Arsip

Posts Tagged ‘MUI’

Note dari akun Awi Sirep 10

MUI, kok malu2 mnyatakan Syiah sesat

by Awi Sirep on Sunday, November 22, 2009 at 9:48am ·

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan 10 kriterianya dalam penutupan rakernas MUI di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta, Selasa (6/11/2007).

Berikut kriterianya:

1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang 6.
2. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Alquran dan sunnah.
3. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.
4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran.
5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6. Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam.
7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.
9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah, seperti haji tidak ke baitullah, salat wajib tidak 5 waktu.
10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya

Syiah menuhin 7 dari masing 10 kriteria nyang MUI tetapkan.. nyok kita liat..

1. Rukun Iman Syiah cuman 5 biji..

2. Klo ini dah jelas.. aiqdah mrk buatan ibnu Saba..

3. Syiah yakin wahyu ttp turun ama Sayyidah Fatimah ra, dan para Imam ma’shum mrk..

4. Syiah meyakini al-Quran skr udeh diubah2 & dikurangin sama para sahabat Nabi SAW.. mrk baca al-Quran cuman taqiyah aje..

5. Penafsiran ayat al-Quran syiah sangat ngaco.. sperti soal ayat wilayah, ayat nikah, ayat waris.. dan bnyk ayat lainnye..

6. Wah.. mrk bilang hadits Nabi SAW nyang ade di dlm kitab Bukhari & Muslim bnyk dipalsuin ama Yahudi waktu perang Salib..

tp kgk bisa t’bukti tuduhan ntu.. sabab hadits dalam kitab Bukhari & Muslim.. sjk zaman sblum perang salib & sudah perang Salib isinya kgk nambah & berubah..

justru kami sunni nyang curiga kitab hadits al-Kafi & kitab hadits lainnya milik Syiah nyang udeh dipalsuin ama Yahudi wakto perang Salib.. sabab.. kitab hadits mrk.. stiap zaman nambah trus jumlah haditsnye.. dah banyk saksinye dri kalangan sunni soal pnambahan ntu..

akhirnye mrk klabakan & b’dalih klo ntu hadits tambahan atas izin imam mahdi nye nyang smbunyi di gowa..

7. Terakhir mrk mnganggap kafir para Sahabat NABI SAW..

Jadi klo dah mnuhi lbh dari 70% kriteria, kok masing kgk keluar juga fatwa Syiah adlh sesat.. malah fatwa MUI tahun 1995 & 1997 bahwa SYIAH SESAT masing di PETI ES kan.. nyang ade cuman fatwa peringatan bahaya ajaran Syiah tahun 1984?? TANYA KENAPA??

jngan2 Yahudi mang amat b’kepentingan dngn tetap adanye Syiah di Indonesia.. jd siapa nyang agen CIA ama agen Zionis skr..

bukankah lobi Yahudi amat kuat di b’bagai belahan dunia.. sperti sulitnye fatwa AHMADIYAH sesat didengarkan Pemerintah..

ssttt sdikit informasi.. Ahmadinejad kturunan Yahudi lho.. huehuehue..

Jilid I : http://www.facebook.com/note.php?note_id=182084848646

Iklan
Kategori:Ajaran Sesat Tag:

Note dari akun Awi Sirep 9

Kilas Balik MUI dulu..

by Awi Sirep on Saturday, November 21, 2009 at 9:15pm ·

KH Thohir al-Kaff menjelaskan sulitnya meneliti keberadaan penganut maupun tokoh Syiah di Indonesia. KH Thohir — mengaku sering melakukan penelitian tentang aktivitas Syiah di Indonesia — mengatakan kesulitan itu terjadi karena adanya aturan ta’qiyah atau menyembunyikan keyakinan karena kondisi yang tidak memungkinkan. “Kondisi mereka yang minoritas seperti sekarang ini dalam pandangan mereka memang tidak memungkinkan untuk terang-terangan mengakui kesyiahan yang diyakini,” katanya.

Karena itu, Thohir menyayangkan kecenderungan kaum muda muslim di kampus-kampus dan juga sebagian kalangan pesantren yang terpengaruh ajaran Syi’ah tanpa mengkaji secara mendalam tentang keburukan ajaran tersebut.

Pendapat KH Thohir dibenarkan oleh KH Irfan Zidny MA. Tokoh NU yang mengaku pernah mendapat didikan langsung para ulama Syi’ah di Baghdad (Irak) itu menyebutkan kesalahan para penganut Syi’ah di Indonesia. Mereka menjadi Syi’ah, katanya, karena tidak menelaah secara mendalam kitab-kitab yang dikarang ulama-ulama Syi’ah.

“Saya itu belajar dari gurunya Imam Khoemeini selama belasan tahun dan tahu kelemahan-kelemahan yang mereka miliki. Tapi, alhamdulillah saya tidak jadi Syi’ah karena secara akidah mereka memang berbeda dengan Ahlussunnah wal Jama’ah,” kata KH Irfan.

Diiringi kalimat takbir, peserta seminar meminta Kejaksaan Agung melarang ajaran Syi’ah di Indonesia. Dalam pidato pembukaan, KH Hasan Basri mengungkap sesungguhnya MUI Pusat sudah membuat fatwa tentang Syi’ah pada 1995. Saat itu, Komisi Fatwa MUI menilai sesat ajaran Syi’ah.

Kesimpulan Seminar Kesimpulan Seminar Nasional Sehari Tentang Syi’ah 21 September 1997 Di Masjid Istiqlal Jakarta

Alhamdulillah, Seminar Nasional Sehari Tentang Syi’ah, yang dihadiri oleh Pejabat Pemerintah, ABRI, MUI, Pimpinan Organisasi Islam, Tokoh-tokoh Islam dan masyarakat umum, setelah mengkasji makalah-makalah dari:

1. K.H. Moh. Dawam Anwar (Katib Syuriah PB. NU)

2. K.H. Irfan Zidny, MA (Ketua Lajnah Falakiyah Syuriyah NU)

3. K.H. Thohir Al-Kaff (Yayasan Al-Bayyinat)

4. Drs. Nabhan Husein (Dewan Dakwah Islamiya Indonesia)

5. K.H. A. Latif Mukhtar, MA (Ketua PERSIS)

6. Dr. Hidayat Nur Wahid (Ketua Yayasan Al-Haramain)

7. Syu’bah Asa (Wakil Pimpinan Redaksi Majalah Panji Masyarakat)

dan pandangan-pandangan kritis dari para peserta, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Umat Islam Indonesia memiliki tanggung jawab dan kewajiban dalam mencegah berbagai upaya penyimpangan serta perusakan akidah Ahlussunnah yang dianut umat Islam di Indonesia.

2. Al-Qur’an yang ada sekarang dalam pandangan Ahlussunnah adalah sudah sempurna dan seluruh isinya benar-benar sesuai dengan firman Allah yang diturunkan melalui Rasulullah Muhammad saw. Sedangkan dalam pandangan Syi’ah, Al-Qur’an yang ada tidak sempurna, karena telah dirubah oleh Khalifah Utsman bin Affan ra.

Dengan demikian Al-Qur’an yang ada harus ditolak dan yang sempurna akan dibawa oleh Imam Al-Muntazhar. Jika sekarang diterima, hanya sebagai Taqiyyah saja.

3. Kaum Syi’ah percaya kepada taqiyyah (menampakkan selain yang mereka niatkan dan yang mereka sembunyikan). Taqiyyah adalah agamanya dan agama leluhurnya. Tidaklah beriman barangsiapa tidak pandai-pandai bertaqiyyah dan bermain watak.

4. Ahlussunnah berpandangan bahwa hadits yang shahih sebagaimana yang disampaikan oleh perawi hadits (Imam Bukhari, Muslim, Tarmidzi, Nasa’i dan lain-lainnya) diterima dan dipakai sebagai pedoman dalam kehidupan setiap muslim. Sebaliknya Syi’ah berpandangan bahwa hadits yang dapat dipakai hanya disampaikan oleh Ahlul Bait atau yang tidak bertentangan dengan itu.

Dan mereka berkeyakinan bahwa perkataan dan perbuatan Imam diyakini seperti hadits Rasulullah.

Ahlul Bait adalah keluarga dan keturunan Rasulullah saw yang mengikuti jejak Rasulullah saw, sementara Syi’ah mengklaim mengikuti madzhab Ahlul Bait, padahal Ahlul Bait menolak ajaran mereka.

5. Ahlussunnah berpandangan bahwa Imam (pemimpin) adalah manusia biasa dan dapat berasal dari mana saja. Ia (Imam) tidak luput dari kekhilafan atau kesalahan. Imam adalah pemimpin untuk kemaslahatan umum dengan tujuan menjamin dan melindungi dakwah serta kepentingan umat.

6. Syi’ah berpandangan bahwa Imam adalah ma’shum (orang suci -terbebas dari dosa dan kesalahan). Imamah (menegakkan kepemimpinan/pemerintahan) adalah termasuk rukun agama.

Imamah merupakan kepemimpinan rohaniah, politik bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia dan harus tunduk kepada Nizham Waritsi (aturan turun temurun dari Imam), hukum dan peraturan warisan yang silih berganti di kalangan 12 Imam.

UUD Iran menetapkan bahwa agama resmi bagi Iran adalah Islam madzhab Ja’fari Itsnaa ‘Asyariyah. Pasal ini tidak boleh dirubah selama-lamanya.

7. Ahlussunnah meyakini bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Thalib adalah Khulafa’ur Rasyidin.

Sedangkan Syi’ah pada umumnya tidak meyakini kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan.

8. Syiah Imamiyah berkata bahwa iman kepada tertib pewarisan kepemimpinan umat Islam adalah salah satu rukun iman, sama kedudukannya iman kepada Allah SWT.

Keimaman (menurut Syi;ah ‘Imamiyah) tersebut merupakan salah satu rukun pengganti iman kepada Malaikat dan iman kepada Qadha dan Qadar Khairihi Wa Syarrihi (baik dan buruk).

9. Shalat Jum’at tidak wajib tanpa kehadiran Imam ma’shum mereka.

10. Adzan kaum Syi’ah Imamiyah ditambah dengan WA ASYHADU ANNA ‘ALIYYAN WALIYYULLAH. Alasannya bahwa Ali ra diutus resmi sebagai wali sebagaimana Muhammad SAW diutus sebagai Nabi/Rasul.

11. Menurut Syi’ah, NIKAH MUT’AH adalah rahmat. Belum sempurna iman sesorang kecuali dengan nikah mut’ah. Berapa pun banyaknya, boleh. Dibolehkan nikah mut’ah dengan gadis tanpa izin orang tuanya. Boleh mut’ah dengan pelacur, boleh mut’ah dengan Majusiah/Musyrikah (wanita Majusi/Musyrik).

12. Bahwa sepanjang sejarah, pihak Syi’ah terbukti pelaku-pelaku kejahatan dan pengkhiatan dan teroris.

Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan tersebut dan untuk menjada stabilitas masyarakat, bangsa dan negara Indonesia, seminra ini merekomendasikan:

1. Mendesak Pemerintah Republik Indonesia cq. Kejaksaan Agung RI agar segera melarang faham Syi’ah di wilayah Indonesia, karena selain telah meresahkan masyarakat, juga merupakan suatu sumber destabilisasi kehidupan bangsa dan negara Indonesia, karena tidak mungkin Syi’ah akan loyal pada Pemerintah Indonesia karena pada ajaran Syi’ah tidak ada konsep musywarah melainkan keputusan mutlak dari Imam.

2. Memohon kepada Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan seluruh jajaran terkait agar bekerja sama dengan MUI dan Balitbang Depag RI untuk meneliti buku-buku yang berisi faham Syi’ah dan melarang peredarannya diseluruh Indonesia.

3. Mendesak kepada Pemerintah Indonesia cq. Menteri Kehakiman RI agar segera mencabut kembali izin semua yayasan Syi’ah atau yang mengembangkan ajaran Syi’ah di Indonesia, seperti:

1. Yayasan Muthahhari Bandung

2. Yayasan Al-Muntazhar Jakarta

3. Yayasan Al-Jawad Bandung

4. Yayasan Mulla Shadra Bogor

5. Yayasan Pesantren YAPI Bangil

6. Yayasan Al-Muhibbin Probolinggo

7. Yayasan Pesantren Al-Hadi Pekalongan

4. Meminta kepada Pemerintah cq. Mentri Penerangan RI agar mewajibkan pada semua penerbit untuk memberikan semua buku-buku terbitannya kepada MUI Pusat, selanjutnya untuk diteliti.

5. Mengingatkan kepada seluruh organisasi Islam, lembaga-lembaga pendidikan (sekolah, pesantren, perguruan tinggi) di seluruh Indonesia agar mewaspadai faham Syi’ah yang dapat mempengaruhi warganya.

6. Mengajak seluruh masyarakat Islam Indonesia agar senantiasa waspada terhadap aliran Syi’ah, karena faham Syi’ah kufur, serta sesat menyesatkan.

7. Menghimbau kepada segenap kaum wanita agar menghindarkan diri dari praktek nikah mut’ah (kawin kontrak) yang dilakukan dan dipropagandakan oleh pengikut Syi’ah.

8. Menghimbau kepada semua media massa (cetak, elektronik, pandang dengar) dan penerbit buku untuk tidak menyebarkan faham Syi’ah di Indonesia.

9. Menghimbau pula kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk melarang kegiatan penyebaran Syi’ah di Indonesia oleh Kedutaan Iran.

10. Secara khusus, mengharapkan kepada LPPI agar segera bekerja sama dengan MUI dan Departemen Agama untuk menerbitkan buku panduan ringkas tentang kesesatan Syi’ah dan perbedaan-perbedaan pokoknya dengan Ahlus Sunnah.
Jakarta, 19 Jumadil Ula 1418H
21 September 1997

TIM PERUMUS (ditandatangani oleh)

1. HM. Amin Djamaluddin

2. KH. Ali Mustafa Ya’qub, MA.

3. KH. Ahmad Khalil Ridwan, Lc.

4. Drs. Abdul Kadir Al-Atas

5. Ahmad Zein Al-Kaff

Jilid III : http://www.facebook.com/note.php?note_id=182558803646

Kategori:Ajaran Sesat Tag:

Note dari akun Awi Sirep 8

MUI dulu, lain sekarang..

by Awi Sirep on Saturday, November 21, 2009 at 8:28pm ·

Seminar Nasional tentang Syi’ah, 21 September 1997

Seminar yang dibuka Ketua Umum MUI Pusat KH. Hasan Basri itu menampilkan pembicara KH. Irfan Zidny MA (rais Lajnah Falaqiyah Syuriyah NU), KH. Dawam Anwar (Katib Aam Syuriyah NU), KH. Latief Muchtar MA (Ketua Umum Persis), KH. Thohir al Kaff (Ketua Yayasan al-Bayyinat Surabaya), Drs. Nabhan Husein, Dr. Hidayat Nur Wahid, KH. Ali Mustafa Ya’kub MA, dan KH. Khalil Ridwan (Ketua BKSPPI).

Para pembicara dalam seminar tersebut banyak mengungkap fakta dan data tentang penyimpangan yang dibuat para penganut Syi’ah. Fakta- fakta yang didasarkan kepada sumber-sumber tulisan ulama dan pemimpin Syi’ah tersebut pada akhirnya menyimpulkan sesatnya akidah para penganut Syi’ah.

Merujuk kitab karangan Imam Khoemeini Al-Hukumat al-Islamiyah, Katib Aam Syuriah NU KH. Dawam Anwar menerangkan bahwa kalangan Syiah menganggap Alquran yang dimiliki Sunni berbeda dengan Alquran yang ada di tangan Imam Syiah (Imam Mahdi).

Selain itu, Syi’ah sangat mengejek, dan mencaci para sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin ‘Affan. “Sampai-sampai mereka menyebut para sahabat itu masuk Islam karena menginginkan harta dan kedudukan saja,” katanya mengutip buku Aqidah al-Syiah wa al- Shahabah.

Seminar dihadiri oleh para pejabat pemerintah, ABRI, MUI, pimpinan organisasi Islam, tokoh Islam dan masyarakat umum.

Makalah yang dibacakan, diantaranya berasal dari:

1. KH. Moh. Dawam Anwar (Khatib Syuriah NU)

2. KH. Irfan Zidny, MA (Ketua Lajnah Falakiyah Syuriah NU)

3. KH. Thohir Al-Kaff (Yayasan Al-Bayyinat)

4. Drs. Nabhan Husein (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)

5. KH. A. Latif Mukhtar, MA (Ketua PERSIS)

6. Dr. Hidayat Nur Wahid (Ketua Yayasan Al-Haramain)

7. Syu’bah Asa (Wakil Pimpinan Redaksi Panji Masyarakat)

Disamping itu, dikatakan bahwa keputusan seminar diambil berdasarkan pandangan-pandangan kritis para peserta. Keputusan yang dikeluarkan, diantaranya:

1. Syi’ah melakukan penyimpangan dan perusakan aqidah Ahlussunah.

2. Menurut Syi’ah, Al-Quran tidak sempurna.

3. Taqiyyah sebagai menampakkan selain yang mereka siarkan dan sembunyikan.

4. Syi’ah berpandangan hadits mereka disampaikan dari Ahlul Bait.

5. Kenyataan bahwa Ahlul Bait menolak ajaran Syi’ah.

6. Syi’ah berpendapat Imam mereka ma’shum, terjaga dari dosa dan UUD Iran menetapkan bahwa mazhab Jakfari Itsna Asy’ariyah sebagai mazhab resmi.

7. Syi’ah, pada umumnya tidak meyakini kekhalifahan Sunnah

8. Imamah atau kepemimpinan adalah rukun Iman.

9. Shalat Jum’at tidak wajib tanpa kehadiran Imam ma’shum.

10. Adzan kaum Sunni berbeda dengan adzan kaum Syi’ah.

11. Syi’ah membenarkan kawin mut’ah.

12. Syi’ah terbukti sebagai pelaku kejahatan, pengkhianat dan teroris.

Kemudian seminar mengusulkan:

1. Mendesak pemerintah RI cq. Kejaksaan Agung melarang Syi’ah.

2. Pemerintah agar bekerjasama dengan MUI dan Balitbang Depag RI untuk melarang penyebaran buku-buku Syi’ah.

3. Agar Mentri Kehakiman mencabut izin semua yayasan Syi’ah.

4. Meminta Mentri Penerangan mewajibkan semua penerbit menyerahkan semua buku terbitannya untuk diteliti MUI Pusat.

5. Agar seluruh organisasi dan lembaga pendidikan waspada terhadap faham Syi’ah.

6. Faham Syi’ah kufur dan masyarakat agar waspada.

7. Menghimbau segenap wanita agar menghindari kawin mut’ah.

8. Media massa (cetak, elektronik, padang dengar) dan penerbit buku untuk tidak menyebarkan Syi’ah.

9. Melarang kegiatan penyebaran Syi’ah oleh Kedutaan Iran.

Ditandatangani oleh tim perumus:

1. HM. Amin Djalaluddin

2. KH. Ali Mustafa Ya’qub, MA.

3. KH. Ahmad Khalil Ridwan, Lc.

4. Drs. Abdul Kadir Al-Attas

5. Ahmad Zein Al-Kaff

Siapa KH. hasan Basri??

Lahir dari keluarga sederhana, pasangan Muhammad Darun dan Siti Fatmah di Muara Taweh, Kalimantan Tengah, namun sebenarnya berasal dari Suku Banjar yang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 20 Agustus 1920.

Pada umur tiga tahun, ia diasuh oleh kakeknya, Haji Abdullah, karena ayahnya meninggal dunia. Di bawah asuhan kakenya inilah ia diajarkan berpidato yang menjadi kegiatan rutin setiap hari menjelang maghrib.

Isi cermahnya pun seputar kegiatan yang dilakukan sehari-hari dan seluruh penghuni rumah menjadi pendengarnya. Kebiasaan berpidato dan bercerita jujur itu berlangsung hingga berusia 12 tahun.

Ia pernah menjabat sebagai ketua GPII selama 12 tahun sejak 1951-1963. karena GPII dalam sikap politiknya menentang komunis dan penguasa Orde Lama, maka GPII dibubarkan oleh Orde Lama.

Pada tahun 1959 Hasan Basri juga terpilih menjadi anggota pimpinan dan salah seorang pengurus harian Masyumi tingkat Pusat yang waktu itu diketuai oleh Prawoto Mangkusasmito.

Setelah Masyumi dibubarkan oleh Soekarno, KH. Hasan Basri tidak lagi menjadi anggota parlemen. Aktivitasnya beralih dan berkonsentrasi di bidang dakwah. Tiga kali berturut-turut terpilih menjadi ketua MUI pada periode 1985-1990, 1990-1995, dan 1995-2000 membuktikan bahwa ia seorang yang dipercaya oleh masyarakat.

Menurut KH. Ali Yafie, pemikiran KH. Hasan Basri dalam hal akidah banyak diwarnai oleh pandangan Ahlusunnah, sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Quran dan Hadits serta yang dipegangi oleh para sahabat nabi.

Sementara dalam hal hukum Islam tidak mengikat pada satu mazhab fiqh tertentu saja, tetapi juga tidak melepas dari mazhab fiqh. Sikap ini sama halnya dengan apa yang diterapkan oleh komisi fatwa MUI.

Dengan perbedaan pendapat (khilafiyah) yang terjadi, ia mempersilahkan masing-masing menjalankan apa yang diyakini tetapi jangan sampai memecah belah umat.

Dalam khutbahnya yang dimuat dalam bukunya Risalah Islamiyah Rahmat bagi Alam Semesta, ia menyerukan: “Bendera yang wajib kita kibarkan hanya satu, bukan bendera golongan, bukan pula bendera lain-lain, tetapi bendera ummat, yaitu Ukhuwah Islamiyah yang sejati.”

Kita tahu Orde Baru pada dasarnya dikendalikan oleh Barat. Jika memang benar ini bahwa Syiah dinyatakan sesat ntu ulah agen CIA sperti yang dituduhkan oleh Hasan Ali Alattas, lalu kenapa REKOMENDASI nyang begitu jelas ndak mau digubris oleh penguasa Orde Baru.

Jilid II : http://www.facebook.com/note.php?note_id=182125113646

Kategori:Ajaran Sesat Tag: