tujuan menakut-nakutin adalah untuk memotivasi.. terkadang manusia perlu di-PUSH sedikit.. KARENA para sahabat adalah manusia biasa dan BUKAN NABI.

 

Justru hadits TIDAK KENYANGNYA Muawiyah adalah Hadits tershohih keutamaan Muawiyah RA.. bukan bagian TIDAK KENYANGNYA.. tapi bagian BUKTI kalau MUAWIYAH RA penulis WAHYU..

 

Ternyata ada hikmah dibalik doa Nabi SAW.. kalau tidak ada doa Nabi SAW yang mengatakan Muawiyah TIDAK KENYANG… ANE JAMIN KGK BAKALAN ADA ORANG SYIAH YG MAU MENULISKANNYA DALAM NOTE… HEHEHEHEE… ^_^

 

MAKA TIDAK SALAH PERKATAAN DIBAWAH INI :

 

Al-Hafizh Ibnu Asakir  berkata.. “Hadits ini merupakan hadits paling shahih tentang keutamaan Mu’awiyah.”.

 

=_______=

KEEMPATX

=_______=

 

Muawiyah RA minum KHAMR… ?

 

“Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW” [Musnad Ahmad 5/347 no 22991]

 

Yuk kita lihat yang lebih lengkap

 

 

Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan Ayahku datang  ke tempat Muawiyah, ia mempersilakan kami duduk di hamparan . Ia menyajikan makanan dan kami memakannya kemudian ia menyajikan minuman, ia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. Dia berkata: “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”. Muawiyah berkata “Aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku” (HR. Ahmad No. 22941, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 11/94-95)

 

Ternyata si MALING UDAH NEPONG…

 

dia nulis … AYAHKU BERKATA padahal sebenarnya aslinya DIA BERKATA.

 

Mengenai kalimat : Dia berkata : “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”.

Siapakah yang mengucapkan kalimat ini?

 

Imam Ibnu ‘Asakir menjawab.

 

“Yaitu Mu’awiyah bin Abi Sufyan, barangkali dia mengatakan demikian ketika melihat adanya ketidaksukaan dan penolakan pada wajah Buraidah, yang menunjukkan  dugaan bahwa dia meminum sesuatu yang diharamkan. Wallahu A’lam.” (Tarikh Dimasyq, Hal. 417)

 

KOK BISA.. Kalau menurut ane sih kasusnya seperti ini, Muawiyah RA menyuguhkan SUSU kepada BURAIDAH.. tapi BURAIDAH enggan meminumnya dan diam saja.. Muawiyah RA menyangka Buraidah tidak meminumnya disebabkan dia menyangka isi minuman itu minuman haram.. jadi ada sangkaan Muawiyah pada Buraidah..

 

Boleh jadi Buraidah itu tidak minum susu itu.. KARENA menurut ane nih.. dilaporkan beberapa orang yang sudah tua disebutkan kalau minum susu masing mencret. Ane sendiri kgk tahu.. karena ane masih muda dan masih suka minum susu.. malahan masing favorit ane.

 

Nah Muawiyah RA ini sebenarnya protes ama diamnya Buraidah.. kgk percaya.. yok kita tengok..

 

“aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku”.

 

Pertama, Muawiyah mau bilang kenapa dia menghidangkan itu (susu) karena itu minuman favorit dia dan sudah populer juga.

 

Kedua, Muawiyah mau bilang, ngobrol donk… kalau ente kgk suka.. jangan diam aje, kan ntar bisa ane ganti yang lain… biar kgk salang sangka…

 

JADI MANA KALIMAT MUAWIYAH MINUM KHAMR DI HADITS ITU.. TUNJUKKAN KALAU MEMANG KAMU BENAR.. MUNTAHIN SEMUANYA.. HOEKK.. HOEKKK…

 

=_______=

KELIMAX

=_______=

 

Terkait dengan Ammar bin Yasir yang dibunuh kaum pembangkang?

Hubungannya dengan Muawiyah RA…??

 

Hadits Pertama,

 

“Maka dia (Abdullah bin Amr bin Ash) mengisyaratkan dengan tangan pada kedua telinga dan hatinya sambil berkata: “Aku mendengar dengan kedua telingaku dan memahaminya dengan hatiku”. Aku berkata kepadanya: “Ini Anak pamanmu Muawiyah dia memerintahkan kami untuk memakan harta diantara kami secara bathil dan saling membunuh diantara kami”.”

 

StoryLinenya begini…  Abdullah bin Amr bin Ash menceritakan suatu Hadits.. lalu dia menafsirkan bahwa hadits ini ada dalam sifat Muawiyah RA ketika terjadi perang Shiffin…

 

Jadi ini bukan Hadits Nabi SAW… tapi pendapat Abdullah bin Amr bin Ash RA.

Sahabat itu bisa salah bisa benar.. Adilnya kita tengok juga perkataan sahabat Nabi lainnya mengenai Muawiyah RA..

 

Ibnu Abbas RA berkata: “Belum pernah aku menemukan orang yang paling ahli dalam mengatur pemerintahan selain Mu’awiyah RA.” (Bukhari)

 

PERMASALAH PERANG SHIFFIN INI SANGATLAH KOMPLEKS..

 

Kita tidak bisa menilainya begitu saja.. jangankan perang yg udah berlalu beberapa ratus tahun.. perang yang dekat pun kabar beritanya simpang siur…

 

Jika bukan karena ada hadits2 Nabi SAW.. kita akan kesulitan membedakan pihak yang benar dan pihak yang salah.

 

Pertama harus kita tegaskan, keputusan2 dalam perang ini adalh murni IJTIHAD. Darimana kita tahu.. dari Ammar bin Yasir sendiri.. yang beliau menjadi INDIKATOR kelompok mana yang benar saat perang berlangsung.

 

Qais bin Ubad, dia berkata, “Aku berkata kepada Ammar bin Yasir RA, ‘Bagaimana menurutmu perang yang kalian lakukan? Apakah merupakan ijtihad dari kalian karena IJTIHAD bisa salah bisa benar! Atau wasiat yang disampaikan Rasulullah SAW?’ Ammar bin Yasir RA berkata, ‘Rasulullah TIDAK MENINGGALKAN wasiat kepada kami yang TIDAK beliau sampaikan kepada seluruh manusia.'” (HR. Ahmad, Muslim dari Syu’bah)

 

ARTINYA, kalau ini WASIAT maka semua sahabat, seperti Aisyah RA, Zubair RA, Thalhah RA, Muawiyah RA, dll pasti mengetahui dan TIDAK AKAN berselisih pendapat. JADI INI ADALAH MURNI IJTIHAD SEPERTI yang ditegaskan Ammar Bin Yasir.

 

Dari sini saja, Ammar bin Yasir SUDAH TIDAK SEPAHAM dengan SYIAH… maka apakah kita mengikuti penilaian SYIAH terhadap hadits2 Sunni mengenai MUAWIYAH RA.

 

Jelas tidak nyambung, meskipun hadits2 itu seakan2 menohok Muawiyah RA, maka kita harus memahaminya dari sisi Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

 

Lalu apakah benar perang ini murni ijtihad bukan wasiat.. lagi2 dikuatkan oleh Hadits Nabi SAW, “Jika manusia berselisih maka pendapat Ibnu Sumayyah (Ammar) berada di atas kebenaran.” (Al Baihaqi)

 

Hadits Selanjutnya,

=_____________=

 

“Kasihan Ammar, ia dibunuh oleh kelompok pembangkang. Ia mengajak mereka ke surga, mereka malah mengajaknya ke neraka” [Musnad Ahmad 3/90 no 11879]

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab FathulBari, 1/542, “Dhamir (kata ganti) pada kata: yad’uuhum (Ammar mengajak mereka) tanpa disebutkan siapa mereka, maksudnya adalah para pembunuhnya. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat lain yang berbunyi: “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang, ia mengajak mereka ke surga…”. Jika ada yang mengatakan, Ammar terbunuh pada peperangan Shiffin, ia berada di pihak Ali. Dan orang-orang yang membunuhnya bersama Mu’awiyah, dalam pasukan Mu’awiyah terdapat beberapa orang sahabat Nabi. Lalu bagaimana mungkin mereka mengajak ke neraka?

 

Jawabnya: Mereka mengira mereka mengajak ke surga, mereka telah berijtihad, tidak ada cela atas mereka dalam mengikuti perkiraan mereka tersebut. Yang dimaksud mengajak ke surga adalah mengajak ke jalan menuju surga, yaitu mentaati imam.

 

Demikianlah, Ammar mengajak mereka untuk mentaati Ali, imam yang wajib ditaati saat itu. Namun mereka mengajaknya kepada jalan lain, akan tetapi mereka dimaafkan karena takwil yang menurut mereka benar itu.

 

Hadits Selanjutnya,

=_____________=

 

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “yang membunuhnya dan merampas miliknya berada di neraka”.  [Musnad Ahmad 4/198 no 1711]

 

Tak sengaja ane cek di blog http://syiahali.wordpress.com ternyata di nomor hadits yg sama ada penjelasan.. Syaikh Syu’aib berkata “sanadnya kuat”.

 

Barangkali sama si Maling Astor dihapus… hehehehe..

 

Syaikh Syu’aib adalah Syaikh Syu’aib Al Arnauth, dia adalah Syaikh wahabi yang pernah kalah dialog mengenai sanad hadits dengan Syaikh Walid al-Sa’id, muridnya Syaikh Abdullah al-Harari. Jadi soal sanad hadits?? masih bisa ambil pendapatnya??

 

Kalau sampai blog SYIAH ngambil perkataan syaikh wahabi dan tdk bisa nunjukin perkataan Imam Ahmad bilang ntu hadits shahih apa kgk.. bahkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth cuman masing bilang.. sanadnya kuat, jadi soal hadits ini, dikembalikan kepada pemirsa.. ^_^

 

=_____________=

TAMBAHANX

=_____________=

 

Tambahan 1 :

 

“Muawiyah berkata “Adapun yang ini dilarang beserta yang tadi akan tetapi kalian semua lupa” [Sunan Abu Dawud 1/557 no 1794 dan telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud]

 

Sama dengan yg diatas hehehehe… Pertama ane no koment… Kedua.. ini gak ada hubungannya dengan bukti langsung KALAU NABI SAW PERNAH MELAKNAT MUAWIYAH. Adanya cuman beda pendapat sahabat, itu pun haditsnya tidak penjelasannya dari Abu Dawud, shahih apa kagak?

 

Tambahan 2 :

 

“Dari Sa’id bin Al Musayyab yang berkata “Ali dan Utsman suatu kali bertemu…” [Diriwayatkan Muslim dalam Shahih Muslim 2/896 ]

 

Ane kgk tahu maksudnya apa ini? Karena yang dibahas kan soal Muawiyah.. jadi Ane 100% NO COMMENT… SAHABAT BEDA PENDAPAT.. BEDA IJTIHAD.. TOH BUKTINYA.. SUNNI WALAUPUN MENCINTAI USMAN BIN AFFAN RA.. TAPI TETAP MENGIKUTI PENDAPAT ALI BIN ABI THALIB RA SOAL INI.

 

JADI MASALAHNYA DIMANA?

 

 

TANGGAPAN TAMBAHAN SOAL NAHJUL BALAGHAH…. 

=______________________=

 

Si Maling Astor Curang…  Curangnya dimana…??

 

Ane ngutip Nahjul Balaghoh terjemahan bahasa Inggris.. eh dia bandingkan ama yang bahasa Indonesia.. kok bisa2nya..

 

disini ane ambil…

 

http://www.al-shia.org/html/eng/books/nahjulbalaga/letters/letter58.htm#letter58

 

dan disini.. yang si Maling Astor comot

 

http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/nam/03/058.htm

 

Bedanya dimana? Beda sekali.. yang terjemahan BAHASA INDONESIA cuman setengahnya..

si penterjemah Bahasa Indonesia sudah motong bagian INI NIHHHH….

 

=_________________________=

 

I advised them that this problem cannot be solved by excitement. Let the excitement subside, let us cool down; let us do away with sedition and revolt; let the country settle down into a peaceful atmosphere and when once a stable regime is formed and the right authority is accepted, then let this question be dealt with on the principles of equity and justice because only then the authority will have power enough to find the criminals and to bring them to justice. They refused to accept my advice and said that they wanted to decide the issue on the point of the sword.

 

When they thus rejected my proposal of peace and kept on sabre rattling threats, then naturally the battle, which was furious and bloody, started. When they saw defeat facing them across the battlefield, when many of them were killed, and many more wounded, then they went down on their knees and proposed the same thing, which I had proposed before the bloodshed had begun.

 

I accepted their proposal so that their desire might be fulfilled, my intentions of accepting the principles of truth and justice and acting according to these principles might become clear and they might have no cause to complain against me.

 

Now whoever adheres firmly to the promises made will be the one whose salvation will be saved by Allah and one who will try to go back upon the promises made, will fall deeper and deeper into heresy, error and loss. His eyes will be closed to realities and truth in this world and he will be punished in the next world.

=____________________________=

 

Yang mengerti bahasa Inggris pasti paham dimana dipotongnya ame SI PENTERJEMAH BUSUK BAHASA INDONESIA.

 

Ane terjemahin bebas yg bahasa Inggris. Point2nya aje..

 

Imam Ali RA mengajukan proposal perdamaian..

Tapi orang2 syam menolak proposal itu..

Saat mereka terdesak.. mereka mengajukan perjanjian damai yang mana Imam Ali ra sudah ajukan sebelum perang berlangsung.

DAN IMAM ALI MENERIMA PERJANJIAN DAMAI ITU.

Lalu Imam Ali berkata, mulai dari sekarang, siapa2 saja yang menolak kembali perjanjian damai ini maka dia akan dibutakan matanya dan dihukum oleh Allah.

 

JADI SIAPA YANG DIBUTAKAN MATANYA DAN DIHUKUM OLEH ALLAH…. YAITU YANG MENOLAK PERDAMAIAN ANTARA IMAM ALI RA. DAN MUAWIYAH RA.

 

ah pemotong kok motong diri sendiri… kasihan deh loe..

 

hadits2 lainnya seperti dalam kitab yang si maling astor kutip seperti

 

Al Mustadrak Al Hakim,  (ini bukan kitab shahih jadi harus ada penjelasan hadits)

Allamah Al-Kasyafi At-Turmudzi Al-Manaqibul Murtadhawiyah, (idem)

Kanz Al Ummah, dan Syarh Nahjul al Balghah ane gak akan bahas..

 

KARENA JELAS SURAT IMAM ALI RA KEDUDUKAN SANGAT TINGGI DI MATA SYIAH APALAGI DALAM KITAB NAHJUL BALAGHAH

 

=_______________________________=

 

NAH SEKARANG GILIRAN HADITS KEUTAMAAN MUAWIYAH RA…

 

A. Hadits Muawiyah RA salah satu penulis wahyu, haditsnya udah dijelaskan diatas, yang mana diakhir Muawiyah RA di doakan TIDAK kenyang.

 

B. Hadits di Note ane yang lama.

 

Nabi SAW bersabda : “Ya Allah, jadikanlah Muawiyah pembawa petunjuk yang memberikan petunjuk. Berikanlah petunjuk padanya dan petunjuk bagi umat dengan keberadaannya”.

 

Dinyatakan SHAHIH oleh Imam Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq.

 

Ini termasuk banyak juga ditulis dibanyak kitab.

 

1. Bukhari,

2. Ahmad,

3. Tirmidzi,

4. Ath-Thabaraniy,

5. Al-Khathiib,

6. Adz-Dzahabiy

7. Ibnu Sa’d

8. Ibnu Abi ‘Aashim

9. Abu Nu’aim

10. Ibnu ‘Asaakir

11. Ibnul-Atsiir

 

Jadi masih ragu KESHAHIHANNYA…

 

C. Hadits Muawiyah memimpin perang dilautan.

 

Dari Anas bin Malik dari bibinya, Ummu Haram binti Milhan RA berkata: “Pada suatu hari, Rasulullah SAW tidur di dekat  saya. Kemudian beliau terbangun, lalu tersenyum. Saya bertanya: “Apa yang membuatmu tersenyum?”

 

Beliau menjawab: “Telah diperlihatkan kepadaku beberapa orang dari umatku yang mengarungi samudera biru, laksana para raja di atas singgasananya!”

 

“Mintalah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka!” pinta Ummu Haram. Lalu Rasulullah mendoakannya. Kemudian beliau tidur lagi.

 

Dan beliau melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, lalu Ummu Haram bertanya seperti di atas, dan Rasulullah menjawabnya seperti jawaban sebelumnya.

 

Ummu Haram berkata,”Mohonlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka,” Rasulullah SAW menjawab,”Engkau termasuk golongan pertama (dari angkatan laut tersebut)!”

 

Kemudian Ummu Haram keluar berperang menyertai suaminya, yakni Ubadah bin Shamit RA bersama pasukan angkatan laut yang pertama kali diberangkatkan di bawah kepemimpinan Mu’awiyah. Sekembalinya dari peperangan tersebut, mereka singgah di Syam, lalu diserahkan kepadanya seekor kuda tunggangan. Kuda tunggangan tersebut membuatnya jatuh, hingga ia meninggal.

 

(HR. Bukhari No. 2799 dan Muslim No.  1912)

 

JADI SILAHKAN BANDINGKAN…

 

KITAB NAHJUL BALAGHAHNYA AJA DI POTONG SENDIRI.. BAGAIMANA DENGAN KITAB SUNNI…

 

WALLAHU’ALAM DAN WASSALAM

Kategori:Sahabat Tag: