Arsip

Archive for the ‘Fitnah’ Category

Screen Shoot dari akun Aditya Riko 18

Ini adalah tafsir karangan ulama syiah al-Sayyid Abdullah Syibr (w 1242 H), pada halaman yang menerangkan tafsir surat al-Nuur ayat 11 :

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.

Dari kitab diatas itu ada yg aneh, yaitu di bagian akhir tafsir ayat 11 al-Nuur tersebut ada titik-titik…Ini kitab tafsir apa soal ujian psikotes ? ^_^

Karena penasaran kita cari-cari informasi terkait masalah ini. Akhirnya ketemu tafsir Syibr tersebut versi online yang dipublish oleh najaf.org. Setelah dilihat pada bagian akhir dari tafsir ayat 11 al-Nuur tersebut, ketemulah jawabannya. Ternyata kalimat inilah yang seharusnya mengisi titik-titik diatas. Voila !!

نزلت في مارية القبطية وما رمتها به عائشة من أنها حملت بإبراهيم من جريح القبطي وقيل في عائشة
Yang artinya bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Mariyah al-Qibthiyah dan apa yang dituduhkan kepadanya oleh A’isyah bahwasanya ia mengandung Ibrahim dari hasil perselingkuhannya dengan Juraih al-Qibthi dan dikatakan berkenaan dengan A’isyah.
http://www.najaf.org/arabic/book/28/a338.htm

note: kalau link najaf diatas itu font-nya tdk terbaca, gunakan browser internet explorer

Lanjut, kemudian apakah pandangan seperti itu merupakan pandangan yang populer di kalangan aliran sesat ini ataukah itu hanya pandangan segelintir saja dari mereka ? Sekarang kita coba lihat tafsir Qummi terkait dengan ayat 11 surah al-Nuur tsb.

Katanya :
فان العامة رووا انها نزلت في عائشة وما رميت به في غزوة بني المصطلق من خزاعة واما الخاصة فانهم رووا انها نزلت في مارية القبطية وما رمتها به عايشة‌ء المنافقات
Sesunguhnya golongan umum (ahli sunnah) meriwayatkan bahwa ayat ini turun mengenai A’isyah, dan apa yang telah dituduhkan padanya pada perang bani Musthaliq dari khuza’ah, sedangkan golongan khusus (syi’ah) meriwayatkan bahwa ayat itu turun berkenaan dengan Mariyah al-Qibthiyah dan apa yang dituduhkan padanya oleh (عايشة‌ء = A’isyah ?) wanita munafik.
http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-quran/tafsir-qommi-j2/9-1.html – hal. 99

Pernyataan al-Qummi tsb menunjukkan bahwa ayat tsb terkait dengan Mariyah al-Qibthiyah adalah merupakan pandangan umum yang terdapat di dalam golongan “khusus”.

Dari sini terlihat bahwa golongan “khusus” ini memang ada yang khusus terang-2an menunjukkan kebenciannya kepada ummul Mu’minin A’isyah radhiallahu ‘anha dengan menuduhnya sebagai wanita munafiq penebar berita bohong, dan sebagian lain ada yang khusus menyembunyikan kebenciannya kepada A’isyah radhiallahu ‘anha dengan cara membuat kitab tafsir ulamanya sendiri menjadi seperti lembar soal ujian psikotes , yaitu mengganti kalimat dengan titik-titik ^_^

Iklan
Kategori:Fitnah, Sahabat

Note dari akun Aditya Riko 7

Yanabi’ul Mawaddah : Kitab Sunni Atau Syi’ah ?

by Aditya Riko on Sunday, January 30, 2011 at 11:16am ·

Berawal dari penafsiran ayat Tathhir oleh syi’ah, dimana ayat tersebut diyakini sebagai dalil pensucian ahlul bait. Dan ahlal bait dalam ayat tersebut ditujukan hanya kepada ahlul kisa, dengan menafikan isteri-isteri nabi Saw.

 

Beberapa pandangan yang menyatakan hal tersebut adalah sebagai berikut :

 

Dalam pembahasan ini kami akan membuktikan bahwa penafsiran ini keliru, yang benar adalah Al Ahzab 33 turun untuk Ahlul Kisa’ yaitu Nabi SAW, Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Tentu saja kami akan membawakan riwayat-riwayat shahih yang menjadi bukti kejahilan mereka.

http://secondprince.wordpress.com/2010/02/24/hadis-yang-menjelaskan-siapa-ahlul-bait-yang-disucikan-dalam-al-ahzab-33/

 

Berdasarkan riwayat dari Aisyah, Ummu Salamah, Abu Sa’id Al-Khudri dan Anas bin Malik, ayat ini turun hanya untuk lima orang, yaitu Rasulullah SAWW, Ali,Fathimah, Hasan, dan Husein as

http://al-shia.org/html/id/page.php?id=148

 

Dari penafsiran tersebut timbul pertanyaan, “Lantas bagaimana dengan imam-imam selain ahlul kisa’, bukankah mereka juga diyakini ma’shum ? Lantas, apa dalilnya ?

 

Setelah melakukan sedikit “interview”, muncul sebuah jawaban, yaitu satu “hadits” yang diriwayatkan dari abdullah bin abbas dari rosulullah saww bahwasanya beliau bersabda, “Aku, ali, al hasan, al husein dan sembilan imam dari keturunan al husein adalah org2 yg maksum dan disucikan (dr sgala dosa dan kesalahan).

(yanabi’ul mawadah: 124).

 

Kemudian dalil juga diperkuat dengan mengatakan bahwa penulis kitab Yanabi’ul Mawaddah adalah ulama’ Sunni, dengan memberikan pernyataan sebagai berikut :

 

baca ini profile qunduzi: Selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh Sulaiman al Qunduzi al Balkhi al Hanafi, yang merupakan salah satu Ulama Sunni yang banyak mencatat riwayat-riwayat mengenai keutamaan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as). Dan anehnya, oleh kaum Nawashib, Syaikh Sulaiman Al Hanafi dituduh sebagai Syiah, apa motif dibalik semua itu ?…dst…

 

Untuk lengkapnya kontoversi biografi Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi bisa dilihat di situs answering ansar :

http://www.answering-ansar.org/biographies/suleman_qandozi/index.php

 

Kalau melihat artikel dari answering-ansar.org tersebut, alasan utama mereka mengatakan al-Qunduzi sebagai ulama’ sunni adalah dari namanya.

 

First of all it should be noted that Nawasib deliberately hide the complete name/description of Shaykh Qandozi mentioned by Aqa Tahrani which is Suleman bin Ibrahim al-Hanafi al-Qandozi

 

Sebetulnya agak aneh bersikeras menilai keyakinan seseorang hanya berdasarkan namanya. Dan kenyataannya, tidak selamanya orang yang bergelar al-Hanafi selalu mempunyai aqidah ahlus sunnah.

 

ميزان الاعتدال 4|171 برقم 8736

مفضل بن محمد بن مسعر القاضى، أبو المحاسن التنوخى الحنفي.

معتزلي شيعي مبتدع.

حدث عنه الشريف النسيب

 

Di dalam mizanul I’tidal disebutkan seseorang yang bernama Mufadhdhal bin Muhammad, bergelar al-Hanafi, tetapi disebut sebagai mu’tazili, syi’i dan ahli bid’ah.

 

Selanjutnya, bukti-bukti yang disertakan dalam artikel answering-ansar.org tersebut tidak ada yang secara jelas menyebutkan aqidah al-Qunduzi. Oleh karena itu lebih baik langsung meluncur saja ke TKP, yaitu kitab Yanabi’ul Mawaddah, untuk melihat sumber riwayat hadits yang disebut berasal dari Ibnu Abbas (radhiallahu ‘anhu).

 

Di dalam Yanabi’ul Mawaddah juz 3 disebutkan 2 riwayat terkait dg bahasan ini, yang dimarfu’kan kepada rasulullah Saw :

 

Aku dan ‘Ali dan al-Husain dan al-Hasan dan sembilan putera al-Husain adalah tersucikan dan ma’shuumuun.

 

Berikut teks lengkapnya.

 

1 – وعن ابن عباس (رضي الله عنهما) قال: سمعت رسول الله (ص) يقول: أنا وعلي والحسن والحسين وتسعة من ولد الحسين مطهرون معصومون..

http://yasoob.com/books/htm1/m025/29/no2920.html (lihat hal 291)

 

Riwayat pertama ini terdapat catatan kaki yang menunjukkan sumbernya, yaitu ‘Uyunul akhbar ar-Ridha. Sebagaimana diketahui kitab tersebut adalah buah tangan Syaikh Shaduq (Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin ‘ali bin Babawaih al-Qummi).

 

2 -وفيه: عن الاصبغ بن نباتة، عن ابن عباس رفعه: أنا وعلي والحسن والحسين وتسعة من ولد الحسين مطهرون معصومون.

http://yasoob.com/books/htm1/m025/29/no2920.html (lihat hal 384)

 

Riwayat kedua ini berdasarkan BAB-nya, adalah kumpulan riwayat tentang al-Mahdi yang terdapat dalam Ghayatul maraam (al-Bahraani). Kemudian dengan melihat riwayat yang tersebut diatasnya, terlihat bahwa riwayat tersebut diambil juga dari Fara’id as-Simthin (al-Juwaini). Untuk ghayatul Maraam, jelas itu adalah sumber Syi’ah, penulisnya adalah sayyid Hasyim al-Bahrani, pemilik al-Burhan fi tafsir al-Qur’an. Sedangkan al-Juwaini ini statusnya sama seperti al-Qunduzi, yaitu disebut-sebut sebagai ulama’ sunni.

 

 

Oleh karena itu mari kita lihat dalam Fara’id as-Simthin Juz 2. Dalam bab Fii Ishmah al-A’immah min Aal Muhammad Shallallahu ‘Alaihim Ajma’in, setelah menyebutkan beberapa nama ulama’ :

 

قالوا كلّهم : أنبأنا الشيخ أبو جعفر محمد بن عليّ بن بابويه القمّي(3) قال : أخبرنا علي بن [ محمد بن ] عبد الله الوراق الرازي ، قال : أخبرنا سعد بن عبد الله

قال : أنبأنا الهيثم بن أبي مسروق النهدي عن الحسين بن علوان ، عمرو بن خالد ، عن سعد بن طريف ، عن الأصبغ بن نباتة :

عن عبد الله بن عباس ، قال : سمعت رسول الله (صلّى الله عليه وسلّم) يقول : أنا وعليّ والحسن والحسين وتسعة من ولد الحسين مطهّرون معصومون

 

Kalau melihat riwayat dalam fara’id as-simthin diatas, justru jelas disebutkan bahwa sumber riwayat tersebut adalah Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin ‘ali bin Babawaih al-Qummi, atau dikenal juga dengan Syaikh Shaduq.

 

Untuk klarifikasi, mari kita lihat Kamaluddin-nya syaikh Shaduq :

 

كمال الدين و تمام النعمة

ابي جعفر محمدبن علي بن الحسين بن بابويه القمي المعروف بالشيخ الصدوق

(305 – 381ه)

حدثنا علي بن عبد الله الوراق الرازي قال : حدثنا سعد بن عبد الله قال : حدثنا الهيثم بن أبي مسروق النهدي ، عن الحسين بن علوان ، عن عمر ابن خالد ، عن سعد بن طريف ، عن الاصبغ بن نباته ، عن عبد الله بن عباس قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله يقول : أنا وعلي والحسن والحسين وتسعة من ولد الحسين مطهرون معصومون

http://www.rafed.net/books/hadith/kamal/15.html (lihat hal 280, hadits no :28)

 

Sekarang mari kita lihat Ghayatul Maraam :

 

قالوا كلهم: أنبأنا الشيخ أبو جعفر محمد بن علي بن بابويه القمي رضي الله عنه قال: أخبرنا علي بن عبد الله الوراق الرازي قال: أنبأنا سعد بن عبد الله قال: أنبأنا الهيثم بن أبي مسروق النهدي، عن الحسن بن علوان، عن عمر بن خالد، عن سعيد بن طريف عن الأصبغ بن نباتة، عن عبد الله بن عباس قال: سمعت رسول الله (صلى الله عليه وآله) يقول: ” أنا وعلي والحسن والحسين وتسعة من ولد الحسين مطهرون معصومون

http://www.aqaed.com/book/327/gh-mram1-13.html (hal. 142)

 

Teks dari Ghayatul Maraam sama persis dengan yang ada di Fara’id as-Simthin. Tidak aneh, karena dari catatan kakinya memang disebutkan bahwa sumbernya adalah Fara’id as-Simthin.

 

Setelah kita melihat sumber- sumber yang digunakan oleh penulis Yanabi’ul mawaddah, jelas sekali bahwa literatur yang ada adalah milik Syi’ah. Jadi intinya, sepanjang-panjangnya mulut, dengan berbagai alasan untuk mengatakan al-Qunduzi sebagai ulama’ Sunni adalah tidak ada gunanya, toh sumber riwayat yang ada ujung-ujungnya adalah Syaikh Shaduq.

 

Terakhir, sedikit lagi tambahan, sudah kepalang tanggung. Kita lihat lagi riwayat Ibn ‘Abbas diatas, kita lihat dari si empunya saja yaitu yang ada di Kamaluddin :

 

حدثنا علي بن عبد الله الوراق الرازي قال : حدثنا سعد بن عبد الله قال : حدثنا الهيثم بن أبي مسروق النهدي ، عن الحسين بن علوان ، عن عمر ابن خالد ، عن سعد بن طريف ، عن الاصبغ بن نباته ، عن عبد الله بن عباس قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله يقول : أنا وعلي والحسن والحسين وتسعة من ولد الحسين مطهرون معصومون

 

Perhatikan sanadnya, siapakah ‘Ali bin ‘Abdullah al-Warraq ar-Raaziy ? Di dalam kitab al-mufid min mu’jam ar-rijal al-hadiits Muhammad al-Jawaahiriy ternyata ‘Ali bin ‘Abdullah al-Warraq adalah majhul.

 

الصحيح ما في الطبعة الحديثة وهو علي بن عبد الله الوراق الرازي ” المجهول الآتي 8292 ” كما روى في الفقيه بهذا العنوان عن سعد بن عبد الله

 

Kesimpulannya, riwayat dari Ibnu ‘Abbas tersebut jelas bersumber dari literatur Syi’ah, dan sanadnya sendiri ternyata cacat (menurut kitab al-mufid mu’jam ar-rijal al-hadiits, ringkasan dari mu’jam rijal al hadiits al-Khu’i).

 

Dan akhirnya, pertanyaan “Dalil apakah yang menjelaskan kema’shuman 12 imam Syi’ah diluar ahlul Kisaa’ ?” masih menunggu jawaban..

Note dari akun Aditya Riko 4

Al-Muraja’at, Virus Menular Bagi yang Takjub Dengan Hamburan Referensi

by Aditya Riko on Monday, July 12, 2010 at 10:54pm ·

Berawal dari membaca komen-komen di facebook yang menyinggung masalah hadits “Ali adalah saudaraku, pewaris dan khalifahku diantara kalian semua. taatilah dia, ikutilah dia, dan perhatikanlah ucapan-ucapannya”, dan kemudian menisbatkan kepada kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Terkadang memang ada saja orang yang begitu percaya diri membaca sebuah buku yang dipenuhi dengan berbagai judul kitab sebagai referensi, tanpa melihat dahulu kesesuaian antara pernyataan tertulis dengan referensi yang dijadikan sebagai sokongannya.

 

 

Dan sampai sekarang pun ternyata masih ada juga yang suka mengumbar hadits padahal belum pernah membaca haditsnya, hanya sekedar menukil pernyataan orang lain sekaligus referensinya tanpa melakukan cross-check terlebih dahulu.

 

Untuk kasus ini (hadits yang didakwa tertulis di musnad Ahmad), sepertinya hanya menukil secara membabi buta saja dari tulisannya Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi di dalam bukunya Al Muraja’at (dialog sunni syiah). Melihat bahwa rujukannya persis sama yaitu ahmad bin hanbal , al musnad Vol.. I hal 111, 159.

 

Sebelumnya, barangkali ada yang belum pernah membaca muraja’at, berikut adalah gambaran singkat buku tersebut yang dikutip dari pengantar penterjemahnya :

 

Dalam kata-pengantarnya bagi kitab ini (cetakan ke 18 tahun 1398 H/ 1978 M) Muhammad Fikri Abu Nashr, seorang ulama Al-Azhar di Kairo Mesir menyatakan antara lain:

 

“Kitab al-Muraja’at ini, berisi dialog-dialog terbuka antara seorang ulama besar dari kelompok Ahlus Sunnah yaitu : asy-Syaikh Salim al-Bisyri, rektor al-Azhar pada masa hidupnya, dengan al-Imam as-Sayyid Abdul Husain Syarafuddin, seorang pemuka para alim ulama Syi’ah yang berasal dari Libanon.

 

Dialog-dialog jujur yang berlangsung antara kedua tokoh besar ini, membuka kesempatan guna mencari dan menjajagi kebenaran, dalam suasana yang jauh dari memihak atau terpengaruh oleh fanatisme bermadzhab yang bagaimanapun juga.

 

Selain itu Syarafuddin sang penulisnya sendiri juga memberi gambaran terhadap bukunya seperti dibawah ini:

 

Kupersembahkan buku ini kepada mereka yang mau menggunakan akal sehatnya ; baik ia seorang sarjana yang ahli di bidang penelitian, dan berkecimpung dalam kehidupan ilmiah, serta gemar menguji kebenaran di dalamnya. Ataukah ia seorang ulama yang ahli dan dipercaya di bidang ilmu-ilmu agama. Ataukah ia seorang pemikir yang mahir dan menguasai ilmu kalam. Ataukah ia seorang di antara kaum muda kita, harapan masa depan nan cerah, yang dinamis jiwanya, luas pegetahuannya, bebas fikirannya dari berbagai macam ikatan dan belenggu…..

 

Baik, kembali lagi ke masalah hadits yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, hal tersebut terdapat dalam dialog/surat ke-20, dimana Syarafuddin menulis :

 

Rujuklah kepada kenyataan pada permulaan dakwah, sebelum Islam disebarkan di Mekah secara terbuka, apabila Allah awj mewahyukan kepada baginda ayat: ‘Dan berilah peringatan keluarga terdekat [26:214] Baginda mempelawa mereka kerumah bapa saudaranya Abu Talib. Mereka semua lebih kurang 40 orang. Diantara mereka adalah bapa saudaranya Abu Talib, al-Hamzah, al-Abbas dan Abu Lahab. Hadith mengenai perkara ini telah disampaikan oleh sunni secara turutan. Pada penghujung kenyataan baginda kepada mereka, Rasul Allah [sawas] berkata: ‘Wahai ketrurunan Abdul-Muttlib! Saya bersumpah dengan Tuhan bahawa setahu saya tidak ada orang muda diantara kaum Arab yang telah membawa sesuatu kepada orangnya yang lebih baik dari apa yang saya bawakan kepada kamu. Saya bawakan untuk kamu yang terbaik dalam hidup ini, dan untuk kehidupan yang akan datang, dan Tuhan telah memerintahkan saya untuk mengajak kamu kepadaNya. Dari itu, siapakah diantara kamu yang akan menyokong saya dalam perkara ini dan menjadi saudara saya, pelaksana wasiat saya dan pengganti saya?’

Kesemua yang mendengar, dengan pengecualian ‘Ali, yang termuda diantara mereka, mendiamkan diri. “Ali bertindak dengan mengatakan: ‘Saya, Wahai Rasul Allah, bersedia menjadi wazir kamu dalam perkara ini.’ Rasul Allah [sawas] kemudian memegang ‘Ali pada lehernya dan berkata: ‘Ini adalah saudara saya, pelaksana wasiat dan wazir saya, dari itu dengarkanlah dia dan patuhlah kepadanya.’ Mereka yang hadir tertawa dan terus mengatakan kepada Abu Talib, ‘Allah telah memerintahkan kamu supaya dengar kepada anak kamu dan taat kepadanya!’

 

Setelah mengemukakan riwayat tersebut, pembaca disuguhi dengan berondongan referensi atau rujukan seperti ini :

 

Kebanyakkan dari mereka yang telah mempelajari tradisi Rasul secara hafalan dan telah menyampaikan hadith dengan tepat seperti yang diatas. Diantara mereka adalah: Ibn Ishaq, Ibn Jarir, Ibn Abu Hatim, Ibn Mardawayh, Abu Na`im, al-Bayhaqi di dalam bukunya Al-Dala’il, keduanya al-Tha`labi dan al-Tabari di dalam tafsiran pada Surat al Shu`ara’ di dalam buku mereka Al-Tafsir al-Kabir, di Vol. 2 dari buku al-Tabari Tarikh al-Umam wal Muluk. Ibn al-Athir telah menyampaikannya sebagai fakta yang tidak boleh dipertikaikan di dalam Vol. 2 dari bukunya Al-Kamil apabila dia menyebutkan bagaimana Allah awj mengarahkan RasulNya untuk menyampaikan dakwahnya secara umum [terbuka], Abul-Fida dalam Vol. 1 dari buku Tarikh ketika membincangkan siapakah yang pertama pada memeluk Islam, Imam Abu Ja`fer al-Iskafi al-Mu`tazili di dalam bukunya Naqd al-Uthmaniyyah menyatakan ketepatannya,[1] al-Halabi di dalam bab pada tempat persembunyian Rasul di rumah Arqam di dalam bukunya yang terkenal Sirah.[2]

Di dalam kontek yang sama, dengan perkataannya yang seakan serupa, hadith ini telah disampaikan oleh ramai ahli-ahli hadith dan kebanyakkan dari penyampai hadith sunni yang dipercayai seperti al-Tahawi, Diya’ al-Maqdisi di dalam bukunya Mukhtara, dan Sa`id ibn Mansur di dalam Sunan. Rujuklah kepada apa yang Ibn Hanbal telah rakamkan dari hadith `Ali’s pada muka surat 111 dan 159 dari Vol. 1 buku Musnad. Dia juga menunjukkan pada permulaan muka surat 331 dari Vol. 1 pada Musnad, kepada hadith yang sangat penting [bererti] dari Ibn `Abbas menggandongi 10 kerekteristik [sifat keutamaan] yang mana ‘Ali membezakan dirinya dari manusia lainnya. Hadith ini juga telah diterbitkan di dalam Nisa’i,dari Ibn `Abbas, pada muka surat 6 dari bukunya Khasa’is al `Alawiyyah, dan pada muka surat 132, Vol. 3, dari buku Hakim, Mustadrak. Al-Thahbi telah menyebutkan di dalam bukunya Talkhis, bersumpah tentang sahihnya. Rujuk kepada Vol. 6 dari Kanz al-`Ummal yang mengandongi semuanya secara khusus [mendalam][3] Rujuk juga kepada Muntakhabul Kanz yang disebutkan di nota kaki oleh Musnad Imam Ahmed; rujuk kepada notakaki pada muka surat 41 dan 43 pada Vol. 5 dari buku tersebut untuk semuanya secara khusus. Ini, kami percaya mencukupi untuk memberikan bukti yang nyata, dan keamanan dengan kamu.

 

Ini adalah kebiasaan buku-buku propaganda syiah, yaitu dengan menukilkan satu versi riwayat, kemudian memberondongnya dengan segudang rujukan, tanpa memperdulikan bahwa masing-masing rujukan belum tentu memiliki redaksi yang sama. Atau barangkali memang sengaja ingin mengesankan bahwa riwayat yang disampaikan adalah masyhur dan sudah pasti benarnya, wa allahu A’lam.

 

Kenyataannya, riwayat tersebut jelas mencatut nama Imam Ahmad dengan semena-mena, karena riwayat di dalam musnad Ahmad tidak ada kalimat yang justru dijadikan argumentasi utama mengenai hak Imam Ali ra sebagai khalifah utama sepeninggal Rasulullah SAW.

 

Untuk membuktikan kesahihan riwayat tersebut, Syarafuddin bahkan menyebutkan rawi-rawi dari riwayat tersebut pada dialog/surat ke-22 (setelah sebelumnya berbalasan surat dengan asy-Syaikh Salim al-Bisyri…konon kabarnya), sebagai berikut :

 

Jika saya tidak pasti ianya diterima oleh sunni, saya tentu tidak menyebutnya kepada kamu. Bahkan Ibn Jarir dan Imam Abu Ja`fer al-Iskafi telah menerimanya sebagai sahih.[1] Beberapa pengkritik yang lain juga telah menganggapnya sebagai sahih. Adalah mencukupi pada membuktikan terhadap kesahihannya kepada fakta bahawa ianya telah disampaikan oleh perawi yang dipercayai terhadap ketepatannya, dan pengarang buku-buku sahih tidak pernah meragui mereka. Rujuk kepada muka surat 111, Vol. 1, dari Ahmed’s: Musnad, dimana kamu akan membaca hadith ini seperti yang disampaikan oleh Aswad ibn `Amir[2] dari Sharik,[3] al-A`mash,[4] Minhal,[5] `Abbad ibn `Abdullah al-Asadi,[6] dari `Ali (as) secara tertibnya [kronologi]. Setiap seorang dari mereka di dalam rantaian penyampai tersebut adalah seorang perawi dengan sendirinya, dan mereka semua adalah trdisionis yang dipercayai menurut testimoni dari para pengarang buku sahih, dan tidak dipertikaikan. Al-Qaysarani telah menyebut mereka di dalam bukunya Al-Jami` Bayna Rijal Al-Sahihain. Tidak ada keraguan bahawa hadith ini adalah sahih, dan perawinya telah menyampaikan dari beberapa cara, setiap satu darinya menyokong yang lain.

 

Baiklah kita lihat riwayat di dalam musnad Ahmad dibawah (dengan sanad yang sama seperti disebut oleh Syarafudddin) :

 

حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنِ الْمِنْهَالِ عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَسَدِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ

{ وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ }

قَالَ جَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَاجْتَمَعَ ثَلَاثُونَ فَأَكَلُوا وَشَرِبُوا قَالَ فَقَالَ لَهُمْ مَنْ يَضْمَنُ عَنِّي دَيْنِي وَمَوَاعِيدِي وَيَكُونُ مَعِي فِي الْجَنَّةِ وَيَكُونُ خَلِيفَتِي فِي أَهْلِي فَقَالَ رَجُلٌ لَمْ يُسَمِّهِ شَرِيكٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْتَ كُنْتَ بَحْرًا مَنْ يَقُومُ بِهَذَا قَالَ ثُمَّ قَالَ الْآخَرُ قَالَ فَعَرَضَ ذَلِكَ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا

 

“Ketika turun ayat ,’Dan berikanlah peringatan kepada kerabat dekatmu’, Nabi SAW mengumpulkan ahlu baitnya. Maka berkumpul tiga puluh orang, lalu meraka makan dan minum. Lalu beliau berkata kepada mereka, ‘Siapa yang menjaminku dalam agamaku dan semua perjanjianku, maka dia bersamaku dalam surga dan menjadi khalifahku dalam keluargaku ?’ Maka seseorang yg tdk disebut namanya oleh Syuraik berkata, ‘ Wahai Rasulallah, engkau adalah lautan. Siapakah yang sanggup melakukan hal itu ?’ kemudian Nabi SAW mengatakan hal yang sama lalu disampaikan kepada ahlu baitnya, kemudian ali berkata, ‘Saya’.

 

Bisa dibandingkan riwayat yang dinukil Syarafuddin (yg katanya ada di musnad) dengan riwayat yang tercantum di dalam musnad. Siapakah yang tidak bisa membedakannya ? Lupakan dulu mengenai perbedaan jumlah orang yang sedang berkumpul, tetapi kalimat akhir yang digunakan syarafuddin untuk melegalkan kekhalifahan Imam Ali ra sepeninggal Nabi SAW, yaitu :

Rasul Allah [sawas] kemudian memegang ‘Ali pada lehernya dan berkata: ‘Ini adalah saudara saya, pelaksana wasiat dan wazir saya, dari itu dengarkanlah dia dan patuhlah kepadanya.’ Mereka yang hadir tertawa dan terus mengatakan kepada Abu Talib, ‘Allah telah memerintahkan kamu supaya dengar kepada anak kamu dan taat kepadanya!

 

ADAKAH KALIMAT BOLD DIATAS ITU TERCANTUM DALAM RIWAYAT IMAM AHMAD ?

 

Tetapi sungguh mengherankan membaca surat balasan dari Syaikh Salim Al-Bisyri dalam Muraja’at surat ke-23 :

 

Sebenarnya saya telah membaca hadith itu pada muka surat 111 dari jilid 1 dalam Ahmed: Musnad dan memastikan ianya dari punca yang diterima dan saya dapati mereka adalah penyampai hadith yang amat dipercayai. Kemudian saya menyelidik dari mana beliau menyampaikan hadith ini, dan saya dapati ianya berturutan: setiap seorang dari mereka menyokong pada yang lain, dari itu saya telah berpuas hati untuk mempercayai isi kandungannya

 

Apakah mungkin seorang Syaikh rektor Al-Azhar menjawab seperti itu ? Apakah seorang rektor Al-Azhar tidak bisa membedakan kalimat-kalimat Syarafuddin dengan kalimat yang tercantum dalam musnad ? Lagi-lagi Wa Allahu A’lam.

 

Yang jelas kenyataan bahwa pengelabuan berkedok ilmiah di dalam Muraja’at ini mampu menyaring banyak pengikut. Barangkali bahwa pengikut-pengikutnya tidak pernah melakukan cross-check terhadap rujukan-rujukan yang seabrek itu, dan sekali lagi barangkali, sudah keder duluan.

Kategori:Fitnah, Taqiyah Tag:

Note dari akun Aditya Riko 3

Umar ra merendahkan martabat rasulullah SAW karena mengatakan rasulullah SAW sedang “mengigau”…(Konon Kabarnya)…

by Aditya Riko on Monday, July 5, 2010 at 3:01pm ·

Kisah ini dikenal juga dengan tragedi hari Khamis, dimana sering digunakan oleh syiah untuk berhujjah dan secara tidak langsung akan menyerempet kepada pemikiran-pemikiran yang berbahaya, sebab pada dasarnya kisah ini diarahkan untuk merusak kredibilitas para sahabat nabi SAW, dalam hal ini khususnya Sayyidina Umar bin Khaththab ra.

 

 

Bagi yang menyimak isu-2 sunni-syiah, topik ini sudah tidak tidak asing lagi, dan yang dijadikan objek utama pembunuhan karakter adalah Umar bin Khaththab ra. Yang mengherankan adalah masih adanya tuduhan kepada Umar ra yang merendahkan nabi SAW dengan mengatakan beliau SAW sedang “mengigau”. Lebih mengherankan lagi referensi yang digunakan adalah Bukhari-Muslim, sementara pada kedua referensi tersebut tidak pernah ditemukan informasi mengenai tuduhan yang dialamatkan kepada Umar ra. Dan inipun sudah banyak ulama’ yang membantahnya.

 

Barangkali tuduhan-tuduhan tersebut diilhami dari buku “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” karangan Tijani al-Samawi. Dalam buku tersebut terdapat pemikiran Tijani :

 

Ahlu Sunnah juga berkata bahwa Umar melakukan semua itu justru karena dia merasakan penderitaan Nabi dan tidak ingin membebankannya lebih banyak. Namun tafsiran seperti ini tidak dapat diterima hatta oleh orang awam, apalagi orang-orang yang alim. Aku berkali-kali berusaha mencari alasan untuk memaafkan Umar, tetapi realitas kejadian enggan menerimanya, sekalipun kalimat “yahjur” (meracau) telah diganti oleh perawi (semoga Allah melindungi kita) dengan kalimat “ghalabahul waja'” (karena terlalu sakit). Kita juga masih tidak akan dapat menemukan alasan apologis lain atas kata-kata Umar, “l’ndakum AlQuran” (di sisi kalian ada AlQuran) dan “Hasbuna Kitabullah” (cukup bagi kami Kitab Allah). Apakah beliau lebih arif tentang AlQuran daripada Nabi yang telah menerimanya, atau Nabi tidak sadar apa yang diucapkannya? (Semoga Allah melindungi kita). Atau Nabi ingin meniupkan api perpecahan dan pertengkaran dengan perintahnya ini? (Astaghfirullah).

http://www.al-shia.org/html/id/books/hedayat-shoodam/007.htm

 

Lepas dari betul tidaknya asal muasal tuduhan tersebut, yang jelas sampai saat ini, tuduhan-tuduhan yang digunakan untuk mencerca sahabat nabi SAW tersebut masih sering gentayangan dimana-mana.

 

Padahal setiap ada lontaran tuduhan, pihak yang menuduh tidak pernah mau (atau memang tidak ada) menunjukkan haditsnya.

 

Oleh karena itu kita coba searching di google dan maktabah syamilah, dengan kata “yahjur” dan “yaumul khamis”. karena referensi yang terlontar hanya Bukhari-Muslim, pencarian pun hanya dibatasi pada al-jami’us shahihnya Bukhari-Muslim. Dan hasilnya pun tidak ada yang menyatakan bahwa yang menyatakan nabi SAW mengigau adalah ‘Umar ra.

 

Dari riwayat Bukhari :

 

حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَحْوَلِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ

يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ ثُمَّ بَكَى حَتَّى خَضَبَ دَمْعُهُ الْحَصْبَاءَ فَقَالَ اشْتَدَّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعُهُ يَوْمَ الْخَمِيسِ فَقَالَ ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا فَتَنَازَعُوا وَلَا يَنْبَغِي عِنْدَ نَبِيٍّ تَنَازُعٌ فَقَالُوا هَجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعُونِي فَالَّذِي أَنَا فِيهِ خَيْرٌ مِمَّا تَدْعُونِي إِلَيْهِ وَأَوْصَى عِنْدَ مَوْتِهِ بِثَلَاثٍ أَخْرِجُوا الْمُشْرِكِينَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَأَجِيزُوا الْوَفْدَ بِنَحْوِ مَا كُنْتُ أُجِيزُهُمْ وَنَسِيتُ الثَّالِثَةَ

وَقَالَ يَعْقُوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ سَأَلْتُ الْمُغِيرَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ فَقَالَ مَكَّةُ وَالْمَدِينَةُ وَالْيَمَامَةُ وَالْيَمَنُ وَقَالَ يَعْقُوبُ وَالْعَرْجُ أَوَّلُ تِهَامَةَ

——————–

بَاب هَلْ يُسْتَشْفَعُ إِلَى أَهْلِ الذِّمَّةِ وَمُعَامَلَتِهِمْ

 

Dari riwayat Muslim :

 

و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا و قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ

لَمَّا حُضِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي الْبَيْتِ رِجَالٌ فِيهِمْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلُمَّ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَا تَضِلُّونَ بَعْدَهُ فَقَالَ عُمَرُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غَلَبَ عَلَيْهِ الْوَجَعُ وَعِنْدَكُمْ الْقُرْآنُ حَسْبُنَا كِتَابُ اللَّهِ فَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْبَيْتِ فَاخْتَصَمُوا فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ قَرِّبُوا يَكْتُبْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ مَا قَالَ عُمَرُ فَلَمَّا أَكْثَرُوا اللَّغْوَ وَالِاخْتِلَافَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُومُوا

قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ فَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُا إِنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ مَا حَالَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ أَنْ يَكْتُبَ

لَهُمْ ذَلِكَ الْكِتَابَ مِنْ اخْتِلَافِهِمْ وَلَغَطِهِمْ

————————————————————————

بَاب تَرْكِ الْوَصِيَّةِ لِمَنْ لَيْسَ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ

 

 

 

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا وَكِيعٌ عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ

يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ ثُمَّ جَعَلَ تَسِيلُ دُمُوعُهُ حَتَّى رَأَيْتُ عَلَى خَدَّيْهِ كَأَنَّهَا نِظَامُ اللُّؤْلُؤِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ائْتُونِي بِالْكَتِفِ وَالدَّوَاةِ أَوْ اللَّوْحِ وَالدَّوَاةِ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا فَقَالُوا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهْجُرُ

—————————————————————————–

بَاب تَرْكِ الْوَصِيَّةِ لِمَنْ لَيْسَ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ

 

 

Dari hadits yang ketemu kata yang dimaksud syiah dengan “mengigau” yaitu yahjuru dan hajara, tetapi selalu diwali dengan “fa qooluu” yang berarti jama’. Bagaimana bisa itu diartikan dengan ‘Umar ra ? Di sisi lain juga dari tulisan ustadz-2, menerangkan bahwa memang tuduhan tersebut tidak pernah terbukti. Sementara kesimpulan ya seperti apa adanya, kecuali tuduhan dilontarkan dengan membawa bukti, dimana belum pernah ada.

 

Adapun tulisan Tijani yang menyatakan bahwa kata “yahjur” telah diganti perawi dengan “ghalabahul waja'” — barangkali yang dimaksud Tijani adalah dari hadits kedua diatas, dimana ada kalimat “fa qaala Umar Inna Rasulallah Saw qad ghalaba ‘alaihil waja” — itu sama saja mengatakan bahwa Imam Bukhari-Muslim menulis kitab hadits asal-asalan . Apapun itu, kitab hadits Bukhari-Muslim mempunyai kedudukan tinggi dalam periwayatan hadits, dan sudah tersebar ke seluruh dunia keilmuan Islamiyyah sejak ratusan tahun. Sedangkan kitabnya Tijani ?

Kategori:Fitnah

Note dari akun Aditya Riko 2

Mei 17, 2012 1 komentar

Sikap Ali ra. Terhadap Penduduk Bashrah (situasi akhir perang Jamal, nukilan dari Al-Bidayah wan Nihayah)

by Aditya Riko on Wednesday, June 30, 2010 at 10:17pm ·

Ali ra. memasuki kota Bashrah pada hari senin empat belas Jumadil Akhir tahun 36 Hijriyah. Penduduk Bashrah membai’at beliau di bawah panji-panji mereka. Sampai-sampai orang-orang yang terluka dan orang-orang yang meminta perlindungan juga membai’at beliau. Abdurrahman bin Abi Bakrah dating menemui beliau dan berbai’at kepada beliau. Beliau berkata kepadanya, “Di manakah orang yang sakit?” -yakni ayahnya-. Abdurrahman menjawab, “la sedang sakit wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya ia ingin sekali bertemu denganmu.” Ali ra. berkata, “Tuntunlah aku ke tempatnya.” Ali ra. pun pergi menjenguknya. Abu Bakrah -ayah Abdurrahman- meminta udzur kepada beliau dan beliau menerimanya. Ali ra. menawarkannya jabatan sebagai amir Bashrah, namun ia menolak. Abu Bakrah berkata,” Angkatlah seorang lelaki dari keluargamu yang dapat membuat tenang penduduk negeri ini. Abu Bakrah mengisyaratkan agar mengangkat Abdullah bin Abbas , maka Ali ra. Pun mengangkatnya sebagai amir kota Bashrah. Lalu menunjuk Ziyad bin abihi sebagai petugas penarik pajak dan penanggung jawab Baitul Mai. Ali ra. memerintahkan Ibnu Abbas agar mendengar saran-saran Ziyad. Pada perang Jamal Ziyad mengasingkan diri dan tidak ikut terlibat dalam pepe-rangan.

 

Kemudian Ali ra. mendatangi rumah tempat Ummul Mukminin ‘Aisyah ra’ singgah. Ali ra. meminta izin kepadanya lalu masuk sembari mengucapkan salam kepadanya dan ‘Aisyah ra. ra.. menyambutnya dengan ucapan selamat. Seorang lelaki menyampaikan berita kepada Ali ra., “Wahai Amirul Mukminin, di luar ada dua orang lelaki yang mencaci Aisyah ra.” Maka Ali ra. Memerintahkan al-Qa’qa’ bin Amru agar mencambuk kedua lelaki itu masing-masing seratus kali cambuk.

 

Lalu ‘Aisyah ra. ra.. bertanya tentang pasukannya yang terbunuh dan pasukan Ali ra. yang terbunuh. Setiap kali disebutkan nama orang-orang yang terbunuh dari kedua belah pihak ‘Aisyah ra. mendoakan rahmat dan kebaikan untuk mereka.

 

Ketika Ummul Mukminin ‘Aisyah ra. hendak meninggalkan kota Bashrah, Ali ra. mengirim segala sesuatu yang diperlukan untuknya, mulai dari kenda-raan, perbekalan, barang-barang dan lainnya. Dan beliau mengizinkan pasukan Aisyah ra.. yang selamat untuk kembali bersamanya atau jika mau mereka boleh tetap tinggal di Bashrah. Beliau mengirim saudara lelaki ‘Aisyah ra., Muhammad bin Abi Bakar , untuk menyertainya. Pada hari keberangkatan, Ali ra. mendatangi rumah tempat ‘Aisyah ra. menginap, beliau berdiri di depan pintu bersama orang-orang. Kemudian ‘Aisyah ra. keluar dari rumah dalam sedekupnya, beliau mengucapkan selamat tinggal kepada mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka. ‘Aisyah ra. berkata, “Wahai bunayya, janganlah saling mencela di antara kalian. Demi Allah sesungguhnya apa yang telah terjadi antara aku dan Ali ra. hanyalah masalah yang biasa terjadi antara seorang wanita dengan ipar-iparnya. Sesungguhnya, meski aku dahulu mencelanya namun sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang terpilih.”

 

Ali ra. berkata, “Ia benar, demi Allah tidak ada masalah yang terjadi antara kami berdua kecuali seperti yang telah disebutkan. Sesungguhnya ia adalah istri nabi kalian , di dunia dan di akhirat.”

 

Kemudian Ali ra. berjalan mengiringinya sampai beberapa mil sembari mengucapkan selamat jalan kepadanya. Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu awal bulan Rajab tahun 36 Hijriyah. ‘Aisyah ra. ra.. dan rombongan berangkat me-nuju Makkah kemudian ia menetap di sana hingga musim haji pada tahun itu juga kemudian ia kembali ke Madinah.

 

Itulah ringkasan kisah yang disebutkan oleh Abu Ja’ far Ibnu Jarir dari para ulama sejarah. Tidak seperti yang disebutkan oleh para pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah) dari kalangan Syi’ah dan lainnya yang menyebarkan hadits hadits palsu atas nama sahabat. Dan kisah-kisah palsu yang mereka nukil tentang masalah ini. Jika mereka diajak kepada kebenaran yang nyata mereka berpaling sembari berkata, “Bagi kalian sejarah kalian dan bagi kami sejarah kami.” Jikalau begitu kami katakan kepada mereka:

 

“Kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil” (Al-Qashash: 55).

 

(Tahdzib wa tartib kitab al-Bidayah wan Nihayah, Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami.)

Note dari akun Awi Sirep 40

BENARKAH ABDULLAH BIN SABA atau DI KENAL IBNU SAUDA’ BUATAN SAIF BIN UMAR ???

by Awi Sirep on Thursday, August 5, 2010 at 10:12pm ·

Ketika terjadi bentrokan perang shiffin antara Imam Ali bin Abi Thalib ra dan Muawiyah ra krn berbeda pendapat terhadap kejadian peristiwa pembunuhan yg menimpa Usman bin Affan ra.. maka saat itu terbentuk dua kelompok besar.. kelompok ini adalah pendukung Ali ra dan pendukung Muawiyah ra.. keduanya dikenal pada masa itu adalah Syiah Ali dan Syiah Muawiyah…

Dua kelompok adalah para pendukung dan masing2 yakin bahwa ijtihad yg diambil Imam Ali ra ataupun Muawiyah ra adlh benar.. meskipun begitu… perbedaan mereka tdk dalam taraf aqidah apalagi sampai2 pada taraf meragukan sahnya Khalifah Abu Bakar ra dan Umar ra… dua orang sahabat terdekat Nabi SAW yg Allah takdirkan kuburannya pun berada disamping Nabi SAW tercinta… yg hingga sekarang tdk tersentuh…

Jadi dua kelompok ini adalah sama Islam .. satu aqidah.. hingga datang seorang provokator ulung keturunan Yahudi bernama Abdullah Bin Saba atau dikenal juga dengan nama Ibnu Saba’…

Yahudi dari dulu memang cerdik memanfaatkan situasi bahkan hingga sekarang.. maka si ibnu saba’ ini yg jelas dibantu kawan2nya melakukan politik BELAH BAMBU…

tau kan politik BELAH BAMBU.. yg mana yg satu BAMBU dipegang seerat2nya sampai2 dipeluk agar jangan lepas.. satu lagi di injak sampai rata dengan tanah…

nah itulah yg terjadi… ditengah badai fitnah melanda situasi dimasa Imam Ali ra.. maka si yahudi hitam ini dengan cerdik melancarkan aksinya… maka dia tinggikan maqam Imam Ali ra setinggi2nya.. yg mana sebenarnya maqam Imam Ali memang tdk perlu ditinggikan pun sudah tinggi…

tapi jika menjadikan maqam Imam Ali diatas para nabi dan juga beliau adalah maksum.. maka jelas ini ada niat busuk didalamnya…

dan untuk memuluskan rencananya.. maka dia rendahkan maqam Muawiyah ra seorang sahabat Nabi SAW yg dipercaya Nabi menulis wahyu nya sampai serendahnya.. bahkan tdk segan2 menuduhnya kafir.. manakah lagi maqam yg lebih rendah dari pada kekafiran itu sendiri…

merasa kurang puas mengangkat Ali ra.. maka dia pun tdk segan memanipulasi situasi dengan membawa2 khalifah2 terdahulu yg sebenarnya itulah tujuan utamanya.. krn khalifah2 terdahulu sebelum Ali ra.. sangat berjasa besar meneruskan perjuangan Nabi SAW.. yg mana khalifah2 yg berjasa besar ini adalah Abu Bakar ra dan Umar ra..

DAN YG PERTAMA KALI MENAMPAKKAN CACIAN KEPADA ABU BAKAR DAN UMAR ADALAH IBNU SABA ATAU IBNU SAUDA…

lalu datanglah SYIAH zaman sekarang yg mengaku SYIAH ALI.. PADAHAL KENYATAANNYA BUKAN …

Mereka enggan mengakui keberadaan Ibnu SABA…

bagaimana tidak… karena SADAR atau TIDAK ajaran SYIAH zaman sekarang adalah ajaran si MUNAFIQ IBNU SABA yg mengajarkan kalau Nabi SAW gagal mendidik para sahabatnya… lihat SAJA buktinya sama buku sesat buatan KHOMEINI yang mengatakan Nabi SAW sudah gagal…

SYIAH zaman sekarang secara sporadis berusaha mengfiktifkan IBNU SABA..tapi anehnya mereka TETAP melestarikan AJARANNYA…

ORANG2 SYIAH ZAMAN sekarang mengatakan bahwa Ibnu SABA tokoh FIKTIF rekaan SAIF BIN UMAR… dan ALASANNYA adalah… SAIF BIN UMAR TDK DIPERCAYA… KARENA MEREKA INGIN MENIPU UMAT ISLAM.. bahwa ajaran ini adalah ajaran Ahlul Bait Nabi padahal sebenarnya ajaran Ibnu SABA…

Benarkah sangkaan ini.. YOK KITA TENGOK RAME2..

PERTAMA.. Mereka menuduh SAIF BIN UMAR dilemahkan ulama pakar hadits..
KEDUA.. Krn SAIF BIN UMAR tdk bisa dipercaya dan sejarah tokoh Ibnu SABA ini hanya dari SAIF BIN UMAR.. maka jelas IBNU SABA pun keberadaannya dipertanyakan..

Jawabannya…

PERTAMA..

tuduhan ini lucu sekali… SAIF BIN UMAR bkn ulama hadits..maka wajar para ulama hadits melemahkan haditsnya… tapi sebenarnya SAIF BIN UMAR adalah pakar sejarah…

yok kita lihat penilaian para ulama mengenai keilmuwan dalam bidang sejarah..

Imam Ibnu Hajar seorang Ulama Mahzab Syafei mengatakan, “Saif bin Umar At-Tamimi pengarang kitab Ar-Riddah, ada yang mengatakan dia Adh-Dhabi ada yang mengatakan selainnya, Al-Kufi (Saif bin Umar) dha’if (lemah) haditsnya, (akan tetapi) Umdah (bisa dijadikan sandaran) dalam bidang tarikh/sejarah.” (Taqribut Tahdzib 1/408)

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ia adalah pakar sejarah yang paham.” (kitabnya Mizanul I’tidal 2/ 255)

Al-Mubarakfuri berkata seperti perkataan Ibnu Hajar.. dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi 10/249

Umar Kahalah dalam kitabnya Mu’jamul Muallifin 4/288 mengatakan, “Saif bin Umar At-Tamimi Al Burjumi, Ahli sejarah berasal dari Kufah.”

dan anehnya… jika SAIF BIN UMAR tdk bisa dipercaya.. tapi kenapa bisa muncul kisah Abdullah bin SABA dalam kitab2 ULAMA SYIAH zaman DULU..

tokoh Abdullah bin SABA ini muncul dalam,

al-Qummi (w301H/913M) dalam bukunya al-Maqalat al-Firaq
al-Hasan ibn Musa al-Nawbakhti (w310H/922M) dalam bukunya Firaq al-Shiah
Ali ibn Ismail al-Ashari (w324H/935M) dalam bukunya Maqalat al-Islamiyyin

Al-Kashshi telah meriwayatkan dari sumber Sa’d ibn Abdullah al-Ashari al-Qummi yang menyebut bahwa Abdullah ibn Saba’ mempercayai kesucian Ali sehingga menganggapnya sebagai nabi.

HEBATNYA.. SYIAH ZAMAN SEKARANG .. ALI RA TDK HANYA MAKSUM.. TAPI LEBIH TINGGI DERAJATNYA DARI PARA NABI… BENAR2 PENGIKUTI IBNU SABA…

Jadi alasannya bahwa SAIF BIN UMAR tidak bisa dipercaya dalam masalah adalah tdk masuk akal.. krn ternyata SAIF BIN UMAR dikatakan FAKAR SEJARAH.. DAN KENYATAANNYA ABDULLAH BIN SABA DIKENAL OLEH ULAMA2 SYIAH TERDAHULU..

TAPI jangan heran kalau SYIAH ZAMAN SKR TDK AKAN mengakui KITAB2 SYIAH zaman dulu.. krn mereka sudah menjadi SYIAH KHOMEINI.. dimana salah satu DOKTRIN yg bisa dijadikan senjatanya adalah… “KAMI BUKAN KITABIYAH .. TAPI KAMI BERLANDASKAN MARJA… ”

KEDUA..

ternyata bukan SAIF BIN UMAR saja yg mengabarkan adanya tokoh IBNU SABA.. tapi para pakar lainnya..

dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir, Tarikh Thabari tidak hanya datang dari jalur Saif bin Umar At-Tamimi, akan tetapi juga diriwayatkan dari beberapa jalur yang sebagiannya shahih

Diriwayatkan dari jalur Abu Khaitsamah ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbad ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Ammar ad-Duhani katanya, saya mendengar Abu Thufail berkata …..”

Diriwayatkan melalui jalur ‘Amr bin Marzuk ia berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Zain bin Wahb ia berkata, “Ali ra berkata, “ada apa denganku dan dengan orang jahat yang hitam ini (maksudnya Abdullah bin Saba’) ia telah MENCELA ABU BAKAR dan UMAR RA.”

Diriwayatkan pula melalui jalur Muhammad bin ‘Utsman bin Abi Syaibah ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ala ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin ‘Ayyas dari Mujalid dari Sya’bi ia berkata, “Pertama kali yang berdusta adalah Abdullah bin Saba’.”

Ibnu Ya’la Al-Mushili berkata dalam kitab Musnadnya, “Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Al-Asadi ia berkata, telah menceritakan kepada kami Harun bin Shalih dari Harits bin Abdurrahman dari Abul Jallas katanya, “aku mendengar Ali berkata kepada Abdullah bin Saba”,….”

Berkata Abu Ishaq al-Fazzari dari Syu’bah dari Salamah bin Kuhail dari Abu Za’ra’ dari Zaid bin Wahb..

DAN LAGI2 BUKAN HANYA SUNNI SAJA.. TAPI JUGA ULAMA SYIAH…

Al Kisysyi dalam kitabnya Ar-Rijal 1/324 meriwayatkan dari Muhammad bin Qauluwiyah ia berkata, telah menceritakan kepadaku Sa’d bin Abdillah ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ya’qub bin Yazid dan Muhammad bin ‘Isa dari Ali bin Mihziyar dari Fudhalah bin Ayyub al-Azdi dari Aban bin Utsman ia berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah berkata, “La’nat Allah atas Abdullah bin Saba’, sesungguhnya ia meyakini adanya sifat ketuhanan pada diri Amirul Mukminiin (Ali), padahal demi Allah! Amirul Mukminin hanyalah seorang hamba yang taat.”

Demikian pula Al Qummi dalam kitabnya Al Khishal meriwayatkan seperti diatas dengan sanad yang berbeda.

YG MENGAJARKAN ALI RA MAKSUM ADALAH IBNU SABA.. YG MENGAJARKAN MAQAM IMAM ALI SAMA DAN BAHKAN LEBIH TINGGI DARI PARA NABI ADALAH IBNU SABA… YG MENGAJARKAN MENCELA ABU BAKAR DAN UMAR RA ADALAH IBNU SABA.. DAN YG PERTAMA KALI BERDUSTA ALIAS TAQIYAH ADALAH IBNU SABA..

JADI JELAS.. ABDULLAH BIN SABA BUKAN TOKOH FIKTIF.. TAPI BENAR2 ADA.. DIA YG MEMPELOPORI MENCELA ABU BAKAR RA DAN UMAR RA DAN MENEMPATKAN MAQAM ALI RA MELEWATI BATAS YG SEBENARNYA…

Note dari akun Awi Sirep 38

penipuan ala jidad oli alias JJIHAD ALI – 5 – peristiwa perjanjian yang membawa kemenangan ISLAM dibilang Tragedi

by Awi Sirep on Friday, July 16, 2010 at 8:49pm ·

Imam Abu Hamid al Ghazali berkata dalam kitab al Mustashfa (hal. 189-190) sebagai berikut:

“Yang dijadikan pegangan oleh para sahabat dan jumhur: bahwa ‘Adalah (adilnya) Sahabat diketahui sesuai dengan pemberian sifat ‘adalah (adilnya) itu oleh Allah swt kepada mereka. Serta pujian-Nya bagi mereka dalam Al Qur`an. Ini adalah keyakinan kami tentang mereka. Kecuali jika terbukti secara nyata salah seorang dari mereka melakukan dosa dengan sengaja. Dan hal seperti itu ternyata tidak pernah terjadi. Sehingga terhadap mereka tidak perlu lagi dilakukan screening ke’adalahan (keadilannya).”

SAHABAT DAN AHLUL BAYT BUKANLAH PRIBADI MAKSUM.. INI MUSTI DICATAT.. AKAN TETAPI MEREKA ADALAH ORANG2 YANG ADIL..

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Maa`idah : 8)

Ayat diatas adalah perintah kepada para sahabat dan ahlul bayt berlaku ADIL.. bukan perintah menjadi maksum..

meski bgitu jika kita baca ayat selanjutnya.. maka

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Maa`idah : 9)

para sahabat dan ahlul bayt masih berharap ampunan dari Allah.. krn mereka TIDAK luput dari DOSA..

=_________________=

Perdamaian Hudaibiyah dan Sahabat (sebuah tragedi), apa hukum bagi yang meragukan Kenabian Muhammad SAW ?

http://www.facebook.com/note.php?note_id=139987426011876

itulah judul note provokasi jjidad ali yg mengambil tema sejarah perjanjian Hudaibiyah..

padahal jika orang syiah mau menyelidikinya dengan menghilangkan dengki pada orang2 beriman (sahabat) Nabi SAW.. maka tdk akan ada note provokatif sperti itu..

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr : 10)

lalu dinote jidad ali diceritakan dialog antara Nabi SAW… Umar ra.. dan Abu Bakar ra..

dalam dialog itu Umar ra .. seakan2 meragukan Nabi SAW.. bahkan dia mesti bertanya pada Abu Bakar ra.. tapi jika kita pahami dengan tidak kedengkian.. maka semua orang tahu bahwa Umar ra adlh orang yang keras pendirian.. bahkan KERAS PENDIRIAN UMAR INI sangat diharapkan oleh Nabi SAW.. karena dalam sifat orang yang KERAS PENDIRIAN biasanya tersimpan JIWA PEMIMPIN YANG HEBAT..

SEHINGGA UMAR ADALAH SALAH SATU ORANG YANG SANGAT DIHARAPKAN MASUK ISLAM OLEH NABI SAW.. SEHINGGA NABI SAW BERDOA AGAR ALLAH MEMILIHKANNYA UNTUK BELIAU YANG TERBAIK… DAN TERPILIHLAH UMAR RA..

Jadi KERAS PENDIRIAN UMAR mesti kita pahami.. apalagi dia TIDAK menerima wahyu.. dan TIDAK MAKSUM..

Termasuk ketika umar ra saking CINTANYA kepada NABI SAW..dia dengan KERAS PENDIRIAN MENOLAK NABI SAW SUDAH MENINGGAL… hingga disadarkan Abu Bakar ra..

sehingga kita tahu.. sikap pendirian keras UMAR RA trmasuk saat meninggalnya Nabi SAW bukanlah sikap pura2 ..

SUKA ATAU TIDAK memang sikap KERAS pendirian Umar ra ini yang memiliki jiwa pemimpin sangat2lah berpengaruh kepada HAMPIR seluruh sahabat RA tidak terkecuali Ali bin Abi Thalib ra pun terpengaruh. kecuali ASH SHIDDIQ yaitu ABU BAKAR RA.. beliau adalah selalu MEMBENARKAN NABI SAW dalam setiap kondisi..

Semua itu karena KEYAKINAN UMAR RA DAN SAHABAT LAINNYA.. Berperang dengan mereka (kaum kafir) pun kami PASTI akan mendapat pertolongan dari Allah SWT.. sehingga Umar ra merasa heran.. bukankah seharusnya NABI SAW LEBIH YAKIN LAGI dibandingkan umatnya.. dan ini berpengaruh kepada sahabat lainnya KECUALI ABU BAKAR RA.. YANG MEYAKINI PASTINYA INI ADALAH PERINTAH ALLAH…

Dan keheranan UMAR RA adalah manusiawi bagi pribadi yang TIDAK maksum..

Peristiwa perjanjian Hudaibiyah juga mencatat bahwa peristiwa itu sangat2lah berpengaruh.. bahkan kepada Ali bin Abi Thalib ra..

ketika Ali bin Abi Thalib ra yang menjadi juru tulis pernjanjian. SEMPAT MENOLAK PERINTAH NABI SAW…

Dari Bara` bin ‘Azib ra, Rasulullah saw. memberi perintah kepada Ali:

Tulislah perjanjian antara kami: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah perjanjian yang disepakati oleh Muhammad Rasulullah…”

Tiba-tiba orang Musyrik menyela: “Seandainya kami tahu engkau adalah Rasul Allah, niscaya kami akan mengikutimu. Karena itu, cukup tulislah, Muhammad bin Abdillah.”

Maka Rasulullah saw. memerintahkan Ali untuk menghapus tulisan tersebut. Namun Ali Menolak perintah Rasul itu dan berkata: “Demi Allah, saya tidak akan menghapusnya!”.

Mendapati hal itu, Rasulullah saw bersabda: Tunjukkanlah kepadaku mana tulisan tersebut.”

Maka ia menunjukkan tempat kata tersebut kepada beliau, dan beliau pun menghapusnya sendiri.

Untuk kemudian diganti dengan tulisan: ” .. bin Abdillah.” Sahih Muslim. Hadits no 3336.

Jadi Ali bin Abi Thalib ra pun sempat menolak perintah langsung Nabi SAW…

Meskipun begitu.. ahlu sunnah wal jamaah TIDAK menganggap peristiwa itu sebuah TRAGEDI…

Krn tidak ada KEJELEKAN dalam peristiwa itu kecuali kita melihat bahwa para sahabat SANGATLAH tidak ingin ISLAM… terlihat LEMAH dihadapan MUSUH ISLAM.. sehingga kenapa mesti melakukan PERJANJIAN.. padahal ada seorang NABI diantara mereka..

Yang mesti kita simak adalah.. peristiwa juga itu BUKTI lain.. walaupun NABI SAW seorang NABI tapi para sahabat telihat dihadapan Nabi SAW terbiasa berdiskusi dan mengemukakan pendapatnya… seperti diterangkan dalam ayat berikut..

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali Imran : 159)

WALAUPUN KEPUTUSAN AKHIR TETAP DITANGAN NABI SAW.. seperti kisah dibawah ini

=______________________=

Pada saat perang Badar salah seorang sahabat, Al Habab bin Mundzir RA bertanya kepada Rasul Saw, ”Ya Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini Anda menerima wahyu dari Allah Swt yang tidak dapat diubah lagi? Ataukah berdasarkan taktik peperangan?”

Rasulullah Saw menjawab, ”Tempat ini kupilih berdasarkan pendapat dan taktik peperangan!”

Al Habab mengusulkan, ”Ya Rasulullah! Jika demikian, ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat kubu pertahanan di sana dan menggali sumur-sumur di belakangnya. Kita membuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita akan berperang dalam keadaan persediaan air minum cukup, sedangkan musuh tidak akan memperoleh air minum!”

Rasulullah Saw menjawab, ”Pendapatmu cukup baik!” Lalu, pasukan Muslim bergerak ke tempat yang diusulkan oleh Al Habab bin Mundzir Ra.

=______________________=

KEMBALI KE SOAL..

Dan lagi peristiwa perjanjian HUDAIBIYAH BUKANLAH “TRAGEDI” seperti yang dituduhkann Jjihad Ali dalam notenya..

Pada saat pulang ke MADINAH.. ALLAH SWT menurunkan ayat yang memberikan KERIDHOAN pada para SAHABAT NABI..

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon , maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) . Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Fath : 18-19)

BAHKAN ALLAH SWT MENJANJIKAN KEMENANGAN DAN HARTA RAMPASAN YANG BANYAK… DAN PERISTIWA PERJANJIAN HUDAIBIYAH MENJADI TONGGAK AWAL FATHUL MAKKAH…

JADI SANGATLAH2 ANEH JIKA KITA MERAGUKAN SAHABAT HANYA KAREN SEGELINTIR SIKAP KHILAF MEREKA DAN MEMBENTURKAN DENGAN AYAT AL-QURAN YANG SUDAH JELAS2 ALLAH MENYATAKAN TELAH MERIDHOI MEREKA…

=______________________=

lalu apakah yang membuat orang SYIAH salah satunya jjihad ali BERSEDIH dengan peristiwa perjanjian Hudaibiyah dan menganggapnya sebuah TRAGEDI..

BOLEH JADI KARENA…

KARENA ALLAH SWT LEWAT LISAN NABINYA MENJAMIN PARA SAHABAT DAN AHLUL BAYT YANG MELAKUKAN BAIAT DIBAWAH POHON RIDHWAN ITU BEBAS DARI API NERAKA..

Nabi saw bersabda: “Dengan izin Allah, tidak ada seorangpun yang masuk neraka dari mereka yang ikut berbai’at di bawah pohon itu.” (Hadits riwayat Muslim, no. 3567 )

DAN JUGA KARENA SEMAKIN MENGUKUHKAN BAHWA SATUNYA2 SAHABAT YANG TETAP TEGUH MEMBENARKAN NABI SAW ADALAH ABU BAKAR ASH SHIDDIQ RA..

Kategori:Fitnah, Sahabat