Arsip

Posts Tagged ‘Imam Jafar Ash Shoddiq’

Screen Shoot dari akun Aditya Riko 21

Abu Ahmad Muhammad ibn Ziyad al-Azdi berkata :

Aku mendengar Malik ibn Anas seorang faqih Madinah berkata ,”Aku mendatangi al-Shadiq Ja’far ibn Muhammad ‘alaihimassalam. Kemudian dia memberikan bantal sandaran untukku dan menunjukkan sikap hormat kepadaku kemudian berkata : “Wahai Malik, sungguh aku menyukaimu” Maka aku menjadi gembira dengan hal itu dan aku memuji Allah ta’ala karenanya.
Malik berkata : Dan dia (al-Shadiq) adalah seorang yang tidak pernah meninggalkan satu pun dari tiga kebiasaan : puasa, mendirikan shalat dan dzikr. Dia adalah termasuk dari para ahli ibadah besar, para zuhud besar yang sangat takut kepada Allah ‘azza wa jalla. ….dst…

Ref : ‘Ilal al-Syarai’ karya syaikh Shaduq, cetakan Darul Murtadha, Beirut

Dari riwayat diatas dapat kita catat hal-hal berikut ini :
1. Pengakuan bahwa Imam Malik ibn Anas adalah seorang faqih Madinah.
2. Imam Ja’far al-Shadiq menyukai Imam Malik sebagai muridnya.
3. Imam Malik mempunyai hubungan dekat dengan Imam Ja’far al-Shadiq, sehingga Imam Malik mengetahui kebiasaan-kebiasaan terpuji yang dimiliki oleh Imam Ja’far al-Shadiq.

Sebagaimana diketahui, Imam Malik ini salah satu ulama besar yang meninggalkan sebuah kitab ilmu yang yang sudah terkenal, dimana didalamnya terdapat riwayat-riwayat yang berasal dari Imam Ja’far al-Shadiq, yaitu kitab al-Muwaththa’. Oleh karena itu, jika dkatakan bahwa Imam Malik mewarisi ilmu Imam Ja’far al-Shadiq, hal tersebut didukung oleh kisah Syaikh Shaduq diatas, ditambah lagi bukti fisik berupa kitab al-Muwaththa’ yang sudah tersebar di seluruh penjuru dunia pendidikan Islam. Dan dari kitab itulah kita dapat mengetahui ilmu-ilmu seperti apa yang didapatkan Imam Malik dari Imam Ja’far tersebut.

Mari kita lihat contoh-contoh ilmu yang didapat oleh Imam Malik dari Imam Ja’far yang ada di dalam kitab al-Muwaththa’ :

Pertama :

وحدثني عن مالك عن جعفر بن محمد بن علي عن أبيه أن عمر بن الخطاب ذكر المجوس فقال ما أدري كيف أصنع في أمرهم فقال عبد الرحمن بن عوف أشهد لسمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول سنوا بهم سنة أهل الكتاب
http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?bk_no=7&ID=197&idfrom=637&idto=640&bookid=7&startno=1

Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Ja’far ibn Muhammad, dari ayahnya bahwa Umar ibn al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menyebut orang Majuzi, kemudian berkata : Aku tidak tau bagaimana aku harus lakukan terhadap mereka ? Maka Abdurrahman ibn Auf berkata : Aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan terhadap ahl al-kitab.

Kedua :
حدثني يحيى عن مالك عن جعفر بن محمد عن أبيه عن جابر بن عبد الله أنه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم رمل من الحجر الأسود حتى [ ص: 284 ] انتهى إليه ثلاثة أطواف قال مالك وذلك الأمر الذي لم يزل عليه أهل العلم ببلدنا
http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=860&idto=864&bk_no=7&ID=268

Telah menceritakan kepadaku Yahya, dari Malik, dari Ja’far ibn Muhammad dari ayahnya dari Jabir ibn Abdullah bahwa dia berkata : aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlari-lari kecil dari al-hajar al-aswad sampai berakhir kembali di hajar aswad tiga kali putaran. Malik berkata : dan ditulah yang senantiasa dilakukan oleh ahli ilmu di negeri kami.

Dari contoh diatas, terlihat bahwa Imam Malik mengambil ilmu dari Imam Ja’far, dan selanjutnya ternyata didapatkan bahwa Imam Ja’far pun mengambil ilmu TIDAK SELALU dari jalur “khusus”, tetapi justru ayahnya Imam Ja’far mengambil ilmu dari para shahabat Nabi. (dari contoh diatas adalah Abdurrahman ibn ‘Auf dan Jabir ibn ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma).

Oleh karena itu ketika kaum syiah yang melabeli dirinya sebagai syiah ahl al-bait, atau juga pengikut madzhab Ja’fari, yang mengatakan bahwa para imamnya adalah orang ma’shum yang hanya mengambil ilmu dari orang ma’shum juga, hal tersebut bertentangan dengan apa yang ada di dalam al-Muwaththa’.

Maka bukti apakah yang akan dibawa oleh kaum syiah untuk mendukung klaimnya tsb, dan jika ada, apakah buktinya sanggup mengungguli al-Muwaththa’, kitab yang disusun oleh seorang Ulama yang hidup di masa Imam Ja’far, yang kepadanya Imam Ja’far mengatakan : “Wahai Malik, sungguh aku menyukaimu”. ?

Iklan

Note dari akun Awi Sirep 41

Fakta yang sangatlah jelas dari Keluarga Ahlul Bait Nabi SAW.

by Awi Sirep on Thursday, November 11, 2010 at 7:48pm ·

Ahlul Bait sungguh mulia… dengan nasab yang mulia dan Allah SWT memuliakannya dengan akhlak yang indah. Fakta yang sangatlah jelas dari Keluarga Ahlul Bait Nabi SAW.

 

Para ahlul bait Nabi mempunyai nasab yang mulia dan juga akhlak mulia. Wajib mencintai mereka.

 

“Sesungguhnya Nabi SAW memegang tangan Hasan dan Husain, sambil berkata, ‘Barangsiapa yang mencintaiku dan mencintai kedua orang ini dan ayah dari keduanya, maka ia akan bersamaku di dalam kedudukanku (surga) pada hari kiamat.’ ”

 

Sesungguhnya Abu bakar ra berkata, “Sungguh kerabat-kerabat Rasulullah SAW lebih aku cintai daripada keluargaku sendiri”.

 

=______________=

 

Fakta pergaulan para ahlul bait Nabi SAW dan dengan para sahabat dan umat islam lainnya,

 

Dari Aisyah ra, “Pernah isteri-isteri Nabi SAW berkumpul di tempat Nabi SAW. Lalu datang Fatimah r.a. sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan jalan Rasulullah SAW.

 

Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau menyambutnya seraya berkata :”Selamat datang, puteriku.” Kemudian beliau mendudukkannya di sebelah kanan atau kirinya. Lalu dia berbisik kepadanya.  Maka Fatimah menangis dengan suara keras. Ketika melihat kesedihannya, Nabi SAW berbisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum.

 

Setelah itu aku berkata kepada Fatimah : Rasulullah SAW telah berbisik kepadamu secara khusus di antara isteri-isterinya, kemudian engkau menangis!”.

 

Ketika Nabi SAW pergi, aku bertanya kepadanya :”Apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu ?” Fatimah menjawab :”Aku tidak akan menyiarkan rahasia Rasulullah SAW.”

 

Aisyah berkata :”Ketika Rasulullah SAW wafat, aku berkata kepadanya :”Aku mohon kepadamu demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah kepadaku apa  yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu itu ?”

 

Fatimah pun menjawab :”Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa bacaannya terhadap Al Qur’an sekali dalam setahun, dan sekarang dia memerika bacaannya dua kali. Maka, kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahuluimu.”

 

Fatimah berkata :”Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku, dan berkata :”Wahai, Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin wanita-wanita kaum Mukminin ?” Fatimah berkata :”Maka aku pun tertawa seperti yang engkau lihat.”

 

(Imam Muslim)

 

Dari Aisyah ra, dia berkata, “Isteri-isteri Nabi SAW pernah mengutus Fatimah ra kepada Rasulullah SAW. Dia meminta izin kepada beliau yang ketika itu tengah berbaring bersamaku di atas kainku. Lalu beliau memberikan izin kepadanya. Maka Fathimah berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteri-isterimu telah mengutusku kepadamu untuk meminta keadilan mengenai puteri Abu Quhafah (Aisyah)’, Dan aku pun diam. Lalu Rasulullah SAW berkata kepadanya, ‘Wahai puteriku, bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?’. Fatimah pun menjawab, ‘Ya’. Kalau begitu, maka cintailah wanita ini (Aisyah ra)’, jawab Nabi SAW”.

 

(Imam Muslim)

 

“Suatu ketika Abu Bakar melaksanakan shalat Ashar. Setelah itu berjalan pulang dan melihat Hasan bin Ali sedang bermain dengan anak-anak sebaya. Abu Bakar kemudian menggendongnya seraya berkata, “Sungguh, anak ini sangat mirip dengan Nabi, tidak mirip Ali”. Mendengar pernyataan ini, Ali tertawa.

 

(Imam Bukhari)

 

Umar ra pernah berkhutbah kepada kami di atas mimbar Rasulullah SAW, Ia berkata, “Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling ahli di bidang hukum, dan Ubay bin Ka’ab adalah orang yang paling fasih bacaannya”

 

(Imam Bukhari)

 

Datang seorang lelaki kepada Umar bin Khattab untuk mengadukan Ali bin Abi Thalib. Umar berkata kepada Ali, “Berdirilah wahai Abu Al-Hasan dan duduklah di samping orang yang bersengketa denganmu.” Maka berdirilah Ali dengan wajah masam kemudian duduk di sebelah lelaki tersebut. Setelah mengemukakan masalah, Umar kemudian memutuskan perkara di antara mereka berdua.

 

Kemudian setelah masalah selesai dan lelaki tersebut pergi, Umar berkata kepada Ali, “Ada apa sebenarnya engkau ini, mengapa wajahmu berubah ketika aku menyuruhmu duduk di sebelah lelaki tadi? Apa ada hal yang tidak engkau sukai?” Ali kemudian menjawab, “Benar, memang aku tidak suka. Mengapa engkau memanggilku dengan nama kunyah di depan lelaki tadi. Pemanggilan dengan nama kunyah termasuk bentuk pemuliaan terhadap orang yang dipanggil. Mengapa engkau tidak mengatakan saja “Berdirilah wahai Ali dan duduklah di samping lelaki ini” ?

 

Kemudian Umar pun mencium kening Ali bin Abi Thalib karena kagum akan sikapnya.

 

Umar bin Khattab meskipun dia orang yang tegas dan tidak mau membeda-bedakan rakyatnya.. tapi beliau paham akan kedudukan Ali bin Abi Thalib.. sehingga beliau memanggil dengan penghormatan tinggi kepada Ali bin Abi Thalib.. dihadapan lelaki yang bersengketa dengan Ali ra.. tapi Ali pun mempunyai akhlak yang mulia.. beliau tdk mau dibeda2kan dalam masalah hukum.

 

Ketika jenazah Umar diletakkan di antara mimbar dan makam Rasulullah SAW, Ali r.a. datang dan berdiri di depan barisan, seraya mengatakan, “Inilah orangnya (tiga kali). Mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepadamu. Tidak seorang pun hamba Allah SWT yang paling aku cintai untuk bertemu Allah SWT (dengan membawa buku catatan yang baik), setelah buku catatan Nabi SAW, selain dari yang terbentang di tengah-tengah kalian ini (yakni jenazah Umar ra).”

 

(Imam Ahmad)

 

PARA AHLUL BAIT MEMULAI DAN MENCONTOHKAN MEMBERI NAMA ANAK-ANAKNYA DENGAN NAMA ABU BAKAR, UMAR DAN AISYAH..

 

Imam Ali ra memberi salah satu nama anaknya dengan nama Abu Bakar dan Umar

Imam Hasan ra memberi nama salah satu anaknya dengan nama Abu Bakar dan Umar

Imam Husein ra memberi nama salah satu anaknya dengan nama Abu Bakar dan Umar

 

Imam Ali Zainal Abidin memberi salah satu nama anaknya dengan nama Umar dan Imam Musa al-Kadzim memberi nama salah satu anaknya dengan nama Abu Bakar

 

(Kasyful Ghummah, Juz 2, Hal. 217)

 

Imam Ali al-Ridla  dan Imam Ali al-Hadi juga memberi nama salah seorang putrinya dengan nama Aisyah

 

(Kasyful Ghummah, Juz 2, Hal. 237)

 

Zaid bin Amr bin Utsman bin Affan menikah dengan Sukainah binti al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Muhammad bin Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan menikah dengan Fathimah binti al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.

 

(Nasabu Quraisy li al-Zubairi, Juz IV, Hal. 114 dan 120)

 

Imam Muhammad al-Baqir menikah dengan Ummu Farwah binti Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, dan ibu dari Ummu Farwah adalah Asma binti Abdurrahman bin Abu Bakar. Ummu Farwah adalah ibu dari Imam Jakfar Ash Shaddiq.

 

(Al-Kafi, Juz I, Hal. 472)

 

Imam Ja’far al-Shadiq, “Abu Bakar telah melahirkan aku dua kali”

Note dari akun Awi Sirep 22

Imam Jafar Ash Shoddiq menjelaskan isyarat dlm al-Quran mengenai Khulafaur Rasyidin dan para sahabat Nabi SAW

by Awi Sirep on Wednesday, April 21, 2010 at 12:35pm ·

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Fath : 29)

“dan orang-orang yang bersama dengan dia…” ialah Abu Bakar ra.

“adalah keras terhadap orang-orang kafir…” ialah Umar bin Khatab ra.

“tetapi berkasih sayang sesama mereka..” ialah Usman bin Affan ra.

“Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya..” ialah Ali bin Abi Thalib ra.

“tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud..” ialah para Sahabat Nabi SAW..

=____________________=

Imam Jafar Ash Shoddiq pun menyatakan bahwa bukan hanya kenabian Nabi SAW aja yg sudah disebut dalam taurat dan injil, tapi juga para sahabat.

“Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil..” ialah sifat-sifat Kulafaur Rasyidin dan para sahabat Nabi SAW.

=____________________=

Lalu seperti apa sifat2nya yg disebutkan dalam injil dan taurat itu…

“seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya..” ialah sifat Abu Bakar ra.

“maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat..” ialah sifat Umar bin Khatab ra.

“lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya..” ialah sifat Usman bin Affan ra.

“tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir..” ialah sifat Ali bin Abi Thalib ra.

“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar..” ialah sifat para Sahabat Nabi SAW.