Arsip

Posts Tagged ‘Muawiyah’

Note dari akun Awi Sirep 50

Mei 17, 2012 3 komentar

Lebih lanjut : yang diminum Muawiyah RA itu SUSU bkn Khamr pada hadits Buraidah…

by Awi Sirep on Wednesday, January 26, 2011 at 1:20pm ·

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan ayahku datang ke tempat Muawiyah, dia mempersilakan kami duduk di hamparan. Dia menyajikan makanan dan kami memakannya kemudian dia menyajikan minuman, dia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. Dia berkata, “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”. Muawiyah berkata, “aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku”.

 

(HR. Ahmad No. 22941, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 11/94-95)

 

Hadist ini adalah riwayat majlisnya Buraidah dengan Muawiyah.. dan hadits ini sering digunakan oleh syiah untuk menuduh Muawiyah ra suka minum khamr.. sayangnya di note pertama  http://www.facebook.com/note.php?note_id=499668358646  .. orang2 syiah sangat kesulitan memahami penjelasannya.. oleh karena itu.. ane akan coba berangkat dari cara berfikir mereka.

 

mereka berfikir bahwa Muawiyah RA meminum KHAMR..  argumen mereka didapat dari perkataan — Dia berkata, “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW” — yang dia katakan bahwa yang mengucapkannya adalah Buraidah.. ayah dari Abdullah bin Buraidah..

 

untuk memudahkan itu.. maka kita akan ajukan pertanyaan..

 

1. apakah yang diminum Muawiyah RA ? apakah benar Khamr.

2. siapakah si DIA pada kalimat —Dia berkata, “Aku tidak meminumnya”.

 

=___________________=

 

PERTAMA

 

Jika kita jawab khamr.. maka jawaban ini baru ASUMSI belaka.. karena tidak ada KATA KHAMR dalam hadits itu..

sebenarnya jawaban mengenai MINUMAN APAKAH YANG DIHARAMKAN SUDAH TERJAWAB PADA HADITS LAINNYA…

 

Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubaab, dari Husain bin Waaqid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah, berkata : Aku dan ayahku masuk mendatangi Muawiyyah. Maka dia mempersilakan duduk ayahku di atas sofa. Lalu didatangkanlah makanan dan kami pun memakannya. Setelah itu didatangkan minuman lalu dia meminumnya. Muawiyyah berkata : “Tidak ada sesuatu yang aku pernah merasakan kenikmatannya semenjak aku masih muda, YANG AKU AMBIL PADA HARI INI KECUALI SUSU. Maka aku mengambilnya sebagaimana dulu aku pernah mengambilnya sebelum hari ini, dan juga perkataan yang baik”

 

[Al-Mushannaf, 6/188].

 

Dimana pada hadits itu JELAS SEKALI yang diambil Muawiyah RA adalah susu.. tapi anehnya dihadapan SYIAH hadits ini seakan2 tidak kelihatan.. ntah matanya buta atau memang hatinya yang udah buta…

 

JADI YANG DIMINUM OLEH MUAWIYAH RA ADALAH SUSU BERDASARKAN PENJELASAN HADITS INI.

 

=___________________=

 

KEDUA

 

Jika kita katakan si DIA itu alah Buraidah.. ini juga tidak bisa dipastikan.. karena yang berbicara adalah abdullah bin Buraidah.. disana ada dua orang selain abdullah bin buraidah.. yaitu ayahnya sendiri Buraidah dan Muawiyah..

 

taruhlah  anggap bahwa yang mengatakan “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW” adlh Buraidah.. maka hadits ini bakal jadi ganjil.. jadi bertabrakan dengan hadits lainnya ..

 

DIMANAKAH GANJILNYA.. ??? yaitu terkesan Buraidah mengganggap susu haram..

 

yang paling masuk akal adalah penjelasannya ibnu asakir..

 

Imam Ibnu ‘Asakir menjawab,

 

“Yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan, barangkali dia mengatakan demikian ketika melihat adanya ketidaksukaan dan penolakan pada wajah Buraidah, yang menunjukkan  dugaan bahwa dia meminum sesuatu yang diharamkan. Wallahu A’lam.” (Tarikh Dimasyq, Hal. 417)

ini sekedar pembelaan kepada salah seorang sahabat Nabi SAW yang paling sering dikutuk oleh orang2 syiah

Iklan
Kategori:Sahabat Tag:

Note dari akun Awi Sirep 49

Muawiyah RA itu minum khamr atau minum susu

by Awi Sirep on Wednesday, January 26, 2011 at 10:19am ·

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan ayahku datang ke tempat Muawiyah, dia mempersilakan kami duduk di hamparan. Dia menyajikan makanan dan kami memakannya kemudian dia menyajikan minuman, dia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. Dia berkata, “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”. Muawiyah berkata, “aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku”.

 

(HR. Ahmad No. 22941, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 11/94-95)

 

Mengenai kalimat : Dia berkata : “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”.

 

Siapakah yang mengucapkan kalimat ini?  Imam Ibnu ‘Asakir menjawab,

 

“Yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan, barangkali dia mengatakan demikian ketika melihat adanya ketidaksukaan dan penolakan pada wajah Buraidah, yang menunjukkan  dugaan bahwa dia meminum sesuatu yang diharamkan. Wallahu A’lam.” (Tarikh Dimasyq, Hal. 417)

 

Kasusnya seperti ini, Muawiyah RA menyuguhkan SUSU kepada BURAIDAH.. tapi BURAIDAH enggan meminumnya dan diam saja.. Muawiyah RA menyangka Buraidah tidak meminumnya disebabkan dia menyangka isi minuman itu minuman haram.. jadi ada sangkaan Muawiyah pada Buraidah..

 

Boleh jadi Buraidah itu tidak minum susu itu.. KARENA menurut ane nih.. dilaporkan beberapa orang yang sudah tua disebutkan kalau minum susu masing mencret. Ane sendiri kgk tahu.. karena ane masih muda dan masih suka minum susu.. malahan masing favorit ane.

 

Nah Muawiyah RA ini sebenarnya protes ama diamnya Buraidah.. kgk percaya.. yok kita tengok..

 

lihat kalimat ini — “aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu “.

 

Pertama, Muawiyah mau bilang kenapa dia menghidangkan itu (susu) karena itu minuman favorit dia dan sudah populer juga.

 

Kedua, Muawiyah mau bilang, ngobrol donk… kalau ente kgk suka.. jangan diam aje, kan ntar bisa ane ganti yang lain… biar kgk salang sangka…

 

lihat kalimat ini —“dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku”

 

=_______________________________=

 

Ibnu Abi Syaibah punya hadits lain sebagai penguatnya..

 

Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubaab, dari Husain bin Waaqid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah, berkata : Aku dan ayahku masuk mendatangi Muawiyyah. Maka dia mempersilakan duduk ayahku di atas sofa. Lalu didatangkanlah makanan dan kami pun memakannya. Setelah itu didatangkan minuman lalu dia meminumnya. Muawiyyah berkata : “Tidak ada sesuatu yang aku pernah merasakan kenikmatannya semenjak aku masih muda, YANG AKU AMBIL PADA HARI INI KECUALI SUSU. Maka aku mengambilnya sebagaimana dulu aku pernah mengambilnya sebelum hari ini, dan juga perkataan yang baik”

 

[Al-Mushannaf, 6/188].

 

Si syiah yang berakun wiro sableng bilang : Ibnu Asakir kan cuman belain Muawiyah RA..

 

Hahahahaha.. masa ngejawab ilmu Ibnu Asakir pake persangkaan.. memangnya Imam Ibnu Asakir suka Taqiyah..

 

note tambahan dari sini http://www.facebook.com/note.php?note_id=490844658646 

 

kalau masing belom paham juga… baca yg ini bonusnya… http://www.facebook.com/note.php?note_id=499732643646

Kategori:Sahabat Tag:

Note dari akun Awi Sirep 47

Mei 17, 2012 1 komentar

Hadits Muawiyah ra terlaknat VS Muawiyah ra mendapat petunjuk

by Awi Sirep on Sunday, January 9, 2011 at 8:53am ·

BERANI BACA SAMPAI TUNTAS…

 

Hadits Muawiyah ra terlaknat VS Muawiyah ra mendapat petunjuk

 

Si Maling Astor ngutip berbagai hadits yg kesannya mencela Muawiyah RA..:

 

http://www.facebook.com/note.php?note_id=169547169755214

 

Jawaban dia atas note ane yang ini : http://www.facebook.com/note.php?note_id=489731133646

 

Ada kelompok2 Hadits yg isinya kesannya mencela Muawiyah RA..

 

1. Muawiyah RA disebutkan dilaknat Nabi SAW.. (benarkah?)

2. Muawiyah RA saat dimimbar disuruh dibunuh oleh Nabi SAW .. (benarkah?)

3. Muawiyah RA saat didoakan tidak kenyang..

4. Muawiyah RA minum KHAMR… ?

5. Terkait dengan Ammar bin Yasir yang dibunuh kaum pembangkang…

 

Baiklah, mari kita lihat one by one…. demi mengurangi isi note ini.. ane potong hadits.. lengkapnya lihat aje di catatannya si Maling Astor..

 

=______=

PERTAMAX …

=______=

 

Muawiyah RA disebutkan dilaknat Nabi SAW.. (benarkah?)

 

“laknat Allah bagi yang memikul dan yang dipikul, yang menuntun dan yang menggiring”

Sumber : Ansab Al Asyraf Al Baladzuri

 

”Akan datang dari jalan besar ini seorang laki-laki yang mati pada hari kematiannya tidak berada dalam agama-Ku”.

Sumber : Ansab Al Asyraf Al Baladzuri

 

Banyak riwayat Muawiyah terbunuh berada dalam kitab Ansab Al Asyraf Al Baladzuri.

 

Ahmad bin Yahya bin Jabir al-Baladzuri adalah seorang sejawaran Persian yang hidup di Baghdad.

 

Tatacara penulisan Ahmad bin Yahya bin Jabir al-Baladzuri dalam kitab Ansab al-Asyraf, cara penulisan kitab sejarahnya bukan hanya mengikuti metode Ibnu Sa’ad. (Ibnu Sa’ad memasukan semua bahan dalam sejarahnya). Tapi Ahmad bin Yahya lebih dari itu, semua versi dan laporan yang dia terima dia masukan kedalam sejarah. Karena Ahmad bin Yahya bin Jabir al-Baladzuri ingin membuat ensiklopedia sejarah, dari manapun sumber.

 

Jadi jelaslah, kitabnya Ansab Al Asyraf BUKAN KITAB HADITS SHOHIH.. masa mau dibandingkan sama kitab Imam Bukhari dan Muslim.

 

Gak percaya, lihat aja di wikipedia.. yg paling gampang..  http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_bin_Yahya_bin_Jabir_al-Baladzuri atau buku Dari Saqifah sampai Imamah: Awal dan Sejarah Perkembangan Islam Syi’ah. Bandung: Pustaka Hidayah, 1995. Penulis JAFRI, S.H.M.;

 

Lalu si Maling Astor kan ngutip dari kitab lain?

Oh iya betul.. memang ada..  tapi jgn salah.. notenya sendiri yg bilang hadits itu DIRAGUKAN.

 

“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki dari kalangan penghuni neraka’. Lalu muncullah Mua’wiyyah”

 

Sumber : Al Muntakhab minal-‘Ilal lil-Khallaall tapi ada catatan dimana si Maling Astor sendiri yg nulis.

 

Noh ane kutipkan : Ahmad berkata “Hadits itu hanyalah diriwayatkan oleh Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Abdulah bin ‘Amru atau selainnya, ia [Thawus] ragu-ragu dalam penyebutannya. ”

 

 

Siapa Ahmad ? ya Imam Ahmad bin Hanbal. Dia termasuk ahli hadits.

 

Imam Ahmad menegaskan. hadits diatas hanyalah diriwayatkan oleh Ibnu Thawus. Dan hebatnya lagi, cuman Ibnu Thawus yang meriwayatkan, ragu lagi sama isinya. Masa hadits diragukan isinya mau diterima ?

 

BERANINYA SI MALING ASTOR..BILANG JALURNYA BANYAK… BANYAK DARI NENEK MOYANG…

 

Padahal kata Imam Ahmad hanya lewat Ibnu Thawus (pastinya diambil karena paling baik jalurnya, tapi sayangnya.. Thawusnya sendiri ragu).

 

Haditsnya yg hanya satu2nya yg bisa diandalkan masing diragukan.. sisanya ada di Kitab Sejarah yg Tidak menggunakan metoda penyaringan..

 

Katanya orang2 syiah ANTI HADITS yang PALSU.. nuduh Muawiyah RA suka memalsukan hadits.. taunya mereka penggemarnya.

 

=______=

KEDUAX

=______=

 

Muawiyah RA saat dimimbar disuruh dibunuh oleh Nabi SAW .. (benarkah?)

 

“Jika kamu melihat Muawiyah bin Abi Sufyan berkhutbah di mimbar-ku maka tebaslah lehernya”

 

Cekidot.. langsung aja gan cek sumbernya ? Ansab Al Asyraf Al Baladzuri

 

Jika kamu melihat Muawiyah bin Abi Sufyan berkhutbah di mimbar-ku maka pukullah tengkuknya”

 

cek juga sapa penulisnya dan dikitab apa adanya.. Ahmad bin Yahya Al Baladzuri; Ansab Al Asyraf.

 

YANG LAIN

 

“jika kamu melihat Muawiyah di Mimbar-ku maka bunuhlah ia”.

 

(Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq  59/55 dan Ibnu Ady dalam Al Kamil 7/83 dan 5/314. Berikut hadis Ali bin Zaid dalam Al Kamil)

 

Gak dijelaskan.. IBNU ASAKIR apakah bilang ini hadits SHOHIH apa kgk dalam Tariqhnya.. Karena ane ntar dibawah bakalan bawa hadits keutamaan Muawiyah RA.. dan beliau bilang SHAHIH..

 

Yang lain no comment..

 

Silahkan pemirsa jawab sendiri ya.. ^_^

 

=_______=

KETIGAX

=_______=

 

Muawiyah RA saat didoakan tidak kenyang..

 

“Semoga Allah tidak akan mengenyangkan perutnya (Muawiyyeh)”

 

HR. Abu Dawud dan Imam Muslim.

 

Yuk kita lihat LENGKAPNYA GAN… BIAR SI MALING ASTOR KELABAKAN..

 

Dari Ibnu Abbas RA: “Bahwasanya Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk memanggil Mu’awiyah agar menuliskan wahyu untuknya. Orang tadi berkata: “Dia sedang makan” kemudian beliau memanggilnya lagi untuk yang kedua kalinya, orang tadi berkata: “Dia sedang makan”. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Semoga Allah tidak akan mengenyangkan perutnya (Muawiyah)” (HR. Musli dan Ahmad)

 

Apa alasan Nabi SAW memanggil Muawiyah RA ? Tidak lain tidak bukan karena Muawiyah adalah asisten Nabi.. dia salah satu penulis wahyu..

 

Al-Hafizh Ibnu Asakir  berkata.. “Hadits ini merupakan hadits paling shahih tentang keutamaan Mu’awiyah.”. Artinya ada hadits2 lain yang shahih tapi ini paling shahih tentang keutamaan Muawiyah.

 

Lho kok keutamaan sih ?

 

Dan hebatnya.. Imam Muslim memasukkan Hadits ini dalam BAB yang aneh.. ? mau tahu..

 

Man La’anahu an Nabi SAW Aw Sabbahu Aw Da’a ‘Alaihi Wa Liasa Huwa Ahlan Lidzalika Kana Lahu Zakatan Wa Ajran Wa rahmatan.

 

(Bab siapa saja yang pernah dilaknat, dicela ataupun di do’akan jelek oleh SAW  yang dia tidak berhak mendapatkannya maka itu sebagai pembersih, pahala dan rahmat baginya)

 

Lho kok? Apakah Nabi suka mencela, melaknat dan mendoakan kejelekan kepada yang TIDAK BERHAK. Jangan dulu selesai.. eh jangan selesai dulu.

 

Dalam sebuah hadits disebutkan..  Nabi SAW mengambil perjanjian dengan Allah SWT..

 

Aku telah meminta janji kepada Rabbku: “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, aku senang sebagaimana manusia yang lain merasakan senang dan aku marah sebagaimana manusia yang lain marah. Maka siapa saja dari UMATKU yang telah aku do’akan kejelekan yang dia tidak berhak mendapatkannya, agar dijadikan sebagai pensuci, pembersih, dan taqarrab yang dapat mendekatkannya kepada Allah kelak pada hari kiamat.”

 

Kita lihat baik2 hadits ini.. Pelan2 OKE… karena ini butuh ANALISA TINGKAT TINGGI.. (CEILEHHH….)

 

Pertama, Nabi SAW mengatakan dirinya manusia biasa.. manusia biasa disini bukan SEPERTI FIKIRAN KITA.. INGAT FIKIRAN BISA MENIPU.. tapi maksudnya Nabi seperti manusia lainnya bisa merasakan senang dan marah.. WALAUPUN SECARA HAKIKAT NABI SAW BUKAN MANUSIA BIASA.. beliau MANUSIA PILIHAN..

 

KEDUA, Nabi SAW dalam keadaan senang dan marah.. mendoakan kejelekan. Kalau dalam marah sih bisa saja.. tapi dalam keadaan senang bagaimana mungkin..

 

NAH DISINI KUNCINYA…

 

Sesungguhnya celaan.. laknat.. dan doa kejelekan Nabi SAW kepada UMATNYA ini yang mana umatnya itu sesungguhnya TIDAK BERHAK.. berada dalam dua lingkup ini..

 

Dalam keadaan SENANG… sebagai CANDAAN NABI SAW…

Dalam keadaan MARAH.. untuk menakut-nakuti..

 

Bercanda.. memang boleh ? Kata siapa Nabi SAW tidak pernah bercanda.. ingat kagak Nabi SAW pernah bercanda dengan Ali RA soal biji Kurma.. juga dengan sahabat lainnya soal anak UNTA.. gak diceritain disini nanti kepanjangan… OKELAH bercanda boleh.. tapi ada buktinya kagak..  JELAS ADA…

 

Dari Anas bin Malik, “Ummu Salamah memiliki anak yatim yang diasuhnya bernama Ummu Anas. Suatu hari Rasulullah SAW melihatnya, lalu berkata: “Kamukah itu? Kamu sudah besar, Semoga Allah tidak memanjangkan umurmu”. Maka anak tadi datang kepada Ummu Sulaim sambil menangis. Ummu Salamah bertanya: “Ada apa dirimu wahai anakku?”, dia menjawab: “Rasulullah SAW telah mendoakan kejelekan untukku, yaitu agar Allah tidak memanjangkan umurku”. Maka Ummu Salamah segera mendatangi Rasulullah SAW sambil mengalungkan selendangnya. Ketika telah bertemu Rasulullah SAW, Rasulullah mendahuluinya bertanya: “Ada apa denganmu wahai Ummu Sulaim?” Ummu Salamah menjawab: “Wahai Nabi Allah, apakah engkau mendo’akan kejelekan terhadap anak yatimku?”, beliau balik bertanya: “Apa itu wahai Ummu Sulaim?” Ummu Salamah berkata: “Anak itu mengatakan bahwa engkau berdo’a agar umurnya tidak diperpanjang.”, maka Rasulullah SAW pun tertawa, “Wahai Ummu Sulaim, apakah kamu tidak tahu perjanjian yang telah aku sepakati dengan Rabbku?” (lalu beliau menyebutkan perjanjian yang sudah ane tulis diatas)

 

(HR. Muslim)

 

JADI NABI SAW BERCANDA DENGAN MENDO’AKAN KEJELEKAN..

 

Lalu dalam keadaan marah.. ya.. contohnya.. Nabi SAW marah kepada Muawiyah RA.. beliau dipanggil oleh Nabi SAW untuk menulis wahyu.. tapi Muawiyah RA menunda2.. maka Nabi SAW menakut-nakutinya.

 

Masih ada yang lain lagi,

 

“Datang kepada Rasulullah SAW dua laki-laki, keduanya datang dengan sesuatu yang aku tidak tahu apa itu, lalu beliau memarahinya dan melaknat serta mencaci mereka berdua. Ketika keduanya keluar, aku bertanya: “Wahai Rasulullah! Siapa yang dijauhkan kebaikan seperti yang didapatkan oleh kedua orang itu?” Beliau menjawab dengan balik bertanya: “kebaikan apa itu?” Aisyah berkata:  saya menjawab: “Engkau telah melaknat dan mencaci mereka berdua.” Beliau bersabda: “Apakah engkau tidak tahu isi perjanjian yang aku buat bersama Tuhanku ? saya minta: “Ya Allah! Sesungguhnya saya ini hanyalah manusia, maka siapa saja umat Islam yang saya laknat atau caci maka jadikanlah itu sebagai pensuci dan pahala baginya.”” (HR. Muslim)

 

Imam Ali RA juga pernah dicela Nabi SAW..

 

Dari Ali, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membangunkan Ali dan Fathimah. Beliau bersabda: “Kalian berdua sudah shalat (malam)?” Ali menjawab: “Wahai Rasulullah, jiwa kami ada di tangan Allah, jika Dia berkehendak niscaya Dia akan membangunkan kami.” Lalu nabi berpaling ketika saya mengatakan demikian, kemudian saya mendengarnya bergumam sambil memukul-mukul pahanya, dan bersabda: “Memang manusia itu suka banyak berdebat!” (HR. Bukhari Muslim)

 

Tujuan menakut-nakutin adalah untuk memotivasi.. terkadang manusia perlu di-PUSH sedikit.. KARENA para sahabat adalah manusia biasa dan BUKAN NABI.

 

Justru hadits TIDAK KENYANGNYA Muawiyah adalah Hadits tershohih keutamaan Muawiyah RA.. bukan bagian TIDAK KENYANGNYA.. tapi bagian BUKTI kalau MUAWIYAH RA penulis WAHYU..

 

Ternyata ada hikmah dibalik doa Nabi SAW.. kalau tidak ada doa Nabi SAW yang mengatakan Muawiyah TIDAK KENYANG… ANE JAMIN KGK BAKALAN ADA ORANG SYIAH YG MAU MENULISKANNYA DALAM NOTE… HEHEHEHEE… ^_^

 

MAKA TIDAK SALAH PERKATAAN DIBAWAH INI :

 

Al-Hafizh Ibnu Asakir  berkata.. “Hadits ini merupakan hadits paling shahih tentang keutamaan Mu’awiyah.”.

 

=_______=

KEEMPATX

=_______=

 

Muawiyah RA minum KHAMR… ?

 

“Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW” [Musnad Ahmad 5/347 no 22991]

 

Yuk kita lihat yang lebih lengkap

 

 

Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan Ayahku datang  ke tempat Muawiyah, ia mempersilakan kami duduk di hamparan . Ia menyajikan makanan dan kami memakannya kemudian ia menyajikan minuman, ia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. Dia berkata: “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”. Muawiyah berkata “Aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku” (HR. Ahmad No. 22941, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 11/94-95)

 

Ternyata si MALING UDAH NEPONG…

 

dia nulis … AYAHKU BERKATA padahal sebenarnya aslinya DIA BERKATA.

 

Mengenai kalimat : Dia berkata : “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah SAW”.

Siapakah yang mengucapkan kalimat ini?

 

Imam Ibnu ‘Asakir menjawab.

 

“Yaitu Mu’awiyah bin Abi Sufyan, barangkali dia mengatakan demikian ketika melihat adanya ketidaksukaan dan penolakan pada wajah Buraidah, yang menunjukkan  dugaan bahwa dia meminum sesuatu yang diharamkan. Wallahu A’lam.” (Tarikh Dimasyq, Hal. 417)

 

KOK BISA.. Kalau menurut ane sih kasusnya seperti ini, Muawiyah RA menyuguhkan SUSU kepada BURAIDAH.. tapi BURAIDAH enggan meminumnya dan diam saja.. Muawiyah RA menyangka Buraidah tidak meminumnya disebabkan dia menyangka isi minuman itu minuman haram.. jadi ada sangkaan Muawiyah pada Buraidah..

 

Boleh jadi Buraidah itu tidak minum susu itu.. KARENA menurut ane nih.. dilaporkan beberapa orang yang sudah tua disebutkan kalau minum susu masing mencret. Ane sendiri kgk tahu.. karena ane masih muda dan masih suka minum susu.. malahan masing favorit ane.

 

Nah Muawiyah RA ini sebenarnya protes ama diamnya Buraidah.. kgk percaya.. yok kita tengok..

 

“aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku”.

 

Pertama, Muawiyah mau bilang kenapa dia menghidangkan itu (susu) karena itu minuman favorit dia dan sudah populer juga.

 

Kedua, Muawiyah mau bilang, ngobrol donk… kalau ente kgk suka.. jangan diam aje, kan ntar bisa ane ganti yang lain… biar kgk salang sangka…

 

JADI MANA KALIMAT MUAWIYAH MINUM KHAMR DI HADITS ITU.. TUNJUKKAN KALAU MEMANG KAMU BENAR.. MUNTAHIN SEMUANYA.. HOEKK.. HOEKKK…

 

=_______=

KELIMAX

=_______=

 

Terkait dengan Ammar bin Yasir yang dibunuh kaum pembangkang?

Hubungannya dengan Muawiyah RA…??

 

Hadits Pertama,

 

“Maka dia (Abdullah bin Amr bin Ash) mengisyaratkan dengan tangan pada kedua telinga dan hatinya sambil berkata: “Aku mendengar dengan kedua telingaku dan memahaminya dengan hatiku”. Aku berkata kepadanya: “Ini Anak pamanmu Muawiyah dia memerintahkan kami untuk memakan harta diantara kami secara bathil dan saling membunuh diantara kami”.”

 

StoryLinenya begini…  Abdullah bin Amr bin Ash menceritakan suatu Hadits.. lalu dia menafsirkan bahwa hadits ini ada dalam sifat Muawiyah RA ketika terjadi perang Shiffin…

 

Jadi ini bukan Hadits Nabi SAW… tapi pendapat Abdullah bin Amr bin Ash RA.

Sahabat itu bisa salah bisa benar.. Adilnya kita tengok juga perkataan sahabat Nabi lainnya mengenai Muawiyah RA..

 

Ibnu Abbas RA berkata: “Belum pernah aku menemukan orang yang paling ahli dalam mengatur pemerintahan selain Mu’awiyah RA.” (Bukhari)

 

PERMASALAH PERANG SHIFFIN INI SANGATLAH KOMPLEKS..

 

Kita tidak bisa menilainya begitu saja.. jangankan perang yg udah berlalu beberapa ratus tahun.. perang yang dekat pun kabar beritanya simpang siur…

 

Jika bukan karena ada hadits2 Nabi SAW.. kita akan kesulitan membedakan pihak yang benar dan pihak yang salah.

 

Pertama harus kita tegaskan, keputusan2 dalam perang ini adalh murni IJTIHAD. Darimana kita tahu.. dari Ammar bin Yasir sendiri.. yang beliau menjadi INDIKATOR kelompok mana yang benar saat perang berlangsung.

 

Qais bin Ubad, dia berkata, “Aku berkata kepada Ammar bin Yasir RA, ‘Bagaimana menurutmu perang yang kalian lakukan? Apakah merupakan ijtihad dari kalian karena IJTIHAD bisa salah bisa benar! Atau wasiat yang disampaikan Rasulullah SAW?’ Ammar bin Yasir RA berkata, ‘Rasulullah TIDAK MENINGGALKAN wasiat kepada kami yang TIDAK beliau sampaikan kepada seluruh manusia.'” (HR. Ahmad, Muslim dari Syu’bah)

 

ARTINYA, kalau ini WASIAT maka semua sahabat, seperti Aisyah RA, Zubair RA, Thalhah RA, Muawiyah RA, dll pasti mengetahui dan TIDAK AKAN berselisih pendapat. JADI INI ADALAH MURNI IJTIHAD SEPERTI yang ditegaskan Ammar Bin Yasir.

 

Dari sini saja, Ammar bin Yasir SUDAH TIDAK SEPAHAM dengan SYIAH… maka apakah kita mengikuti penilaian SYIAH terhadap hadits2 Sunni mengenai MUAWIYAH RA.

 

Jelas tidak nyambung, meskipun hadits2 itu seakan2 menohok Muawiyah RA, maka kita harus memahaminya dari sisi Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

 

Lalu apakah benar perang ini murni ijtihad bukan wasiat.. lagi2 dikuatkan oleh Hadits Nabi SAW, “Jika manusia berselisih maka pendapat Ibnu Sumayyah (Ammar) berada di atas kebenaran.” (Al Baihaqi)

 

Hadits Selanjutnya,

=_____________=

 

“Kasihan Ammar, ia dibunuh oleh kelompok pembangkang. Ia mengajak mereka ke surga, mereka malah mengajaknya ke neraka” [Musnad Ahmad 3/90 no 11879]

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab FathulBari, 1/542, “Dhamir (kata ganti) pada kata: yad’uuhum (Ammar mengajak mereka) tanpa disebutkan siapa mereka, maksudnya adalah para pembunuhnya. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat lain yang berbunyi: “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang, ia mengajak mereka ke surga…”. Jika ada yang mengatakan, Ammar terbunuh pada peperangan Shiffin, ia berada di pihak Ali. Dan orang-orang yang membunuhnya bersama Mu’awiyah, dalam pasukan Mu’awiyah terdapat beberapa orang sahabat Nabi. Lalu bagaimana mungkin mereka mengajak ke neraka?

 

Jawabnya: Mereka mengira mereka mengajak ke surga, mereka telah berijtihad, tidak ada cela atas mereka dalam mengikuti perkiraan mereka tersebut. Yang dimaksud mengajak ke surga adalah mengajak ke jalan menuju surga, yaitu mentaati imam.

 

Demikianlah, Ammar mengajak mereka untuk mentaati Ali, imam yang wajib ditaati saat itu. Namun mereka mengajaknya kepada jalan lain, akan tetapi mereka dimaafkan karena takwil yang menurut mereka benar itu.

 

Hadits Selanjutnya,

=_____________=

 

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “yang membunuhnya dan merampas miliknya berada di neraka”.  [Musnad Ahmad 4/198 no 1711]

 

Tak sengaja ane cek di blog http://syiahali.wordpress.com ternyata di nomor hadits yg sama ada penjelasan.. Syaikh Syu’aib berkata “sanadnya kuat”.

 

Barangkali sama si Maling Astor dihapus… hehehehe..

 

Syaikh Syu’aib adalah Syaikh Syu’aib Al Arnauth, dia adalah Syaikh wahabi yang pernah kalah dialog mengenai sanad hadits dengan Syaikh Walid al-Sa’id, muridnya Syaikh Abdullah al-Harari. Jadi soal sanad hadits?? masih bisa ambil pendapatnya??

 

Kalau sampai blog SYIAH ngambil perkataan syaikh wahabi dan tdk bisa nunjukin perkataan Imam Ahmad bilang ntu hadits shahih apa kgk.. bahkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth cuman masing bilang.. sanadnya kuat, jadi soal hadits ini, dikembalikan kepada pemirsa.. ^_^

 

=_____________=

TAMBAHANX

=_____________=

 

Tambahan 1 :

 

“Muawiyah berkata “Adapun yang ini dilarang beserta yang tadi akan tetapi kalian semua lupa” [Sunan Abu Dawud 1/557 no 1794 dan telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud]

 

Sama dengan yg diatas hehehehe… Pertama ane no koment… Kedua.. ini gak ada hubungannya dengan bukti langsung KALAU NABI SAW PERNAH MELAKNAT MUAWIYAH. Adanya cuman beda pendapat sahabat, itu pun haditsnya tidak penjelasannya dari Abu Dawud, shahih apa kagak?

 

Tambahan 2 :

 

“Dari Sa’id bin Al Musayyab yang berkata “Ali dan Utsman suatu kali bertemu…” [Diriwayatkan Muslim dalam Shahih Muslim 2/896 ]

 

Ane kgk tahu maksudnya apa ini? Karena yang dibahas kan soal Muawiyah.. jadi Ane 100% NO COMMENT… SAHABAT BEDA PENDAPAT.. BEDA IJTIHAD.. TOH BUKTINYA.. SUNNI WALAUPUN MENCINTAI USMAN BIN AFFAN RA.. TAPI TETAP MENGIKUTI PENDAPAT ALI BIN ABI THALIB RA SOAL INI.

 

JADI MASALAHNYA DIMANA?

 

 

TANGGAPAN TAMBAHAN SOAL NAHJUL BALAGHAH…. 

=______________________=

 

Si Maling Astor Curang…  Curangnya dimana…??

 

Ane ngutip Nahjul Balaghoh terjemahan bahasa Inggris.. eh dia bandingkan ama yang bahasa Indonesia.. kok bisa2nya..

 

disini ane ambil…

 

http://www.al-shia.org/html/eng/books/nahjulbalaga/letters/letter58.htm#letter58

 

dan disini.. yang si Maling Astor comot

 

http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/nam/03/058.htm

 

Bedanya dimana? Beda sekali.. yang terjemahan BAHASA INDONESIA cuman setengahnya..

si penterjemah Bahasa Indonesia sudah motong bagian INI NIHHHH….

 

=_________________________=

 

I advised them that this problem cannot be solved by excitement. Let the excitement subside, let us cool down; let us do away with sedition and revolt; let the country settle down into a peaceful atmosphere and when once a stable regime is formed and the right authority is accepted, then let this question be dealt with on the principles of equity and justice because only then the authority will have power enough to find the criminals and to bring them to justice. They refused to accept my advice and said that they wanted to decide the issue on the point of the sword.

 

When they thus rejected my proposal of peace and kept on sabre rattling threats, then naturally the battle, which was furious and bloody, started. When they saw defeat facing them across the battlefield, when many of them were killed, and many more wounded, then they went down on their knees and proposed the same thing, which I had proposed before the bloodshed had begun.

 

I accepted their proposal so that their desire might be fulfilled, my intentions of accepting the principles of truth and justice and acting according to these principles might become clear and they might have no cause to complain against me.

 

Now whoever adheres firmly to the promises made will be the one whose salvation will be saved by Allah and one who will try to go back upon the promises made, will fall deeper and deeper into heresy, error and loss. His eyes will be closed to realities and truth in this world and he will be punished in the next world.

=____________________________=

 

Yang mengerti bahasa Inggris pasti paham dimana dipotongnya ame SI PENTERJEMAH BUSUK BAHASA INDONESIA.

 

Ane terjemahin bebas yg bahasa Inggris. Point2nya aje..

 

Imam Ali RA mengajukan proposal perdamaian..

Tapi orang2 syam menolak proposal itu..

Saat mereka terdesak.. mereka mengajukan perjanjian damai yang mana Imam Ali ra sudah ajukan sebelum perang berlangsung.

DAN IMAM ALI MENERIMA PERJANJIAN DAMAI ITU.

Lalu Imam Ali berkata, mulai dari sekarang, siapa2 saja yang menolak kembali perjanjian damai ini maka dia akan dibutakan matanya dan dihukum oleh Allah.

 

JADI SIAPA YANG DIBUTAKAN MATANYA DAN DIHUKUM OLEH ALLAH…. YAITU YANG MENOLAK PERDAMAIAN ANTARA IMAM ALI RA. DAN MUAWIYAH RA.

 

ah pemotong kok motong diri sendiri… kasihan deh loe..

 

hadits2 lainnya seperti dalam kitab yang si maling astor kutip seperti

 

Al Mustadrak Al Hakim,  (ini bukan kitab shahih jadi harus ada penjelasan hadits)

Allamah Al-Kasyafi At-Turmudzi Al-Manaqibul Murtadhawiyah, (idem)

Kanz Al Ummah, dan Syarh Nahjul al Balghah ane gak akan bahas..

 

KARENA JELAS SURAT IMAM ALI RA KEDUDUKAN SANGAT TINGGI DI MATA SYIAH APALAGI DALAM KITAB NAHJUL BALAGHAH

 

=_______________________________=

 

NAH SEKARANG GILIRAN HADITS KEUTAMAAN MUAWIYAH RA…

 

A. Hadits Muawiyah RA salah satu penulis wahyu, haditsnya udah dijelaskan diatas, yang mana diakhir Muawiyah RA di doakan TIDAK kenyang.

 

B. Hadits di Note ane yang lama.

 

Nabi SAW bersabda : “Ya Allah, jadikanlah Muawiyah pembawa petunjuk yang memberikan petunjuk. Berikanlah petunjuk padanya dan petunjuk bagi umat dengan keberadaannya”.

 

Dinyatakan SHAHIH oleh Imam Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq.

 

Ini termasuk banyak juga ditulis dibanyak kitab.

 

1. Bukhari,

2. Ahmad,

3. Tirmidzi,

4. Ath-Thabaraniy,

5. Al-Khathiib,

6. Adz-Dzahabiy

7. Ibnu Sa’d

8. Ibnu Abi ‘Aashim

9. Abu Nu’aim

10. Ibnu ‘Asaakir

11. Ibnul-Atsiir

 

Jadi masih ragu KESHAHIHANNYA…

 

C. Hadits Muawiyah memimpin perang dilautan.

 

Dari Anas bin Malik dari bibinya, Ummu Haram binti Milhan RA berkata: “Pada suatu hari, Rasulullah SAW tidur di dekat  saya. Kemudian beliau terbangun, lalu tersenyum. Saya bertanya: “Apa yang membuatmu tersenyum?”

 

Beliau menjawab: “Telah diperlihatkan kepadaku beberapa orang dari umatku yang mengarungi samudera biru, laksana para raja di atas singgasananya!”

 

“Mintalah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka!” pinta Ummu Haram. Lalu Rasulullah mendoakannya. Kemudian beliau tidur lagi.

 

Dan beliau melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, lalu Ummu Haram bertanya seperti di atas, dan Rasulullah menjawabnya seperti jawaban sebelumnya.

 

Ummu Haram berkata,”Mohonlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka,” Rasulullah SAW menjawab,”Engkau termasuk golongan pertama (dari angkatan laut tersebut)!”

 

Kemudian Ummu Haram keluar berperang menyertai suaminya, yakni Ubadah bin Shamit RA bersama pasukan angkatan laut yang pertama kali diberangkatkan di bawah kepemimpinan Mu’awiyah. Sekembalinya dari peperangan tersebut, mereka singgah di Syam, lalu diserahkan kepadanya seekor kuda tunggangan. Kuda tunggangan tersebut membuatnya jatuh, hingga ia meninggal.

 

(HR. Bukhari No. 2799 dan Muslim No.  1912)

 

JADI SILAHKAN BANDINGKAN…

 

KITAB NAHJUL BALAGHAHNYA AJA DI POTONG SENDIRI.. BAGAIMANA DENGAN KITAB SUNNI…

 

WALLAHU’ALAM DAN WASSALAM

Kategori:Sahabat Tag:

Note dari akun Awi Sirep 45

Dan sahabat Nabi SAW bernama Muawiyah RA tidak pernah dilaknat.

by Awi Sirep on Friday, January 7, 2011 at 3:01am ·

Ane ditag oleh pemilik akun bernama Haydar Husein dalam sebuah note yang berjudul “Hadis Muawiyah bin Abu Sufyan Seorang Yang Dilaknat Allah SWT”. cek dimarih : http://www.facebook.com/note.php?note_id=145261062195963

 

Si pemilik akun mau menunjukkan pada ane kalau Muawiyah dilaknat, bahkan dikitab sunni sekalipun. Pertanyaannya apakah hadits ntu shahih apa kagak? Nyok kita bahas.

 

Apa yang mau dibahas gan? Sabar coy.. bahasannya sederhana aje. Orang2 syiah selalu bilang, kita melihat hadits bukan shahih sanadnya saja.. tapi juga lihat isinya.. bertentangan kgk..

 

pada dasarnya dgn prinsip ini.. orang2 syiah akan sangat mudah berkelit kalau terpojok.. dgn alasan isinya bertentangan dengan marja. Jadi hasil jerih payah ulama2 syiah nyusun kitab tidak ada manfaatnya, selama sang marja bilang A, ya A.. meskipun kitab syiah bilang B. Jadi walaupun  sang Marja nyuruh terjun ke jurang pun bakalan diikutin meskipun kitabnya bilang jangan.

 

Nah karena yg ane hadapin orang syiah.. yaa fikiran kita sama. Sayyidina Muawiyah RA tidak pernah dilaknat Allah SWT dan Nabi SAW.. hadits isinya dhoif dan bertentangan dengan yang lebih shohih lainnya.

 

Akan tetapi.. kita ahlu sunnah lebih hebat… kita bisa mengajukan bukti.. NIH BUKTINYA

 

di Kitab Sunni :

 

Nabi SAW bersabda : “Ya Allah, jadikanlah Muawiyah pembawa petunjuk yang memberikan petunjuk. Berikanlah petunjuk padanya dan petunjuk bagi umat dengan keberadaannya”. (HR. Bukhari, Ahmad, Tirmidzi, Ath-Thabaraniy, Al-Khathiib, Adz-Dzahabiy )

 

Masih kurang penawarannya? Kami tambahkan juga dari kitab syiah (jualan kali.. pake penawaran segala.. hehehehee..)

 

di Kitab Syiah :

 

“The thing began in this way: We and the Syrians were facing each other while we had common faith in one Allah, in the same Prophet (s) and on the same principles and canons of religion.

 

So far as faith in Allah and the Holy Prophet (s) was concerned we never wanted them (the Syrians) to believe in anything over and above or other than what they were believing in and they did not want us to change our faith. Both of us were united on these principles.

 

The point of contention between us was the question of the murder of Uthman. It had created the split. They wanted to lay the murder at my door while I am actually innocent of it.” (Nahjul Balagah Letters 58)

 

http://www.al-shia.org/html/eng/books/nahjulbalaga/letters/letter58.htm#letter58

 

terjemahannya kira2 begini,

 

Surat Ali bin Abi Thalib RA:

 

Segala sesuatunya dimulai begini: “Kami dan orang-orang Syiria (Syam) saling berhadapan sementara kami beriman kepada Allah yang sama, Nabi yang sama, dan dan kami dalam satu perinsip dan aqidah yang sama.

 

Dalam keimanan kepada Allah dan Nabi SAW, telah ditegaskan kami tidak pernah menginginkan lebih dari apa yang sudah mereka (orang Syam) imani dan mereka pun tidak memaksa kami mengubah keimanan kami. Kami bersama dalam satu prinsip yang sama.

 

Yang membedakan kami dengan mereka adalah mengenai pembunuhan Usman. Mereka ingin meletakan pembunuh itu di depan pintuku sementara aku tidak ada sangkut pautnya.” (Nahjul Balagah Surat 58)

 

KESIMPULANNYA

 

HADITS yang dibahas pada note si haydar husein yang isnya menyatakan Muawiyah RA ditaknat.. ternyata bertentangan dengan hadits2 dari kitab sunni maupun riwayat di kitab syiah.

 

Jadi hadits itu ISINYA PALSU.

Kategori:Sahabat Tag:

Note dari akun Awi Sirep 39

Selain Imam Hasan ra yg membaiat.. – Muhammad bin al-Hanafiyyah.. bukti lain Muawiyah ra orang Muslim..

by Awi Sirep on Monday, July 19, 2010 at 5:50pm ·

bacaan lainnya perang Khalifah Abu Bakar ra lawan orang2 MURTAD

http://hbis.wordpress.com/2010/01/28/penumpasan-gerakan-rlddah-murtad/
http://hbis.wordpress.com/2010/01/28/penumpasan-gerakan-rlddahmurtad-lanjutan/

juga peristiwa GHADIR KHUM

http://masjidsegaf.wordpress.com/sejarah-hadist-ghodir-khum/

=________________________________=

Muhammad bin Ali bin Abi Thalib lebih dikenal dengan Muhammad bin Al Hanafiyah

(Dalam peperangan Yamamah Ali bin Abi Thalib RA telah mengambil salah seorang wanita mereka untuk diperistri, yaitu ibu dari anaknya yang bernama Muhammad, yang terkenal dengan nama Muhammad bin Hanafiyah. Peperangan Yamamah ini dimulai pada tahun 11 Hijriyah dan baru selesai pada tahun 12 Hijriyah)

“Yang aku tahu, hanya Muhammad bin Al Hanafiyah yang banyak menimba ilmu dari ‘Ali.” (Ibn al-Junaid)

Telah terjadi percekcokan antara Muhammad bin Al Hanafiyah dan saudaranya al- Hasan bin Ali, maka Ibn al-Hanafiah mengirim surat kepada saudaranya itu, isinya, “Sesungguhnya Allah telah memberikan kelebihan kepadamu atas diriku. Ibumu Fathimah binti Muhammad bin Abdullah SAW, sedangkan ibuku seorang wanita dari Bani Haniifah. Kakekmu dari garis ibu adalah utusan Allah dan makhluk pilihannya, sedangkan kakekku dari garis ibu adalah Ja’far bin Qais. Apabila suratku ini sampai kepadamu, kemarilah dan berdamailah denganku, sehingga engkau memiliki keutamaan atas diriku dalam segala hal.”

Begitu surat itu sampai ke tangan al-Hasan ia segera ke rumahnya dan berdamai dengannya. Siapakah Muhammad bin Al Hanafiyah , seorang adib (ahli adab/pujangga), seorang yang pandai dan berakhlak lembut ini? Marilah, kita membuka lembaran hidupnya dari awal.

Kisah ini bermula sejak akhir kehidupan Rasulullah SAW.

Pada suatu hari, Ali bin Abi Thalib duduk bersama Nabi SAW, maka ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu apabila aku dikaruniani seorang anak setelah engkau meninggal, (bolehkah) aku menamainya dengan namamu dan memberikan kunyah dengan kunyah-mu?.” “Ya” jawab beliau.

Kemudian hari-hari pun berjalan terus. Dan Nabi yang mulia SAW bertemu dengan ar- Rafiiqul al-A’laa (berpulang ke sisi Allah) dan setelah hitungan beberapa bulan Fathimah yang suci, Ibunda al-Hasan dan al-Husain menyusul beliau (wafat).

Ali lalu menikahi seorang wanita Bani Haniifah. Ia menikahi Khaulah binti Ja’far bin Qais Al Hanafiyah , yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki untuknya. Ali menamainya “Muhammad” dan memanggilnya dengan kun-yah “Abu al-Qaasim” atas izin Rasulullah SAW. Hanya saja orang-orang terlanjur memanggilnya Muhammad bin Al Hanafiyah , untuk membedakannya (bahwa ia lain ibu) dengan kedua saudaranya al- Hasan dan al-Husain, dua putra Fathimah az-Zahra. Kemudian iapun dikenal dalam sejarah dengan nama tersebut.

Muhammad bin Al Hanafiyah lahir di akhir masa khilafah ash-Shiddiq (Abu Bakar) RA. Ia tumbuh dan terdidik di bawah perawatan ayahnya, Ali bin Abi Thalib, ia lulus di bawah didikannya.

Ia belajar ibadah dan kezuhudan dari ayahnya mewarisi kekuatan dan keberaniannya menerima kefasihan dan balaghoh darinya. Hingga ia menjadi pahlawan perang di medan pertempuran singa mimbar di perkumpulan manusia seorang ahli ibadah malam (Ruhbaanullail) apabila kegelapan telah menutup tirainya ke atas alam dan saat mata-mata tertidur lelap.

Ayahnya RA telah mengutusnya ke dalam pertempuran-pertempuran yang ia ikuti. Dan ia (Ali) telah memikulkan di pudaknya beban-beban pertempuran yang tidak ia pikulkan kepada kedua saudaranya yang lain; al-Hasan dan al-Husain. Ia pun tidak terkalahkan dan tidak pernah melemah keteguhannya.

Pada suatu ketika pernah dikatakan kepadanya, “Mengapakah ayahmu menjerumuskanmu ke dalam kebinasaan dan membebankanmu apa yang kamu tidak mampu memikulnya dalam tempat-tempat yang sempit tanpa kedua saudaramu al- Hasan dan al-Husain?”

Ia menjawab, “Yang demikian itu karena kedua saudaraku menempati kedudukan dua mata ayahku sedangkan aku menempati kedudukan dua tangannya sehingga ia (Ali) menjaga kedua matanya dengan kedua tangannya.”

Dalam perang “Shiffin” yang berkecamuk antara Ali bin Abi Thalib RA dan Muawiyah bin Abi Sufyan RA. Adalah Muhammad bin Al Hanafiyah membawa panji ayahnya.

Dan di saat roda peperangan berputar menggilas pasukan dari dua kelompok, terjadilah sebuah kisah yang ia riwayatkan sendiri. Ia menuturkan, “Sungguh aku telah melihat kami dalam perang “Shiffin”, kami bertemu dengan para sahabat Muawiyah, kami saling membunuh hingga aku menyangka bahwa tidak akan tersisa seorang pun dari kami dan juga dari mereka. Aku menganggap ini adalah perbuatan keji dan besar.

Tidaklah berselang lama hingga aku mendengar seseorang yang berteriak di belakangku,

“Wahai kaum Muslimin…(takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada Allah)… wahai kaum Muslimin…”
“Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan anak-anak?”
“Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?”
“Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami?”
“Wahai kaum Muslimin takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah dan sisakan kaum muslimin, wahai ma’syarol muslimin”

Maka sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk tidak mengangkat pedangku di wajah seorang Muslim.

Kemudian Ali RA mati syahid di tangan pendosa yang dzalim (di tangan Abdurrahman bin Muljam)

Kekuasaan pun berpindah kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. Maka, Muhammad bin al- Hanafiyyah membaiatnya untuk selalu taat dan patuh dalam keadaan suka maupun benci karena keinginannya hanya untuk menyatukan suara dan mengumpulkan kekuatan serta untuk menggapai izzah bagi Islam dan Muslimin.

Muawiyah RA merasakan ketulusan baiat ini dan kesuciannya. Ia merasa benar-benar tentram kepada sahabatnya, hal mana menjadikannya mengundang Muhammad bin Al Hanafiyah untuk mengunjunginya.

Maka, ia pun mengunjunginya di Damaskus lebih dari sekali dan lebih dari satu sebab.

Di antaranya, bahwa kaisar Romawi menulis surat kepada Muawiyah. Ia mengatakan, “Sesungguhnya raja-raja di sini saling berkoresponden dengan raja-raja yang lain. Sebagian mereka bersenang-senang dengan yang lainnya dengan hal-hal aneh yang mereka miliki. Sebagian mereka saling berlomba dengan sebagian yang lain dengan keajaiban-keajaiban yang ada di kerajaan-kerajaan mereka. Maka, apakah kamu mengizinkan aku untuk mengadakan (perlombaan) antara aku dan kamu seperti apa yang terjadi di antara mereka?” Maka, Muawiyah mengiyakannya dan mengizinkannya.

Kaisar Romawi mengirim dua orang pilih-tandingnya. Salah seorang darinya berbadan tinggi dan besar sekali sehingga seakan-akan ia ibarat pohon besar yang menjulang tinggi di hutan atau gedung tinggi nan kokoh. Adapun orang yang satu lagi adalah seorang yang begitu kuat, keras dan kokoh seakan-akan ia ibarat binatang liar yang buas. Sang kaisar menitipkan surat bersama keduanya, ia berkata dalam suratnya, “Apakah di kerajaanmu ada yang menandingi kedua orang ini, tingginya dan kuatnya?”

Muawiyah lalu berkata kepada ‘Amr bin Ash, “Adapun orang yang berbadan tinggi, aku telah menemukan orang yang sepertinya bahkan lebih darinya ia Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah. Adapun orang yang kuat, maka aku membutuhkan pendapatmu.”

‘Amr berkata, “Di sana ada dua orang untuk urusan ini, hanya saja keduanya jauh darimu. Mereka adalah Muhammad bin Al Hanafiyah dan Abdullah bin az-Zubair.”

“Sesungguhnya Muhammad bin Al Hanafiyah tidaklah jauh dari kita,” kata Muawiyyah.

“Akan tetapi apakah engkau mengira ia akan ridla bersama kebesaran kemuliaannya dan ketinggian kedudukannya untuk mengalahkan kekuatan orang dari Romawi ini dengan ditonton manusia,?” tanya ‘Amr.

Muawiyah berkata, “Sesungguhnya ia akan melakukan hal itu dan lebih banyak dari itu, apabila ia menemukan izzah bagi Islam padanya.”

Kemudian Muawiyah memanggil keduanya, Qais bin Sa’d dan Muhammad bin Al Hanafiyah .

Ketika majelis telah dimulai, Qais bin Sa’d berdiri dan melepaskan sirwal-nya (celana yang lebar) lalu melemparkannya kepada al-‘Ilj (perwira) dari Romawi dan menyuruhnya untuk memakainya. Ia pun memakainya. maka, sirwalnya menutupi sampai di atas kedua dadanya sehingga orang-orang ketawa dibuatnya.

Adapun Muhammad bin Al Hanafiyah , ia berkata kepada penterjemahnya, “Katakan kepada orang Romawi ini apabila ia mau, ia duduk dan aku berdiri, lalu ia memberikan tangannya kepadaku. Entah aku yang akan mendirikannya atau dia yang mendudukkanku. Dan bila ia mau, dia yang berdiri dan aku yang duduk”

Orang Romawi tadi memilih duduk. Maka Muhammad memegang tangannya, dan (menariknya) berdiri dan orang Romawi tersebut tidak mampu (menariknya) duduk.

Kesombongan pun merayap dalam dada orang Romawi, ia memilih berdiri dan Muhammad duduk. Muhammad lalu memegang tangannya dan menariknya dengan satu hentakan hampir-hampir melepaskan lengannya dari pundaknya dan mendudukkannya di tanah.

Kedua orang kafir Romawi tersebut kembali kepada rajanya dalam keadaan kalah dan terhina.

Sebagai tambahan tentang kisah Muhammad bin Al Hanafiyah , lihat:

– Hilyah al-Auliyaa oleh Abu Nu’aim, III:174
– Tahdziib at-Tahdziib, IX:354
– Shifah ash-Shafwah oleh Ibnul Jauzi (cet. Halab), II: 77-79
– Ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’d,V:91
– Al-Waafi bi al-Wafayaat (terjemah): 1583
– Wafayaat al-A’yaan oleh Ibnu Kholaqan, IV:169
– Al-Kamil, III:391 dan IV:250 pada kejadian-kejadian tahun 66 H
– Syadzarat adz-Dzahab, I:89
– Tahdziib al-Asma Wa al-Lughaat, I:88-89
– Al-Bad’u Wa at-Tarikh, V:75-76
– Al-Ma’arif oleh Ibnu Qutaibah: 123
– Al-‘Iqd al-Farid oleh Ibnu Abdi Rabbih, tahqiq al-‘Urayyan, Juz II,III,V dan VII

dari google.com.. hehehehehe… ^_^

=________________________________=

bacaan lainnya perang Khalifah Abu Bakar ra lawan orang2 MURTAD

http://hbis.wordpress.com/2010/01/28/penumpasan-gerakan-rlddah-murtad/
http://hbis.wordpress.com/2010/01/28/penumpasan-gerakan-rlddahmurtad-lanjutan/

juga peristiwa GHADIR KHUM

http://masjidsegaf.wordpress.com/sejarah-hadist-ghodir-khum/

Kategori:Sahabat Tag: