Arsip

Posts Tagged ‘Fiqh’

Screen Shoot dari akun Aditya Riko 21

Abu Ahmad Muhammad ibn Ziyad al-Azdi berkata :

Aku mendengar Malik ibn Anas seorang faqih Madinah berkata ,”Aku mendatangi al-Shadiq Ja’far ibn Muhammad ‘alaihimassalam. Kemudian dia memberikan bantal sandaran untukku dan menunjukkan sikap hormat kepadaku kemudian berkata : “Wahai Malik, sungguh aku menyukaimu” Maka aku menjadi gembira dengan hal itu dan aku memuji Allah ta’ala karenanya.
Malik berkata : Dan dia (al-Shadiq) adalah seorang yang tidak pernah meninggalkan satu pun dari tiga kebiasaan : puasa, mendirikan shalat dan dzikr. Dia adalah termasuk dari para ahli ibadah besar, para zuhud besar yang sangat takut kepada Allah ‘azza wa jalla. ….dst…

Ref : ‘Ilal al-Syarai’ karya syaikh Shaduq, cetakan Darul Murtadha, Beirut

Dari riwayat diatas dapat kita catat hal-hal berikut ini :
1. Pengakuan bahwa Imam Malik ibn Anas adalah seorang faqih Madinah.
2. Imam Ja’far al-Shadiq menyukai Imam Malik sebagai muridnya.
3. Imam Malik mempunyai hubungan dekat dengan Imam Ja’far al-Shadiq, sehingga Imam Malik mengetahui kebiasaan-kebiasaan terpuji yang dimiliki oleh Imam Ja’far al-Shadiq.

Sebagaimana diketahui, Imam Malik ini salah satu ulama besar yang meninggalkan sebuah kitab ilmu yang yang sudah terkenal, dimana didalamnya terdapat riwayat-riwayat yang berasal dari Imam Ja’far al-Shadiq, yaitu kitab al-Muwaththa’. Oleh karena itu, jika dkatakan bahwa Imam Malik mewarisi ilmu Imam Ja’far al-Shadiq, hal tersebut didukung oleh kisah Syaikh Shaduq diatas, ditambah lagi bukti fisik berupa kitab al-Muwaththa’ yang sudah tersebar di seluruh penjuru dunia pendidikan Islam. Dan dari kitab itulah kita dapat mengetahui ilmu-ilmu seperti apa yang didapatkan Imam Malik dari Imam Ja’far tersebut.

Mari kita lihat contoh-contoh ilmu yang didapat oleh Imam Malik dari Imam Ja’far yang ada di dalam kitab al-Muwaththa’ :

Pertama :

وحدثني عن مالك عن جعفر بن محمد بن علي عن أبيه أن عمر بن الخطاب ذكر المجوس فقال ما أدري كيف أصنع في أمرهم فقال عبد الرحمن بن عوف أشهد لسمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول سنوا بهم سنة أهل الكتاب
http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=7&ID=197&idfrom=637&idto=640&bookid=7&startno=1

Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Ja’far ibn Muhammad, dari ayahnya bahwa Umar ibn al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menyebut orang Majuzi, kemudian berkata : Aku tidak tau bagaimana aku harus lakukan terhadap mereka ? Maka Abdurrahman ibn Auf berkata : Aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan terhadap ahl al-kitab.

Kedua :
حدثني يحيى عن مالك عن جعفر بن محمد عن أبيه عن جابر بن عبد الله أنه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم رمل من الحجر الأسود حتى [ ص: 284 ] انتهى إليه ثلاثة أطواف قال مالك وذلك الأمر الذي لم يزل عليه أهل العلم ببلدنا
http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=860&idto=864&bk_no=7&ID=268

Telah menceritakan kepadaku Yahya, dari Malik, dari Ja’far ibn Muhammad dari ayahnya dari Jabir ibn Abdullah bahwa dia berkata : aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlari-lari kecil dari al-hajar al-aswad sampai berakhir kembali di hajar aswad tiga kali putaran. Malik berkata : dan ditulah yang senantiasa dilakukan oleh ahli ilmu di negeri kami.

Dari contoh diatas, terlihat bahwa Imam Malik mengambil ilmu dari Imam Ja’far, dan selanjutnya ternyata didapatkan bahwa Imam Ja’far pun mengambil ilmu TIDAK SELALU dari jalur “khusus”, tetapi justru ayahnya Imam Ja’far mengambil ilmu dari para shahabat Nabi. (dari contoh diatas adalah Abdurrahman ibn ‘Auf dan Jabir ibn ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma).

Oleh karena itu ketika kaum syiah yang melabeli dirinya sebagai syiah ahl al-bait, atau juga pengikut madzhab Ja’fari, yang mengatakan bahwa para imamnya adalah orang ma’shum yang hanya mengambil ilmu dari orang ma’shum juga, hal tersebut bertentangan dengan apa yang ada di dalam al-Muwaththa’.

Maka bukti apakah yang akan dibawa oleh kaum syiah untuk mendukung klaimnya tsb, dan jika ada, apakah buktinya sanggup mengungguli al-Muwaththa’, kitab yang disusun oleh seorang Ulama yang hidup di masa Imam Ja’far, yang kepadanya Imam Ja’far mengatakan : “Wahai Malik, sungguh aku menyukaimu”. ?

Iklan

Note dari akun Awi Sirep 37

penipuan ala jidad oli alias JJIHAD ALI – 4 – menuduh Imam Hanafi melegalkan pelacuran..

by Awi Sirep on Friday, July 16, 2010 at 12:28am ·

Terpaksa ane loncat sini dulu.. sabab udah keterlaluan kelakuan si jidad ali..

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’ : 32)

Dalam ilmu fiqh.. definisi berzina adlh.. dua insan sejoli melakukan hubungan pernikahan diluar PERNIKAHAN YANG SAH..

Apakah hukuman melakukan perzinahan… maka secara tegas Nabi SAW sdh mengajarkan bahwa hukuman kepada orang yg melakukan perzinahan atau hukum hadnya

jika kedua orang itu belum menikah maka keduanya dicambuk.. tapi jika sudah menikah maka dirajam.. itu adlah hukuman yg setimpal..

Hukum HAD sendiri adlh hukuman yg sudah ditetapkan pada KASUS MAKSIAT kadar besarnya sesuai yg dicontohkan Nabi SAW hanya KHUSUS maksiat itu…

selain hukum ada.. dalam istilah fiqh.. dikenal hukum ta’zir.. ta’zir bermakna pencegahan..

Secara syar‘î, TA’ZIR BERMAKNA SANKSI yang yang dijatuhkan atas kemaksiatan yang di dalamnya tidak ada HAD dan atau KAFARAT..

nah skrg kita lihat.. si jihad oli.. apa maksudnya menuduh IMAM HANAFI seorang ULAMA FIQH yg sangat disegani dengan menuduh melegalkan pelacuran lewat fatwanya..

lihat aja kalimat tuduhannya… http://www.facebook.com/note.php?note_id=145305952146690&ref=notif

“Kalian bisa mengumumkan marilah dengan Fatwa-fatwa tadi diatas kita buka tempat prostitusi yang mengatasnamakan Syariat Islam yang terproteksi dari ancaman hukuman menurut sang pahlawan “Abu Hanifah” Imam Pertama dari 4 Imam Ahl Sunnah”

=________________________=

LALU BAGAIMANA DENGAN FATWA2NYA IMAM HANAFI SOAL DIBAWAH INI.. YUK KITA COPAS LANGSUNG DARI NOTENYE..

رجل استأجر امرأة ليزني بها فزنى بها فلا حد عليهما في قول أبي حنيفة

Seorang laki-laki mengupah (ijarah) seorang wanita untuk berbuat zina (dengannya) kemudian si lelaki melakukan perbuatan itu maka sipelaku tidak dikenakan sangsi perzinahan (rajam atau cambuk) menurut Abu Hanifah.

http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=3302&idto=3302&bk_no=18&ID=332

Apakah ini berarti imam hanafi membolehkan PELACURAN .. eiit jangan senang dulu.. kita lanjutkan saja dulu pembahasannya..

وقال أبو محمد ذهب إلى هذا أبو حنيفة ولم ير الزنا إلا ما كان عن مطارفة وأما ما كان عن عطاء أو استئجار فليس زنا ولا حد فيه

Berkata Abu Muhammad; “Menurut Abu Hanifah masalah itu bukanlah perzinahan, namun pengupahan maka dari itu bukanlah termasuk zina”.

http://www.ahmedabaza.com/afala/fatawa3.html

Dan lagi2 Imam Hafani menegaskan bahwa ini bukan zina.. tapi pengupahan maka ANE TEGASKAN.. kasarnya IMAM HANAFI menyatakan PERSEWAAN TUBUH.. tapi apa donk.. klo BUKAN ZINA..

فأن استأجر إمرأة ليزني بها فزني بها ، وجب عليه الحد ، وكذلك إذا تزوج ذات رحم محرم ، ووطئها وهو يعتقد تحريمها وجب عليه الحد ، وقال أبو حنيفة : لا حد عليه في الموضعين جميعا.

) حلية الفقهاء في معرفةمذاهب الفقهاء لأبي بكر محمد بن احمد الشاشي القفال / ج8 / ص15(

Jika seorang pria mengupah seorang wanita untuk berzina dengannya hingga dia melakukan perbuatan tersebut, maka wajib di jatuhkan sangsi (HADD).

Dan juga jika seorang menikah dengan muhrimnya sendiri (yang diharamkan untuk di nikahi) kemudian orang tersebut menggaulinya dan dia tahu bahwa wanita itu muhrimnya (seperti ibunya atau saudarinya, Pent) maka hukuman wajib dilaksanakan atasnya.

Berkata Abu Hanifah: “Tidak dijatuhkan hukuman padanya dalam dua masalah tadi diatas”

(Lihat Hilyatul Fugaha Fi Ma’rifat Madzahib Al-Fugaha karya Abubakar Muhammad Bin Ahmad Syasyi Al-Gaffal Juz 8 hal 15)

SAMA.. IMAM HANAFI TETAP MENEGASKAN.. BAHWA ITU BUKAN ZINA BAHKAN MENEGASKAN TIDAK DIKENAKAN HADD..

ini terjemahan serampangan si jidad oli..

– Berkata Abu Hanifah: “Tidak dijatuhkan hukuman padanya dalam dua masalah tadi diatas” –

padahal arti sebenarnya adalah..

– Berkata Abu Hanifah: “tidak dijatuhkan hadd padanya dalam dua hal diatas” –

karena si penanya bertanya hukum HAD…

LALU APA DONK PENJELASANNYA.. tenang masing berlanjut…

الحنفية قالوا : إذا استأجر الرجل امرأة للزنا – فقبلت ، و وطئها ، فلا يقام الحد عليهما و يعزران بما يرى الإمام ، و عليها إثم الزنا يوم القيامة….

الفقه على المذاهب الأربعة للجزيري / كتاب الحدود – استئجار المرأة للزنا / ص1193 / الطبعة الأولى لدار ابن حزم – بيروت

(madzhab) Hanafiah berkata: “Jika seorang pria mengupah seoarang wanita umtuk berzina kemudian si wanita menyetujuinya, hingga keduanya melakukan perbuatan itu maka “HADD” (rajam/cambuk) tidak boleh dilaksanakan atas keduanya, namun keduanya di hukum Ta’ziir sesuai dengan pendapat imam kala itu. Dan keduanya menyandang dosa “perzinahan” di hari kiamat kelak.

Lihat kitab Figih Ala Madzahib Al-“Arbaah karya Al-Jaziry bab Hudud, isti’jar mar’ah lizzina hal: 1193, cetakan pertama dar ibnu Hazm-Bairut

قال الشيخ الجزيري: الحنفية – قالوا : إذا استأجر الرجل امرأة للزنا فقبلت ووطئها فلا يقام الحد عليهما ويعزران بما يرى الإمام وعليهما إثم الزنا يوم القيامة ، … .

الفقه على المذاهب الأربعة : ج 5 ص 47 .

Berkata Syeikh AlJaziry: “(madzhab) Hanafiah berkata; Jika seseorang laki-laki mengupah (ijarah) seorang wanita untuk melakukan perzinahan, lalu si wanita itu menerima dan menyetujui hingga silelaki tadi menyetubuhinya, maka HADD (sangsi seperti rajam atau cambuk) tidak di jatuhkan pada keduanya, namun keduanya di hukum Ta’zir (jenis hukuman lebih ringan dari hadd zina) sesuai dengan pendapat Imam kala itu. Tapi keduanya akan menyandang dosa Zina kelak di hari Kiamat….

(lihat Figih Ala Madzahib Al-Arbaah juz 5 hal 47)

SAMA.. IMAM HANAFI TETAP MENEGASKAN.. BAHWA ITU BUKAN ZINA DAN TIDAK DIKENAKAN HUKUMAN HAD.. TAPI HUKUM TA’ZIR

tapi si jidad ali sudah serampangan ngasih tanda kurung.. dengan seenak perutnya dia mengartikan hukum ta’zir dengan kalimat .. jenis hukuman lebih ringan dari hadd zina…

sok tau banget ya.. tapi tolong jelaskan donk…

NAH INI JAWABANNYA … YAITU HUKUM TA’ZIR.. tapi kata siapa hukum ta’zir lbh ringan dari hukum HAD..

kita balik ke soal ini..

Pertanyaan…

Jika seorang pria mengupah seorang wanita untuk berzina dengannya hingga dia melakukan perbuatan tersebut, maka wajib di jatuhkan sangsi (HADD).

Dan juga jika seorang menikah dengan muhrimnya sendiri (yang diharamkan untuk di nikahi) kemudian orang tersebut menggaulinya dan dia tahu bahwa wanita itu muhrimnya (seperti ibunya atau saudarinya, Pent) maka hukuman wajib dilaksanakan atasnya.

KENAPA PERTANYAAN INI MUNCUL..

KARENA TEGAS2 DALAM FIQH MAHZAB HANAFI.. PERLACURAN DAN INCEST BUKANLAH ZINA YG MANA HUKUMAN JELAS YAITU HUKUM HAD..

KARENA BAGI MAHZAB HANAFI BUKAN ZINA.. TAPI PERBUATAN INI ADALAH MAKSIAT MIRIP ZINA… MAKA HUKUMANNYA BEDA…

bukan hanya pelacuran.. perkosaan bagi mahzab hanafi bukan zina.. juga bagi tiga mahzab lainnya.. khusus kasus perkosaan.. KRN KASUSNYA.. SESEORANG DIPAKSA MELAKUKAN…

kebayang klo diterapkan hukum had.. kasihan yang diperkosa donk.. dia musti dicambuk ato dirajam juga.. maka dari itu hukum yg diterapkan bukan hukum HAD.. tapi hukum TA’ZIR..

tapi soal PELACURAN alias persewaan tubuh.. maka mahzab hanafy berbeda pendapat..

lalu adakah contohnya hukuman ta’zir itu pada masa Nabi SAW.. jelas ada..

ini contoh kasus pertama… si perempuan dilepaskan..

“Ada seorang perempuan yang diperkosa pada masa Nabi SAW, maka ia dilepaskan dari ancaman hukuman perzinahan, sementara pelakunya dikenakan hukuman”. (at-Turmudzi)

dan ini contoh kasus kedua…

sahabat Barra bin Azib ra, menyatakan: “Suatu saat aku bertemu dengan pamanku, ia sedang berjalan membawa bendera. “Mau kemana?” Ia mengatakan: “Aku diutus Rasulullah untuk mengeksekusi orang yang menikahi isteri ayahnya sendiri”. (lihat Ibn al-Atsir, Jâmi’ al-Ushûl, IV/275, no. hadits: 1829).

Dalam riwayat Ibn ‘Abbas, Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang melakukan hubungan intim dengan kerabat sedarah [mahram], maka ia pantas dibunuh”. (lihat Ibn al-Atsir, Jâmi’ al-Ushûl, IV/269, no. hadits: 1830).

WOW… HUKUMANNYA DIBUNUH DIMASA NABI SAW….

dalam fiqh ini daftar hukuman ta’zir :

Sanksi ta‘zîr dapat berupa:

(1) hukuman mati;

(2) cambuki;

(3) penjara;

(4) pengasingan;

(5) pemboikotan;

(6) salib;

(7) ganti rugi (ghuramah);

(8) peyitaan harta;

(9) mengubah bentuk barang

(10) ancaman yang nyata;

(11) nasihat dan peringatan;

(12) pencabutan sebagain hak kekayaan (hurmân);

(13) pencelaan (tawbîkh);

(14) pewartaan (tasyhîr).

dimana sesua putusan Imam atau Hakim.. pada masa itu..

untuk kasus apa ?

Kasus tazir secara umum terbagi menjadi:

(1) pelanggaran terhadap kehormatan;

(2) pelanggaran terhadap kemuliaan;

(3) perbuatan yang merusak akal;

(4) pelanggaran terhadap harta

(5) gangguan keamanan;

(6) subversi;

(7) pelanggaran yang berhubungan dengan agama.

=__________________________=

NAH INI YG MEMBEDAKAN FIQH IMAM HANAFI DIBANDING TIGA MAHZAB LAINNYA YG BERPENDAPAT

KALAU PELACURAN = PERZINAHAN MAKA HUKUMNYA HAD..

TAPI FIQH IMAM HANAFI

PELACURAN TIDAK SAMA DENGAN PERZINAHAN.. MAKA HUKUMNYA TA’ZIR BUKAN HUKUM HAD

jadi bisa dibayangkan.. kalau si jidad ali buka rumah bordil dizaman imam hanafi.. maka enggak akan berapa lama dia bakalan berhadapan dengan algojo yg siap memancung kepalanya…

Kategori:Fitnah Tag:

Note dari akun Awi Sirep 34

Mei 17, 2012 1 komentar

penipuan ala jidad oli alias JJIHAD ALI – 1 – menuduh Imam Malik menghalalkan sodomi..

by Awi Sirep on Wednesday, July 14, 2010 at 8:10am ·

si jidad oli koar menuduh imam bukhari mlakukan manipulasi yg kejujurannya tdk diragukan lagi…

http://www.facebook.com/note.php?note_id=144536615556957

ane coba bahas atu2.. maklum.. banyak bangetnih catatan si jidad oli.. ntah dari mane dia dptnya bisa scepat ntu bikin note2.. gak pake mikir yaa jidad.. tapi pastinye isinya PENIPUAN smuanye.. heheheh…

ane gak akan bhas smuanye.. yg ane bhasa yg dia tuduhkan sama sahabat Umar ra dan imam malik..

Ummu Salamah ra berkata: “Ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah kepada kaum Anshar, maka mereka menikahi wanita-wanita Anshar. Kaum Muhajirin (para wanitanya) biasa berposisi ‘telungkup’ (ketika bercampur), sedangkan para wanita Anshar tidak pernah melakukannya. Suatu ketika seorang Muhajirin hendak menginginkan isterinya (wanita Anshar) berposisi demikian, ia menolaknya hingga (pergi) bertanya kepada Rasulullah SAW. Kemudian ia datang kepada beliau, tetapi malu untuk menanyakannya, maka Ummu Salamahlah yang bertanya kepada beliau, kemudian turunlah ayat,

“Artinya : Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki…” [Al-Baqarah : 223]

Beliau SAW menjawab, “Tidak dilarang, kecuali pada satu jalur yaitu dubur.”

(HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Abu Dawud pada kitab an-Nikahh, maksudnya semua posisi halal tapi diharamkan pada dubur)

Pada notenye si jidad oli menulis catatan.. plus screenshot kitab..

tapi dia kgk berani mnghadirkan arabnya kisah imam malik dibawah.. yg kenyataannya udeh dia tambah2..

“Pada suatu hari Sahil telah bertanya pada Imam Malik tentang persetubuhan dengan istri melalui duburnya adakah itu dbenarkan?

Imam Malik berkata “aku baru saja membersihkan kemaluanku daripadanya/aku telah meliwat istriku dan aku baru saja membersihkan kotorannya dari kemaluanku”
(Al-Qurtubi, dalam Jami’ Al-Ahkam bab 1, hal 352, tafsir ayat Al-Harth (2;223).”

ane tantang dia supaya hadirkan arabnya.. kenyataannya… bkn sperti ntu kisahnya…

Sahil bertanya pada imam malik soal mendatangi dari belakang.. imam malik berkata, “aku baru saja melakukannya dan aku membersihkan kemaluanku”

Bandingkan… mungkinkah imam malik mengatakan.. “baru membersihkan lalu membersihkan lagi..”. dng kalimat imam malik yg sebenarnya…

=______________________=

beda dgn fatwa2 ala ayatullah syiah… seperti si ali syistani yg jelas2 dia berfatwa:… saat isteri haidh maka lewat anus adlh hukumnya makruh…

juga mutah dng pelacur adlh boleh..

“Pertanyaan: Suatu hari saya pergi ke night club, kemudian ada seorang pelacur meminta kepada saya uang sebesar 100 USD, dan saya pun memberikannya. Kemudian ia berkata kepada saya: “Saya mut’ahkan tubuh saya seluruhnya sebagai balasan atas uang ini. Namun hanya untuk sehari saja.” Apakah hal itu dapat dinilai sebagai Nikah Mut’ah?”

Ayatullah Uzhma al Imam ar Rohani menjawab:

Dengan nama-Nya yang Mulia, Jika yang dia katakan itu dengan tujuan untuk menjalin perkawinan, dan engkau kemudian berkata kepadanya setelah dia berkata seperti: “aku terima akadnya seperti itu”, maka itu berarti telah terjadi Perkawinan Mut’ah.

http://www.istefta.com/ans.php?stfid=7573&subid=20

=_____________________________=

Bagaimana dengan hadits dari Umar bin Khatab RA… maka si jidad oli melakukan PEMOTONGAN HADITS…

INILAH HADITS YG LENGKAPNYA…

Ibnu ‘Abbas ra, ia mengatakan: Umar bin Khatab datang kepada Rasulullah SAW sambil mengatakan: “Wahai Rasulullah, aku binasa.” Beliau bertanya: “Apa yang membinasakanmu?” Ia menjawab: “Aku mencampuri isteriku dari arah belakangnya, tetapi tidak ada wahyu mengenainya.” Maka Allah mewahyukan kepada Rasulullah SAW ayat ini.

“Artinya : Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki…’ [Al-Baqarah : 223]

Beliau SAW menjawab, “Lakukan lewat depan dan belakang, serta jauhilah dubur dan (isteri) yang sedang haidh.”

(HR. At-Tirmidzi dalam kitab Tafsir al-Qur’an, Ahmad)

DAN BUAT PENGAGUM ALI SISTANI YG SUKA BENAR-BENAR “MAIN BELAKANG” .. noh hadits ancaman dari Nabi SAW buat kalian..

bnu ‘Abbas ra, ia mengatakan: Rasulullah SAW bersabda,

“Allah tidak (akan) memandang kepada seorang pria yang bercampur dengan pria lainnya atau (bercampur dengan) wanita pada duburnya.”

(HR. At-Tirmidzi dalam kitab ar-Radha’)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang mencampuri wanita (isteri) yang sedang haidh atau (mencampuri) wanita pada duburnya, atau (mendatangi) dukun, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa (wahyu) yang diturunkan pada Muhammad.”

(HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah)

Kategori:Fitnah Tag:,

Note dari akun Dodi ElHasyimi 2

Fiqh Hanafiy digugat oleh Kaum ROFIDHOH…!!!!

by Dodi ElHasyimi on Friday, May 13, 2011 at 10:19am ·

Ini Ada Makhluk Rofidhoh, gak ada angin gak ada hujan…eeee,, tiba2 menulis catatan dan mengajukan permasalahan yg berhubungan dengan Fiqh Hanafiyyah…..kemudian ditujukan kepada Ane,, Qiqiqiqiqi……yo wes lah…!! daripada nganggur dan itung2 ngajarin dia memahami kaidah2 istinbath hukum pada madzhab Hanafi..Ane jawab tulisan dia dibawah ini :

 

DODOD (DODY ELHASYIM) MAO TANYE NEH, BENER KAGAK NEH FIQIH HANAFI ??? XIXI

oleh Malik Al-Asytar pada 11 Mei 2011 jam 18:41

@Dodi Elhasyim..Bantuin jawab yeh…

1. Nyemplung di drum nyang isinye Nabidz (sejenis wine [khamr] dari sari korma) memabokkan. Maksudnye, menurut Abu Hanipah bahwa Nabidz itu suci dan bisa buat wudhu’ dan menurut djie juga bahwa “tertib” dalam wudhu kagak harus. Mangkenye djie nyemplung di drum nyang isinya wine tadi, dan itu wudhunye… bener kagak begonoh dod ??? xixi

وعن أبي حنيفة كقول عكرمة وقيل عنه : يجوز الوضوء بنبيذ التمر ، إذا طبخ واشتد ، عند عدم الماء في السفر ; لما روى { ابن مسعود ، أنه كان مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة الجن ، فأراد أن يصلي صلاة الفجر ، فقال : أمعك وضوء ؟ فقال : لا ، معي إداوة فيها نبيذ . فقال : تمرة طيبة وماء طهور } .

http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=15&ID=4

2. Terus Wan Abu Hanipah nganggap “suci”  kulit anjing nyang udeh di samak. Jadi bisa buat nutupin Auratnye dengan kulit anjing kalau djie sholat, nah terus boleh donk dod kalo ntuh kulit anjing dibikin sarung ato gamis ??? xixix

[ ص: 57 ] وقال أبو حنيفة : يطهر جلد الكلب دون الخنزير استدلالا بعموم قوله عليه السلام :

” أيما إهاب دفي فقد طهر ” ، ولأنه حيوان يجوز الانتفاع به حيا فجاز أن يطهر جلده بالدباغ كالبغل ، والحمار

http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?flag=1&bk_no=94&ID=12

3. Takbiratul Ihram kagak harus pake bahase arab, bise dengan bahasa ape aje seperti bahase India, Cina, Persia, Jawa, Madura, Asmat, Dayak atau bahase Sunda “Gusti Nu Ageung” maksudnye “Allahu Akbar” menurut djie walopun djie bise pake Bahasa Arab. Bener begonoh dod ??? xixi

قال أبو حنيفة: إنه يجزئ التكبير بغير العربية، لقول الله تعالى: {وذكر اسم ربه، فصلى} [الأعلى:15/87]، وهذا قد ذكر اسم ربه

http://www.hadielislam.com/arabic/index.php?pg=articles%2Fprint&id=8177&print=1

4. Kagak  harus bace Surah Al-Fatihah alias bise diganti ame bacaan laen. Pegimane dod ??? xixix

قال أبو حنيفة : لا تجب قراءة الفاتحة .

http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=195&idto=208&bk_no=132&ID=53

5. Kagak perlu salam akhir.. Jd kl bace Tahiyatnye udeh selesai boleh langsung loncat yeh dod ??? xixi

قال أبو حنيفة: لا يجب السلام، ولاهو من الصلاة، بل إذا قعد قدر التشهد، ثم خرج من الصلاة بما ينافيها من سلام، أوكلام، أوحدث، أوقيام، أوفعل، أوغير ذلك أجزأه، وتمت صلاته. وحكاه الشيخ أبوحامد عن الأوزاعي، واحتج بحديث المسئ صلاته، وبحديث ابن مسعود رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم علَّم التشهد، وقال:”إذا قضيت هذا فقد تمت صلاتك إن شئت أن تقوم فقم، وإن شئت أن تقعد فاقعد”

http://www.islamadvice.com/ibadat/ibadat52.htm

Jadi dod Ringkasnye: nyemplung di drum isi Nabidz (Wine) trus pake kulit anjing nyang di samak, takbir pake bahasa mexico, kaga fatehah dan di akhir dia kagak salam katanye sih ntuh orang dah selesai ngelakuin sholatnye…..dan SAH……Bener kagak dod ??? xixix

الكتب-المغني لابن قدامة-كتاب الطهارة-باب ما تكون به الطهارة من الماء-فصل غير النبيذ من المائعات غير.

http://www.islamweb.net

ALLAHUMMA SHALLI ALA MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD

JAWABAN : NO. 1

 

Nabidz itu tidak semuanya najis, tapi juga ada yg suci….liat dikitab2 Syiah dibawah ini, mereka juga minum nabidz dan mengatakan adanya nabidz yg suci :

الاستبصار للشيخ الطوسي – (ج 1 / ص 48)

اخبرنا (1) به الشيخ رحمه الله عن أبي القاسم جعفر بن محمد بن قولويه عن محمد بن يعقوب عن الحسين بن محمد عن معلى بن محمد، وعدة من أصحابنا عن سهل بن زياد جميعا عن محمد بن علي الهمداني عن علي بن عبد الله الخياط (2) عن سماعة بن مهران عن الكلبي النسابة انه سأل أبا عبد الله عليه السلام عن النبيذ فقال حلال فقال انا ننبذه فنطرح فيه العكر

Ini juga Riwayat yg menghalalkan Nabidz :

الاستبصار للشيخ الطوسي – (ج 1 / ص 221)

4663 فأما ما رواه احمد بن محمد بن عيسى عن علي بن الحكم عن سيف بن عميرة عن أبي بكر الحضرمي قال: قلت: لابي عبد الله عليه السلام أصاب ثوبي نبيذ اصلي فيه قال: نعم قلت: له قطرة من نبيذ قطرت في حب أشرب منه قال: نعم إن أصل النبيذ حلال وإن أصل الخمر حرام.

Ini juga Riwayat yg menghalalkan Nabidz :

تهذيب الأحكام – (ج 1 / ص 272)

(629) 12 ما أخبرني به الشيخ أيده الله تعالى عن ابي القاسم جعفر ابن محمد عن محمد بن يعقوب عن الحسين بن محمد عن معلي بن محمد وعدة من أصحابنا عن سهل بن زياد جميعا عن محمد بن علي الهمداني عن علي بن عبد الله الحناط عن سماعة بن مهران عن الكلبي النسابة انه سأل أبا عبد الله عليه السلام عن النبيذ فقال: حلال، فقال إنا ننبذه فنطرح فيه العكر (1) وما سوى ذلك فقال شه شه (2) تلك الخمرة المنتنة قال قلت جعلت فداك فأي نبيذ تعني ؟ فقال: إن أهل المدينة شكوا إلى رسول الله صلى الله عليه وآله تغير الماء وفساد طبائعم فامرهم أن ينبذوا فكان الرجل يأمر خادمه أن ينبذ له فيعمد إلى كف من تمر فيقذف به في الشن فمنه شربه ومنه طهوره، فقلت وكم كان عدد التمر الذي في الكف ؟ فقال: ما حمل الكف، قلت واحدة أو ثنتين ؟ فقال: ربما كانت واحدة وربما كانت ثنتين، فقلت وكم كان يسع الشن ؟ فقال: ما بين الاربعين إلى الثمانين إلى فوق ذلك، فقلت باي الارطال ؟ فقال: ارطال مكيل العراق.

Kalo pengin tau apa itu Nabidz, bagaimana Taqiyyah dalam permasalahan ini, bagaimana pembagian Nabidz dan hukum Nabidz baca disini :

تهذيب المقال – (ج 5 / ص 290)

وأدنى التقية رميهم بما يعانده الشيعة ونحوه، ولو يضرب من التأويل، وأن لا يقاربوه، وقد عرفت الشيعة بين المسلمين وغيرهم وأشتهروا بتحريمهم، تبعا للأئمة (عليهم السلام)، لكل مسكر، نبيذ أو غيره. فإسناد شرب النبيذ الأعم من المسكر، كما يأتي إلى أبي حمزة، من أحسن وجوه حفظ دمه، وتبعيده عن أئمة الشيعة (عليهم السلام)، وإستعمال التقية فيه. هذا كله مع أنه لو صح إسناد شرب النبيذ إلى أبي حمزة فلا يكون من إسناد الحرام إليه، فليس كل نبيذ مسكرا، ولا حراما، كما ستعرفه الآن، فلا يصح الطعن فيه أبدا. السادس: إنه ليس كل نبيذ مسكرا، ولا حراما، ولا يكون شاربه فاسقا. فإن النبيذ لغة هو القليل من الشئ يطرح في ماء أو غيره، وشرعا هو التمر والزبيب ونحوهما ينبذ في الماء لإصلاحه. ولا يكون كل نبيذ مسكرا، حتى يكون حراما، فإن المسكر منه حرام. وإنما المسكر ما ينش بالهواء أو يغلي بالنار، أو يلقى فيه شئ يغليه ويعكره كالعكر، على ما في روايات عديدة، فإذا نش أو غلى أو طرح فيه شئ كالعكر منها، حرم قليله وكثيره، وإن القي عليه ماء كثير. بل يظهر من بعض الروايات أنه كان شرب النبيذ متعارفا في صدر الإسلام، وإنما أفسد الأمراء وأتباعهم بشرب المسكر منه، وهو ما إذا نش، فلا يحل إلا أن يصير خلا، أو ما غلى بالعكر ونحوه، فلا يحل أبدا، أو ما اغلي بالنار ولم يذهب ثلثاه، فإذا ذهب الثلثان وبقي الثلث حل. والنبيذ الذي لم ينش ولم يغل بالنار ولم يطرح فيه ما

Bahkan ini ada riwayat bahwa peminum Nabidz yg sudah masuk kategori khomer, orang tsb bernama As Sayyid bin Muhammad Al Humairy diampuni oleh Allah, karena dia pecinta Imam Ali :

اختيار معرفة الرجال – (ج 2 / ص 152)

قال: حدثني علي بن اسماعيل، قال: أخبرني فضيل الرسان، قال: دخلت على أبي عبد الله عليه السلام بعد ما قتل زيد بن علي رحمة الله عليه، فأدخلت بيتا جوف بيت فقال لي: يا فضيل قتل عمي زيد ؟ قلت: نعم جعلت فداك. قال: رحمه الله أنه كان مؤمنا وكان عارفا وكان عالما وكان صادقا، أما أنه لو ظفر لوفى، أما أنه لو ملك لعرف كيف يضعها، قلت: يا سيدي ألا أنشدك شعرا ! قال: أمهل، ثم أمر بستور فسدلت وبأبواب ففتحت، ثم قال أنشد، فأنشدته: لام عمرو باللوى مربع * طامسة أعلامه بلقع لما وقفت العيس في رسمه * والعين من عرفانه تدمع ذكرت من قد كنت أهوى به * فبت والقلب شج موجع عجبت من قوم أتوا أحمدا * بخطة ليس لها مدفع قالوا له لو شئت أخبرتنا * الى من الغاية والمفزع إذا توليت وفارقتنا * ومنهم في الملك من يطمع فقال لو أخبرتكم مفزعا * ماذا عسيتم فيه أن تصنعوا صنيع أهل العجل إذ فارقوا * هارون فالترك له أودع فالناس يوم البعث راياتهم * خمس فمنها هالك أربع قائدها العجل وفرعونها * وسامري الامة المفظع ومخدع من دينه مارق * أخدع عبد لكع أوكع وراية قائدها وجهه * كأنه الشمس إذا تطلع قال: فسمعت نحيبا من وراء الستر، فقال: من قال هذا الشعر ؟ قلت: السيد ابن محمد الحميري، فقال: رحمه الله، قلت: اني رأيته يشرب النبيذ، فقال: رحمه الله، قلت: اني رأيته يشرب نبيذ الرستاق، قال: تعني الخمر ؟ قلت: نعم، قال: رحمه الله وما ذلك على الله أن يغفر لمحب علي.

KESIMPULAN : Jadi sebelum ngomong Nabidz, pelajari dulu dech apa itu Nabidz dan liat dulu ajaran ulama2 Rofidhoh mengenai Nabidz…jadi kagak ade gunanye LOE bahas ini LIK !!! JERUK MAKAN JERUK…!!!! ^_^

JAWABAN NO. 2

Kalangan Hanafiyyah menganggap Anjing itu bukan najis ‘Ain, karena bisa dimanfaatkan untuk penjagaan dan berburu. Sedangkan Air liurnya dan apa2 yg kembali kepadanya adalh najis, maka (menurut mereka) air liur tidak dapat diqiyaskan kepada bagian tubuhnya yg lain, maka wadah yg dijilat oleh anjing harus dibasuh tujuh kali, karena ada hadis :

إذا شرب الكلب في إناء أحدكم فليغسله سبعاً

“Ketika ada anjing meminum ke dalam suatu wadah maka basuhlah 7 kali.”

Dan hadis :

طُهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب

“Sucikan wadah salah seorang diantara kamu ketika di jilat anjing dengan caramembasuhnya 7 kali yg salah satunya dicampur dengan debu.”

Keterangan dapat dibaca disini :

الفقه الإسلامي وأدلته – (ج 1 / ص 262)

1  – الكلب:

الأصح عند الحنفية، أن الكلب ليس بنجس العين؛ لأنه ينتفع به حراسة واصطياداً، أما الخنزير فهو نجس العين، لأن الهاء في الآية القرآنية: {فإنه رجس} [الأنعام145/6]منصرف إليه، لقربه. وفم الكلب وحده أو لعابه ورجيعه هو النجس، فلا يقاس عليه بقية جسمه، فيغسل الإناء سبعاً بولوغه فيه (2) ، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «إذا شرب الكلب في إناء أحدكم فليغسله سبعاً» ولأحمد ومسلم: «طُهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب» (3) .

Kemudian menurut Hanafiyyah : Kulit binatang itu tidak najis karena ada hadis :

أخرج الدار قطني: « إنما حرم رسول الله صلّى الله عليه وسلم من الميتة لحمها، فأما الجلد والشعر والصوف، فلا بأس به

“Sesungguhnya Rasulullah SAW mengharamkan daging bangkai, SEDANGKAN KULIT, rambut, bulu maka tidak apa-apa.”

KESIMPULAN : Jadi ngapain ente pusing dengan hasil Ijtihad mereka ???? cape dech !!!!

JAWABAN : NO. 3

Terjadi perbedaan dikalangan Hanafiyyah mengenai masalah Takbirotul Ihrom, menurut Abu Yusuf dan Muhammad ( keduanya murid utama Imam Abu Hanifah) Takbirotul Ihrom tidak mencukupi (tidak sah) menggunakan selain bahasa Arab, kecuali bagi yg tidak mampu mengucapkannya dengan baik (sebagaimana pendapat Syafiiyah). Lihat disini :

الفقه الإسلامي وأدلته – (ج 2 / ص 12)

أما الصاحبان فقالا كالشافعية: إن كان لا يحسن العربية أجزأه غيرها، فإن كان يحسنها وكبر بغير العربية لا يجزئه لقوله صلّى الله عليه وسلم : «صلوا كما رأيتموني أصلي» (1) .

Sedang menurut Imam Ab u Hanifah sendiri boleh menggunakan selain bahas Arab….mengapa ??? karena menurut ijtihad beliau, Takbirotul Ihrom bukan rukun sholat, tapi syarat sholat, jadi takbirotul ihrom itu diluar solat, karena ada firman Allah Ta’ala :

الفقه الإسلامي وأدلته – (ج 2 / ص 11)

{وذكر اسم ربه، فصلى} [الأعلى:15/87]، وهذا قد ذكر اسم ربه.

15. dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.

Maka menurut beliau yg penting menyebut nama Allah sudah cukup (meski menggunakan Bahasa apapun juga). Keterangan dapat dilihat disini :

وقال أبو حنيفة وأبو يوسف: التحريمة شرط، لا ركن، وقولهما هو المعتمد لدى الحنفية، لقوله تعالى: {وذكر اسم ربه فصلى} [الأعلى:87/15] قالوا: المراد بالذكر هنا التحريمة، وهي غير الصلاة، بدليل العطف عليها، والعطف يقتضي المغايرة، ولأن حديث علي السابق «وتحريمها التكبير» أضيف التحريم فيه إلى الصلاة، والمضاف غير المضاف إليه؛ لأن الشيء لا يضاف إلى نفسه.

Link Nash ibarat untuk soal no. 3..dapat dilihat disini : http://www.hadielislam.com/arabic/index.php?pg=articles%2Fprint&id=8177&print=1

JADI NGAPAIN RIBUT LIK…???? INI KHAN HASIL IJTIHAD BELIAU, SALAH APA GAK WALLOHU A’LAM…..

JAWABAN NO. 4

Menurut ijtihad Imam Abu Hanifah (kalangan Hanafiyyah)membaca Al Fatihah dalam Solat Hukumnya tidak wajib, karena berdasar pada keumuman/kemutlakan perintah pada Firman Allah Ta’ala :

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآَنِ [المزمل/20]

“Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran”

Serta hadis Bukhory Muslim :

{ إذَا قُمْت إلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ، ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَك مِنْ الْقُرْآنِ }

“Ketika Engkau berdiri untuk sholat, maka sempurnakanlah wudhumu, lalu menghadaplah kiblat, kemudian bacalah ayat Al Quran yg mudah bagimu.”

Disini Allah dan RasulNYA memerintahkan untuk membaca ayat Al Quran secara mutlak, maka Nash Kitab (Al Quran) yg Qoth’i yg telah mencocoki Nash pada sunnah, maka (menurut mereka) tidak boleh mengqoyyidi Nash Kitab yg Qoth’i dengan Nash sunnah yg Dhonni yg telah tsubut. Ringkasnya, menurut mereka nash dhonni yg berupa hadis ahad yg mewajibkan fatihah yaitu :

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak sah solat orang yg tidak membaca Fatihatul Kitab.”

Hadis ahad ini tidak dapat dijadikan Hujjah untuk menasakh (menghapus hukum) pada Kemutlakan Nash Kitab, bahkan yg terjadi adalah sebaliknya.

Bahkan telah tsabit tentang kebiasaan membaca Al Fatihah dan hal ini bukanlah hujjah untuk menentukannya(mewajibkannya) pada kefarduan. Jadi meninggalkan Fatihah hanya mewajibkan sujud syahwi untuk menambak kekurangan (kecacatan).

Semua keterangan diatas dapat dibaca dalam kitab2 dibawah ini :

البحر الرائق – (ج 3 / ص 172)

( قَوْلُهُ وَوَاجِبُهَا قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ ) وَقَالَتْ الْأَئِمَّةُ الثَّلَاثَةُ إنَّهَا فَرْضٌ لِمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ } وَلَنَا قَوْله تَعَالَى { فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْ الْقُرْآنِ } وَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إذَا قُمْت إلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ، ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَك مِنْ الْقُرْآنِ } فَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ مُطْلَقًا وَوَافَقَ نَصَّ الْكِتَابِ الْقَطْعِيِّ نَصُّ السُّنَّةِ فَلَا يَجُوزُ تَقْيِيدُ نَصِّ الْكِتَابِ الْقَطْعِيِّ بِمَا رَوَاهُ مِنْ السُّنَّةِ مَعَ مَا فِيهِ مِنْ كَوْنِهِ ظَنِّيَّ الثُّبُوتِ وَالدَّلَالَةِ أَوْ ظَنِّيَّ الثُّبُوتِ فَقَطْ بِنَاءً عَلَى أَنَّ النَّفْيَ مُتَسَلِّطٌ عَلَى الصِّحَّةِ ؛ لِأَنَّ تَقْيِيدَ إطْلَاقِ نَصِّ الْكِتَابِ بِخَبَرِ الْوَاحِدِ نَسْخٌ لَهُ وَخَبَرُ الْوَاحِدِ لَا يَصْلُحُ نَاسِخًا لِلْقَطْعِيِّ بَلْ يُوجِبُ الْعَمَلَ بِهِ ، وَأَيْضًا ثَبَتَ عَنْهُ الْمُوَاظَبَةُ عَلَى قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ فِيهَا ، وَلَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى تَعْيِينِهَا لِلْفَرْضِيَّةِ ، وَالْمُوَاظَبَةُ وَحْدَهَا كَذَلِكَ مِنْ غَيْرِ تَرْكٍ ظَاهِرًا تُفِيدُ الْوُجُوبَ فَلَا تَفْسُدُ الصَّلَاةُ بِتَرْكِهَا عَامِدًا أَوْ سَاهِيًا بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ سُجُودُ السَّهْوِ جَبْرًا لِلنُّقْصَانِ الْحَاصِلِ بِتَرْكِهَا سَهْوًا ، وَالْإِعَادَةُ فِي الْعَمْدِ وَالسَّهْوِ إذَا لَمْ يَسْجُدْ لِتَكُونَ مُؤَدَّاةً عَلَى وَجْهٍ لَا نَقْصَ فِيهِ فَإِذَا لَمْ يُعِدْهَا كَانَتْ مُؤَدَّاةً أَدَاءً مَكْرُوهًا كَرَاهَةَ تَحْرِيمٍ ، وَهَذَا هُوَ الْحُكْمُ فِي كُلِّ وَاجِبٍ تَرَكَهُ عَامِدًا أَوْ سَاهِيًا ، وَبِهَذَا ظَهَرَ ضَعْفُ مَا فِي الْمُجْتَبَى مِنْ قَوْلِهِ : قَالَ أَصْحَابُنَا إذَا تَرَكَ الْفَاتِحَةَ فِي الصَّلَاةِ يُؤْمَرُ بِإِعَادَةِ الصَّلَاةِ ، وَلَوْ تَرَكَ قِرَاءَةَ السُّورَةِ لَا يُؤْمَرُ بِالْإِعَادَةِ ا هـ .

الاختيار لتعليل المختار – (ج 1 / ص 61-62)

فصل

( القراءة فرض في ركعتين ) لقوله تعالى : ) فاقرؤوا ما تيسر من القرآن ( [ المزمل : 20 ]

ولا يفترض في غير الصلاة فتعين في الصلاة . وقال عليه الصلاة والسلام : ‘ القراءة في

الأوليين قراءة في الأخريين ‘ أي تنوب عنها كقولهم : لسان الوزير لسان الأمير ( سنة في

الأخريين ، وإن سبح فيهما أجزأه ) وقد بيناه . قال : ( ومقدار الفرض آية في كل ركعة ) وقالا :

ثلاث آيات قصار أو آية طويلة تعدلها ، لأن القرآن اسم للمعجز ولا معجز دون ذلك . وله

قوله تعالى : ) فاقرؤوا ما تيسر منه ( [ المزمل : 20 ] من غير تقييد ، وما دون الآية خارج

فبقي ما وراءه ، ولا يفترض قراءة الفاتحة في الصلاة لإطلاق ما تلونا ، وقوله عليه الصلاة

والسلام : ‘ لا صلاة إلا بفاتحة الكتاب ‘ إلى غيره من الأحاديث أخبار آحاد لا يجوز نسخ

إطلاق الكتاب بها فيحمل على الوجوب دون الفرضية كما قلنا ( والواجب الفاتحة والسورة أو ثلاث آيات ) لأن النبي ( صلى الله عليه وسلم ) واظب على ذلك من غير ترك ، ولذلك وجب سجود السهو بتركه ساهيا

JADI PERMASALAHAN2 INI ADALAH IKHTILAF DALAM MASALAH FURU’ YG GAK MEMBAHAYAKAN JUGA TIDAK MENGURANGI ADAB DAN DERAJAT DIHADAPAN MANUSIA….SO WHAT GITU LOCH …!!!!! ^_^

 

WALLOHU A’LAM…….

Kategori:Fitnah Tag: